HAPPIER

HAPPIER
BAB 55



Karena perjalanan kami ke Bali murni untuk urusan pekerjaan, tentu saja kepulangan ke Jakarta sesuai dengan jadwal yang sudah diatur oleh kantor. Termasuk 2 kamar hotel yang sudah di-booking untuk aku dan Sky yang kenyataannya satu kamar lainnya menjadi mubadzir.


Mungkin setelah ini aku akan memberi tahu bu Kinan saja. Aku sebenarnya bukan tidak ingin mempublikasikan pernikahan kami, hanya saja masih menunggu momen yang pas, setidaknya setelah Sky selesai magang.


Orang tua kami pun sudah mendesak kami menggelar resepsi, namun karena kesibukan, kami masih menundanya, mungkin 1 atau 2 bulan setelah Sky wisuda barulah bisa digelar.


Memang tidak enak kucing-kucingan begini, apalagi Sky terkadang sedikit nakal saat kami di ruanganku. Takutnya muncul fitnah jika ada yang tanpa sengaja melihat kami.


Di satu sisi, entah kenapa aku masih punya sedikit keraguan di dalam hati, ini bukan tentang Sky saja, akan tetapi juga tentang diriku, perasaanku dan entahlah, terkadang aku bingung sendiri dengan apa yang aku cari sebenarnya.


Terkadang Sky begitu menakutkan bagiku, tetapi bersamanya terlalu banyak pengalaman kenikmatan dan kebahagiaan yang kudapatkan, namun masih ada yang seperti mengganjal fikiranku.


--


--


Aku masuk kantor dan sudah disambut oleh kesibukan yang seperti tidak punya akhir dan ujung.


Tok tok tok...


"Bu, diluar ada tamu yang ingin ketemu ibu, sudah 4 hari berturut-turut datang ke kantor mencari ibu." Ucap ibu Kinan memberi tahu.


Keningku berkerut mendengarnya, "siapa? Kenapa tidak kasi tau dari kemarin-kemarin?" Tanyaku memfokuskan pandangan ke bu Kinan.


"Beliau tidak mau bilang, tapi beliau memaksa ingin ketemu ibu secara langsung."


"Ya sudah, suruh masuk."


Belum sempat bu Kinan berbalik keluar memanggil tamu yang dimaksud, tapi tamu tersebut sudah lebih duluan menyembul kepalanya di balik pintu.


Aku mendesah panjang, "dia lagi." Gumamku pelan.


"Hai, cantik!"


Tanpa permisi laki-laki tersebut langsung duduk di kursi yang ada di depan meja kerjaku.


"Apa aku mengganggu?" Tanyanya dengan ekspresi jahil.


Aku tidak menghiraukan pertanyaannya, "ada perlu apa bapak ingin menemui saya?" Tanyaku.


"Santai saja sayang, gak usah formal gitu." Ucapnya santai.


"Yaa Allah... ada yah orang tipe seperti ini, sok dekat banget!" Kesalku dalam hati.


"Maaf!" Ucapku sarkas.


"Oh, ayolah... baik-baiklah kepada calon suami masa depanmu ini atau--!" Dia menjeda ucapannya sejenak memperhatikan mimik wajahku.


"Atau aku akan memaksamu..." jawabnya dengan raut wajah bengisnya.


Aku berusaha setenang mungkin dan tidak terintimidasi dengan ancamannya.


"Lucu saja, anda tidak menanam pohon di bumi tapi anda malah berusaha menanam pohon di planet mars. Anda ingin menjadikan saya masa depan anda tetapi bukankah anda sendiri yang mengatakan bahwa anda tidak ingin saya menjadi penghambat masa depan anda kala itu? Bagaimana bisa?" Ucapku tersenyum sinis.


"Waktu itu aku terpaksa, Ber! Aldi mengancamku. Sekarang aku sudah kembali untuk kamu, untuk kita berdua. Hanya kamu yang boleh menyandang gelar nyonya Rio Dewangga." Ucapnya tegas menyorot tajam ke netraku.


"Terpaksa? Lina adik Aldi? Tunangan anda? Mau dikemanakan mereka hingga bapak mengajak saya menjadi nyonya Rio Dewangga?"


Aku benar-benar merasa direndahkan dengan ajakannya itu. Apa dia fikir aku secinta itu kepadanya sampai aku tidak bisa move on darinya.


"Mereka itu hanya mainan aku, kamu sekarang adalah matahariku."


Rasanya aku ingin muntah merdengar ucapannya itu.


"Fool me once, shame on you. Fool me twice, shame on me. But i don't go back for seconds... ever!!!" Ucapku tak kalah tegas kepadanya.


"Anda mengancamku?"


"Aku tidak punya cara lain, mengapa tidak?" Rio menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi dengan angkuhnya kemudian melipat kedua tangannya di dadanya.


