HAPPIER

HAPPIER
BAB 20



Aku dibuat pusing setelah membaca group chat dari alumni angkatanku di fakultas teknik, ternyata mereka mendapuk diriku sebagai salah orang yang akan memberikan kata sambutan sebagai perwakilan dari angkatanku saat Reuni Akbar fakultas teknik yang akan diadakan 2 hari lagi.


Reuni Akbar yang berlangsung tahun ke tahun tersebut untuk alumni, tidak sekalipun kuhadiri. Reuni kali ini pun rencananya tidak akan kuhadiri. Namun ternyata teman-teman sudah mendaftarkan namaku ke panitia penyelenggara.


Jujur, aku tidak suka dengan hal-hal yang berbau Reuni. Aku benar-benar tidak nyaman melakukannya karena pada kenyataannya reuni hanya dijadikan sebagai ajang untuk pamer kesuksesan dan saling berbangga-bangga diri. Lihat saja pengurus ikatan alumninya, apa ada yang diketuai oleh yang berprofesi ibu rumah tangga tok misalnya atau diketuai oleh mereka yang hanya berprofesi sebagai karyawan biasa?


Sama dengan ketua panitia penyelenggara Reuni, apakah ketuanya adalah alumni yang sekarang berprofesi sebagai petani misalnya?


Apakah mereka fikir bahwa ibu rumah tangga dan petani itu kurang wawasan, kurang bergengsi, kurang relasi dan atau kurang enak dipandang mata?


Padahal, boleh jadi mereka yang memilih menjadi ibu rumah tangga biasa atau petani tadi adalah orang-orang yang sudah selesai dengan dunianya. Tidak ada lagi kebanggaan yang perlu dikejar, tidak ada lagi yang perlu dibuktikan kepada orang-orang.


Semarak acara reuni akbar para alumni yang dihadiri oleh dari alumni pertama hingga alumni yang paling baru selesai begitu riuh dan bersemangat. Sumpah, kalau bukan karena menghargai beberapa dosen yang secara pribadi memintaku datang, sudah pasti aku absen lagi.


Aku tentu sadar bahwa salah satu manfaat reuni seperti ini adalah terbukanya relasi dan peluang-peluang bisnis yang akan menguntungkan diantara para alumni.


Riuh rendah tepuk tangan menyambut sambutan dari para perwakilan alumni dan ketua panitia. Begitupun saat giliranku yang memberi sambutan. Tidak banyak yang kusampaikan, aku hanya sedikit membagikan pengalamanku dan juga memotivasi rekan-rekan yang lainnya.


Setelah turun dari podium, aku berjalan ke arah para dosen-dosen yang masih kukenal. Setelah bersapa ria dengan mereka, aku menghampiri beberapa orang yang cukup kukenal, baik senior-seniorku maupun junior-juniorku. Setelahnya, barulah aku berkumpul dengan teman-teman seperjuanganku di studio gambar selama bertahun-tahun menempuh pendidikan di kampus.


"Apa kabar ibu cantik?" Sapa Dina salah satu teman kelasku dulu.


"Alhamdulillah, baik.." jawabku menerima uluran tangannya sambil cipika cipiki. "MaasyaaAllah, udah berapa bulan, Din?" Tanyaku sambil mengelus lembut perutnya yang membuncit seperti membawa sebuah bola.


"Alhamdulillah, udah 8 bulan. Bentar lagi brojol." Jawabnya.


"Hai Dian, Yoan, Pritha." Sapaku lagi kepada teman-teman lainnya juga sambil cipika cipiki dengan mereka.


Mereka berempat adalah bersahabat, aku cukup dengan mereka. Di kampus aku tidak punya teman sedekat Nindi. Aku lebih suka menjadi  kutu loncat, masuk ke semua genk yang ada. Tapi tidak mau juga menjadi anggota tetap genk mereka. Bagiku begitu lebih enak, berteman dengan siapa saja, tidak butuh sekat-sekat dan dikotak-kotakkan. Kalau nyaman dan ada manfaatnya, ayo jalan bareng. Kalau gak nyaman dan bikin ribet, lebih baik dijauhi. Begitu saja prinsipku selama hampir 4 tahun menempuh pendidikan di perguruan tinggi.


"Datang yah Ber ke acara nikahanku minggu depan!" Ajak Dian kepadaku.


"InsyaaAllah, kirim aja undangannya di nomorku." Ucapku kepadanya.


"Nanti biar aku yang jemput." Ucap Pritha menawarkan tumpangan.


"Wah..asyik nih, dapat supir gratis." Ucapku tersenyum lebar.


"Gak gratis yah, Ber! Nanti bayarnya pake desain rumah impianku dari kamu."


"Maumu..." ucap kami serentak lalu kemudian tertawa bersama.


"Siapa sih yang gak mau rumahnya diarsiteki oleh Beryl Varindra Tadahiro???" Ucap Pritha membela diri.


