HAPPIER

HAPPIER
BAB 11



Akhir pekan, kak Nindi dan suaminya datang berkunjung ke rumah umi dan abi. Tidak setiap akhir pekan, tetapi dalam sebulan, mereka akan selalu meluangkan waktu untuk datang ke rumah, kalaupun tidak menginap, pasti akan mereka usahakan berkunjung meskipun hanya untuk beberapa jam.


Nampak raut bahagia di wajah pasangan suami istri tersebut meskipun kak Nindi terlihat sedikit pucat. Aku yang sedang menyirami tanaman sayur umi hanya menganggukkan kepala tanda sapaanku kepada mereka. Kak Nindi memelukku sesaat kemudian menghambur masuk ke dalam rumah mencari keberadaan umi dan abi tentu saja.


"Sehat, Sky?" Tanya mas Fachri suami kak Nindi dengan akrab.


"Alhamdulillah.." jawabku singkat dengan tetap fokus pada kegiatan menyiram yang sedang kulakukan.


Aku bisa melihat mas Fachri mengelus-elus tengkuknya dari ekor mataku yang sedikit melirik kepadanya. Sepertinya dia bingung sendiri bagaimana cara berbasa basi kepadaku. Meskipun pernikahan mereka sudah berjalan setahun dan entah sudah berapa puluh kali kami bertemu, tetap saja kami kesulitan untuk terlihat akrab apalagi mengobrol panjang lebar. Aku tahu mas Fachri selalu berusaha mendekatiku, tapi aku pura-pura tidak tahu saja, toh aku yakin dia sudah khatam dengan semua sifatku dari cerita kak Nindi, umi dan abi.


Mas Fachri adalah laki-laki baik, namun meskipun dia adalah laki-laki baik-baik, perjuangannya untuk mendapatkan kak Nindi tidaklah mudah karena setiap kali dia berusaha mendekati kak Nindi, ada berbagai cara yang kulakukan agar dia mundur. Tapi, mungkin karena memang jalan takdirnya sudah demikian, pada akhirnya mereka menikah.


Ibu mas Fachri adalah pasien kak Nindi di rumah sakit jiwa tempatnya bekerja. Saat itu ibu mas Fachri mengalami depresi akibat ayah mas Fachri meninggal dunia akibat serangan jantung setelah mengetahui bahwa beliau telah ditipu oleh sahabatnya sendiri melalui investasi yang belakangan beliau ketahui ternyata investasi bodong.


Mas Fachri yang saat itu bekerja di salah satu BUMN paling bonafit di negeri ini akhirnya memilih pensiun dini demi menemani proses pengobatan ibunya. Sebenarnya mas Fachri punya 2 orang saudara perempuan, meskipun keduanya adalah full time mother at home, namun sepertinya mereka tidak bisa maksimal mengurusi ibunya. Mas Fachri yang belum menikah kala itu akhirnya memutuskan untuk berhenti dan fokus kepada ibunya.


Karena intensitas pertemuan yang cukup tinggi dan ibu mas Fachri juga maunya dirawat hanya oleh kak Nindi, akhirnya mereka menjadi dekat. Setelah hampir 2 tahun, ibu mas Fachri dinyatakan sembuh dan akhirnya mas Fachri melamar kak Nindi untuk menjadi istrinya.


Awalnya aku menentang keras, namun umi mampu menyadarkanku bahwa mas Fachri adalah laki-laki terbaik yang akan menjaga dan mencintai kak Nindi melebihi aku dan abi. Semua bisa melihat, bagaimana mas Fachri begitu mencintai ibunya, fakta tersebut semakin menguatkan bahwa mas Fachri akan lebih lagi mencintai istrinya sebagaimana ia mencintai ibunya.


Sama seperti diriku, aku pun sangat mencintai umi, aku rela melakukan apapun agar umi bisa tersenyum bahagia. Kata umi, "laki-laki yang mencintai ibunya, pasti juga akan sangat mencintai istrinya kelak."


Perkataan umi itu terus membayang-bayang di fikiranku. Kucoba merenungkannya, berusaha memposisikan diri dengan posisi mas Fachri kala itu. Rasanya memang benar, aku pun akan melakukan apa saja untuk membuat istriku kelak bahagia sebagaimana yang kulakukan untuk umi selama ini.


Istri?


Ah, sekalipun aku tidak pernah memikirkan pernikahan. Tidak akan ada gadis yang akan bertahan di sisiku dengan sifatku yang pendiam, kaku, dan posesif. Setidaknya begitu yang dikatakan kak Nindi dulu ketika ia sudah merasa frustasi meyakinkan aku akan kesungguhan niat mas Fachri.


Dan seiring berjalannya waktu, aku pun meng-amini ucapan kak Nindi itu. Kenyataannya memang seperti itu. Banyak perempuan yang mengejar-ngejarku, mereka sepertinya tergila-gila melihat penampilanku yang katanya ganteng dan cool. Tapi lama-lama, mereka semua satu per satu berguguran di tengah jalan. Sepertinya mereka illfeel dengan sikapku yang ternyata sama sekali tidak bisa diajak ngobrol, pada akhirnya mereka semua lelah dan akupun tidak peduli, toh belum ada satu pun dari mereka yang menarik perhatianku.


Memang sebaiknya aku tidak menikah, kasihan sekali nasib anak gadis orang tersebut jika berjodoh denganku yang tidak tahu bersikap manis dan memanjakan perempuan. Sudahlah!


