HAPPIER

HAPPIER
BAB 28



Hingga detik ini aku dan Bery tidak lagi bertemu setelah tadi malam melalui obrolan yang cukup panjang. Hari ini aku mendapat tantangan dari calon ayah mertuaku, tentu saja Bery tidak tahu karena ayah Bery menghubungiku melalui orang kepercayaannya.


Urusan di KUA hanyalah alibi, ayah Bery dengan segala koneksinya tidak membutuhkan waktu lama dan tidak perlu repot-repot untuk mendatangi kantor tersebut namun bisa dipastikan segala urusan bisa dibereskan dengan cepat dan akan siap saat acara ijab kabul nanti berlangsung.


Saat ini, aku sedang dibawa berkeliling pabrik pembuatan frozen food milik ayah Bery, pabrik tersebut cukup besar, terutama di bagian ruang chiller. Pengolahannya banyak menggunakan mesin, namun tetap saja mempekerjakan ratusan tenaga manusia. Belum lagi area tambak yang luasnya ratusan hektar dan juga tempat pelelangan bagi warga yang menjual hasil tambaknya sendiri maupun dari hasil tangkapan para nelayan.


Aneka sosis, fish stick dan bakso yang bahan utamanya dari ikan bandeng, ikan tuna, cumi, kepiting dan udang diproduksi di sini. Selain memenuhi permintaan pasar lokal, hasil produksi dari pabrik ini juga menembus pasar nasional dan pasar eksport ke luar negeri.


"Ini sangat keren pak Ardan." Ucapku menunjukkan kekagumanku setelah melihat ruang produksi di pabrik ini. Jika biasanya aku hanya biasa melihatnya di National Geographic Channel yang temanya food factory, sekarang aku sudah berada di salah satu pabrik pengolahan makanan beku terbesar di Indonesia ini.


Pak Ardan, pria yang kutaksir umurnya saat ini sudah berkepala tiga adalah orang kepercayaan ayah Bery selama 5 tahun terakhir ini. Setidaknya itu yang saya tangkap setelah pak Ardan menjelaskan seluk beluk bisnis tersebut dan berbicara sambil lalu tentang dirinya.


"Iya, mas Sky. Saya pun sangat takjub sewaktu baru mulai bekerja di sini. Saya tidak menyangka ada pabrik sebesar dan sekeren ini berada di pesisir pantai terpencil seperti ini. Di tangan pak Wahyu dan ibu Amelia, perusahaan ini berkembang pesat hanya dalam kurun waktu 10 tahun terakhir. Hanya saja, kesuksesan mereka banyak menimbulkan rasa iri dari pihak keluarganya sendiri." Kata pak Ardan menjelaskan.


Menurut pak Ardan, saat ini perusahaan sedang mengalami masalah akibat ulah kompetitor dimana mereka menggugat hak paten produksi sosis dan bakso bandeng milik ayah Bery.


Ayah Bery sangat shock mengetahui hal tersebut karena kompetitor tersebut adalah adik sepupunya sendiri dimana adik sepupunya tersebut beliau rekrut sebagai tangan kanannya sejak awal mendirikan perusahaan. Ternyata, sepupu ayah Bery diam-diam mendirikan perusahaan yang sama dan mengklaim brand sosis milik ayah Bery sebagai miliknya.


Karena itulah ayah Bery terkena serangan jantung karena masih belum bisa menerima pengkhianatan yang dilakukan oleh adik sepupunya itu. Beruntung ayah Bery cepat tertolong dan sakitnya tidak terlalu parah.


Sebagai calon menantu, aku langsung diberikan misi rahasia untuk meng-handle perusahaan selama ayah Bery belum sembuh, mengingat Anzi baru masuk kelas 1 SMA saat ini jadi tidak mungkin tanggung jawab ini diserahkan kepadanya.


"Karena itu mas Sky, bapak menitipkan amanah kepada mas melalui saya, agar mas bersedia turun tangan membantu apapun yang bisa mas lakukan, agar perusahaan ini tidak terganggu proses produksinya selama proses hukum juga berlangsung. Pak Wahyu begitu yakin kalau mas Sky mampu melakukannya dan mungkin bisa berinovasi sehingga perusahaan ini bisa lebih berkembang ke depannya." Kembali pak Ardan menyampaikan harapan ayah Bery.


Aku menarik nafas panjang, aku sama sekali tidak punya pengalaman di bidang ini, namun tidak ada salahnya aku menerima tantangan ini. Ada pak Ardan yang akan selalu siap membimbingku selama berada di sini. Aku sedang berfikir untuk mengikuti perkembangan kasus sengketa hak paten tersebut. Mungkin ilmuku di bidang hukum akan lebih berguna di sini, meskipun aku belum menyelesasikan studiku di jurusan Hukum, namun sama seperti kuliahku di Teknik, sebentar lagi juga akan kelar.


Aku pernah membaca sebuah kutipan dari Charles Bukowski, beliau mengatakan bahwa masalah terbesar dunia adalah orang-orang cerdas yang dipenuhi keragu-raguan, sementara orang-orang bodoh begitu tampil penuh percaya diri. Maka lihatlah hasilnya, tiap hari kita disuguhi tontonan tidak bermutu dari orang-orang yang lebih banyak kata yang keluar dari mulutnya dibanding karya yang lahir dari otaknya.


Sementara orang-orang cerdas hanya sibuk di mimbar-mimbar akademik, berkarya dalam senyap sehingga karya-karyanya tidak terlihat, dilirik pun tidak.


"Iya pak Ardan, mohon bimbingannya." Ucapku sopan.


