
Aku merasa tidak begitu bersemangat akhir-akhir ini, padahal hari ini aku akan naik sidang ujian Skripsi.
Entah mengapa, sudah seminggu Bery seperti menghindariku. Dia hanya akan berbicara jika aku yang memulai dan ketika aku ingin menyentuhnya dia punya sejuta cara untuk menolakku.
Kondisi tersebut sungguh sangat mengganggu dan membuatku tidak tenang, apalagi dia bersikap dingin seperti itu setelah pertemuannya yang terakhir dengan laki-laki brengsek itu, tapi aku bisa apa. Aku takut kembali lepas kendali dan lagi-lagi membuat Bery ketakutan kepadaku.
Aku memilih fokus menyelesaikan semua kebutuhanku untuk persiapan sidang Skripsiku, termasuk mendampingi perwakilan dari perusahaan ayah Bery yang sekarang masuk proses kasasi.
Bery pernah mengatakan kepadaku, ketika dia marah, dia akan butuh waktu untuk sembuh, dia tidak suka dikejar-kejar oleh permohonan maaf karena itu sangat mengganggunya.
Kuikuti permainannya, tapi apa memang butuh waktu selama itu? Ini sudah satu minggu sementara aku sendiri tidak tahu apa salahku.
Serba salah, aku hanya tidak ingin dituduh suami tidak peka setelah didiamkan begitu lama.
--
--
Bery tampak sibuk dengan laptopnya di atas kasur. Bahkan kopi yang kuseduh untuknya belum tersentuh sama sekali.
Aku menghentak nafas berat kemudian berlalu masuk kamar mandi dengan sedikit menarik pintu geser di walk in closet dengan sedikit kasar, berharap mendapat sedikit perhatiannya.
Setelah mandi, aku menyiapkan sendiri pakaian yang akan kugunakan untuk sidang skripsi nanti. Padahal biasanya Bery akan sigap menyiapkan pakaianku saat aku sedang mandi.
Kubawa dasi keluar dan menjulurkannya kepada Bery.
"Hari ini aku ujian skripsi." Ucapku memecah keheningan.
Bery mendongak melihatku kemudian kembali menatap laptopnya, tidak ada tanda-tanda ingin mengambil dasi dari tanganku.
"Boleh minta tolong pakaikan?" Tanyaku menggoyang dasi di dekat wajahnya.
Dia berdiri dengan bersungut, tampak wajah tidak ikhlasnya.
"Pakai dasi saja tidak bisa, dasar bocah!" Sungutnya pelan namun masih bisa aku dengar.
Hatiku mencelos, baru kali ini aku merasa sakit dipanggil bocah olehnya.
Aku lelah bersikap dewasa diluar sana, di depan semua orang-orang bahkan keluarga dekatku sendiri. Di depan Bery aku merasa nyaman menjadi diriku sendiri, diriku yang memiliki sifat sedikit cengeng dan manja meskipun aku anak laki-laki. Aku baru sadar, mungkin Bery malah terbebani dengan sikapku ini.
Aku hanya bisa terus menunduk selama Bery memakaikan dasi dan merapikan jasku. Mataku sudah terasa panas, hatiku seperti diremas, diabaikan selama satu minggu sudah seperti separuh duniaku sudah runtuh dan sekarang entah berapa banyak lagi yang berhasil diruntuhkannya.
Bery mendesah pelan, "sudah siap! Selamat berjuang!" Ucapnya datar kemudian kembali duduk di kasur bersama laptopnya.
Aku berdiri mematung tetap dengan kepala yang masih menunduk. Merenungi kesalahanku yang entah itu apa, merenungi sikapku yang dianggapnya seperti bocah kecil.
Aku meliriknya dari ekor mataku, dia sangat serius dengan urusannya sendiri. Dengan lesu aku menghampirinya mengecup singkat pipinya lalu berbalik pergi tanpa kata.
Mungkin sudah resiko menikahi perempuan dewasa, mapan dan mandiri. Dia seperti orang yang tidak lagi membutuhkan laki-laki di dalam hidupnya. Meski terkadang Bery menunjukkan sikapnya yang seolah bergantung kepadaku, namun kalau seperti sekarang ini, aku jadi sakit hati sendiri.
Aku laki-laki, aku lebih suka melihat istriku bergantung kepadaku dalam segala hal. Karena dengan begitu aku akan merasa sangat dibutuhkan keberadaannya. Bukan berarti aku tidak suka perempuan tangguh seperti Bery, tapi aku akan senang sekali jika Bery menunjukkan sisi lemahnya kepadaku sehingga aku bisa masuk menyempurnakan sisi lemah itu.
