
"Permisi, bu Kinan. Ibu Bery ada?" Tanya pak Dirga kepada sekertaris Bery tersebut.
"Maaf pak, seharian bu Bery belum ada kabar. Ponselnya juga tidak bisa dihubungi." Jawab Bu Kinan.
"Oh, begitu. Kalau Sky, apa dia ada?" Tanya pak Dirga lagi.
"Sky juga belum datang pak, tapi beberapa hari ini memang dia akan datang siang atau sore karena kesibukannya di kampus."
Pak Dirga hanya bisa mengangguk faham penjelasan bu Kinan. "Tolong kabari saya jika ibu Bery sudah datang, saya ada beberapa hal yang perlu didiskusikan dengannya. Sky juga!" Ucapnya kemudian berbalik meninggalkan meja kerja bu Kinan.
"Bu Bery kemana sih? Udah hampir waktu istirahat tapi gak ngasih kabar, mana banyak yang cariin lagi." Ucap bu Kinan ngedumel, seharian telpon terus berbunyi dan beberapa orang datang menanyakan ibu bosnya itu, namun ia juga tidak tahu keberadaannya.
Tidak lama berselang, ponselnya bunyi dan semburat lega terpancar di wajah lelahnya.
"Assalamu'alaikum, bu."
"Wa'alaikum salam. Kantor gimana, bu?" Tanya Bery dengan suara seperti orang yang baru bangun tidur dari seberang sana.
"Banyak yang nyariin ibu, barusan pak Dirga juga datang ke ruangan ibu. Sepertinya ada hal penting yang mau beliau bahas karena beliau meminta segera dikabari jika ibu sudah datang ke kantor."
"Iya, nanti akan kuhubungi sendiri. Oh yah, tolong atur jadwal aku hingga 3 hari ke depan. Aku sedang ada urusan mendadak yang tidak bisa kutinggal. Kamu pastikan saja semua email kamu kirim kepadaku dan aku akan bekerja dari rumah."
"Baik, bu."
"Oh yah bu, si Sky juga izin untuk 3 hari, barusan pesannya masuk, apa ibu izinin?" Tanyanya setelah memeriksa ponselnya saat Bery masih bicara kepadanya.
"Iya, gak masalah. Jangan lupa hubungi aku kalo ada sesuatu yang penting dan mendesak di kantor. Assalamu'alaikum."
"Baik bu, wa'alaikum salam."
Bu Kinan menghela nafas panjang, alamat pekerjaannya akan menumpuk karena bu bos dan Sky tidak masuk kantor.
"Aneh yah, kenapa akhir-akhir ini jadwal cuti Bery dan Sky selalu bersamaan?"
Bu Kinan buru-buru mengusir fikirannya yang sudah bergerak liar kemana-mana. Meski aneh, namun ia berusaha menekan rasa penasarannya.
*****
Aku menjadi pria paling bahagia di dunia ini setelah 3 hari mengurung Bery di rumah. Niatnya untuk memulihkan tenaga sehingga mengambil cuti malah kugunakan untuk menggempurnya pagi, siang dan malam.
Bery sudah seperti candu bagiku, aku benar-benar tidak bisa melepasnya jauh-jauh dariku.
Aku sebenarnya kasihan melihatnya yang nampak kelelahan dan terkadang mengeluhkan bagian intinya yang sakit, tapi aku benar-benar tidak bisa menahan diri untuk tidak menyentuhnya di setiap kesempatan.
Hari ini hari terakhir cuti kami, sudah jam 11 siang namun ia masih lelap dalam tidurnya.
Aku menciumi pundaknya yang polos, memberikan gigitan-gigitan kecil agar ia segera bangun.
"Sky... hentikan. Tidak lagi Sky, aku benar-benar lelah. Aku tidak mau besok masuk kantor seperti zombi kekurangan nutrisi." Ucap Bery membuat Sky menghentikan aksinya.
"Makanya, bangun..bersihkan diri dan pakai pakaian yang benar biar aku tidak tergoda lagi memakanmu." Ujar Sky seolah menyalahkan pakaian Bery.
Bery berbalik memandangi Sky dengan bola mata berputar jengah.
"Apa kamu lupa siapa yang memberiku pakaian seperti itu untukku? Apakah kamu kekurangan uang Sky sampe kamu tidak mampu membelikan pakaian yang layak untuk istrimu ini?" Tanya Bery sarkas.
Sky tidak tersinggung, malah itu terdengar lucu di telinganya.
"Bukankah semua uangku sudah ada di tangan kamu sejak awal kita menikah?" Sky menaik turunkan kedua alisnya kemudian mengerling nakal.
"Arrrggghhhh... kamu memang makhluk Tuhan paling menjengkelkan segalaksi bimasakti, Sky!" Bery mendengus kesal dan langsung meninggalkan Sky ke kamar mandi.
Bery menatap tubuh polosnya di depan cermin besar yang ada di dalam kamar mandi. Ia menggeleng melihat hasil karya Sky yang memenuhi tubuhnya. Dari yang masih memerah keunguan, ada yang memerah kecoklatan, hingga coklat tersamar. Luar biasa Sky mengerjai tubuhnya.
"Untung pakai jilbab, kalau tidak, mau dibagaimanakan ini leher?" Batinnya.
