
Setelah makan malam, umi memintaku masuk ke kamarnya. Beliau minta dipijit, begitulah kebiasaannya, setiap kali menginap di sini, umi pasti minta dipijit. Apalagi waktu aku masih gadis dulu, hampir tiap malam rutinitasnya sebelum tidur adalah mimijit umi.
Ada kalanya aku bersungut dan ngedumel sendiri kalau pas lagi tidak mood tapi umi tetap maksa. Akan tetapi, ujung-ujungnya aku menikmati kegiatan tersebut karena momen itulah yang akan menjadi ajang curhat bagiku. Umi suka mengajakku ngobrol, saat aku tidak bersemangat, umi selalu punya banyak cara membuatku mengobrol dengannya, katanya biar aku gak ngantuk.
Berbeda dengan abi, sebelum tidur abi lebih suka berkutat dengan pekerjaannya di ruang kerjanya. Katanya biar besok tidak ada yang ketinggalan dan memudahkannya dalam mengatur kegiatannya di kantor. Prinsip abi dalam bekerja adalah, selesaikan pekerjaan itu di dalam fikranmu sebelum menyelesaikannya. Katanya sih agar bisa meminimalisir melakukan kesalahan dan juga membuat kita bekerja dengan efektif dan efisien. Kalau difikir-fikir, benar juga sih, dan aku sudah membuktikannya berkali-kali, hanya saja aku bukan tipe orang yang suka membawa pekerjaan pulang ke rumah.
Mas Fachri, suamiku, saat ini bekerja di perusahaan abi. Sebenarnya dia menolak, harga dirinya terlalu tinggi untuk menerima bantuan abi. Namun, setelah kami yakinkan, akhirnya dia bersedia, dia hanya mau membantu. Mas Fachri sama sekali tidak bersedia memegang kepemimpinan di perusahaan abi. Malah saat ini dia sedang sambilan mendirikan perusahaannya sendiri. Aku sendiri tidak masalah, aku malah semakin bangga memilikinya, dia adalah laki-laki penyayang dan penuh tanggung jawab.
Dan seperti yang sudah-sudah, saat aku di kamar bersama umi, bisa dipastikan mas Fachri sedang di ruang kerja bersama abi. Sementara Sky, ada kalanya ia ikut nimbrung di kamar, sambil ikutan memijit-mijit umi dan menjadi pendengar setia obrolan aku dan umi. Namun, Sky lebih sering sibuk dengan urusannya sendiri di depan beberapa layar komouter yang ada di dalam kamarnya. Aku sendiri bingung mengapa ia bersikukuh mengambil kuliah di dua jurusan yang berbeda. Untuk jurusan Arsitektur, masih masuk akal mengingat hobbynya persis sama dengan Bery. Malah aku sempat curiga, jangan-jangan gambar-gambar yang ditemukan abi di tempat sampah dulu adalah punya Sky, bukan punya Bery, soalnya Bery itu orangnya sangat rapi dan teratur. Saking teraturnya, sampah-sampah kertasnya pun dipilah-pilah sesuai ukuran kemudian ditumpuk rapi, biasanya dimasukkan ke dalam karton barulah dibuang.
Untuk jurusan Hukum, entah nyambungnya dimana. Mungkin saja karena terinspirasi dari kasus yang dihadapinya di masa lalu.
Sudah hampir 15 menit aku memijiti badan umi, rasanya kedua tanganku mulai pegal.
"Mungkin sudah saatnya umi pake jasa art, umi sudah tua, ingat umur, sayangi badannya." Ucapku memberi saran.
"Umi masih kuat, lagian abimu dan Sky suka membantu." Elak umi.
"Iya, kalau lagi gak sibuk. Kalau dua-duanya sibuk kan umi juga yang keteteran." Cecarku protes. "Lagian kalau tidak mau pake jasa art, kan pakaian bisa diloundry, nanti pakaian dalam aja yang umi cuci. Atau umi bisa cari art yang gak usah nginap di rumah, cukup bantu umi beberes rumah dan nyuci. Setidaknya beban umi akan jauh berkurang." Ucapku masih dengan tangan yang sibuk memijiti umi.
"Nanti umi fikir lagi, lagian nanti kalau Sky sudah nikah, kan ada istrinya yang temani umi di rumah." Ucap umi menerawang.
"Iya, kalau istrinya mau dibawa tinggal di rumah sini, kalau pun mau, bagaimana kalau istrinya adalah wanita karir, jangan sampai yah, jangan sampai jatuh-jatuhnya malah nambah beban umi di rumah karena istri Sky gak punya waktu untuk urusan rumah tangga." Kenyataan seperti ini harus umi fahami sejak awal, jangan sampai terlalu berharap dengan menantu perempuannya di masa depan. Ambil contoh diriku yang merasa lebih nyaman tinggal di rumah sendiri, tidak di rumah orang tuaku tidak juga di rumah mertuaku.
