HAPPIER

HAPPIER
BAB 65



"Tapi aku lagi gak pake jilbab, sayang!"


Deg..


Deg..


"Apa tadi kamu bilang barusan?" Tanyaku ingin mendengarnya ulang.


"Aku tidak pake jilbab." Jawabnya datar.


"Bukan, yang terakhir tadi."


Mata Bery membulat dengan tangannya menutup mulutnya.


"Oh, itu..bukan apa-apa." Ucapnya mengelak.


"Lepasin dulu tangannya, aku ambil jilbab di kamar." Kedua tangannya berusaha melepas tautan kedua tanganku di perutnya tapi aku enggan melepasnya.


"Begini saja dulu, nanti foto-fotonya." Kuhirup dalam-dalam aroma wangi rambutnya, sesekali kugigit cuping telinganya.


"Isshhh.. geli. Lepasin ih!" Tubuh Bery meng gelinjang kegelian, aku hanya tersenyum geli melihatnya.


"Ayo, katakan lagi yang tadi baru aku lepas."


"Sayang... Sky kesayangannya Bery, lepasin dong!" Ucapnya dibuat-buat seperti mendesah.


Deg..


Aku terpaku mendengarnya, seketika lingkaran tanganku di perut Bery mengendor.


Aku begitu terpana dengan apa yang diucapkan Bery, ah, jantungku.. kupegang dadaku yang terasa isi di dalamnya menghentak-hentak hingga bunyinya terdengar di telingaku.


"Sky, muka kamu memerah." Giliran Bery yang menggodaku.


Kutatap wajahnya lamat-lamat, dia tersenyum manis memandangku. Semburat merah juga tidak bisa disembunyikannya.


Inilah keunikan Bery, diluar orang-orang mengenalnya sebagai perempuan yang dingin dan cuek, susah dijangkau, seperti tak tersentuh, padahal aslinya manja, usil dan penuh kehangatan.


Aku bahagia karena akulah laki-laki yang mendapatkan segalanya darinya, bahkan cintanya, aku yakin sebentar lagi akan menjadi milikku.


*****


Hari minggu pun tiba, Bery dan Sky sejak pagi tadi mempersiapkan segala sesuatunya untuk keperluan menyambut keluarga mereka.


Kebetulan kedua orang tua Bery sedang berkunjung ke ibukota, karenanya keluarga Sky sepakat menghabiskan hari minggu ini di rumah mereka.


Sebenarnya Bery sudah meminta kedua orang tuanya menginap di rumah mereka saja, namun ayahnya memilih tinggal di hotel mengingat ada beberapa meeting yang akan dilakukannya di hotel tempat mereka menginap.


Bery hanya bisa pasrah, tidak ingin membuat ayah dan ibunya tidak nyaman.


Meskipun Sky memutuskan menyiapkan makanan dari catering langganan uminya, namun tetap saja umi Aida menyiapkan beberapa menu masakan dan aneka kue-kue untuk dibawa ke rumah anak dan menantunya tersebut, tidak lupa pula beliau membawa serta asisten rumah tangga yang sudah satu bulan ini membantunya di rumah. Beliau tahu betul menantunya yang tidak bisa diandalkan untuk urusan rumah tangga, untuk itu beliau berinisiatif mengajak art-nya.


Tak lama setelah umi Aida dan abi Hasan datang, kedua orang tua Bery pun datang. Nindi sendiri dan suaminya sedang berhalangan karena keluarga Fachri juga sedang ada acara bersama keluarga besarnya.


Suasana hangat terjalin di antara dua keluarga tersebut. Para lelaki sibuk bercerita tentang bisnis dan pekerjaan, sementara para wanita sibuk dengan urusan dapur.


Dan di sinilah Bery merasa dirinya menjadi bulan-bulanan ibu dan mertuanya, bagaimana tidak jika yang menjadi objek ghibahan adalah dirinya.


Di depan mukanya, sang ibu dan sang mertua sama-sama bersatu padu membuka semua tabir keburukan dan perilaku konyolnya di masa lalu.


"Terima kasih yaa Allah untuk trasfer pahalanya yang tidak ada habis-habisnya!" Cerocos Bery menjeda dua perempuan paru baya itu yang tengah khusyu' bercerita tentangnya.


Dua pasang mata melirik Bery dengan sorot tajam, cepat-cepat Bery mengangkat tangannya dengan jari membentuk huruf V.


"Kalau orang tua ngomong diam aja dan dengar." Celoteh ibunya.


"Denger tuh apa kata ibu kamu. Dibilangin suka membantah." Imbuh umi Aida.


Bery hanya bisa melongo, apa salahnya?


"Dia memang gitu mba, bikin telur ceplok aja ujung-ujungnya jadi telur orak-arik, bahkan masak air di kompor pun bisa hangus." Kata umi antusias.


"Memangnya dia sudah bisa nyalakan kompor mba?" Tanya ibu penasaran.


"Bisa..bisa.. itu pun setelah berhasil mencabut tuas kompor di rumah." Umi mencebik ke arahku.


Bukannya bertanya, tapi dia malah membongkar simpan kompor tersebut.


