HAPPIER

HAPPIER
BAB 59



Lepas menikmati menu sarapan mereka yang terlambat itu, Bery dan Sky memutuskan untuk menghabiskan waktu di rumah saja seharian ini.


Tiba-tiba saja Sky merasakan tubuhnya kurang sehat dan butuh istirahat yang cukup agar besok bisa beraktifitas dengan baik.


"Aku gak papa sendiri di rumah!" Ucap Sky merasa bersalah karena Bery batal berangkat ke kantor melihat Sky yang meringkuk di atas tempat tidur.


Bery melepas pakaian kerjanya dan menggantinya dengan pakaian rumah. Dia kemudian merangkak naik ke atas kasur dan meletakkan tangannya di dahi Sky.


"Kamu ngomong apa sih? Badan kamu panas begini masak aku tinggal?" Omel Bery merasa kesal karena Sky memintanya tetap pergi bekerja.


"Aku sudah minum obat, sebentar lagi pasti sembuh."


Bery mengabaikan ucapan Sky, dia membuka selimut tebal yang menutupi tubuh Sky.


"Buka baju dulu, ganti pakaian kamu dengan kaos tipis ini saja."


Bery membantu Sky agar segera duduk kemudian mengeluarkan kaos Sky yang sudah basah karena keringat.


"Apa kamu bisa memijat?" Tanya Sky lemah.


"Mau dipijat?"


Sky mengangguk.


"Gampang itu, tinggal lihat tutorialnya di youtube. Ya udah, kamu baring tengkurap dulu." Sky mengikuti perintah Bery dan sekarang dia sudah berbaring tengkurap.


Bery sibuk membuka-buka video di youtube dan akhirnya dapat video yang menurutnya mudah dilakukan.


Bery menelan salivanya melihat bahu lebar suaminya itu, keringat mengucur keluar membuatnya basah namun malah menambah kesan seksi di matanya. Mengabaikan kekagumannya pada tubuh bagian belakang Sky, Bery mengambil lotion miliknya kemudian membalurnya ke tubuh Sky. Tangannya mulai bergerak lincah mengikuti video yang ditontonnya.


"Enak banget!" Komentar Sky menikmati.


"Aku senang kamu suka." Bery tersenyum senang karena Sky menyukai pijatannya.


"Lain kali aku akan pijat kamu juga."


Bery memanyunkan bibirnya, "kalau kamu yang pijat aku, adanya jadi pijat plus plus!" Ejek Bery.


"Tapi kamu pasti suka dan menikmatinya, pijatanku dijamin bisa bikin kamu terbang sampai ke langit ke tujuh!"


Plak!


Bery memukul pelan pundak Sky tapi Sky tidak protes.


"Udah sakit begini mesumnya tetap jalan." Sarkas Bery.


"Aku hanya demam sedikit, 2 ronde masih sanggup kok!"


Dengan gerakan cepat Sky membalik tubuhnya dan entah bagaimana caranya Bery sudah tengkurap di atas tubuh Sky.


Jantung mereka berdebar-debar dan saling menghentak dada keduanya. Tatapan mereka saling mengunci dengan wajah Bery hanya berjarak 10 cm di atas wajah Sky.


"Apalagi kalau kamu yang di atas, 3 ronde mungkin masih kurang!" Ucap Sky dengan nada berat namun terdengar sensual di telinga Bery.


Bery tersenyum miring, jika biasanya dia akan bersungut dan protes dengan kemesuman Sky, kali ini dia memilih mengikuti permainan Sky.


"Aku merasa tertantang, Sky!" Ucap Bery yang melepas semua berat badannya ke atas tubuh Sky. Dia semakin mendekatkan wajahnya, kemudian memilih turun ke arah telinga Sky, Bery menggigit lembut cuping Sky membuat Sky menegang seketika.


Bery tersenyum penuh kemenangan ketika Bery merasakan sesuatu yang keras mendesak pahanya.


"Kamu semakin nakal, sayang!" Ucap Sky dengan suaranya yang semakin berat menahan hasratnya karena saat ini kedua tangannya sudah diikat dengan kaosnya tadi.


Bery mengangkat wajahnya dan memandang wajah Sky lamat-lamat. Dia menyatukan bibir mereka kemudian bergerak pelan dan lembut, dan ketika Sky mulai terbuai oleh permainan Bery, tiba-tiba Bery bangkit dan meninggalkannya.


"Beryyy!!!"


