
Aku masih bergelut dengan selimut ketika kurasakan pundakku di tepuk-tepuk pelan. Rasanya baru merapatkan mata, siapa pula yang berani mengganggu tidurku sepagi ini, padahal alarm ponselku belum berbunyi, itu tandanya waktu masih menunjukkan kurang dari jam setengah 5 subuh.
Lagi, pundakku menerima tepukan berulang-ulang, malah ditambah dengan sedikit dorongan.
"Bery, bangun.. hei bangun!"
Mataku melebar demi mendengar suara yang tidak asing memanggil namaku. Secepat kilat aku duduk dari tidurku.
"Plak!!! Sky, kamu ngapain ada di kamark--?" Ucapanku menggantung karena mulai sadar situasinya saat ini, padahal aku sudah terlanjur memukul keras lengannya tadi.
Sky menatapku dengan wajah bingungnya. Ia mengelus lengannya, dia yang sebelumnya bertumpu dengan satu lututnya di atas kasur kini turun dan memilih mundur beberapa langkah. Tatapannya aneh, seperti sedang melihat setan saja.
Dia sudah nampak gagah dengan baju kokonya. "Ini jam berapa?" Tanyaku mengabaikan tatapannya.
"Jam 4 subuh." Jawabnya.
"Yaa Allah Sky, ini masih ada 30 menit lagi baru adzan subuh, aku masih ngantuk banget tau...!" Kesalku menendang selimut yang menutupi sebagian tubuhku kemudian segera beranjak ke kamar mandi. Kandung kemihku rasanya sudah penuh dan meminta untuk segera dikeluarkan.
Sudah kadung bangun tidur, aku memilih membersihkan tubuhku dengan terlebih dahulu keluar mengambil pakaian ganti.
Tapi tunggu dulu!!!
Aku lupa, ternyata dari tadi aku melupakan sesuatu, jilbabku!!!
Pantas saja Sky tegang saat melihatku tadi, pasti ia tidak menyangka akan melihatku tanpa jilbab pagi ini. Ah, sudahlah.. udah terlanjur juga.
Aku fikir Sky akan sholat subuh di mesjid, rupanya dia sedang khusyu' dengan bacaan Qur'annya.
Aku segera menyimpan pakaian kotorku ke dalam kantong londry kemudian memakai mukenahku. Sayup terdengar suara adzan sudah memanggil. Aku memilih duduk di sisi ranjang menunggu adzan selesai.
"Kamu gak sholat di mesjid?" Tanyaku heran karena Sky malah membentangkan 2 sajadah setelah adzan.
"Kita jamaah saja di sini." Jawabnya kemudian langsung mendirikan sholat sunnah qobla subuh.
Aku pun akhirnya beranjak dari kasur kemudian menarik satu sajadah untuk diriku.
Usai sholat, Sky merubah posisi duduknya miring ke kanan sehingga aku bisa melihatnya dari samping.
Ia kemudian mengangkat kedua tangannya memohon dan memanjatkan doa-doa kebaikan.
Aku tertunduk dan begitu khusyu' meng-aminkan semua yang dipanjatkannya.
"Ekhhmmm..." Sky berdehem usai selesai berdoa.
Aku mengangkat wajahku dan mendapati tangan kanannya sudah dekat di wajahku. Kuraih tangan tersebut kemudian kutempelkan di dahiku. Ia tidak melepaskan tanganku dari genggamannya ketika aku mulai menjauhkan tangannya dari dahiku.
Ia tarik tanganku kemudian dikecup lembut, sekali..dua kali.. tiga kali. Tidak cukup di tangan, Sky beralih mengecup keningku.
Aku yang seperti terhipnotis dengan semua kelembutannya tidak berniat menolak apa yang dilakukannya kepadaku.
Sebuah doa ia panjatkan kemudian mencium bagian ubun-ubunku. Ia membawa kedua tangannya di pundakku. Ia memundurkan wajahnya dan menatapku penuh arti.
Sky tersenyum!
Wajahku terasa memanas mendapati tatapannya yang sangat intens, tatapan yang menenangkan, tatapan yang ingin membuatku tenggelam di dalamnya.
"Terima kasih sudah mau menerima aku sebagai suamimu." Ucapnya mengelus lembut pipiku dengan ujung jempolnya.
Aku balas tersenyum kepadanya, "aku yang berterima kasih, Sky!"
Akulah orang yang harus berterima kasih tanpa henti di sini, Sky membantuku mewujudkan impian yang kuperjuangkan dalam 10 tahun hidupku.
"Sky, maukah kamu bersabar sedikit lagi?" Sky mengerutkan keningnya, namun ia tetap diam menungguku melanjutkan apa yang ingin aku utarakan kepadanya
"Aku belum siap menjadi istrimu seutuhnya..." Aku menundukkan mataku tidak berani bertemu tatap dengan mata Sky. "Ini terlalu cepat, dan kamu... selama ini kamu yang aku anggap seperti adikku sendiri tiba-tiba menjadi suamiku. Hal yang paling bisa kutawarkan saat ini ke kamu hanyalah pertemanan, bagaimana kalau kita berteman dulu, saling mengenal, saling memahami dan menyelami karakter masing-masing dan...."
"Bagaimana kalau kita pacaran dulu?" Kata Sky menyelaku. Ia meletakkan kedua tangannya di pundakku dan sedikit menekannya meski tidak sakit.
Kuberanikan diri mengangkat wajahku agar bisa menatapnya dan mencari sesuatu yang kira-kira bisa membuatku memikirkan idenya tadi. Pacaran?
"Sky, mau statusnya berteman atau pacaran, aku ini sudah jelas statusnya sebagai istri kamu loh... kalau kita pacaran, jangan sampai kita kebablasan, kalau jadi teman kan enak, bisa jadi teman tapi mesra gitu." Ucapku tertawa kecil sambil menaik turunkan kedua alisku.
