HAPPIER

HAPPIER
BAB 61



Aku hanya bisa menelan salivaku dengan kasar saat Bery menanyakan kuapakan mantan terbrengseknya itu?


Ingin berkata jujur tapi khawatir dia akan kembali ketakutan kepadaku. Syukurnya dia bukan orang yang sulit untuk menerima alasan dan tingkat ke-kepoannya juga bukan yang level akut.


Entah dia percaya atau pura-pura percaya, aku juga tidak begitu yakin. Tapi aku senang karena sepertinya dia sudah tidak tertarik membahas laki-laki itu. Laki-laki yang paling malas kusebut namanya.


#FlashbackOn


Keluar dari kantor Bery, saat Rio hendak membuka pintu mobilnya, tiba-tiba saja ada 2 orang asing yang mendekatinya dan langsung memukul tengkuknya. Setelah Rio tak sadarkan diri, dia didorong masuk ke dalam mobilnya kemudian salah satu dari pria asing tersebut mengambil alih kemudi mobilnya.


Rio dibawah ke salah satu kawasan pembangunan proyek gedung apartemen yang lokasinya sedikit terpencil.


Mobil yang membawa Rio tersebut melaju ke area basement dimana kondisinya sangat gelap karena tidak adanya pencahayaan di sana.


Sesampainya di sana, Rio di tempatkan di sebuah kursi kayu, kedua tangannya diikat ke belakang, kedua kakinya terikat pada masing-masing kaki kursi, dengan mulut dan matanya diikat kain hitam.


Sky tiba di sana 10 menit kemudian setelah mendapatkan informasi dari orang-orang suruhannya.


Sky mengambil satu kursi dan meletakkannya tepat di hadapan kursi yang diduduki Rio.


Sky bersandar pada sandaran kursi dengn satu kaki menopang pada kaki yang lainnya.


Sebuah lampu sorot telah disediakan dan menyorot ke arah Rio. Tak sabar menunggu Rio segera tersadar, Sky meminta orang-orangnya mengambil seember air dan menyiramkannya ke tubuh Rio.


Perlahan kesadaran Rio pun kembali. Dia meronta ingin melepaskan diri namun tak berdaya.


Sky memberi kode agar membuka penutup mata Rio.


Rio tampak kaget karena ternyata orang yang menculiknya saat ini adalah Sky, laki-laki yang pernah mengaku sebagai suami Bery dan mengancamnya agar berhenti mendekati Bery.


"Ternyata anda masih punya nyali juga mendatangi istriku" ucap Sky dengan nada datar.


"Bukankah sudah kuingatkan dari awal???" Sorot mata Sky memancarkan api kemarahan di sana.


Rio ingin membalas namun kata-katanya tak bisa keluar lantaran kain yang mengikat mulutnya. Kembali Sky memberi kode kepada anak buahnya untuk membuka pengikat tersebut.


Rio meludah kasar ke arah Sky, namun karena jarak mereka yang cukup jauh sehingga tidak mengenai Sky.


"Anda benar-benar tidak sopan, tuan! Apakah peringatan pertama dulu masih kurang?" Tanya Sky mengingatkan.


Rio mendelik menatap tajam kepada laki-laki yang juga menatapnya dengan tatapan meremehkan.


Waktu itu Rio dibuat ketar-ketir oleh Sky karena tiba-tiba beberapa perempuan mendatangi kantornya dan semuanya mengaku sebagai pacar Rio. Bisa hancur reputasinya sebagai Bupati termuda yang hebat jika ketahuan publik bahwa dia tidak lebih dari seorang buaya kadal turun gunung.


Keringat dingin sudah membasahi seluruh tubuh Rio.


Sky mendekat dengan sebuah pisau berkarat di tangannya. Dia kemudian berusaha membuka salah satu ikatan tali di kaki Rio dengan pisau tersebut. Gerakannya cepat seperti menggergaji di atas tali.


"Pisau ini sungguh tidak berguna!" Keluhnya kesal. "Pisau ini tadi aku temukan di selokan, sengaja aku pungut dan membawanya ke sini. Aku tadi masing bingung bagaimana caranya menghabisi anda tanpa keluar modal karena uangku terlalu berharga untuk membeli pisau baru yang tajam." Sky menampakkan senyum smirknya.


"Tapi rupanya aku masih punya satu kebingungan lagi, mungkin anda bisa membantu saya, tolong tunjukkan, bagian mana dari tubuh anda yang ingin disentuh oleh pisau ini?" Tanya Sky datar tanpa ekspresi namun mampu membuat Rio gemetaran hingga terlihat jelas ada air yang merembes turun dari celananya.


"Jangan!!! Tolong, jangan lakukan itu!!!" Rio memohon penuh rasa takut.


"Arrrggghhh.. anda sangat tidak seru, tuan!" Kesal Sky melempar pisau di tangannya tadi ke arah ************ Rio. Bersyukur pisau tadi hanya mengenai bibir kursi yang jaraknya tinggal 3cm dari aset masa depannya itu.


