
💥💥💥 Hai kalian yang yang membaca karyaku ini, bagi vote dan like-nya dong, please.. hehhehe
💦💦💦
Aku bisa merasakan perubahan mood Bery semenjak bertemu salah seorang temannya di taman pagi tadi, lalu saat di resto, ia kembali bertemu dengan salah satu orang dari masa lalunya. Aku tahu lelaki itu, ingin rasanya kupatahkan setiap persendiannya namun kutahan karena aku tidak ingin mempermalukan Bery di depan umum.
Bery terus diam dan hanya menanggapi sekenanya setiap aku bertanya kepadanya. Aku tidak ingin menambah kekacauan perasaannya, kulajukan motor untuk segera kembali ke Hotel.
Setidaknya, hatiku menghangat dibuatnya karena di sepanjang jalan, ia terus memelukku dan menyandarkan kepalanya di pundakku. Kubawa tangannya dalam genggamanku dan mengecup punggung tangannya setiap kali bertemu lampu merah.
Baru kali ini aku sangat bersyukur melewati beberapa lampu merah untuk sampai ke tujuan.
Sesampainya di hotel, Bery langsung menghempaskan tubuhnya ke atas kasur kemudian menyembunyikan wajahnya di atas bantal.
Aku menghampirinya dengan duduk di sisi ranjang. Kurasakan tubuhnya bergetar karena menangis.
Kubelai lembut kepalanya, aku tidak tahu apa itu akan membantu meringankan perasaannya atau malah semakin menambah bebannya, namun aku hanya ingin menunjukkan bahwa aku ada bersamanya, aku akan selalu berada di sisinya untuk menghadapi dunia.
Setelah kelihatan tenang, ia bangun lalu memelukku.
"Jangan pernah tinggalkan aku, Sky. Aku akan membunuhmu jika kamu melakukan itu." Ucapnya mengancam dengan sisa isakannya yang membuatnya terdengar lucu di telingaku.
"Aku bukan dia, aku suamimu, jodohmu, takdirmu dan juga pacar kamu!" Ucapku kemudian mendorong sedikit tubuhnya keluar dari pelukanku. Kuusap air matanya yang masih menggenang, kemudian kukecup kedua matanya yang indah itu.
"Jangan menangis lagi, dia tidak layak untuk kamu tangisi." Imbuhku lagi.
"Sky, kamu gak papa kan melihat aku yang cengeng seperti ini? Apa kamu gak akan berhenti suka sama aku setelah tau aku aslinya seperti ini? Banyak laki-laki yang mengejar-ngejar aku karena tertarik dengan kemandirian dan ketangguhanku. Padahal, itu hanyalah topeng."
"Justru aku bahagia karena kamu mau memperlihatkan sisi lemahmu di hadapanku. Apa aku boleh ge er sedikit, bahwa kamu sekarang mulai membutuhkan aku?" Tanyaku dengan senyum nakal kepadanya.
"Iya..iya.. makanya, apapun yang terjadi nanti, jangan pernah tinggalkan aku." Pintanya dan kembali memelukku erat. Bisa kurasakan betapa manjanya ia saat ini. 10 tahun mengenalnya, baru kali ini kulihat sisi dirinya yang manja ini.
"Justru aku yang harusnya meminta itu sama kamu, di luar sana banyak laki-laki kaya, tampan dan sukses yang menginginkan kamu. Apalah diriku ini dibanding mereka."
Jujur, dalam hal ini, terkadang aku merasa kurang percaya diri jika membandingkan diriku dengan beberapa orang laki-laki yang kutahu mendekati Bery.
"Mau setampan, sekaya dan sesukses apapun mereka, sekarang mereka sudah kalah jauh dari kamu, Sky... kamu sudah pegang sertifikat kepemilikan diriku, sedang mereka tidak." Ucapnya menenangkanku.
"Baru sertifikatnya, belum hatinya!" Kataku sambil balik memeluknya erat.
Bery tersenyum menatapku. Tatapannya lembut, berbeda dari biasanya, ada binar lain yang bisa kutangkap di sana.
"Bersabarlah sedikit lagi."
Aku pun hanya bisa mengangguk mendengar jawabannya. Benar katanya, di atas kertas dia sudah resmi menjadi milikku, aku hanya perlu sedikit bersabar dan berusaha keras untuk mengambil hatinya dan selamanya ia akan menjadi milikku seutuhnya.
"Ya udah.. mandi sana, kamu bau!"
Aku melepaskan Bery dari pelukanku dan bangkit dari tempat tidur lalu memintanya membersihkan badan.
Posisi kami terlalu dekat, aku takut khilaf dan tidak bisa menahan diri untuk menyentuhnya dan menginginkannya terlalu jauh. Jangan sampai Bery berfikir aku tidak berbeda dengan laki-laki brengsek di luaran sana.
*****
Setelah 3 hari pernikahan kami, akhirnya ayah sudah dibolehkan pulang ke rumah dengan catatan harus rutin chek up ke Rumah Sakit. Kami memutuskan untuk memperpanjang masa cuti hingga 1 minggu ke depan. Tidak enak juga kalau kami langsung kembali ke ibukota. Sky sendiri tidak masalah dan sepertinya dia juga sibuk mengurus sesuatu bersama kak Ardhan asisten ayah.
Sebenarnya aku penasaran apa yang mereka kerjakan hingga sering sekali Sky harus pulang malam dan diantar oleh kak Ardhan ke rumah. Hanya saja aku masih memilih diam, melihat kesibukan Sky yang cukup padat membuatku mengurungkan niat bertanya kepadanya.