"Pletak..."
"Plak..."
"Sakit tau.." aku masih mengeluhkan keningku sementara Sky hanya memandangku seolah puas melihatku kesal kepadanya.
"Siapa suruh... mana ada cewek yang lebih suka dijadikan teman tapi digrepe-***** tanpa status, padahal udah bagus dijadikan pacar..."
"Siapa juga yang mau digrepe-*****, Sky? Fikiranmu kejauhan, mesum."
"Teman tapi mesra itu maksudnya apa? Mesra-mesraan itu bukannya peluk-pelukan, cium-ciuman, tangannya travelling kemana-mana trus..."
"Kamu mesum banget sih, Sky. Heran aku. Sudah berapa banyak gadis yang kamu mesumin?" Tanyaku geleng-geleng kepala.
"Kok jadi aku? Aku belum pernah apa-apain anak gadis orang. Sekalipun gak pernah, yang ada aku yang diapa-apain." Jawab Sky mendengus kesal.
"Siapa yang apa-apain kamu? Kenapa kamu biarkan?" Tanyaku lagi, entah kenapa tiba-tiba hatiku memanas mendengarnya. Rasanya tidak rela jika ada gadis lain yang apa-apain Sky.
"Kamu!" Ucapnya memajukan sedikit wajahnya kepadaku.
"Aku? Kapan?" Kenapa aku yang dia tuduh...
"Iya kamu, baru kamu gadis yang berhasil mencuri cium pipiku."
Ah, kenapa dia harus ingatkan itu? Malu banget, mungkin wajahku sekarang sudah berubah warna seperti tomat busuk.
"Kenapa? Baru ingat? Jadi siapa yang mesum di sini?" Tanya Sky mendekatkan bibirnya di telingaku.
Deg...
"Oh..itu.. ekhhmm.." aku berusaha menormalkan kegugupanku dan membuang jauh rasa maluku, aku tidak akan membiarkan Sky dengan begitu mudahnya menjungkir balikkan perasaanku.
"Jangan ge er yah, itu aku anggap latihan buat kamu, kita sudah menikah, akan aneh oleh kedua orang tua kita nantinya kalo mereka melihat kita gak ada mesra-mesranya sama sekali. Jadi kita harus membangun chemistry-nya dulu." Jawabku mencoba mencari pembenaran.
"Hmmmm..." Sky nampak berfikir. "Baiklah, kalo begitu aku akan rajin-rajin cium kamu biar chemistry kita cepat terbangun dan..."
"No no no.." buru-buru kupotong kalimatnya sebelum dia banyak mengucapkan kata-kata yang aneh lainnya. "Hanya aku yang boleh, kamu enggak!"
"Terserah...!" Ucap Sky kemudian beranjak ke kasur lalu memainkan ponselnya. Sepertinya dia sudah malas meladeni percakapan absurd ini.
Aku merapikan peralatan sholat kami ke dalam lemari kemudian bergabung dengannya di tempat tidur, ini masih terlalu pagi, baru jam 5 lewat 15 menit.
"Sky, aku serius meminta keikhlasan kamu untuk sabar dalam pernikahan ini." Ucapku menegaskan setelah memilih bergelung dengan selimut dibanding bermain ponsel seperti Sky.
Aku berbaring terlentang menaruh satu lenganku di atas bantal kemudian tangan satunya lagi kuletakkan di atas perutku.
Sky mendesah kemudian meletakkan ponselnya di nakas. Ia memutar tubuhnya lalu menghadapku.
"Aku ikhlas! Aku juga minta maaf karena aku belum bisa menjadi suami yang baik untuk kamu. Tapi aku janji, aku akan belajar." Ucapnya serius.
"Makasih.. aku hanya takut dilaknak oleh para malaikat karena mengabaikan suamiku."
Sky menggeleng, "aku... aku sebenarnya... ini bukan tentang kamu, ini tentang diriku sendiri, entahlah... aku juga takut. Aku takut banyak hal, dan.. dan pada dasarnya aku senang kita tidak terlalu buru-buru dalam hubungan ini. Aku..aku takut menyakiti kamu." Ucapnya menatapku sendu.
Kuberanikan diriku menggenggam tangannya kemudian menatap lekat ke dalam matanya yang sendu.
"Apa yang kamu rasakan? Sejauh mana ketakutanmu? Berbagilah denganku..." ucapku lembut.
Pelan-pelan Sky menyandarkan kepalanya di perutku. Aku cukup kaget namun melihatnya menunjukkan kerapuhannya tanpa sadar tangan diperutku tadi mengelus lembut kepalanya.
"Aku seorang pembunuh..."
Dadaku terasa sesak melihat wajahnya yang memerah, matanya mengeluarkan cairan bening. Ada emosi yang tertahan melihat urat-urat di wajahnya yang membentuk di beberapa bagian. Tubuhnya bergetar setelah tangisnya pecah.
"Siapapun akan melakukannya jika berada di posisi kamu saat itu, Sky. Kamu tidak salah, kamu membela kehormatan perempuan hebat yang telah melahirkanmu. Kamu harus ingat itu. Kamu anak yang hebat, Sky. Kakak bangga sama kamu. Selalu!"
"Aku bukan adik kamu!!!" Ucap Sky ketus lalu beranjak meninggalkanku ke kamar mandi.
Lah.. kok ngambek? Dasar bocah...
Oooo☆~~☆oooO
Jangan lupa berikan like, comment dan vote kalian yah untuk mendukung Novel ini. Klick tombol Favorit agar kalian bisa mendapatkan notifikasi tiap kali ada update terbaru. okay.. Thanks 😍🤗