HAPPIER

HAPPIER
BAB 21



"Wah..sepertinya takdir suka sekali mempertemukan kita akhir-akhir ini, bu Bery." Ucap seorang pria yang tiba-tiba datang dari arah belakang kami.


Aku menoleh melihatnya dan ternyata itu adalah pak Rangga. Lagi dan lagi pak Rangga. Sepertinya dia selalu ada dimana-mana.


"Eh, pak Rangga." sedikit terkejut namun Bery tetap menyapanya dengan sebuah senyuman ramah.


"Aku juga menghadiri acara reunian ini, kita satu kampus, hanya saja saya dari teknik Sipil dan kita juga beda angkatan." Ucapnya menjelaskan setelah mendapat tatapan penuh tanya oleh Bery.


"Oh gitu.. gak nyangka yah pak ternyata kita se-almamater." Ucap Bery lagi sambil melangkah masuk ke dalam lift yang baru terbuka diikuti oleh aku dan pak Rangga.


Aku sengaja berdiri di antara mereka, memberi jarak aman, kebetulan hanya kami bertiga yang ada di dalam lift. Pak Rangga seperti tidak nyaman dengan sikapku namun kuabaikan, yang terpenting adalah kenyamanan dan keamanan Bery.


"Ini sudah mau pulang yah, bu?" Tanyanya lagi kepada Bery seolah menganggapku tidak ada.


"Iya pak," jawab Bery singkat namun tetap tersenyum ramah.


"Pulangnya diantar sama mas Sky ini yah?" Tanyanya lagi melirik sekilas ke arahku. "Tapi kalau ibu mau, ikut bareng saya saja pulangnya, kasihan masnya nanti masih harus pulang sendiri ke rumahnya lagi." Lanjutnya menawarkan tumpangan.


Bery melirikku dan aku pun membalas tatapannya dengan sorot mata tajam kepadanya.


"Maaf pak Rangga. Terima kasih. Saya sama Sky saja, saya yang meminta dia ke sini menjemput saya." Tolaknya halus dengan mata masih menatapku seolah meminta bantuan untuk mendukung kebohongannya.


Aku pun menganggukkan kepala dan menoleh ke pak Rangga sebagai bentuk pembenaran yang menguatkan alasan Bery tadi.


"Oke, baiklah. Kalau begitu saya pemisi duluan. Mari bu Bery, mas Rangga." Pamitnya duluan melangkah keluar setelah lift sudah sampai di lobby hotel.


Aku tidak mengerti mengapa Bery harus berbohong dengan mengatakan akan pulang bersamaku. Tapi kalau boleh jujur, hatiku begitu menghangat ketika ia lebih memilih pulang denganku dibanding dengan pria tersebut.


Kami berjalan bersisian keluar dari gedung hotel, Bery nampak sibuk dengan ponsel pintarnya.


"Ayok pulang!" Ajakku setelah sempat sudah berjalan beberapa langkah meninggalkannya.


"Kamu pulang aja, Sky! Kakak lagi pesan taksi online ini." Tolaknya.


Aku bergegas menghampirinya kemudian mengambil alih ponselnya lalu membatalkan transaksinya. Aku tidak peduli jika driver online-nya memaki-maki Bery setelah ini.


"Kamu apa-apaan sih Sky? Gak bisa gitu dong seenaknya meng-cancel punya orang!" Wajahnya memerah menyampaikan protesnya.


"Ini sudah jam 10 malam, ikut aku!" Lagi-lagi kutarik tangannya tanpa permisi menuju parkiran.


Aku mengambil helm cadangan lalu memakaikan ke kepalanya. Aku memang selalu membawa helm cadangan karena kak Nindi suka tiba-tiba minta dijemput.


"Sky, ini gak lucu. Lihat pakaian aku, masak naik motor sport? Bagaimana caranya?" Protesnya kesal.


Aku menatap penampilannya dari atas ke bawah. Menimbang-nimbang beberapa saat kemudian mendorong motorku sedikit menepi ke bagian sisi taman di parkiran yang dibatasi oleh beton setinggi 20cm yang menonjol ke atas.


Kubuka jaketku kemudian kuberikan padanya.


"Pakai jaketnya sekarang, naik di atas beton ini biar gampang naik motornya." Ucapku mengabaikan muka kesalnya.


Bery menghentakkan kakinya tapi akhirnya melakukan apa yang kuperintahkan tadi. Ia mengangkat gaunnya setinggi lutut hingga menampakkan legging hitamnya yang membuatku buru-buru membuang pandangan ke arah lain. Mukanya masih bersungut dengan bibir mengerucut.


"Udah, ayok jalan." Ucapnya kemudian memeluk tas ransel yang ada di punggungku.


