
"Umi tidak setuju!"
Aku memperbaiki posisi dudukku agar lebih nyaman, kucoba menekan perasaanku berusaha memahami mengapa umi menolak ideku.
"Kenapa, umi? Bukankah selama ini umi sayang sama Bery, atau aku yang salah menilai sikap dan perlakuan umi kepada Bery?"
Umi menggeleng pelan.
"Umi sayang sama Bery, dia sudah umi anggap seperti anak sendiri. Bahkan terkadang umi berharap Bery yang menjadi menantu umi."
"Terus kenapa?"
"Jika pernikahan mereka berhasil, maka umilah orang yang paling bahagia di sini. Tapi jika gagal, umi jugalah yang akan menjadi orang yang paling sakit hatinya karena umi akan kehilangan 2 orang anak umi sekaligus. Umi tidak peduli dengan masa lalu Bery, umi yakin abimu juga tidak masalah. Akan tetapi, bagaimana dengan keluarga besar Bery? Apa mereka akan membuka diri menerima Sky yang punya masa lalu yang buruk? Apa keluarga Bery tidak akan mengungkit-ungkit kasus tersebut? Kondisi kejiwaan Sky dengan Bery itu berbeda, jelas Sky lebih dalam rasa traumanya di sini. Umi hanya takut Sky akan terluka karena direndahkan atau apapun bentuk sikap penolakan yang didapatkannya dari keluarga Bery. Jangan sampai penolakan tersebut justru membuatnya hancur. Dan satu lagi, jangan sampai karena Sky lagi-lagi Bery dibuang oleh keluarganya." Kekhawatiran jelas tergambar di wajah umi yang semakin ditegaskan dengan kerutan di wajahnya.
"Nindi tau, umi. Kemungkinan terbaik dan terburuk itu akan selalu ada. Peluangnya 50:50, tinggal kita mau ambil resiko atau tidak."
"Sky dan Bery udah tau apa belum?"
"Belum, umi. Ini baru umi saja yang aku tanya dan mintai pendapat."
"Ya sudah, tidak usah kasi tau mereka dan jangan dibahas lagi. Umi tidak setuju dengan ide gila kamu ini. Nanti umi bisa minta tolong ke abimu untuk mencarikan laki-laki baik yang cocok buat Bery." Rupanya umi tetap dengan pendiriannya.
"Iya umi." Ucapku lemah.
Aku belum akan menyerah meyakinkan umi, mungkin besok-besok akan kubicarakan lagi dengannya, termasuk abi. Aku yakin abi akan senang dengan ide ini. Tapi dibalik semua itu, sebenarnya yang terpenting di sini sih dari pihak Sky-nya. Walau kami semua bersepakat namun dia menolak, ide ini juga tidak akan ada gunanya.
Sepertinya yang harus kufikirkan saat ini adalah bagaimana cara mendekatkan mereka. Jalannya sudah terbuka lebar karena Sky dan Bery satu kantor untuk beberapa bulan ke depan. Aku sekarang seperti berpacu dengan waktu.
*****
Memasuki pekan ketiga magang di kantor Bery, aku merasa sudah seperti karyawan tetap saja. Bagaimana tidak, tugas dan tanggung jawabku sama dengan beberapa staf lainnya. Bahkan aku mendapat tugas tambahan lebih, menjadi asisten sekaligus bodyguard buat Bery.
Badanku terasa remuk setiap harinya, mungkin karena aku belum terbiasa. Aku tidak habis fikir dengan Bery, dapat suntikan kekuatan dari mana hingga selalu nampak punya tenaga yang tidak ada habis-habisnya. Selain punya proyek yang ditanganinya sendiri, ia pun harus memeriksa semua gambar desain yang dikerjakan partnernya.
Boleh dikata, kehadiranku di sini sangat membantu meringankan beban kerja Bery. Aku kadang bertanya sendiri, bagaimana ia mengatur waktunya dengan segudang tugas dan agenda di luar kantor?
"Sky, kamu punya passport gak?" Tanya Bery menjeda kegiatanku.
"Tidak, bu." Jawabku yang membuat Bery membulatkan mulutnya berbentuk huruf O.
"Kakak udah kirim kelengkapan persyaratan pembuatan passport di email kamu dan juga link pendaftaran via online. Besok dibawa yah berkas-berkasnya biar kamu diantar pak Maman ke kantor Imigrasi." Ujarnya setelah beberapa saat sibuk dengan layar pipih di tangannya.
"Untuk?"
"Untuk apa?"
Bery memutar bola matanya kemudian menatap jengah kepadaku, "untuk kerja tentu saja, tidak mungkin bukan untuk kita bulan madu? Lagian Mr.Abdullah ingin kamu ikut dan juga untuk sementara hanya kamu di sini yang cukup faham konstruksi di bawah air. Kami di sini semuanya belum ada yang punya pengalaman yang dibutuhkan."
"Saya bahkan masih kuliah kalo ibu lupa."
"Tapi pemaparan kamu tempo hari menunjukkan kalau kamu punya pemahaman lebih di bidang tersebut dan jangan lupa karena kamu Mr.Abdullah setuju memakai jasa kita. Kamu harus tanggung jawab dong!" Ucapnya tajam.