"Nah..itu, kadang sok taunya memang di atas normal mba. Umur dia 4 tahun saja, semua barang elektronik di rumah sudah dibongkar pake obeng sama dia, apalagi TV mbak, habis dibongkarnya, katanya mau masuk TV."


Dua perempuan paruh baya itu pun tertawa terbahak-bahak, sementara Bery hanya bisa ngedumel dalam hati dan entah sudah bagaimana bentukan wajahnya saat ini.


"Masa lalu.. masalahlu.." celetuk Bery dengan wajah cemberutnya.


"Ngambek dia mba." Ucap umi dan diangguki ibunya.


"Gimana Ber, udah ada tanda-tanda cucu ibu belum?"


Bery menatap ke perut ratanya, "baru juga haid 2 minggu lalu, bu."


"Jangan capek-capek, kalau perlu berhenti kerja saja biar fokus program anak dulu, ingat umur."


"Iya ibu, gak capek kok. Mungkin belum rezekinya aja." Jawab Bery menghela nafas pelan.


"Tidak apa-apa, biarkan mereka pacaran dulu, Sky dan Bery meski sudah kenal lama tapi sama-sama gak punya pengalaman dekat dengan lawan jenisnya selama ini, jadi biarkan mereka merasakan madu dari indah-indahnya awal pernikahan. Perempuan itu, umurnya pendek -dalam tanda kutip- umur perempuan itu sudah berhenti ketika sudah memiliki anak. Dunianya berubah seketika, mau hobby, cita-cita, karir dan passion, semuanya berubah terhapus dan terlupakan digantikan oleh dunia anak-anaknya. Jadi senyamannya kalian saja, tapi jangan sampai terlalu lama menunda punya anak, berikan kami cucu banyak-banyak!"


Ucapan umi Aida cukup membuat Bery berfikir sejenak. Selama ini dia dan Sky sama sekali belum pernah membahas urusan anak, bagaimana karirnya setelah punya anak, bagaimanapun perusahaan yang Bery rintis saat ini sedang berkembang. Ada banyak orang yang menggantungkan penghasilannya dari perusahaannya.


"Gak usah, difikirin.. dijalani saja semuanya, yang terpenting itu kalian selalu rukun dan saling support." Ucap ibu sembari menepuk punggung Bery pelan.


"Iya ibu, umi.. doakan kami selalu. Aku sama Sky masih saling beradaptasi juga dalam rumah tangga kami, adanya aku paling suka kesal sama dia, soalnya dia menjengkelkan banget!" Ucap Bery meregut.


"Bukan laki-laki Ber kalau tidak menjengkelkan." Ungkap umi Aida.


"Ber..." kode ibu dengan menendang betisku. "Berani kamu yah jelek-jelekin suami kamu di depan ibunya.." tegur ibunya.


"Upppsss.. maaf umi, aku suka lupa kalau umi itu adalah mertuaku!"


"Huuuuu... untung sayang," ketus umi Aida pura-pura memasang wajah kesalnya.


--


--


Mereka akhirnya berkumpul di meja makan untuk bersantap makan siang.


Satu hal yang membuat umi Aida menitikkan air matanya melihat Bery yang selama ini begitu kuat hidup seorang diri tanpa berkeluh kesah kepada siapapun ternyata memiliki sifat manja yang luar biasa.


Bisa ia lihat bagaimana Bery terus merengek pada ibunya juga ayahnya. Dia hanya berharap, semoga Sky mampu memberinya banyak cinta sehingga Bery tidak akan merasa sungkan kepada suaminya sendiri.


"Besok jadi ke Maldives?" Tanya ayah Bery kepada Sky.


"InsyaaAllah yah," jawab Sky.


"Berapa lama di sana?" Giliran abi Sky yang bertanya.


"Kalau tidak ada halangan 5 hari sudah selesai, bi."


"Bery ikut?" Tanya Umi Aida.


"Enggak umi, di sini Bery juga punya agenda yang padat."


"Ayah mau kalian cepat selesaikan urusan pekerjaan kalian dan segera adakan resepsi pernikahan kalian."


"Betul mas, umi sudah sering ingatkan mereka tapi ada saja alasannya.." ucap ibu menimpali ayah.


"Bukan begitu umi, Sky kan memang sibuk selama ini. Giliran sudah longgar, eh dilempar ke Maldives!" Ucap Sky sambil melirik istrinya.


"Udah..udah.. nak Sky kan sudah longgar sekarang, habis dari Maldives kita bicarakan lagi resepsinya. Soalnya bukan hanya di Jakarta, kami pun sebagai orang tua Bery juga ingin menggelar resepsi di kampung!" Kata ibu.


"Kami serahkan sepenuhnya kepada ibu dan ayah bagaimana baiknya acara di kampung nanti, kalau di sini, InsyaaAllah Bery akan mengatur jadwal kami berdua nantinya."


"Baiklah, lebih cepat lebih baik, nak!" Ucap abi Hasan dan diangguki oleh semuanya.


Bery dan Sky sadar, sudah seharusnya menggelar resepsi pernikahan mereka agar kedepannya tidak menimbulkan fitnah.


Apalagi kalau Bery nanti sudah hamil, bisa-bisa fitnahnya lebih parah.