
Aku dan Sky akhirnya memilih meminjam motor Anzi untuk kami gunakan mengukur jalanan di kota kelahiran kami ini.
Bagi Sky, ini adalah pertama baginya setelah 10 tahun menginjakkan kakinya kembali ke sini. Berbeda denganku yang selalu mencuri waktu di sela-sela kesibukanku untuk datang berkunjung ke kota ini.
Pagi-pagi, kami mencari sarapan di lapangan yang dekat dari Mesjid Agung. Di sana ada taman yang banyak dijajakan berbagai macam kue-kue tradisional khas Nusantara.
Kami menikmati sarapan kami di kursi yang ada di taman. Suasananya begitu sejuk, suara burung berkicau terdengar sangat merdu.
Banyak yang lalu lalang di sini, ada yang seperti kami sekedar menikmati sarapan diluar, ada yang jogging, tua muda banyak yang beraktifitas mencari keringat.
Setelah menghabiskan sarapan, Sky pamit mencari tempat sampah untuk membuang sampah dari wadah makanan kami tadi.
Aku memilih tetap duduk menikmati udara segar yang sangat sejuk mengisi rongga pernafasanku.
"Bery..." sebuah suara memotong ketenanganku. Aku menoleh ke arah datangnya suara yang menyapaku.
"Iya, maaf... siapa yah?" Tanyaku setelah melihat wajah orang tersebut, meski sedikit familiar, namun aku lupa, siapa yang sedang berdiri di hadapanku saat ini.
"Aldi, masih ingat kan?" Jawabnya menyebut namanya kemudian ikut duduk di kursi panjang bersamaku.
"Aldi... teman SMA?" Tanyaku meyakinkan.
"Iya, akhirnya ingat juga. Apa kabar? Long time no see..." tanyanya sok Inggris sambil melengkungkan bibirnya ke atas.
"Alhamdulillah, baik, Al. Kamu sendiri bagaimana?"
"Yaa... begini begini aja, Ber. Tidak ada yang spesial, hidupku mengalir begitu saja." Jawabnya memandang jauh ke arah depan.
"Sayang..." tiba-tiba Sky datang memelukku dari belakang menunjukkan sifat posesifnya.
"Sky...!" Aku sempat kaget mendapatkan panggilan sayang dan pelukan di tempat umum seperti ini darinya.
"Sky, kenalin ini teman lama aku, Aldi. Dan, Al.. kenalin, suami aku.. Sky."
Aldi kemudian berdiri dari tempatnya kemudian menjulurkan tangannya dan disambut datar oleh Sky.
"Kalau begitu aku pamit dulu, lain kali kita harus ketemu lagi, Ber. Ini kartu namaku."
Aldi kemudian pergi setelah memberiku kartu namanya kepadaku. Sepertinya ia tidak nyaman dengan kehadiran Sky.
Aku baru ingat, kemarin aku sempat bertemu Vivian, hari ini Aldi, aku harap tidak ada kebetulan seperti ini yang mempertemukanku kembali dengan Rio. Ah, lelaki itu. Entah kenapa aku tiba-tiba mengingatnya. Kuharap ia telah meraih semua impiannya setelah mencampakkan aku dengan begitu kejamnya karena alasan mengejar mimpinya.
"Kita kemana lagi?" Tanya Sky yang seketika membuyarkan lamunanku akan masa lalu yang menyakitkan itu.
"Kemana aja boleh." Ucapku kemudian berdiri dan menarik tangan Sky ikut denganku ke tempat motor ia parkir tadi.
"Kita cari pantai, yuk! Dhuhur baru kita balik ke hotel, setelah itu istirahat, habis maghrib baru kita ke Rumah Sakit."
"Iya, aku ikut saja." Jawabku lesu seolah tak bersemangat lagi setelah bertemu Aldi tadi. Entah kenapa perasaanku seperti terganggu dengan kehadiran Aldi. Entahlah..
*****
"Sky, kamu pesan makanannya, aku mau ke toilet bentar." Tanpa menunggu jawaban Sky, Bery langsung berjalan ke arah dimana toilet berada.
Setelah keluar dari toilet, Bery sedikit menunduk memasukkan ponselnya ke dalam tas tangan yang dibawanya. Tiba-tiba ia menabrak seseorang yang datang dari arah yang berlawanan dengannya. Bery sedikit terhempas mundur, hampir terjatuh namun ia masih bisa menjaga keseimbangan tubuhnya.
"Sepertinya kamu sangat suka menabrakku. Apa kamu sedang mencari perhatianku, nona Bery!"
Bery mengangkat wajahnya menatap ke arah datangnya suara yang menyapanya dengan arogan.
"Sorry, saya tidak mengenal anda dan--"
"Tidak usah berpura-pura tidak mengenalku." Ucapnya memotong cepat jawaban Bery.
Bery memicingkan matanya melihat sosok yang berdiri tegap di hadapannya. Akhirnya ia ingat, laki-laki tersebut adalah laki-laki yang ia tak sengaja tabrak di Bandara sekaligus laki-laki yang telah menghancurkannya di masa lalu.
Bery sendiri baru tahu beberapa saat yang lalu setelah membaca namanya di sebuah spanduk yang membentang di area pantai dan dari spanduk tersebut Bery bisa tahu wajah dari orang tersebut.
"Maaf...saya tidak mengerti maksud anda."
"Rupanya anda masih sangat angkuh seperti dulu. Saya sangat yakin, nona Bery yang cantik ini masih sangat tergila-gila dengan pesonaku hingga terus menguntitku dan rela berpura-pura menabrakkan dirinya terus demi mendapatkan perhatianku lagi. Apa sebegitu besarnya rasa cinta anda kepada saya nona?" Ucapnya meremehkan.