Aku hanya bisa menunduk dengan badan lemas. Aku tidak menyangka Bery berharap lebih kepada kemampuanku yang cetek ini.
"Kenapa? Apa kamu takut tidak bisa melakukannya?" Tanyanya meremehkan. "Baru juga segitu sudah takut, dasar bocah, lemah." Gerutunya dengan nada lirih namun masih bisa kudengar.
Tentu itu sangat melukai harga diriku sebagai laki-laki. Aku bukan laki-laki lemah, aku juga bukan laki-laki penakut, aku enggan terlibat di dalam proyek tersebut bukan karena takut. Aku hanya merasa belum pantas mengingat di sini ada banyak arsitek senior bahkan lebih senior dariku. Aku tidak ingin mereka berfikir yang tidak-tidak denganku dan aku paling tidak suka melihat tatapan sinis dan merendahkan dari orang lain kepadaku.
Aku sudah sering mendapatkan tatapan yang merendahkan di kampus. Diriku yang pendiam dan mungkin sebagaian orang melihatku seperti lelaki idi*t namun sering membuat dosen-dosen terkesima melihat tugas-tugas desain rancang-bangun yang kukerjakan. Mereka menatapku seolah aku sangat tidak mungkin berada di level yang lebih tinggi dari mereka. Bahkan ada juga dosen yang merasa kalau ide-ide yang kutuangakan ke dalam gambar terlalu mengada-ada dan mungkin akan sulit untuk diwujudkan. Padahal saat aku menentukan sebuah konsep desain, semuanya sudah kupelajari dengan analisa dan survey yang mendalam. Bahkan aku tidak segan-segan membongkar file-file di kantor abi demi menunjang data yang kubutuhkan. Aku tidak mungkin merancang sesuatu yang tidak mungkin dibangun.
Entah kebetulan atau memang sudah jalannya sudah seperti itu, memang saat ini penelitian yang kuambil adalah konstruksi bangunan struktur di bawah laut untuk menjadi tugas akhirku. Ini sudah beberapa tahun kukerjakan mengingat ada banyak disiplin ilmu yang kubutuhkan untuk menyelesaikannya. Aku sendiri dibimbing langsung bukan hanya oleh dosen Arsitektur, namun juga melibatkan salah satu dosen jurusan Sipil dan juga teknik perkapalan.
Aku memang seperti orang yang terobsesi dengan dunia perancangan, apalagi semenjak hidupku rasanya tidak akan sama lagi dengan orang-orang pada umumnya. Aku lebih suka menenggelamkan diri ke dalam dunia imagi yang kemudian kutuangkan ke dalam coretan-coretan di atas canvas. Beruntung, umi dan abi selalu menuruti kemauanku, apa pun yang ingin kubeli selalu dipenuhi tanpa meminta penjelasan apapun.
Perkembangan teknologi membuat dunia bisa dijelajahi hanya melalui layar datar seperti komputer maupun ponsel. Begitupun dengan iklim pekerjaan yang tidak mengenal batas ruang dan waktu karena adanya kemajuan teknologi. Setelah pindah ke Ibukota, mulai sejak itu aku mengembangkan skill-ku dengan mengambil berbagai kursus online. Saat ini aku mampu menguasai 5 bahasa asing hanya dengan bantuan internet tentu saja, mulai dari bahasa Inggris, bahasa Arab, Mandarin, Spanyol dan Jerman. Aku juga belajar ilmu pemrograman secara otodidak. Termasuk belajar software-software yang digunakan di dalam kegiatan desain rancang-bangun.
Tak...
Terdengar bunyi sesuatu terjatuh di dekatku.
"Kenapa bengong?" Tanya Bery yang entah sejak kapan berdiri di depan meja kerjaku.
Aku hanya berdehem sambil menggosok tengkukku, aku jadi salah tingkah, ketahuan bengong di jam kerja.
"Ma..maaf, bu." Jawabku sedikit bingung.
Bery geleng-geleng kepala melihat tingkahku yang kebingungan.
"Ck ck ck," Bery berdecak. "Udah masuk waktu makan siang, kamu masih mau tinggal bengong di sini atau ikut kakak makan siang di kantin depan?" Ajaknya dengan nada sedikit sinis.
Aku hanya mengangguk dan bergegas mengekorinya dari belakang. Tadi pagi aku tidak sempat membawa bekal karena kak Nindi meminta tolong datang ke rumahnya setelah sholat subuh, katanya sangat penting. Dan setelah sampai di sana, ternyata hal penting yang dimaksud hanyalah minta tolong diangkutkan sampahnya ke tempat pembuangan sampah terdekat. Aku benar-benar kesal dibuatnya, padahal ada mas Fachri di sana. Bahkan mas Fachri jadi bingung sendiri mengapa aku yang datang subuh-subuh membuang sampah di rumahnya. Kak Nindi ada-ada saja kelakuannya. Mungkin aku akan membalasnya di lain waktu!
Oooo☆~~☆oooO
Jangan lupa berikan like, comment dan vote kalian yah untuk mendukung Novel ini. Klick tombol Favorit agar kalian bisa mendapatkan notifikasi tiap kali ada update terbaru. okay.. Thanks 😍🤗