
💥Ceritanya kita kasih bumbu dikit yah😁
💦💦💦
"Hai Sky, lagi bimbingan juga yah?" Tanya seorang gadis yang seingatku namanya adalah Stella, teman satu kelasku.
"Iya..." ucapku datar kemudian duduk di salah satu ujung kursi panjang yang ada di depan ruang kepala jurusan kami.
"Sky, aku dan teman-teman mau ngadain party weekend nanti. Datang yah."
"Maaf, saya tidak bisa." Tolakku tegas.
"Datanglah Bro, sekali-kali bergabunglah ke acara kami." Tiba-tiba Revan datang ikut berusaha mengajakku.
Revan adalah ketua kelas kami. Aku memang tidak dekat dengannya, namun dia salah satu teman kelas yang lebih bisa menerima diriku yang pendiam dan terkesan anti sosial.
Aku bukannya tidak ingin menolak undangan mereka, apalagi mungkin ini yang akan menjadi akhir dari kebersamaan kami setelah sekian tahun di kampus, namun mengingat statusku yang sudah menikah, rasanya tidak etis mendatangi pesta yang mereka buat. Apalagi aku tahu Stella sudah lama menaruh hati padaku.
"Aku tidak bisa janji." Jawabku ambigu. Tidak enak jika menolak secara frontal di depan Revan.
"Pokoknya kamu harus datang, Sky. Aku tunggu kamu yah.." sela Stella dan langsung menjauh dari kami dengan wajah merona merahnya.
"Itu kode, Sky." Ucap Revan setelah Stella menghilang di balik koridor kampus.
"Maksudnya?" Tanyaku pura-pura bodoh.
"Masak kamu gak ngerti-ngerti juga kalau Stella itu suka sama kamu? Kamu beruntung Sky, cewek incaran se-Teknik malah jatuh hati sama kamu tanpa perlu berusaha. Lihat tuh mas Alka, mas Roni dan siapa lagi tuh, apa coba kurang mereka? Ditolak sama Stella, man. Tapi kamu? Heran aku, kok bisa-bisanya Stella jatuh hati sama kamu padahal udah dicuekin sepanjang zaman." Revan mulai mengoceh tentang Stella.
Entah kenapa Revan suka membangga-banggakan kecantikan dan kepopuleran Stella di kampus, kenapa bukan dia saja yang pacaran dengannya.
Aku tidak menanggapi kalimat panjang Revan tadi, sekarang aku malah mengeluarkan mackbook dari ranselku dan memeriksa tugas Skripsiku, berharap tidak banyak revisi dan tinggal menunggu disetujui oleh semua dosen pembimbingku.
--
--
"Kamu yakin Sky, semua sistem di dalam rancangan kamu ini bisa berfungsi sebagaimana mestinya?" Tanya ibu Tri dosen pembimbing utamaku.
"InsyaaAllah yakin, bu." Jawabku mantap.
"Perancangan Struktur Bangunan Hotel Terapung yang Menghasilkan Listrik Dengan Berputar Sepenjang Hari." Kata bu Tri membaca ulang judul Skripsiku.
"Kamu menggabungkan banyak spesifikasi ilmu keteknikan di sini, Sky. Ibu berharap, ini bukan hanya terlihat luar biasa di atas kertas namun juga bisa diwujudkan bangunannya secara riil. Jangan sampai kamu hanya fokus kepada idenya sementara tidak ada perusahaan konstruksi atau engineer di lapangan yang bisa mewujudkannya karena terlalu futuristik." Ucap ibu Tri dengan tangan kanannya sibuk membolak balikkan lembaran-lembaran yang berisikan materi Skripsiku.
"Saya pastikan ke ibu, InsyaaAllah suatu saat nanti saya sendiri yang akan mewujudkannya. Saat ini saya masih dalam tahap lobby-lobby dengan investor yang kiranya tertarik dengan desain ini."
Aku memang sudah ada pembicaraan tersendiri dengan Mr.Abdullah saat beberapa kali bertemu beliau di sela-sela meeting di Maldives. Beliau sangat tertarik dengan ide tersebut mengingat beliau punya beberapa pulau lagi yang akses untuk listriknya masih sangat jauh. Jika bangunannya sendiri bisa menghasilkan listrik untuk kegiatan operasional hotel itu sendiri, maka masalah akses listrik bukan lagi menjadi penghalang besar untuk beliau kembangkan beberapa pulau pribadinya tersebut.
Keunggulan dari hotel terapung ini, selain bisa menghasilkan listrik untuk operasionalnya sendiri, hotel ini juga bisa berpindah tempat dari satu tempat ke tempat lainnya, layaknya sebuah kapal, tapi bangunan ini di desain untuk fungsi hotel. Jadi bangunan hotel ini tidak akan pernah ditambatkan secara permanen di satu tempat.
"Oke, ibu percaya sama kamu, Sky."