Dalam hubungan antara laki-laki dan perempuan, memang tidak ada yang benar-benar setara. Akan ada yang lebih mencintai, akan ada yang lebih mendominasi, akan ada yang lebih sabar, lebih tenang bahkan lebih cuek.
Setibanya di kampus, aku memilih menuju ke musholla terlebih dahulu. Aku butuh suasana hati dan fikiran yang tenang, dan juga memperbaiki ekspresi wajahku yang katanya seperti tembok. Kalau dalam suasana hati yang baik saja orang-orang sudah menyebutku muka tembok, lalu bagaimanalah bentuknya sekarang?
Bersyukur semuanya berjalan lancar, hasilnya memuaskan dan itu membuatku semakin tidak sabar ingin kembali ke rumah dan menemui Bery.
Namun euforia kebahagiaan itu hanya berlangsung sementara, setelah mengingat hubunganku dengan Bery saat ini, lagi-lagi aku hanya bisa menekan perasaanku.
Meski demikian, kuputuskan tetap menuju kantor Bery untuk menjemputnya. Umi akan mengadakan makan malam bersama untuk syukuran kelulusanku. Tidak mungkin aku datang sendiri tanpa istriku.
*****
Sky dan Bery tiba di rumah orang tuanya setelah Isya. Nindi dan suaminya sudah tiba lebih dulu dari mereka.
Mereka langsung disambut menuju ke ruang makan karena memang semua anggota keluarga tinggal menunggu mereka berdua saja.
"Lama banget, dek!" Tegur Nindi kepada Sky yang lebih dulu masuk ke ruang makan. Sementara Bery masih kangen-kangenan dengan umi Aida.
"Biasa kak, macet. Kami juga tadi sekalian sholat Isya di mesjid kompleks baru lanjut ke sini."
"Setidaknya kabari kalau mau datang telat, kebiasaan deh." Keluh Nindi.
Sky hanya diam dan tidak ingin membantah. Daripada urusannya jadi panjang kali lebar kali tinggi. Muter-muter deh...
"Gimana hasil ujiannya?" Tanya Fachri mencoba mengalihkan perhatian istrinya.
"Alhamdulillah, lancar mas!"
"Alhamdulillah, akhirnya!" Fachri ikut bahagia melihat perjuangan adik iparnya itu akhirnya selesai juga.
Bery, umi Aida dan abi Hasan ikut bergabung di meja makan.
"Aman Sky?" Tanya abi Hasan.
"Alhamdulillah, Bi."
"Umi bahagia sekali." Umi Aida merangkul pundak Sky dari belakang sejenak kemudian mencium puncak kepala Sky lalu beranjak mengambil kursi untuk dirinya.
Suasana hangat melingkupi makan malam sederhana mereka, meski sederhana namun kesan kebersamaan dan kasih sayang dalam keluarga tersebut sangat kental.
"Kita pulang ke rumah yah!" Ucap Sky kepada Bery saat Sky menyusul Bery yang merapikan dapur.
"Terserah, lakukan apapun yang ingin kamu lakukan!"
Bery langsung berbalik meninggalkan Sky, langkah Bery sempat tertahan karena ternyata ada Fachri yang kebetulan mengambil air minum di kulkas. Kadung ketahuan, Bery memilih mengabaikan dan ikut bergabung dengan yang lain di ruang televisi.
"Kalau perempuan bilang terserah atau bilang lakukan apapun yang ingin kamu lakukan... ingat, ingat baik-baik Sky... itu artinya jangan pernah lakukan apa yang ingin kamu lakukan, diam saja, jangan berkedip, jangan menjawab, tahan nafas atau kalau perlu pura-pura mati saja. Kita laki-laki tidak akan pernah benar di hadapan perempuan. Hanya mereka yang boleh marah, kita tidak. Jika mereka salah, yang meminta maaf tetap kita, Sky." Ucap Fachri menepuk pundak Sky pelan di akhir kalimatnya.
Bery tampak menyunggingkan senyum miring karena masih bisa mendengar apa yang dikatakan Fachri kepada Sky.
Sebenarnya Bery sudah tidak tahan terlalu lama mengabaikan Sky, tapi dia masih sangat kesal karena Sky menyembunyikan hal sebesar itu kepadanya. Bery bisa faham karena itu atas permintaan ayahnya, tapi tetap saja Bery merasa kesal karena merasa tidak dipercaya oleh suaminya sendiri.