HAPPIER

HAPPIER
BAB 19



Sky benar-benar datang tepat waktu, beruntung Bery sudah siap jadi mereka langsung menuju ke dermaga. Tiba di sana adzan subuh sudah berkumandang. Sky pamit untuk sholat sementara Bery menunggunya di teras mesjid yang agak tersembunyi dari jangkauan mata jamaah yang baru tiba di mesjid.


Setelah sholat, mereka kemudian berjalan ke dermaga yang jaraknya hanya 100 meter dari mesjid tersebut.


Angin laut bertiup kencang melambai-lambaikan jilbab dan ujung kain bagian bawah rok Bery. Bery memeluk tubuhnya sendiri dan memandang jauh ke depan dengan menyandarkan perutnya di pagar sisi dermaga.


"Tenang banget yah, Sky?" Ucap Bery memecah keheningan.


"Iya, rasanya damai banget. Hanya suara angin dan ombak." -- juga kamu. Sky


Bery melirik Sky, memandangnya sepersekian detik kemudian melemparkan pandangannya ke arah matahari yang cahaya pendarnya mulai naik.


"Apa yang kamu lihat?" Tanya Sky retoris.


"Aku melihat garis horizontal yang membatasi laut dengan langit."


Kita sama. Sky


"Kenapa?" Tanya Sky penasaran.


"Aku sekarang seperti orang yang sedang berlari menuju garis batas yang memisahkan laut dan langit tersebut dan itu seperti tujuanku saat ini. Aku sadar bahwa aku tidak akan pernah sampai ke sana, tapi tujuan itu selalu terlihat begitu sabar menantiku dan tidak akan pernah meninggalkanku." Jawab Bery dengan menghela nafas berat setelah menyelesaikan kalimat panjangnya.


"Kamu memang tidak akan pernah sampai ke sana, karena sejatinya itu bukan tujuan, tetapi mimpi." Ucap Sky dengan nada datar.


"Kamu gak akan pernah ngerti, Sky!" Bery menanggapi dingin.


"Jadi apa tujuan kamu?" Tanya Sky menggeser tubuhnya menghadap Bery.


Bery memandang Sky sejenak, kemudian menggeleng. "Kamu belum cukup umur untuk tau urusan orang dewasa, dasar bocah."


"Apa kamu mau berjanji tidak lagi memanggilku bocah jika suatu saat nanti aku menikahimu?" Tanya Sky dengan sorot mata tajam yang seperti menusuk langsung ke hati Bery.


Bery terdiam sejenak, membalas tatapan Sky, seolah mencari sesuatu di sana. Lagi-lagi Bery menggeleng.


"Sky...Sky.. ternyata kamu punya selera humor juga." Ucap Bery menormalkan suasana canggung setelah membuang pandangannya menghindari tatapan tajam Sky.


"MaasyaAllah.. sunrise-nya udak naik sempurna. Foto yuk!" Ucap Bery lagi mencairkan suasana.


Bery langsung beranjak lebih ketengah area dermaga.


"Sky, aku ingin pose mencium mataharinya, sama pose matahari di atas telapak tangan."


Bery mengambil ponselnya dari dalam saku kemudian dia berikan ke Sky.


Dengan telaten Sky menjadi potografer dadakan untuk Bery. Berbagai pose dan entah berapa puluh kali jepretan yang sudah diambil Sky.


Sesekali Sky membidik pose Bery dengan kamera DSLR-nya dan juga dengan ponsel pribadinya. Bukannya keberatan, Bery malah semakin semangat mengambil berbagai gaya di depan kamera.


Setelah merasa cukup, Bery mengambil ponselnya dari tangan Sky kemudian melihat semua hasilnya.


"Foto bareng yuk, Sky!"


Bery langsung mengubah mode kamera ponselnya menjadi kamera depan, dengan dirinya di depan dan Sky sekitar 3 langkah di belakangnya.


Kembali Bery berfoto dengan berbagai pose sementara Sky dengan tampang datarnya tanpa ekspresi.


"Sky...! Smile...!!!"


Setelah puas berfoto dengan berbagai pose dan dengan latar sunrise, akhirnya mereka berjalan ke area pantai dan laguna biru yang begitu memanjakan sejauh mata memandang.