"Ampuuuunnn.. ampun.. to..tolong lepaskan saya. Ampun! Saya mohon. Sa..saya janji tidak akan ganggu Bery lagi." Rio benar-benar dibuat tidak berdaya. Dia tidak habis pikir akan seperti ini perlakuan yang didapatkannya hanya karena menginginkan Bery kembali.


Sky menunduk, mensejajarkan tinggi tubuhnya dengan Rio.


"Anda pegang kata-kataku, jika anda masih berani menampakkan wajah di depan istri saya, maka bersiaplah kehilangan benda paling berharga anda ini!"


Sky langsung meninggalkan tempat itu dengan langkah lebar, dia malas mendengar tangisan laku-laki itu. Banci!!!


#FlashbackOff


Seperti ucapan Bery sebelumnya bahwa aku akan ketar-ketir melihat pria di luar sana mendekatinya. Baru semalam dia ucapkan, pagi ini sudah menjadi kenyataan.


Pak Rangga sudah nangkring duluan di depan ruangan Bery. Meskipun aku tahu saat ini kantor Bery sedang menjalin kerjasama dengan kantor pak Rangga, nyatanya hatiku sekarang memanas dan seperti cacing kepanasan yang kena setrika , dada hingga hidung sudah kembang kempis dibuatnya.


"Santai, Sky! Istri lagi kerja, bukan selingkuh!" Nasehat bu Kinan membuayarkan pikiran liarku yang rasanya sangat menyesakkan.


Aku memilih tidak ikut meeting bersama mereka karena aku memang tidak ikut in-charge di proyeknya. Aku memilih duduk di kursi depan meja bu Kinan, mencoba mengalihkan suasana hati.


Satu jam kemudian pak Rangga keluar dari ruangan Bery dengan diikuti Bery di belakangnya.


"Sekali lagi terima kasih, bu. Saya permisi." Ucap pak Rangga kepada Bery.


"Mari bu Kinan, mas Sky!" Pak Rangga mengangguk sopan kepada kami berdua lalu beranjak pergi.


Aku langsung menyusul Bery masuk ke ruangannya. Status magangku sudah selesai, tapi aku sudah diangkat jadi karyawan Bery secara sepihak olehnya.


Bery belum sampai ke kursinya tangannya sudah kutarik dan tubuhnya pun akhirnya terhuyung masuk ke pelukanku.


"Sky... ini di kantor!" Protesnya kesal.


Aku tidak peduli, kuhirup aroma tubuh Bery hingga memenuhi rogga dadaku.


"Aku kangen!" Ucapku asal kemudian melepaskannya.


Bery menggeleng tanpa kata lalu menghempaskan tubuhnya di kursinya.


"Kangen sih kangen Sky, tapi tau tempat juga. Memangnya yang di rumah belum cukup apa?"


"Aku gak akan pernah merasa cukup, sayang! Makanya jangan jauh-jauh dariku." Ucapku tersenyum nakal.


"Yaa ampun Sky, perasaan ini kita masih di gedung yang sama, masih aja!" Ucapnya berdecak heran.


Aiihhh.. dia sangat cantik saat bibirnya mengerucut sambil serius memandangi lembaran kertas gambar di meja kerjanya.


Merasa diabaikan, aku kembali ke meja kerjaku. Kami di sini untuk bekerja, kalau aku tidak berhenti mengganggu Bery, kapan kami pulangnya?


Kembali kami larut dalam pekerjaan masing-masing, aku sama seperti Bery, ketika bekerja, maka fokus kami akan terarah sepenuhnya ke pekerjaan. Ini bukan pekerjaan main-main, banyak hal yang dipertaruhkan jika terdapat kesalahan.


Aku tidak tahu kapan bu Kinan masuk ke ruangan, tapi sekarang beliau sudah berdiri di depan meja kerjaku.


"Sky, minggu depan pihak dari Mr.Abdullah meminta tim kamu ke Maldives kembali, katanya akan ada sedikit perubahan design jadi beliau meminta pihak kita kembali ke sana untuk survey." Jelas bu Kinan.


Aku melirik ke Bery dan dia hanya mengangguki ucapan bu Kinan tadi.


"Aku gak bisa ikut, Sky. Biar kamu dan tim yang ke sana, di sini aku juga agendanya padat." Ucap Bery seolah mengerti arti dari tatapanku kepadanya.


"Lain kali saja bulan madunya, mana enak bulan madu colongan." Ucap bu Kinan nimbrung.


"Oh yah, Stella juga akan ikut menggantikan ayahnya." Imbuh bu Kinan sambil berlalu meninggalkan kami.


Aku dan Bery saling memandang, ada perasaan mengganggu yang tiba-tiba menyeruak. Bery yang tadinya menatapku kini kembali ke mode seriusnya dengan pekerjaannya.


Sedikit kecewa, aku pikir Bery akan cemburu tapi dia tampak biasa-biasa saja.