HAPPIER

HAPPIER
BAB 37



Akhirnya, tiba juga waktu kepulangan kami kembali ke ibukota. Ini sudah tidak bisa ditunda-tunda, aku tidak bisa membayangkan bagaimana sibuknya diriku nanti dengan urusan pekerjaan yang sudah menanti.


Begitupun dengan Sky, ia sedang mengejar deadline sidang Skripsinya, belum lagi urusan magangnya yang masih tersisa lebih sebulan. Jika semuanya berjalan lancar, Sky bisa ikut jadwal wisuda yang akan digelar 2 bulan lagi. Belum lagi kesibukannya yang lain, belakangan aku baru tahu jika ternyata Sky diperbantukan mengurus perusahaan ayah, padahal Sky juga punya tanggung jawab di perusahaan orang tuanya sendiri. Sky magang juga tidak asal magang, malah kuserahi salah satu proyek besar kepadanya sebagai Team Leader di sana.


"Jaga diri baik-baik yah sayang!" Ucap ibu memelukku sesaat sebelum masuk ke dalam mobil yang akan membawa kami ke Bandara. Hanya ibu dan Azi yang mengantar kami sampai ke depan, ayah sendiri aku minta tidak usah mengantar kami dan cukup istirahat di kamarnya.


"Kalau ada masalah dalam rumah tangga kalian, hadapi, jangan malah lari dari masalah." Imbuhnya lagi menatapku dan Sky bergantian.


"Kalau sama-sama marah, usahakan diam, jangan sampai kata-kata yang keluar akan kalian sesali setelahnya. Jika tidak mampu menahannya, masuk kamar, kunci diri di dalam, jangan keluar rumah di saat hati masih panas. Dinginkan kepalanya, jika memang harus mengurung diri selama berjam-jam, tidak masalah yang penting jangan pergi di saat marah." Ibu menjeda kalimatnya kembali menatap wajah kami berdua lalu ibu beralih mengambil tangan Sky ke dalam genggamannya.


"Nak Sky, Bery ini anak gadis ibu satu-satunya, kamu tau sendiri bagaimana kerasnya hidup yang dia jalani selama 10 tahun terakhir, mungkin itu akan membuatnya keras kepala dan susah diatur, karenanya ibu mohon agar nak Sky banyak bersabar menghadapinya. Hati perempuan itu sangat lembut, jangan dibentak, jangan dikasari, apalagi sampai main tangan. Jika kesalahannya tidak bisa kamu terima, biarkan ibu dan ayah yang mengajarinya kembali. Kamu mengerti kan, nak?" Wajah ibu sudah sembab karena terlalu banyak mengeluarkan air mata.


"InsyaaAllah, Sky akan menjaga kepercayaan ibu dan ayah. Jangan berhenti menyebut nama kami di dalam doa ibu dan ayah di sini, karena dengannya akan terang kehidupan kami."


Ibu membawa Sky ke dalam pelukannya, aku pun dibawa ibu ke dalam pelukannya. Cukup lama kami dalam posisi berangkulan dan akhirnya Anzi menjeda mengingatkan kami untuk segera berangkat.


"Kak, keburu waktu." Sahut Anzi.


"Hati-hati!" Bisa kulihat ucapan ibu dari gerakan bibirnya dengan tangan terus melambai hingga mobil yang membawa kami berbelok keluar dari pagar rumah.


Sky meremas tanganku di dalam genggamannya, aku hanya bisa menahan sesak dari tangis yang ingin meledak. Rasanya tidak tega meninggalkan mereka setelah sekian lama berpisah, namun hidupku kini tidak seperti dulu lagi, aku sekarang adalah milik suamiku dan dimana kakinya berpijak, disitu juga aku akan mengikutinya.


*****


Kami tiba di Bandara saat sudah menjelang malam, ada kak Nindi dan mas Fachri yang menjemput kami. Rasa lelah cukup menguras tenaga karena kami sempat menunggu sampai 4 jam untuk transit ke penerbangan selanjutnya.


Meski lesu, kulihat wajah Bery tetap antusias bertemu dengan sahabat sekakigus iparnya itu. Aku tidak begitu memperhatikan percakapan mereka yang terlihat seru karena aku masih sibuk mengurus barang bawaan kami yang beranak pinak karena banyaknya oleh-oleh titipan ibu untuk umi, besannya.


Begitulah orang di daerah, ketika berkunjung keluarga dari kota, sepulangnya akan membawa begitu banyak buah tangan. Suatu keramahan yang susah ditemukan di kehidupan masyarakat perkotaan, jangankan buah tangan, bahkan menawarkan air putih sekalipun terkadang alpa dilakukan. Padahal, sungguh hebat keutamaan memberi makan dan minum kepada tamu yang berkunjung ke rumah kita.