"Belum tidur?" Tanya Sky saat baru masuk ke kamar kami setelah jam 9 malam sementara aku masih berkutat dengan laptop di hadapanku.
"Sudah makan belum?" Tanyanya lagi.
Aku menggeleng, aku memang sengaja menunggunya pulang.
"Kenapa? Aku bersih badan dulu, nanti kita makan sama-sama." Ucapnya mengelus rambutku kemudian bergegas ke kamar mandi.
Aku mengambil pakaian ganti untuknya kemudian kuletakkan di atas tempat tidur. Setelah itu aku turun ke lantai bawah menyiapkan makan malam untuk kami berdua. Rumah sudah tampak sepi bahkan lampu di ruang utama dan dapur sudah dimatikan.
"Kok gak tunggu aku selesai mandi dulu?" Sky datang menghampiriku yang sedang mengeluarkan makanan dari microwave.
"Biar kamu gak usah nungguin makanannya dihangatkan."
"Sini, biar aku yang angkat." Sky langsung mengambil piring yang berisi ikan gurame asam pedas di tanganku lalu membawanya ke meja makan. Aku sendiri membawa tumis kangkung yang juga tadi ikut kupanaskan di microwave.
Sky kembali mengambil piring di dapur dan tak lupa membawa 1 botol air dari dalam kulkas. Dia begitu cekatan untuk urusan rumah tangga. Kadang ia kelepasan mengerjakan pekerjaan rumah di rumah orang tuaku ini, mungkin karena sudah terbiasa dididik sedari kecil untuk mandiri.
"Kamu gak harus melakukan semua itu, Sky. Aku kan istri kamu, jadi baiknya aku yang melayani kamu." Protesku setelah melihat kesibukannya menyiapkan segala perlengkapan makan kami dan dia melarangku melakukan apapun dan dimintanya duduk tenang di kursi meja makan.
"Pada dasarnya, melayani istri itu adalah kewajiban suami, dari ujung kaki sampai ujung rambut, itu adalah tanggung jawab suami. Meringankan beban istri itu juga tanggung jawab suami. Umi sering berpesan agar aku pandai mengerjakan pekerjaan rumah, biar nanti kalau sudah punya istri, aku bisa merasakan dan mengerti dengan kelelahan dan kesulitan istriku." Ucapnya panjang lebar.
Sky kemudian menyendokkan makanan ke dalam piringku. "Segini cukup?" Tanyanya memperlihatkan isi piringku. Aku memang hanya fokus memandangi wajahnya sedari tadi, bukan pada apa yang ia pindahkan ke dalam piringku.
Aku menunduk melihat isi piringku, seketika muncul ide di kepalaku, aku kemudian menggeleng dan kembali Sky menambahkan isi piringku.
"Ternyata porsi makan kamu besar juga, gak sebanding dengan postur tubuh kamu ini." Ucap Sky meledek, tapi aku tidak peduli dengan ledekannya.
Ia kemudian duduk di kursi samping kiriku mengambil piring lainnya untuk dirinya sendiri. Dengan cepat kutahan tangannya yang sudah terlanjur memegang sendok nasi.
"Kita makan sepiring saja, sini aku suap... aaaaa" aku mengarahkan satu sendok makanan ke dekat mulutnya. Sejenak ia menatapku namun pada akhirnya ia membuka mulutnya juga dengan senyum manis mengembang di pipinya.
"Kalau kamu suka senyum seperti ini, fans kamu bakal naik 100% loh, Sky!" Ucapku memuji senyumannya. Aku pun menyuapi diriku sendiri kemudian gantian menyuapi Sky lagi.
"Senyumku hanya buat istriku seorang, yang lain ogah!"
"Gombal..." ucapku mencebik.
"Kalau kamu suka, aku akan gombalin kamu terus." Ia mengedipkan satu matanya.
"Issshhhh... mulai nakal kamu yah, Sky. Awas saja kalau kamu berani seperti itu di depan perempuan lain."
"Nakalnya cuman sama kamu kok, istriku. Memangnya kalau aku nakal sama yang lain, aku kamu mau apakan?" Tanyanya penasaran.
"Kamu akan aku ikat di pohon kelapa depan sana."
Seketika Sky bergidik ngeri mendengar ancamanku, sepertinya dia trauma dengan pohon kelapa yang aku maksud karena kemarin dia digigit semut api di sana saat menemani om Daeng memanjat kelapa.
Bagaimana tidak ngeri, gigitan semut api ini mengandung racun yang berisi campuran dari 46 protein. Itulah mengapa, setelah digigit semut api, biasanya kulit akan mengalami iritasi ringan. Namun, ada sebuah penelitian yang menunjukkan bahwa racun tersebut bisa memengaruhi sistem saraf manusia. Bahkan, seseorang bisa berhalusinasi setelah digigit serangga kecil berwarna merah ini.
Aku tersenyum melihat kepanikan di wajah Sky, kemarin ia mengeluh seperti anak kecil yang kesakitan, katanya, rasa nyerinya sangat tajam, seperti terbakar atau habis dicubit.
"Sky...Sky... kamu sudah berhasil menjungkir balikkan duniaku." Ucapku dalam hati demi melihat wajah menggemaskannya .
Oooo☆~~☆oooO
Jangan lupa berikan like, comment dan vote kalian yah untuk mendukung Novel ini. Klick tombol Favorit agar kalian bisa mendapatkan notifikasi tiap kali ada update terbaru. okay.. Thanks 😍🤗