"Anda terlalu percaya diri, bapak Rio yang terhormat." Rio saat ini sedang menjabat sebagai Bupati termuda tingkat nasional, sudah satu tahun dia memimpin di kota ini. Setidaknya itu salah satu informasi yang dibacanya dari spanduk yg ada di sekitar pantai tadi.
"Bapak pernah makan cabe tidak? Saat berhenti memakan cabe, apa yang bapak rasakan? Rasa pedasnya tidak serta merta menghilang, bukan? Memang butuh beberapa waktu untuk menghilangkan rasanya. Begitupun dengan perasaan cinta, saat memutuskan untuk berhenti mencintai, lama kelamaan pasti juga akan hilang rasa cintanya. Jadi bapak tidak usah lebay dan terlalu percaya diri seperti itu." Ucap Bery ketus.
"Tentu saja saya sangat percaya diri nona, Bagaimana mungkin anda berhenti mencintai laki-laki yang pertama kali mengambil saripati anda, nona cantik?" Sarkas Rio tak ingin kalah, ia tersenyum penuh kemenangan melihat wajah Bery yang memerah karena menahan emosi.
"Oh, rupanya bapak yang belum bisa move on dari pesona yang saya miliki hingga bapak masih terus mengingatnya. Sayangnya saya sudah lupa, maaf... saya benar-benar tidak bisa mengingatnya lagi. Bahkan mengingat wajah bapak pun tidak, bersyukurlah photo bapak banyak terpampang di jalan-jalan sehingga membantu saya mengingat nama dan wajah anda." Bery tidak kehilangan akal untuk membalikkan keadaan.
"Dan satu lagi, saya tegaskan kepada anda, benar di masa lalu kita memang pernah dekat, tapi aku rasa itu bukanlah cinta, itu hanyalah sebuah perasaan nyaman. Kalau pun anda bersikeras mengatakan bahwa itu adalah cinta, baiklah, akan saya akui, tapi itu hanyalah cinta monyet. Anda tau bukan, cinta monyet itu seperti apa? Jika belum, biar saya jelaskan... jadi... cinta monyet itu seperti monyet yang suka berpindah dari satu pohon ke pohon yang lain, rasa cinta ini juga mudah berpindah hati atau bisa dibilang sementara meskipun tidak menutup kemungkinan cinta monyet bisa berlangsung lama, seperti anda saat ini yang sepertinya belum move on. Dalam perasaan cinta monyet, seseorang dapat dengan mudah merubah perasaan seiring berjalannya waktu. Jelas itu seperti saya." Pungkasnya.
"Oh... hai sayang!" Menyadari kehadiran Sky di dekat mereka, Bery langsung menyapa suaminya itu dengan lembut.
"Kenapa lama sekali, sayang?" Tanya Sky menghampiri Bery dan melingkarinya dengan tangannya posesif. Sky sadar betul siapa laki-laki yang ada di dekat Bery saat ini dan Sky bjsa merasakan tatapan menginginkan dari laki-laki tersebut kepada Bery.
"Aku... ah, sudahlah.. aku lapar, ayo kita makan." Bery tidak ingin membahas laki-laki yang barusan tidak sengaja ditemuinya. Tanpa menoleh apalagi berpamitan, Bery langsung berlalu dari sana dengan memeluk lengan Sky.
Tangan Rio seketika mengepal, wajahnya memerah menahan emosinya yang terasa memuncak di ubun-ubun. Ia sungguh tidak menyangka akan diabaikan begitu saja oleh Bery setelah sekian lama tidak bertemu. Bukankah dulu Bery begitu bergantung kepadanya? Bukankah Bery yang dikenalnya telah menjadikan dirinya sebagai pusat dunianya? Mengapa hanya dalam 10 tahun ia bisa berubah seperti ini, bahkan ia sudah bersama dengan lelaki lain. Sementara dirinya sama sekali tidak bisa melupakan Bery, meski banyak perempuan yang datang silih berganti di dalam hidupnya, namun tetap saja hanya Bery yang bertahta tinggi di hatinya.
Rio harus mencari cara untuk bertemu lagi dengan Bery, Bery adalah miliknya, tidak akan ia biarkan laki-laki lain mengambilnya darinya.
Mood Bery semakin hancur setelah pertemuannya dengan Rio. Dulu ia sempat berfikir, bagaimana jika suatu saat nanti ia dipertemukan dengan Rio kembali? Apakah Rio akan meminta maaf kepadanya atau tidak? Namun bertemu dengannya hari ini sudah cukup membuatnya betul-betul sadar bahwa Rio benar-benar tidak lebih dari laki-laki brengsek pecundang sejati yang tidak perlu disimpankan sedikit ruang untuk berdamai.
Selama ini, Bery tidak pernah benar-benwr membenci Rio, sama sekali tidak pernah, karena kesalahan tersebut bukan kesalahan Rio sendiri, Bery ikut bersalah, dan sudah menyesali semuanya. Bery hanya pernah berfikir untuk meminta maaf kepada Rio atas kejadian tersebut karena bagaimanapun mereka berdua adalah korban dari keegoisan orang tua, namun setelah hari ini, rasanya tidak perlu lagi menyimpan sedikit empati di hatinya. Rio memang hanyalah masa lalu kelam baginya yang sangat tidak layak untuk mengambil bagian di dalam kehidupannya yang sekarang dalam bentuk apapun itu, sungguh tidak layak.
Oooo☆~~☆oooO
Jangan lupa berikan like, comment dan vote kalian yah untuk mendukung Novel ini. Klick tombol Favorit agar kalian bisa mendapatkan notifikasi tiap kali ada update terbaru. okay.. Thanks 😍🤗