"Pikiranmu kejauhan, Nin. Ini aja umi gak tau, apa Sky punya keinginan untuk menikah atau tidak. Dan umi tidak mau memaksakannya. Dia bisa seperti sekarang saja umi sudah bersyukur, nak." Wajah umi nampak sendu.
Aku tidak bisa menampik dengan apa yang diucapkan umi, kami memang sudah benar-benar bersyukur melihat Sky yang sekarang.
"Umi udah tau belum aoa yang dibicarakan Bery saat ketemu ayah dan ibunya di kampung?" Tanyaku mengalihkan topik pembicaraan.
"Belum, dia gak cerita waktu ke sini. Jadi bagaimana? Udah dimaafin?" Tanya umi penasaran kemudian mengubah posisinya yang sebelumnya berbaring menjadi duduk menghadapku.
"Dimaafin, tapi ada syaratnya, umi."
"Alhamdulillah, ini berita yang sangat baik. Lalu apa syaratnya?"
"Bery diminta menikah!"
"Menikah?" Mata umi sedikit membulat mendengarnya.
"Umi doakan, semoga Bery segera dipertemukan dengan jodohnya, tentunya umi berharap dia mendapatkan laki-laki baik yang akan menerimanya apa adanya." Ucap umi penuh harap.
"Nah, itu dia masalahnya umi. Umi tau sendiri kan bagaimana traumanya Bery sama hubungan keterikatan dengan laki-laki. Ia masih sangat takut jangan sampai suaminya kelak tidak bisa menerima masa lalunya."
"Kasihan anak itu.." lagi-lagi umi nampak sendu. "Terus gimana dong solusinya kalau begitu?"
Aku menghela nafas kasar, "entahlah umi. Aku sudah berusaha meyakinkannya tapi aku tidak tau apa dia bisa atau tidak. Aku hanya takut, jangan sampai dia tidak berfikir jernih dan terburu-buru mengambil keputusan. Aku khawatir dia salah memilih calon suami." Ucapku mengeluarkan semua yang mengganjal fikiranku.
"Kita doakan saja, semoga dia mendapatkan yang terbaik."
"Aamiin.." ujarku meng-amini doa umi. "Oh yah umi, kalau kita menjodohkan Sky dan Bery menurut umi bagaimana?" Tanyaku ragu.
"Ini kamu serius Nin mau jodohkan mereka?" Tanya umi balik dengan wajahnya yang serius.
"Aku serius umi. Aku sudah menimbangnya masak-masak." Ucapku mantap.
Umi terdiam sejenak kemudian menatapku lamat-lamat. "Apa alasan kamu ingin menjodohkan mereka? Umi ingin mendengar alasan sesuai dengan keilmuan kamu, bukan karena tendensi perasaan sayang kamu ke Bery sebagai sahabatnya."
"Aku bahas satu-satu yah, umi. Sky punya masalah dengan ketakutannya kepada fitrahnya sebagai laki-laki, ia takut tertarik kepada lawan jenisnya, intinya ia takut menjadi pria brengs*k seperti - maaf - om Danu saat itu. Sky hanya perlu diyakinkan bahwa menikah adalah solusi untuk menjinakkan fitrahnya tersebut. Bukan malah dengan menjauhi perempuan." Aku menatap wajah umi, menunggu reaksinya, namun sepertinya beliau lebih tertarik menunggu penjelasan berikutnya.
"Sementara Bery," lanjutku hati-hati, "Bery punya ketakutan jika kesuciannya dipertanyakan oleh suaminya kelak. Ia takut setelah memberikan segalanya lalu tiba-tiba suaminya berbalik arah dan menganggapnya tidak ada hubungan spesial diantara mereka, Bery takut dikhianati."
"Lalu apa hubungannya?" Tanya umi masih belum mengerti kemana arah pembicaraanku.
"Jika mereka berdua disatukan di dalam ikatan pernikahan, mereka bisa saling menyembuhkan." Jawabku penuh keyakinan.
"Itu jika berhasil, kalau gagal?" Cecar umi lagi.
"Kita harus yakin dulu bahwa ini akan berhasil, kita semua akan membantu mereka. Anggap saja ini adalah bagian dari terapi untuk mereka. Kita harus berani mengambil langkah ini, atau mereka berdua akan tetap tinggal di dalam bayang-bayang masa lalu mereka masing-masing."
"Umi tidak setuju!"
Oooo☆~~☆oooO
Jangan lupa berikan like, comment dan vote kalian yah untuk mendukung Novel ini. Klick tombol Favorit agar kalian bisa mendapatkan notifikasi tiap kali ada update terbaru. okay.. Thanks 😍🤗