
"Apa maksud kamu Sky? Apa kamu sudah gila?" Tanya Bery sedikit membentakku setelah berhasil keluar dari ruangan perawatan ayahnya dan sekarang kami sedang berada di taman Rumah Sakit yang tidak jauh dari ruangan ayahnya tadi.
"Kamu jangan main-main, jangan memberi harapan palsu kepada keluargaku. Dan lagian, kamu apa-apaan sih ngaku-ngaku calon suamiku? Kamu gak mikir apa bagaimana perasaan orang tuaku saat tau kebenarannya nanti?" Bery benar-benar marah padaku kali ini. Matanya melotot, wajahnya ditekuk, tangannya dilipat di dada.
Aku juga sebenarnya tidak tahu, entah dorongan apa yang membuatku membenarkan tebakan ibu Bery.
"Seberapa penting maaf dari orang tuamu itu?" Tanyaku tanpa memedulikan kemarahan Bery kepadaku.
"Lebih penting dari mendapatkan udara untuk aku hirup." Jawab Bery mantap.
"Sepenting itu?" Aku masih berusaha memastikan.
"Yes!"
"Menikahlah denganku." Ucapku tanpa ragu.
Bery memalingkan wajahnya menatap langsung ke kedalaman mataku, aku pun menatapnya tulus, tidak ada keraguan di sini, aku berharap ia bisa melihat kesungguhanku yang teguh.
Bery menggeleng-gelengkan kepalanya sembari tertawa kecil. "Apa kamu sedang jatuh cinta kepadaku, Sky? Apa sebegitu besar rasa cintamu kepadaku sampai kamu mau menikahiku?" Tanyanya menatapku sinis.
"Kamu takut gak ada laki-laki yang tulus menerima kamu bukan? Sementara aku juga takut gak ada perempuan yang mau menerima masa laluku. Kita punya ketakutan yang sama, bukan? Maka, ayo menikah! Kamu tidak perlu takut sama aku dan aku tidak perlu takut sama kamu. Itu adil bukan? Semuanya terasa masuk akal, bukan?
Bery menggelengkan kepalanya beberapa kali. "Tapi gak harus kamu juga yang menikahiku, Sky!"
"Terus siapa? Apa si Rangga si duren itu?" tanyaku kesal. Aku menggenggam tanganku kuat menahan emosi yang tiba-tiba menelusup masuk ke dada.
"Atau jangan bilang kalau kamu masih mengharapkan laki-laki brengsek di masa lalumu itu?"
"Sky! Stop it, please! Kamu sudah keterlaluan." Lagi dan lagi Bery membentakku.
"Wait..wait.." Bary nampak berfikir. "Kamu tau dari mana syarat dari ayah untuk memaafkan aku? Nindi?" Tanyanya menebak.
Aku menggeleng.
"Jangan bohong, Sky. Hanya Nindi yang tau masalah ini selain Anzi dan kedua orang tuaku sendiri." Cecarnya ingin tahu kebenarannya.
Aku bingung, aku memang tahunya dari kak Nindi, akan tetapi bukan kak Nindi yang memberi tahunya kepadaku, tidak secara langsung. Aku hanya tidak sengaja mendengarnya saat ia bercerita kepada umi.
"Sky? Apa kamu sekarang mendadak bisu? Jawab kakak!"
Huuuu... kakak lagi, padahal sebentar lagi aku jadi suaminya.
"Aku mendengarnya saat kak Nindi cerita sama umi." Jawabku tidak bohong.
Bery mengangguk paham kemudian membuang wajahnya menatap ke arah kolam ikan lohan di dekatnya.
Cukup lama kami hanya berdiri terdiam, masing-masing sibuk dengan pemikiran sendiri.
Tiba-tiba ponsel Bery berdering.
"Iya dek." Ucapnya setelah menggeser tombol hijau di layar ponselnya.
Mata Bery membulat kemudian menatapku.
"Oke, kakak segera ke situ."
"Sky, kemarilah!" Panggil ibu setelah menoleh ke arahku.
Aku pun berjalan mendekati mereka. Aku bernafas lega setelah melihat ayah Bery yang sudah mulai sadar. Aku tadi sudah hampir jantungan melihat Bery langsung berlari ke sini setelah mendapatkan telepon yang aku yakin adalah dari Anzi.
"Apa ini calon menantu ayah?" Tanya ayah Bery lemah menatapku kemudian terakhir matanya menatap lurus kepada Bery.
Bery mengangguk, air matanya terus jatuh dan sedikit terisak meski dengan suara lirih.
"Iya ayah, dia adalah Sky, calon suami Bery. Ayah cepatlah sembuh, ayah ingin melihat aku segera menikah bukan?" Ucapnya tersenyum namun justru isakan tangisnya semakin terdengar.
Aku senang mendengarnya mengakui diriku sebagai calon suaminya, meski aku tahu dia teraksa melakukannya karena tidak ingin mengecewakan kedua orang tuanya lagi.
Ibunya terus mengelus punggungnya, menguatkan. Bery tampak sangat rapuh, ingin rasanya kutarik ia ke dalam pelukanku saat ini juga, sayangnya belum halal.