Pak Ardan pun mengangguk dengan senyum simpul di wajahnya.


"Oh yah, kita lanjut ke bagian proses terakhir yah mas, bagian packaging. Tadi kan kita sudah ke tempat persediaan bahan baku, tempat produksi, dan pembekuannya. Di sana kita juga akan lihat anak-anak mendistribusikan produk kita sesuai pesanan costumers." Ucap pak Ardan setelah sekilas melirik jam di tangannya.


Aku ikut melihat jam di tangan kiriku, masih ada waktu sekitar 30 menit lagi masuk dhuhur. Rencananya setelah ini kami akan langsung ke Bandara menjemput abi dan umi karena kebetulan jalur ke Bandara memang searah dengan Rumah Sakit.


*****


"Wa'alaikum salam." Jawab umi dan abi bersamaan. Ada tatapan lain yang terasa berbeda dari umi, namun aku berusaha bersikap biasa saja. Aku tidak ingin merusak suasana, sudah syukur umi ikut datang, itu artinya beliau merestui kami.


Kak Nindi dan mas Fachri muncul belakangan di pintu ketibaan dengan membawa beberapa travel bag berukuran besar. Aku dan pak Ardan langsung membantu keduanya membawa koper tersebut ke bagasi mobil.


"Kok kamu yang jemput dek? Bukannya siap-siap?" Tanya kak Nindi setelah mobil mulai melaju meninggalkan bandara.


"Tadi ada urusan, jadi sekalian saja." Jawabku tanpa menoleh ke belakang, kulirik kak Nindi lewat kaca spion depan.


"Kamu yah Sky, mau nikah kok santai begini? Kamu itu serius atau tidak? Ingat yah Sky, ketika kamu sudah mengatan YES ke orang-orang, pastikan kamu tidak mengatakan NO ke dirimu sendiri.. jangan sampai menyesal di belakang." Umi sedikit menekankan kata-katanya menyindirku.


"Aku serius umi, aku tidak pernah seserius ini sebelumnya. Sky mohon doa restu umi." Ucapku setelah menoleh ke belakang menatap lekat ke arah umi.


"Umi bahagia jika kamu memang serius, umi akan sangat kecewa jika keputusan yang kamu ambil ini hanya main-main saja atau karena ada tujuan-tujuan tertentu makanya kamu mau menikahi Bery."


Aku menggeleng, entah apa yang difikirkan umi sehingga ia masih tampak ragu.


"Doakan kami umi." Ucapku lagi memohon keridhoannya.


"Umi selalu mendoakan kamu, mendoakan kalian semua. Umi ridho jika ini sudah menjadi keputusan kamu." Tukas umi.


"Sky, kami sebagai orang tua hanya bisa mendukung setiap langkah yang kalian ambil, selama itu baik, kami akan dukung. Kamu tau kan kalo Bery sudah kami anggap seperti anak sendiri, jadi abi harap kamu akan terus berusaha bahagiakan dia. Abi sebenarnya kaget saat kakakmu menyampaikan kabar ini, tidak ada angin tidak ada hujan tiba-tiba kamu mau menikah. Kamu yang yang kami tau tidak pernah menjalin hubungan kedekatan dengan perempuan manapun bahkan cenderung menjauhi mereka sekarang malah berniat mengikat seorang perempuan. Kamu harus tau Sky, menikah berarti kamu harus siap dengan segala tingkah lakunya yang kadang bikin kita sebagai laki-laki harus tahan nafas--" abi menjeda kalimatnya dengan melirik umi beberapa detik.


Sementara pak Ardan di sampingku tampak senyum tertahan, kulihat di spion depan mas Fachri juga menahan senyum sambil menatap istrinya.


"Perempuan itu suka hal-hal ribet, runut dan panjang. Mereka adalah ahli sejarah yang genius, maka perhatikanlah setiap kata dan tindak tandukmu, jangan sampai membuatnya tersinggung." Abi kembali melirik umi.


"Nak Ardan sudah nikah belum?" Tanya abi kemudian.


"Alhamdulillah, sudah pak. Sudah punya 3 buntut malah, pak!" Jawab pak Ardan dengan senyum melebar.


"Alhamdulillah...karena laki-laki di sini semuanya sudah menikah, dan kamu, Sky..sebentar lagi akan resmi menjadi suami, abi nasehatkan satu hal kepada kamu. Kamu harus tau bawa semua wanita di bumi ini memiliki kekurangan, termasuk istrimu, atau wanita manapun, pasti punya kekurangan, tidak ada yang betul-betul sempurna sesuai dengan harapanmu. Bedanya, saat kamu sudah menikah, maka kamu sudah tau semua kekurangan istrimu, namun kamu tentu tidak tau kekurangan wanita lainnya, sehingga kadang wanita lain menjadi tampak sempurna di matamu dan lebih baik dari istrimu. Ingat, kamu juga punya banyak kekurangan tetapi istrimu sudah ikhlas menerimanya. Sementara wanita lain belum tentu menerimanya. Karena itu jangan pernah mencoba mencari yang haram, sungguh yang halal itu jauh lebih indah, dan itu ada di rumahmu. Maka kembalilah ke rumahmu saat yang haram datang menggodamu."


Oh, aku tidak sepicik itu. Bagaimana mungkin aku menuntut istriku sempurna, sementara diriku sendiri bertabur kekurangan...


Oooo☆~~☆oooO


Jangan lupa berikan like, comment dan vote kalian yah untuk mendukung Novel ini. Klick tombol Favorit agar kalian bisa mendapatkan notifikasi tiap kali ada update terbaru. okay.. Thanks 😍🤗