"Bisa aja kamu, Prit." Ucapku sambil mengibaskan tangan.


"Eh, kita udah lama banget loh gak pernah lagi nginap bareng." Ucap Dina menyela.


"Eh, iya.. udah lama banget. Bagaimana kalau kalian semua ikut nginap di hotel sebelum acara nikahanku?" Usul Dian.


"Good idea." Ucap Yoan yang sedari tadi sibuk dengan cemilannya. Makanya badannya berisi di semua area.


Akhirnya semua setuju dan kami membuat janji untuk berada di hotel yang dimaksud Dian 1 hari sebelum acara pernikahan Dian dilaksanakan.


Kami melanjutkan obrolan santai sepanjang acara berlangsung. Sesekali diselingi gossip yang aku merasa gak bakal mungkin pernah tahu jika tidak memilih mendatangi genk mereka dibanding genk-genk lainnya.


Karena malam sudah semakin larut, sebagian di antara kami memutuskan untuk pulang lebih awal. Terutama Dina yang sedang hamil 8 bulan, suaminya yang juga kebetulan alumni teknik di kampus kami juga sudah sejak tadi menjemputnya.


Aku mengedarkan pandanganku ke semua penjuru tempat acara, mencoba mencari-cari wajah-wajah yang sekiranya kukenal dengan baik namun belum kusapa. Jarang-jarang aku ikut acara seperti ini, jadi aku juga tidak ingin datamg ke sini dengan sia-sia tanpa menjalin kembali komunikasi dengan mereka yang sebagian besar sudah tidak pernah lagi bersapa semenjak lepas kuliah.


Aku melihat ibu Tri, salah satu dosen yang paling kuhormati dan kukagumi karena sifat keibuannya dan kecerdasannya tentu saja, kulihat beliau sedang mengobrol dengan sesorang laki-laki di pojokan. Aku merasa familiar dengan punggung tersebut, tapi rasanya tidak mungkin karena malam ini adalah acara alumni yang diadakan diluar kampus.


Aku berjalan mendekati beliau yang sepertinya sudah mau beranjak dari tempatnya mengobrol tadi.


"Assalamu'alaikum, ibu!" Sapaku penuh semangat menghambur meraih tangan kanannya dan menciumnya penuh takzim.


"Wa'alaikum salam. MaasyaAllah.. anak ibu yang paling cantik sekarang makin sukses yah." Seperti itulah beliau yang selalu menyebut-nyebut sisi positif dari mahasiswanya.


"Alhamdulillah, itu semua karena siapa dulu dong dosennya." Ucapku tak ingin kalah menyanjung dan menghormati beliau.


Beliau tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Ah, apalah orang tua yang masih miskin ilmu ini..." ucapnya merendah. "Oh yah, sekarang kamu sudah boleh pulang dan lanjutkan yang tadi sudah ibu koreksi. Minggu depan kamu asistensi di kampus, dan kalau sudah tidak ada yang perlu diperbaiki, kamu boleh lanjut ke bab terakhir." Ucapnya lagi kepada laki-laki yang tadi ditemaninya dengan posisi masih memunggungiku.


"Baik bu. Terima kasih." Jawab laki-laki tersebut yang diangguki oleh ibu Tri.


Tunggu, sepertinya aku kenal suara itu. Akhirnya dia menoleh dan melihat ke arahku. Benar saja itu Sky.


"Sky, kok kamu di sini?" Tanyaku penasaran.


"Kalian saling kenal?" Giliran ibu Tri yang bertanya.


"Iya bu, kenal. Kenal banget malah. Dia sekarang magang di kantor saya, bu." Jawabku.


"Bagus, kamu harus banyak belajar sama satu senior kamu ini, Sky!" ucap ibu Tri kepada Sky.


"Baik bu." Jawab Sky.


"Oh, yah.. ibu sudah mau pamit, besok ibu ada perjalanan keluar kota, makanya Sky minta asistensi Skripsinya di sini, daripada tugasnya menunggu ibu selama 1 minggu lagi." Ucap ibu Tri menjelaskan.


"Baik bu. Hati-hati di jalan." Ucapku melepas ibu Tri sambil menyalami lagi tangan beliau.


Aku memandangi punggung ibu Tri yang perlahan menjauhi tempat kami berdiri, setelah itu aku pun melanjutkan langkah menuju ke lobby hotel. Aku tidak membawa mobil karena malas menyetir malam-malam jadi rencananya aku akan memesan taksi online.


"Mau pulang?" Tanya Sky. Aku sampai lupa kalau di sana tadi ada Sky.


"Iya, udah malam banget. Capek kalau mau nungguin acaranya selesai." Ucapku sambil menekan tombol lift lalu menunggunya terbuka.


"Wah..sepertinya takdir suka sekali mempertemukan kita akhir-akhir ini, bu Bery." Ucap seorang pria dari arah belakang kami.


Oooo☆~~☆oooO