"Lakukan apa saja yang ingin anda lakukan, tapi jangan fikir saya tidak bisa mengancam balik, tuan Rio yang terhormat! Anda ini adalah pejabat, satu titik saja kelemahan dan aib anda diketahui orang-orang, maka habislah karir anda." Ucapku tak kalah sengit.


Bukankah modal terbesar bagi para politisi adalah track recordnya?


"Sekarang tolong tinggalkan ruangan ini dan jangan pernah menampakkan wajah anda di depan saya lagi." Ucapku kemudian memutar kursi kebesaranku ke belakang menghadap ke dinding kaca besar yang menghamparkan suasana jalanan ibukota yang lumayan padat hari ini.


"Aku tetap menunggu kabar 3 hari setelah hari ini dan aku tidak main-main dengan ancamanku tadi." Ucapnya kemudian meninggalkan ruanganku.


Aku menarik nafas panjang dan menghembuskannya dengan kasar. Kututup mataku yang mulai ingin mengeluarkan air mata.


Kuatur pelan nafasku, kutenangkan fikiranku, aku tidak boleh terbawa permainan Rio. Aku harus mencari cara untuk mengatasinya.


"Assalamu'alaikum..."


"Wa'alaikum salam." Jawab pria yang kuhubungi dari seberang sana.


"Kak Ardhan sibuk?" Tanyaku sambil memainkan pulpen di tangan kananku. Saat sedikit panik seperti ini, tanganku tidak bisa berhenti melakukan sesuatu, mengambil pulpen dan kertas putih adalah penyelurannya.


"Gak juga. Ada yang bisa kakak bantu?" Tanyanya penasaran.


"Aku hanya pengen tau kondisi perusahaan ayah, apa ada masalah di situ kak?"


Terdengar kak Ardhan menghela nafasnya berat. "Sebenarnya ada, tapi kami sudah hampir selesai mengatasinya."


"Masalah apa kak? Apa itu ulah Rio?" Giliran aku yang penasaran ingin tahu kebenarannya.


"Bisa dikata iya bisa juga tidak. Kami masih mencari bukti. Dia bermain cantik jadi susah mencari bukti yang mengarah ke dia."


Aku mengangguk, aku mengerti sekarang.


"Dia baru saja menemuiku kak dan dia mengancamku melalui perusahaan ayah jika tidak ingin kembali sama dia." Aku tidak ingin menyimpan sendiri masalah ini, dan kak Ardha adalah orang yang tepat untuk mengatasinya.


"Kamu hati-hati saja di situ, insyaaAllah kami di sini bisa mengatasinya. Apalagi ada Sky yang juga ikut membantu."


"Sky? Maksudnya?" Aku jadi tidak mengerti, kenapa Sky bisa ikut membantu kak Ardhan.


"Sky belum cerita? Ah, iya.. pak Wahyu memang meminta Sky tidak buka mulut ke kamu. Sengaja melibatkan Sky, pak Wahyu ingin melihat seberapa hebat kinerja menantu pilihan putri kesayangannya itu dalam menangani masalah perusahaan. Pilihan kamu tepat, Ber. Dia laki-laki yang cerdas dan sangat teliti. Masalah perusahaan mungkin akan sulit diatasi jika bukan karenanya." Ucap kak Ardhan membanggakan Sky.


Aku tidak habis fikir Sky menyimpan hal besar seperti ini dariku. Kenapa aku merasa seperti dikhianati?


"Kamu jangan marah sama Sky, pak Wahyu yang memintanya." Ucapnya lagi seolah mengerti dengan diamku yang tak lagi mengucapkan kata-kata.


"Titip ayah dan ibu yah kak, terus waspada dan jangan sampai lengah." Aku mengalihkan pembicaraan tentang Sky, nanti aku akan membahasnya setelah di rumah.


"Iya, kamu tenang saja. Kalau Rio masih tidak menyerah juga, kami pasti akan melawannya." Ucap kak Ardhan menenangkan.


"Baiklah kak, terima kasih. Assalamu'alaikum." Ucapku mengakhiri  percakapan kami.


"Wa'alaikum salam."


Aku benar-benar tidak menyangka bahwa Rio bisa segila itu. Sungguh menjijikkan!


Dari informasi yang diberi Vivian, Lina adik Aldi kembali menjalin hubungan dengan Rio setelah Lina menyusulnya ke Aussie. Lina memang sempat depresi namun setahun kemudian sudah dinyatakan sehat.


Aku sebenarnya malas tahu hubungan Lina dengan Rio atau pun dengan perempuan lainnya. Bagiku semua itu bukan urusan aku lagi. Aku hanya bingung, mengapa Rio masih memaksa ingin aku kembali kepadanya padahal hidupnya sudah dikelilingi oleh banyak perempuan cantik?


Rio ini seperti orang yang masih hidup di zaman batu, close minded banget. Sementara masalah terbesar bagi orang close minded seperti itu adalah mulutnya yang selalu terbuka.