"Terima kasih, bu."
"Kalau prof, Alham sudah ACC, kamu boleh lanjut naik sidang. Karena pada dasarnya kamu sama saja sedang merencanakan pembuatan kapal dan tentu prof.Alham ahlinya." Ucap beliau kemudian mengembalikan berkas Skripsiku.
"Baik bu, setelah mengerjakan beberapa catatan dari prof.Alham, saya akan konfirmasi lagi sama ibu secepatnya." Ucapku bersemangat.
"Oke, ibu tunggu."
Aistensi Skripsi akhirnya diakhiri dengan beberapa caratan dari ibu Tri, terutama penambahan pada daftar pustaka.
Aku bergegas menuju parkiran setelah urusan di kampus selesai. Sebentar lagi masuk waktu makan siang di kantor Bery, aku ingin mengajaknya keluar makan siang.
"Halo..Assalamu'alaikum, Sky."
"Enggak juga, ini lagi di ruangan. Kenapa?"
"Aku jemput kamu makan siang." Aku kemudian masuk ke dalam mobil dan menyalakan mesinnya.
"Kamu dimana sekarang?"
"Masih di kampus, tapi ini sudah mau berangkat."
"Oke, hati-hati. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikum salam." Kulepas rem tangan mobil dan mulai bergerak mundur.
"Tok..tok..tok.." tiba-tiba ada yang menggedor-gedor kaca mobil.
Kubuka kaca mobil dan ternyata rupanya Stella yang menggedor kaca mobil tadi.
"Sky, kamu mau ke tempat magang kan?" Tanyanya.
"Iya, kenapa?" Tanyaku mengerutkan kening.
"Aku ikut yah, aku juga mau ke kantor tempat kamu magang. Kebetulan mobilku rusak dan aku sudah janji dengan ayahku di sana."
Tanpa menunggu persetujuanku, Stella langsung masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi penumpang sampingku.
Sebenarnya aku tidak senang, hanya saja aku tidak enak memintanya turun.
Stella merupakan perempuan yang cerewet, sepanjang perjalanan kami, ia tak henti-hentinya bercerita. Aku begitu malas mendengarnya, berbeda jika Bery, aku akan selalu siap dan senang jika melihatnya meracau tidak jelas. Tanpa sadar senyumku mengembang hanya dengan mengingat wajah cemberutnya atau racauan tidak pentingnya namun selalu membuat hatiku menghangat.
Sesampainya di kantor, kuparkirkan mobil tidak jauh dari pintu lobby. Aku berjalan cepat ke lobby dan ternyata dibuntuti oleh Stella yang berusaha mensejajarkan jalannya denganku.
Wajahku berbinar melihat Bery yang sedang ada di lobby berbicara dengan pak Dirga dan satu pria lagi yang tidak kekenali karena posisinya memunggungiku.
Tapi tunggu dulu...
"Bukankah pria itu adalah si duren?" Tanyaku dalam hati.
"Ayah..." tiba-tiba Stella memanggil ayahnya yang entah siapa ayahnya di sini berhubung ada beberapa laki-laki di lobby selain pak Dirga dan pak Rangga.
Pak Dirga menoleh dan langsung menyambut hangat Stella yang berjalan cepat ke arahnya.
Aku hanya bisa tersenyum samar kepada pak Dirga dan pak Rangga kemudian mengambil posisi di dekat Berry, tepatnya antara Bery dengan pak Rangga.
"Sama siapa ke sini, sayang?" Tanya pak Dirga kepada Stella yang bergelayut manja kepada pak Dirga.
"Sama Sky, yah. Ini loh temen aku yang sering kuceritakan ke ayah. Dia magang di sini." Ucap Stella pada pak Dirga membuat pak Dirga menatapku aneh. Entahlah.. tatapan pak Dirga seperti menyiratkan sesuatu di sana.
"Kak Bery, apa kabar? Lama gak ketemu?" Stella kemudian menyapa Bery, nampaknya mereka cukup akrab.
"Alhamdulillah... baik, dek. Kamu makin cantik aja." Puji Bery yang berhasil membuat wajah Stella berbinar terang.
"Ah, kakak bisa aja. Harus cantik dong kak, biar bisa dilirik sama gebetan." Ucapnya nyegir.
"Jadi makan siangnya?" Tanyaku ke Bery mengabaikan keberadaan yang lain di sana.
"Ayo, kalau begitu sekalian saja kita makan siang semuanya bareng-bareng." Ucap Bery kemudian menatapku tidak enak.
Rencana makan siang berdua terpaksa gagal. Ingin mengeluh tapi sudahlah...
Oooo☆~~☆oooO
Jangan lupa berikan like, comment dan vote kalian yah untuk mendukung Novel ini. Klick tombol Favorit agar kalian bisa mendapatkan notifikasi tiap kali ada update terbaru. okay.. Thanks 😍🤗