HAPPIER

HAPPIER
BAB 69



Namun perasaan sakit itu hanya sekilas saja, ada binar bahagia yang memendar di pelupuk mata Sky.


"Ah..istriku sedang marah! Ia marah karena peduli, khawatir dan juga merindukanku. Mengapa aku begitu bodoh?" Gumam Sky merutuki kebodohannya yang tidak peka dengan perasaan wanitanya.


Sky langsung melangkah cepat menyusul Bery yang baru saja meninggalkan dirinya yang masih mematung meresapi ucapan terakhir Bery.


Setelah mencari Bery di kamar dan juga kamar mandi, Sky menuju dapur karena ia tidak menemukan Bery di manapun.


"Hentikan aksi konyolmu itu, Sky! Aku masih marah jadi jangan coba-coba mengancamku!!!"


Sontak Sky mengangkat kedua tangannya ke atas sejajar dengan kepalanya. Perlahan Sky menyimpan kembali pisau yang ada di tangannya.


Tatapan mata Bery mengikuti gerakan Sky meletakkan pisaunya, setelah merasa aman, Bery kembali membuka suara.


"Jangan pernah mencoba membenturkan kepalamu atau berfikir mengiris urat nadimu dengan pisau itu hanya untuk mendapatkan perhatianku karena aku sendiri yang akan membunuhmu jika kamu berani mencobanya!" Tegasnya menatap tajam ke netra Sky.


Sky menelan salivanya dengan kasar, ia kini seperti ayam sayur yang tidak berdaya. Padahal niatnya mengambil pisau sama sekali bukan untuk bunuh diri, dia hanya ingin makan buah apel yang ada di atas meja makan.


Bukannya tersinggung atau marah dengan sikap Bery kepadanya yang bossy banget, Sky justru melihat Bery tampak begitu menggemaskan.


"Level kecantikan kamu maksimal banget saat marah-marah  seperti ini". Senyum nakal mengembang di wajah Sky berharap pujiannya bisa melelehkan hati istrinya yang sedang beku itu.


"Jangan coba merayuku, tidak mempan!" Sarkas Bery dengan wajah yang masih ditekuk dan terdengar tidak bersahabat.


"Itu bukan rayuan, sayang! Aku ngomong fakta." Tangan Sky dengan lancangnya mencolek  pinggang Bery karena sangat gemas melihat istrinya itu masih dalam mode dingin.


Bery memilih diam dan melanjutkan aktifitas membuat sarapan ala kadarnya itu.


Melihat Bery menuju meja makan dengan membawa satu piring mie goreng, Sky hanya tersenyum di dalam hati.


"Duh...istriku romantis banget, bikin mie goreng sepiring buat berdua. Uluh..uluh.. gumush deh." Sky menghempaskan bokongnya dengan semangat di sisi Bery duduk. Meski sadar bahwa nyatanya istrinya itu tidak bermaksud berbagi sarapan kali ini kepadanya.


Pletak!


"Aawww..."


Sky hanya bisa meringis mendapati tangannya dipukul pakai sendok.


"jangan ke-geeran, kalo mau bikin sendiri!" Tidak ingin peduli, Bery menyuap mie gorengnya banyak-banyak dan cepat-cepat ke dalam mulutnya.


"Uhuk..uhuk.."


"Pelan-pelan, sayang! Keselek kan." Sky dengan sabar memberi air minum kepada Bery.


"Gak usah buru-buru! Aku gak bakal mengambil makanan kamu, soalnya lihat kamu kenyang aku juga jadi rasa kenyang kok."


Bery merotasi bola matanya merasa jengah dengan bualan suaminya yang sialnya malah terlihat menggemaskan saat ini.


Lelah menghadapi Sky dan takut dirinya terlalu cepat luluh, Bery segera mengakhiri sarapannya dan kembali ke kamar dan segera disusul Sky di belakangnya.


Plak!


Suara pintu berdentum keras menyisakan Sky yang ujung hidung mancungnya sedang menempel di pintu. Cepat satu detik saja, bisa dipastikan hidungnya bisa rata dengan jidat dan bibir.


"Astaghfirullah...!" Sky hanya bisa beristigfar sambil geleng-geleng kepala dan mengelus dada.


"Sayang, suami gantengmu ini standby di sini yah.. jangan lupa buka kamar kalau marahnya sudah selesai. Tapi jangan lama-lama, ntar jamuran!"