*****


Nindi dan uminya sedang sibuk di dapur menyiapkan cemilan dan rencananya akan mereka lanjutkan untuk masak menu makan siang. Berbagai obrolan menemani kebersamaan mereka, hingga entah dari mana mulainya mereka mulai serius membahas masalah Bery.


"Umi dengar Bery sudah ketemu ayah dan ibunya, bagaimana ceritanya? Bery belum sempat bercerita banyak tapi harus cepat-cepat berangkat ke kantor waktu nginap di rumah hari senin kemarin."


"Oh, Bery habis nginap di sini yah, umi?" Tanya Nindi ingin memperjelas pendengarannya. "Tumben sekali.."


"Itu karena dia sama Sky habis dari lokasi proyek dan sudah malam, karena lokasi proyeknya lebih dekat dari rumah makanya sekalian ikut Sky pulang dan menginap di sini." Terang umi Aida.


"Ooo..." Nindi membulatkan bibirnya menanggapi penuturan uminya.


"Sudah seminggu ini Sky magang di kantor Bery. Memangnya kamu gak tau?" Tanya umi penasaran.


"Bery memang sempat ngasih tau kalo abi nitip Sky di kantornya, tapi aku baru tau kalau ternyata udah seminggu aja Sky magang di sana."


"Komunikasi sih lancar umi, hanya saja kantor Bery sepertinya memang sedang lagi sibuk-sibuknya."


"Bisa jadi, Sky aja selalu pulang malam setiap harinya." Ucap umi Aida membenarkan.


"Sepertinya Sky cocok kerja dengan Bery. Bery itu killer banget loh umi sama bawahannya. Dan kalau ada karyawan yang membuatnya tidak puas dengan hasil kerjanya, biasanya dia curhat sama aku. Tapi ini aman-aman aja, gak ada keluhan tuh masalah Sky."


"Mungkin Bery gak enak aja kali ngomongnya sama kamu, padahal aslinya sudah gendek banget sampai udah mau keluar tanduk." Tutur umi Aida dengan sedikit bercanda, ia bisa membayangkan bagaimana Bery harus menekan diri agar bisa bersabar dan terus bersabar menghadapi Sky di kantor.


Nindi pun tertawa, betul juga apa yang dikatakan uminya, boleh jadi Bery hanya tidak enak mengeluhkan Sky mengingat sifat menjengkelkan adik kesayangannya itu yang super-super menyebalkan. Tanpa sadar Nindi senyum-senyum lalu menggelengkan kepalanya dengan fikiran liar yang sedang menguasai isi otaknya.


"Kok malah senyum-senyum, apa ada yang umi tidak tau?" Tanya umi Aida keheranan demi melihat tingkah Nindi yang menurutnya aneh.


Nindi tertawa kecil, "gak umi, gak. Aku hanya kepikiran saja, kalau misalnya Sky dan Bery berjodoh, menurut umi bagaimana?" Tanya Nindi memancing.


"Husssshhh.." sebuah pukulan melayang ke pundak Nindi dari umi Aida. "Kalo ngomong itu jangan asal." Umi Aida mencebik.


"Kalau... kalau seandainya.. ini hanya seandainya saja umiku, sayang..." ucap Nindi membela diri.


"Apa penyakit gila itu bisa menular?" Tanya umi Aida.


"Maksudnya?" Tanya Nindi balik.


"Soalnya umi merasa kamu sudah gila. Gimana caranya mau jodohkan Sky sama Bery, orang mereka sama-sama aneh gitu."


Nindi tertawa keras mendengar penuturan uminya yang menurutnya sangat absurd itu.


"Namanya juga orang jodoh, umi. Mana peduli dengan masa lalu dan masa sekarang?"


Umi Aida hanya menggelengkan kepalanya karena tidak habis fikir dengan apa yang barusan dikatakan Nindi.


"Ting" suara oven listrik membuyarkan kesunyian yang sempat tercipta setelah masing-masing sibuk dengan fikirannya sendiri-sendiri.


"Browniesnya udah mateng, keluarin dari oven, umi ambil wadah dulu." Ucap umi Aida kemudian.


Nindi pun sigap melaksanakan perintah uminya dan segera mengeluarkan 2 loyang kue brownies dari oven.


"Mmmm... wanginya enak banget." Komentar Nindi.


"Kamu pindahkan dulu ke dalam wadah, nanti setelah dingin baru dipotong-potong. Umi mau lanjut bikin kue bolu pisang. Ini ada pisang tinggal gak kemakan padahal sudah mau bonyok. Abimu ini kalau pulang kerja bawaannya selalu pisang, katanya kasihan lihat penjual pisang langganannya yang di pinggir jalan, makanya dibeli terus." Gerutu umi Aida mengeluhkan kebiasaan suaminya itu.


"Gak papa umi, hitung-hitung sedekah. Bisa jadi saat itu hanya abi satu-satunya pembeli yang membeli dagangannya, padahal ada anak dan istri yang menunggu hasilnya. Sini, Nindi bantu, bikin banyak-banyak biar nanti kita bagi ke tetangga."


Oooo☆~~☆oooO


Jangan lupa berikan like, comment dan vote kalian yah untuk mendukung Novel ini. Klick tombol Favorit agar kalian bisa mendapatkan notifikasi tiap kali ada update terbaru. okay.. Thanks 😍🤗