Akhirnya kulajukan motorku dengan kecepatan sedang membelah malam di jalanan ibukota dengan Bery duduk di belakangku.


"Mau langsung pulang atau ada tempat yang ingin kamu kunjungi saat malam hari?" Tanyaku sedikit berteriak.


"Boleh!" Jawabku mantap.


"Kita ke Pelabuhan, yuk!"


"Oke!" Akupun melajukan motor ke arah pelabuhan, kebetulan aku tahu ada spot mancing di sana yang enak juga buat nongkrong saat malam hari sambil menikmati kerlap-kerlip lampu-lampu sorot yang memenuhi pelabuhan.


"Wow... keren!" Ucap Bery tertakjub setelah kami sampai. "Kamu sudah biasa ke sini bawa pacar kamu yah Sky?" Tanyanya lagi.


"Apa katanya, pacar? Baru kamu yang aku bawa ke sini" Sky membatin.


"Teman cewek aja gak punya, apalagi pacar!" Jawabku malas.


"Kamu itu ganteng loh Sky, masa gak ada yang nyangkut?"


"Pertanyaan apa lagi itu?" Sky


"Ngapain pacaran? Ribet!!!"


Demi apapun, sampai sekarang aku belum bisa faham bagaimana seseorang bisa berubah menjadi orang bodoh di hadapan pacarnya.


Mau-maunya gitu keluar duit banyak, kasi banyak waktu, perhatian bahkan kehormatannya untuk seseorang yang hanya berstatus pacar. Status yang sama sekali tidak punya landasan hukum selain rasa kepemilikan. Memiliki dan dimiliki oleh sesuatu yang semu. Ada apa-apa, main kabur saja, tidak mau bertanggung jawab.


Katanya sih pacaran itu happy-happy sementara menikah itu tanggung jawab. Makanya buat mereka yang kurang rasa tanggung jawabnya, sudah pasti akan memilih pacaran, kan cuman buat senang-senang, tidak ada aturan baku bahwa pacaran itu punya hak dan tanggung jawab di dalamnya. Dan yang paling rugi di sini adalah pihak yang paling suka sama pacarnya, dialah yang akan paling banyak berkorban.


Aku sendiri merasa, sekali aku suka sama seseorang, maka akulah yang akan menjadi pihak yang paling besar rasa sukanya. Maka aku jugalah yang akan paling banyak berkorban nantinya, karena itu, orang seperti aku tidak cocok pacaran, nanti aku yang akan sakit sendiri, hancur sendiri dan berjuang sendiri untuk seseorang yang jelas tidak punya kewajiban apa-apa untuk membalas semua perasaab maupun kebaikanku kepadanya.


Bukannya takut, aku hanya tidak mau saja membuang-buang waktuku untuk orang yang belum tentu menjadi jodohku. Menjadi penjaga jodoh orang lain itu tidak akan pernah masuk dalam to do list hidupku.


"Kamu benar, Sky! Pacaran itu ribet. Lebih banyak mudharat daripada manfaatnya." Ucapnya menerawang.


Aku memilih membiarkannya menikmati pemandangan yang terhampar indah di hadapan kami. Aku memandangi bulan yang sesekali menghilang karena tertutup awan.


Sudah hampir 30 menit kami berdiri di sini, aku rasa sudah cukup untuk segera meninggalkan tempat ini.


Aku berfikir keras bagaimana caranya Bery naik ke atas motor nantinya? Di sini tidak ada pijakan yang bisa ia pakai untuk jadi tumpuan. Seolah mengerti dengan apa yang kufikirkan, Bery pun menatapku dengan dua bahu dan tangan diangkat.


"Kamu sih, udah tau kakak pake gaun panjang begini, malah diajakin naik motor." Keluhnya menyesalkan keputusanku.


Aku berjongkok di sisi motor dengan satu lutut bertumpu di tanah dan satu kaki kutekuk dengan paha rata ke depan.


Kutepuk-tepuk pahaku sambil menganggukan dagu ke arah Bery.


"Injak pahaku saja." Ucapku padanya.


Bery membulatkan mata menatapku, seperti terkejut sekaligus ragu.


"Yakin, Sky? Kakak berat loh?" Tanyanya tidak enakan.


"Ayok naik, daripada aku gendong!" Dia mencebik menatapku tidak suka.


Ia kemudian mendekat kemudian melepas high heelsnya. Pelan-pelan ia injakkan satu kakinya di atas pahaku dan akhirnya berhasil duduk manis di atas jok penumpang.


Oooo☆~~☆oooO


Jangan lupa berikan like, comment dan vote kalian yah untuk mendukung Novel ini. Klick tombol Favorit agar kalian bisa mendapatkan notifikasi tiap kali ada update terbaru. okay.. Thanks 😍🤗