Dia merasa harus berendam untuk mendinginkan rasa panas yang ia ciptakan sendiri.


Sementara Sky hanya bisa mengumpat karena frustasi ditinggalkan dalam keadaan tangan terikat dan hasratnya yang menggantung.


"Arrrggghhh.. Ber, kamu harus aku hukum setelah ini."


Sky memilih tidur setelah berhasil membuka ikatan tangannya. Tidak mudah membuatnya cepat kehilangan kesadaran karena efek obat penurun panas tadi sudah mulai bekerja.


*****


Sore menjelang malam, aku terpaksa memberi alamat rumah kami ke bu Kinan. Ada beberapa dokumen yang memerlukan tanda tanganku berhubung hari ini wajib di submit ke klien.


Sementara aku tidak bisa meninggalkan Sky yang masih demam dan menolak berobat ke dokter. Katanya; "obatnya itu kamu, istriku!"


Aku hanya bisa menatapnya jengah tapi tetap merasa iba melihatnya terkulai lemah seperti itu. Mana lagi dia juga menolak jika umi dan abi tahu kondisinya. Anak itu sangat keras kepala, untung sayang.


Ting tong..ting tong..ting tong!!!


Aku bergegas membuka pintu rumah, itu pasti bu Kinan dan supir kantor.


"Assalamu'alaikum, bu!" Sapanya mengangguk sopan.


"Wa'alaikum salam... masuk bu, pak..silahkan masuk."


Pak Maman menolak masuk karena ingin langsung ke mesjid terdekat untuk sholat maghrib.


"Bu Kinan sholat?" Tanyaku, maklum kadang-kadang perempuan ada masa cuti sholatnya.


"Sholat!" Jawabnya sambil mengangguk.


"Di sana ada kamar mandi, di sampingnya ada musholla juga." Ucapku menunjuk ke arah dekat dapur.


"Sayang... peciku yang warna abu-abu mana? Sarung sholatku lihat gak?" Tiba-tiba terdengar suara Sky dari arah tangga atas.


Bu Kinan menatapku dengan tatapan penuh tanya dan meminta penjelasan sesegera mungkin.


Mata bu Kinan semakin membulat ketika laki-laki yang memanggilku sayang tadi muncul di hadapan kami.


"Sky!!!" Ucapnya keheranan, seperti tidak percaya dengan penglihatannya. Bu Kinan sampai harus mengucek beberapa kali matanya demi memastikan dia tidak salah lihat saat ini.


"Eh, bu Kinan!" Sky langsung salah tingkah dan menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal itu.


Bu Kinan menatapku bergantian dengan Sky.


"Ibu sholat dulu, nanti biar aku jelasin!" Ucapku tersenyum kikuk.


Aku fikir Sky tidak akan turun dari kamar dan mencariku sampai ke bawah karena tadi tidurnya masih sangat nyenyak saat kutinggal.


"Ayo naik, kamu kebiasaan yah.. nyari barang itu pakai mata, bukan pakai mulut. Makanya habis sholat itu perlengkapan sholatnya di simpan di satu tempat yang sama. Jangan kadang di atas kasur, kadang di sandaran kursi, kadang di gantung, kadang di lemari, pokoknya kadang suka-suka kamu itu harus dikurangi." Cerocosku yang tidak ada habis-habisnya sampai kami tiba di kamar.


"Kamu kuat gak sholat berdiri?" Tanyaku.


"InsyaaAllah.. udah lumayan baikan kok." Jawabnya sambil memakai pakaian sholatnya.


Aku membantunya mengancingkan baju kokonya kemudian setelah itu baru aku memakai mukenahku.


Dia selalu tampan dalam balutan pakaian apapun. Berdekatan dengannya selalu membuatku kesulitan bernafas, auranya sangat mengintimidasi saat wajahnya kembali ke mode cool.


Kadang aku merasa dia seperti orang yang berkepribadian ganda, tapi kalau difikir-fikir lagi, wajar sih setiap orang bersikap tegas diluar dan bersikap hangat kepada orang-orang terdekatnya.


Justru begitu lebih bagus, kesannya berkelas dan berwibawa, punya aura yang mematikan dimata setiap lawan bicaranya.


Karena banyak orang yang lebih suka dimanipulasi, ketika kita menjadi diri kita yang sebenarnya, terkadang malah banyak yang membenci. Dan ketika kita menjadi orang lain, justru banyak yang memuja. Lucu, tapi begitulah kenyataannya!