Tampak sudah ada beberapa wisatawan yang bermain di sekiran pantai. Bery terus berjalan menyusuri garis pantai, mengabaikan Sky yang terus mengekorinya sambil mengabadikan beberapa momen dengan kameranya juga sekalian merekam video.


Mereka kemudian menepi dan duduk di atas pasir. Setelah beberapa saat, Bery langsung berjalan masuk ke dalam air meski hanya sampai ke kedalaman sebetisnya.


Berbeda dengan Sky, ia sekarang fokus mengumpulkan bebatuan dengan berbagai ukuran. Ia kemudian menyusunnya di atas pasir membentuk seperti lingkaran bulan sabit yang memukau.



Setelah puas bermain air, Bery menghampiri Sky yang terlihat sedang memotret hasil karyanya.


"Keren banget, Sky!" Komentar Bery dengan penuh rasa kagum memandang hasil karya Sky tersebut.


"Kamu suka?" Tanya Sky tanpa menoleh ke Bery.


"Suka, suka banget malah. Ini sangat keren!" Jawab Bery tanpa ragu memujinya.


"Aku share ke instastory-ku boleh?" Tanya Bery meminta izin.


Sky mengangguk tanda mengizinkan.


"Akun kamu ada gak, Sky? Aku pengen tag nama kamu."


"Gak ada."


"Yah... gak seru." Ucap Bery kecewa namun tidak lagi mendapat tanggapan Sky.


Bery kemudian sibuk dengan layar ponselnya untuk memposting beberapa hasil jepretan Sky tadi pagi dan juga tentu saja mahakarya dari Sky ini.


"Cari sarapan, yuk!" Ajak Sky kepada Bery.


"Ayok, kita cari tempat yang menyediakan makanan ringan saja yah." Ucap Bery yang langsung diangguki Sky.


Setelah berjalan beberapa saat, akhirnya mereka menemukan sebuah kedai yang sudah tampak didatangi pengunjung yang juga sedang mencari sarapan.


Pilihan mereka akhirnya jatuh pada makanan ringan khas Maldives yang orang sini menyebutnya Gulha dan menu keduanya adalah Bajiya.


Gulha sendiri berbentuk bulat yang dibuat dari campuran ikan tuna sebagai bahan utamanya kemudian dicampur dengan aneka rempah, setelah semua bahannya tercampur barulah digoreng. Rasanya renyah dan gurih, mungkin kalau di Indonesia rasanya mirip-mirip empek-empek, tapi ini bercita rasa rempah. Maklumlah, kepulauan ini masih saudaraan sama negaranya Shakh Ruh Kan.


Menu kedua, masih penganan khas orang sini juga, namanya Bajiya.. persis seperti samosa, masih yang digoreng-goreng juga, dasarnya orang  Indonesia, perutnya gak bisa jauh-jauh dari yang namanya gorengan. Bajiya ini adalah kulit lumpia isian ikan laut dan bawang bombay, tapi di sini tuh bentuknya segitiga. Enak banget pokoknya.


Setelah 30 menit berlalu, akhirnya mereka meninggalkan kedai tersebut dan pulang ke resort. Mereka akan beristirahat terlebih dahulu kemudian setelah itu akan menghadiri undangan makan siang dari Mr.Abdullah.


Mereka baru akan berbelanja oleh-oleh setelah makan siang yang akan diantar langsung oleh staf dari Mr.Abdullah sekaligus diantar ke Bandara.


Tidak terasa, dua hari berlalu di negara Republik Maladewa, sebuah negara kepulauan di barat daya India yang terdiri dari kumpulan atol atau pulau koral yang mengelilingi sebuah laguna yang terletak di samudera Hindia.


Meskipun Indonesia juga adalah negara kepulauan dengan panjang garis pantainya di atas 93 ribu kilometer lebih, dengan berbagai tipe dan karakteristik garis pantai yang berbeda serta dengan segala pesonanya. Namun, perjalanan di Maldives tetap saja memberi pengalaman tersendiri yang akan menjadi salah satu memori terbaik yang layak untuk disimpan.


Maka nikmat Tuhanmu yang mana lagi yang kamu dustakan?"


Oooo☆~~☆oooO