Bery mendelik kesal, dia jadi uring-uringan sendiri melihat sikap Sky yang kelihatan santai menghadapi amarahnya. Entah kenapa dia merasa Sky sudah tidak begitu menginginkan dirinya. Jika dulu saat dirinya marah, Sky akan kekeh meminta maaf hingga melakukan hal ekstrim demi mendapatkan maafnya. Tapi sekarang, dengan begitu santainya bahkan masih bisa bercanda dengan semua rayuan gombalnya.


"Arrrggghhh..." Bery mengacak-acak rambutnya.


"Apa hanya segitu saja perjuangannya? Setelah dia berhasil membuatku jatuh cinta, sekarang malah dia yang santai. Ck!" Ucapnya bermonolog dengan dirinya sendiri.


Satu jam...


Dua jam...


Dua jam pun berlalu dan tidak ada tanda-tanda Bery akan membuka pintu.


Tok tok tok..


"Bery... aku tau kamu dengar aku! Aku sudah berusaha bersabar menunggu marahmu reda. Tapi maaf, aku gak bisa penuhi janjiku untuk bisa selalu memberi kamu waktu saat sedang marah. Aku tidak kuat diabaikan, aku tidak sekuat itu, Ber!" Ucap Sky mencoba bernegosiasi setelah dua jam diabaikan.


"Aku serius dengan ucapanku, Ber! Sekarang kamu pilih, aku mati dengan tanganku sendiri atau sekarang juga buka pintu ini dan bunuh aku dengan tanganmu!!!" Lantang suara Sky berakhir dengan satu pukulan tinju menghantam pintu.


"Arrggghhh..." teriak Sky frustasi.


"Bery.. buka!" Kedua tangan Sky aktif menggedor-gedor pintu, mengabaikan rasa sakit di tangannya yang mulai dialiri darah segar.


Kedua tangan Sky melayang dan tubuhnya sedikit terhempas masuk ke dalam kamar bersamaan Bery yang membuka pintu dengan wajah masamnya.


Sky berlutut, memeluk paha Bery.


"Jangan abaikan aku lagi, ini sudah cukup. Kumohon!" Lirihnya.


"Ini belum sehari Sky, bagaimana aku yang hampir empat hari gelisah menunggu kabar kamu. Apakah kamu baik-baik saja di sana, apakah kamu sudah makan, apakah kamu merindukan aku sebesar aku merindukan kamu di sini? Tapi apa? Kamu mengabaikan aku!" Tangis Bery pun pecah juga.


Sky berdiri menangkup wajah wanitanya, memandang jauh ke dalam manik mata Bery, mencari kebenaran dari pernyataan rindu wanita yang sangat dicintainya itu.


Sky bisa melihatnya, Sky bisa merasakannya.


Wajah Bery kini dihujaninya dengan kecupan yang menggebu-gebu.


"Aku lebih merindukanmu, aku adalah laki-laki yang akan selalu lebih besar rindunya buat kamu. Tolong jangan ragukan itu. Maaf jika caraku menikmati rinduku kepadamu membuatmu terluka, sungguh..aku lebih merindukanmu. Aku adalah pihak yang paling mencintai di sini, aku tidak peduli cintaku akan kamu balas atau tidak, tapi lagi-lagi akulah pihak yang paling bahagia saat ini karena dirindukan oleh istriku sendiri!" Tanpa sadar Sky memeluk Bery hingga kaki Bery melayang di atas lantai.


Luluh, luruh dan leburlah sudah bongkahan es yang beku di dalam hati Bery. Berlama-lama mengabaikan Sky bukannya membuat hatinya tenang, justru itu sangat menyakitkan dan menyesakkan dada.


"Kamu jahat!" Lirih Bery.


"Aku tau, maaf!" Jawab Sky melonggarkan sedikit pelukannya.


"Kamu harus dihukum." Ancam Bery namun justru terdengar sangat menggoda di telinga Sky, apalagi melihat wajah Bery yang merona kemerahan. Itu seperti undangan secara tersirat!


"Apapun, aku siap!"


Tanpa menunggu jenis hukuman apa yang akan diberikan istrinya, Sky langsung mengangkat tubuh Bery dan membawanya ke tempat tidur. Terlalu banyak rindu yang menunggu untuk diselesaikan sesegera mungkin.


#seperti rinduku padamu, kamu.. iya kamu😘😘😘