Sementara itu, Sky membaringkan tubuhnya di sofa sambil membaca buku sembari menunggu Bery selesai mandi.
Sebenarnya, Sky tidak bisa fokus pada buku yang dibacanya, fikirannya kini dipenuhi berbagai tanya semenjak pertama kali memasuki tubuh Bery.
Reaksi Bery yang terlihat amat sangat kesakitan dan fakta adanya darah yang ia temukan di seprei membuatnya bingung sendiri.
Bukankah yang menjadikan Bery takut menikah adalah masalah keperawanannya?
Berbagai fikiran menghinggapi kepalanya namun sungkan bertanya kepada Bery. Sky takut Bery tersinggung atau marah karena masa lalunya kembali diungkit.
Sky tampak tidak terganggu bahkan tidak menyadari jika Bery sudah berdiri di sampingnya.
"Apa yang kamu fikirkan, Sky?" Bery merasa aneh, tidak biasanya Sky melamun.
"Oh.. sorry!" Sky mengubah posisi tubuhnya bangun dan bersandar di sofa kemudian meletakkan buku yang tadi dipegangnya ke sofa sisi kirinya.
"Duduk sini!" Ucap Sky menepuk sofa di sisi kanannya. Bery menurut.
"Aku tidak tau harus memulainya darimana, tapi aku tidak akan bertanya. Aku hanya ingin kamu mengatakan sesuatu jika memang ada yang perlu aku ketahui di sini." Ucap Sky dengan mengambil kedua tangan Bery berada di dalam genggamannya.
"Gak usah berbelit-belit Sky, aku tidak mengerti maksud kamu!" Bery tidak ingin menduga-duga.
Sky tampak berfikir membawa pandangannya turun kepada kedua tanggannya yang bertaut dengan tangan Bery.
"Tentang itu..." Bibir Sky rasanya kelu melanjutkannya.
"Tentang apa, Sky? Aku bukan cenayang yang bisa membaca isi fikiran kamu."
Sky menarik nafas, mengumpulkan keberanian untuk bertanya.
"Kita sudah melakukan hubungan suami istri.." ucap Sky menatap mata Bery.
Bery mengangkat dagunya pelan, mengangguk, "iya.. terus?"
"Apa kamu tidak merasa aneh? Kamu berdarah dan--"
"Dan..." Bery masih menunggu Sky menyelesaikan pertanyaannya yang masih ragu-ragu mengeluarkannya.
"Tapi jangan marah!"
"Kita punya anger room untuk menyelesaikannya." Sky bergidik. "Lanjutkan!" Imbuh Bery tidak sabar.
"Apa kamu operasi keperawanan?"
Pletak!
"Aowww..." Sky mengelus pahanya yang menjadi sasaran pukulan Bery.
Wajah Bery memerah dengan tatapan tajam seperti hendak menelan Sky bulat-bulat menahan emosi yang berkobar-kobar di dadanya.
"Apa hanya itu yang ada di dalam otakmu, Sky?"
Bery langsung beranjak pergi namun belum sempat membuka pintu kamar tangannya sudah ditarik hingga masuk ke dalam pelukan Sky.
"Jangan marah.. please!" Ucap Sky mengelus lembut punggung Bery.
"Apa aku serendah itu di matamu?"
Sky mengurai pelukannya kemudian menggeleng cepat.
"Bagiku kamu adalah segalanya apapun adanya dirimu. Maafkan aku jika itu membuatmu tersinggung, aku tidak ada maks--"
Kata-kata Sky tiba-tiba menghilang karena bibirnya sudah disumbat oleh tangan Bery.
Netra mereka saling mengunci beberapa saat, Sky kemudian mengeratkan pelukannya kemudian meletakkan dagunya di pundak Bery.
"Jangan pernah menyerah menghadapi pria kaku, dingin, minim ekspresi, muka datar dan menjengkelkan ini. Kalau aku salah, aku mungkin masih punya kesempatan untuk memperbaikinya. Kalau aku gagal, aku mungkin bisa mengulang lagi sampai berhasil. Kalau aku jatuh, aku pasti akan bangkit lagi. Tapi kalau kamu mulai menyerah kepadaku, maka semuanya selesai bagiku."
"Aku bukan pria yang pandai merangkai kata sehingga bisa menjaga lisanku agar tidak menyakiti hatimu. Aku bukan pria yang pandai bergaul sehingga semua tingkah dan lakuku bisa menyenangkanmu. Aku hanya pria kesepian yang menyedihkan yang sedang belajar jatuh cinta dan memantaskan diri untuk kamu. Jadi aku mohon, jangan pergi!"
Bery mendesah pelan.
"Aku tidak akan kemana-mana, Sky. Lihatlah pakaianku," Bery mendorong dada Sky agar memberi jarak sedikit diantara mereka. "aku tidak mungkin nekat keluar dari rumah ini hanya dengan menggunakan kemeja kamu ini."
Sedikit rasa bersalah menghinggapi Bery, melihat Sky yang begitu rapuh karenanya, padahal sejak mengetahui kebenarannya, harusnya Bery memberi tahu Sky.
"Ayok kita ke sofa lagi.."
🗯🗯🗯Mau ngapain tuh mereka ke sofa lagi?💤💤💤😅
oooO•••••Oooo
Please sedekah like, comment dan vote-nya yah readers terbaik agar popularitas karya ini semakin meningkat😘😘😘