Satu tangan ayahnya mengambil tanganku ke dalam genggamannya, beliau menatapku dengan tatapan yang sulit kumengerti. Seperti tatapan permohonan, kepasrahan dan entah apa lagi.
"Nak Sky, ayah ingin sekali melihat putri ayah satu-satunya ini segera menikah. Ayah sangat ingin tangan ayah ini dijabat erat oleh seorang laki-laki baik pilihan Bery di depan penghulu yang disaksikan oleh penduduk bumi dan langit dimana laki-laki itu akan berjanji menjaga dan menyayanginya, mencintainya tanpa batas, menerima segala kekurangan dan kelebihannya, tidak akan meninggalkannya walau apapun yang terjadi dan tidak pernah mengabaikannya walau ia sendiri sudah menyerah. Hanya itu harapan terakhir ayah, nak. Maukah kamu memenuhi harapan pria tua yang lemah ini?"
Setitik air mata kemudian lolos begitu saja dari netra lelaki tua itu, hatiku bergetar menggenggam erat tangannya. Begitu besar harapan yang hendak beliau titipkan ke pundakku.
Bery memandangku dengan tatapan sendu, seolah memasrahkan semua keputusan di tanganku. Aku tahu, ia tidak punya pilihan lain dan tidak punya kekuatan lagi untuk menolak apalagi bernegoisasi dengan ayah ibunya.
Kupandangi lamat-lamat wajah cantiknya, sekian detik kualihkan pandanganku kepada wanita yang telah melahirkannya, senyum penuh kehangatan terpancar di sana. Lalu kembali kuarahkan pandangan kepada laki-laki yang baru saja memintaku mengambil alih tugas dan tanggung jawabnya atas putri yang dicintainya.
Kembali beliau mengeratkan genggamannya, mengalirkan rasa permohonan seorang ayah untuk kebahagiaan anak yang disayanginya seolah beliau ingin mengatakan bahwa beliau percaya bahwa aku bisa.
"Bismillah... saya bersedia!" Jantungku berdetak kencang seperti hendak melompat keluar. Aku tidak tahu, apakah keputusan yang kuambil ini benar, namun kupasrahkan semuanya kepada sang pemilik hidup ini. Semoga niat baik ini menjadi jalan kebaikan dan keberkahan hidup kami di masa depan.
"Terima kasih, nak!" Ucap ayah Bery kepadaku. Aku hanya menganggukkan kepala kemudian kembali melayangkan tatapanku kepada Bery yang juga sedang menatapku.
Semoga ia tidak marah dengan keputusanku, semoga ia mau menerimanya dengan ikhlas. Aku tahu, ini berat untuknya. Sungguh ini juga tidak mudah bagiku. Belum lagi aku tidak tahu bagaimana menjelaskannya nanti kepada orang tuaku, terutama umi yang sempat menolak ide perjodohan yang ingin diatur kak Nindi kala itu.
Mungkin sudah jalannya seperti ini, tiba-tiba saja kak Nindi memintaku menyusul Bery ke Bandara. Aku yang awalnya menolak akhirnya berubah fikiran dan menyusulnya. Dan ternyata hal besar inilah yang menantiku.
Aku tidak menyesali keputusan ini, aku memang sudah sempat memikirkan ide kak Nindi kala itu. Aku mengerti kekhawatiran Bery sehingga ia takut berhubungan dengan laki-laki manapun.
Sebagai laki-laki, bohong jika aku tidak menginginkan kesucian dan kemurnian dari wanita yang kelak akan menjadi teman hidupku dan ibu dari anak-anakku. Namun, melihat diriku juga yang adalah seorang pendosa, sekalipun Bery tidak pernah memandangku dengan sedikit kilatan ketakutan dimatanya terhadap aku yang seorang pembunuh.
Aku sudah terlalu sering mendapati tatapan menghakimi dari orang-orang yang mengetahui kasusku. Itu sangat mengganggu, seolah aku tidak layak menginjakkan kaki di bumi ini.
Setiap orang punya masa lalu, yang berbeda hanyalah baik dan buruknya mereka di masa lalu tersebut. Namun, yang menentukan masa depan bukanlah masa lalu tetapi apa dan bagaimana kita saat ini.
Aku membunuh karena menjaga kehormatan dan harga diri wanita yang melahirkanku ke dunia ini, bukan karena aku memang seorang pembunuh.
Bery kehilangan kesuciannya bukan karena ia seorang pelac*r, tetapi karena kebodohannya. Bukankah semua orang pernah melakukan hal bodoh di dalam hidupnya?
Aku ikhlas menerimanya, apakah aku melakukannya karena cinta? Entahlah, aku sendiri tidak mengerti cinta itu apa. Namun jika rasa ingin melindungi dan melihatnya selalu bahagia bisa disebut cinta, maka ya.. akan aku katakan, aku mencintainya!
Oooo☆~~☆oooO
Jangan lupa berikan like, comment dan vote kalian yah untuk mendukung Novel ini. Klick tombol Favorit agar kalian bisa mendapatkan notifikasi tiap kali ada update terbaru. okay.. Thanks 😍🤗