Kak Nindi memelukku sejenak saat akan masuk ke dalam mobil.


"MaasyaAllah, adek kesayangan kakak sekarang sudah jadi suami." Ucapnya sambil terisak. "Kamu jangan cuek yah jadi suami, peka...belajar peka dengan perasaan istrimu." Imbuhnya lagi menepuk-nepuk pundakku kemudian melepas pelukannya.


Aku tersenyum melihat kelakuan kak Nindi yang menurutku berlebihan melihatnya terisak seperti itu.


"Iya kak, lagi ikhtiar ini." Ucapku menaik turunkan kedua alisku kepadanya.


"Dasar...!"


"Awwww...!" Keluhku karena mendapatkan satu pukulan di lenganku dari kak Nindi.


Kenapa perempuan hobby banget memukul? Benakku.


Mobilpun akhirnya melaju yang disopiri oleh mas Fachri sendiri.


"Kita menuju rumah umi dan abi dulu yah, ini titah umi, gak boleh dibantah katanya." Ucap mas Fachri sambil fokus menyetir.


"Kamu gak papa kan, Ber?" Tanya kak Nindi.


"Iya, aku gak masalah, dimana aja boleh, yang penting ada kasur. Capek banget!" Kulihat dari spion tengah Bery menyandarkan kepalanya di pundak kak Nindi.


Aku menggeleng sendiri dengan apa yang aku fikirkan sekarang.


Perjalanan yang memakan waktu lebih dari sejam untuk sampai ke rumah sepertinya cukup untuk Bery mencuri tidur sebentar, berbeda dengan diriku yang harus menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan kak Nindi di sepanjang jalan.


Sesampainya di rumah, kami disambut hangat oleh umi dan abi.


Kembali suasana haru tercipta dalam pertemuan tersebut, seolah baru bertemu setelah sekian puluh tahun.


"Apa kabar, umi? Sehat?" Tanya Bery yang langsung bergelayut manja di lengan umi setelah mereka berpelukan terlebih dahulu.


"Alhamdulillah, umi sehat, hanya saja akhir-akhir ini kepikiran kalian terus karena kangen." Ucap umi tersenyum lembut.


Sesaat tawa mereka bergema mendengar penuturan umi yang kuanggap sangat jujur itu.


"Bener itu, saking kangennya, abi yang terus diminta telpon kalian dulu biar ada alasan untuk bicara dengan kalian." Celetuk abi membuat semuanya semakin tertawa keras.


Kami semua beranjak masuk ke dalam rumah setelah temu kangen sebentar, kemudian semua ikut mengantar kami sampai ke dalam kamarku.


"Nah, kamar kalian sudah umi siapkan." Umi membuka pintu kamarku dan nampaklah perubahan yang cukup drastis dari terakhir yang aku tinggalkan.


"Ber, nanti kamu boleh desain ulang sesuai selera kamu, atau bagaimana kesepakatan kalian saja."


Bery tampak tersenyum dan mengangguk, matanya terus memindai dengan cermat interior kamarku yang seterusnya akan menjadi kamarnya juga.


Seingatku ini adalah pertama kalinya ia menginjakkan kakinya ke dalam kamarku. Bery kemudian mendudukkan dirinya di sisi ranjang kemudian membuka tas selempangnya.


"Ya udah, barang-barang kalian sudah dibawa ke sini semua, kalian istirahat dulu, mandi, dan cepat turun untuk makan malam. Ok!" Ucap kak Nindi menjeda karena sepertinya umi masih betah ingin berlama-lama bersama kami di sini.


"Kami tunggu di bawah." Ucap umi mengingatkan.


"Siap umi." Ujar Bery sedikit mengeraskan suaranya karena umi langsung menutup pintu setelah menyelesaikan ucapnnya.


Bery langsung menjatuhkan badannya ke belakang dengan kedua kakinya masih menjuntai di lantai.


"Capek banget yah? Mau aku pijit?" Ucapku serius menawarkan bantuan.


"Gak usah, nanti habis mandi juga udah segar kembali." Tolaknya. " kamu mandi duluan, gih.. aku masih pengen baring- baring dulu."


Bery kemudian menggeser tubuhnya agak ke tengah kemudian berganti posisi menjadi tengkurap, ia merentangkan kedua tangannya dan melebarkan kakinya.


"Akhirnyaaaa...ketemu kasur!"


Aku hanya bisa berdecak melihat tingkahnya itu, tak ingin mengganggunya, aku pun segera berlalu ke kamar mandi karena memang yang kubutuhkan saat ini adalah segera berendam di dalam air.


Oooo☆~~☆oooO


Jangan lupa berikan like, comment dan vote kalian yah untuk mendukung Novel ini. Klick tombol Favorit agar kalian bisa mendapatkan notifikasi tiap kali ada update terbaru. okay.. Thanks 😍🤗