HAPPIER

HAPPIER
BAB 15



Aku hampir gagal menjaga Bery, hampir saja ia tertabrak motor yang melaju kencang karena kelalaianku menjaganya. Perasaanku sedang tidak karuan saat menyebrang jalan bersamanya dan ibu Kinan. Karena itu aku lebih banyak menunduk dan tidak fokus. Aku tidak suka melihat Bery nampak akrab dengan siapa tadi laki-laki yang datang menghampirinya? Pak Rangga, iya pak Rangga yang katanya mantan kliennya itu.


Beruntung ibu Kinan cepat menyadarinya dan langsung berteriak. Bery yang berjalan di depanku masih dalam jangkauanku, secepat mungkin kutarik tubuhnya ke belakang. Terlambat satu detik saja, entah apa yang terjadi.


Aku tidak sadar, bagaimana caranya Bery sekarang ada di dalam pelukanku, aku hanya reflek menariknya dan perasaan ingin melindunginya yang mendominasi. Kurasakan detakan jantungnya yang memburu seirama dengan detakan jantungku yang juga ikut memburu. Sepertinya ia sangat kaget.


Setelah memastikan kondisinya mulai tenang, aku menariknya dengan posesif kembali ke kantor. Ia tidak menolak, namun terus diam. Wajahnya masih pucat. Sepertinya masih shock.


Aku tidak sadar kalau tanganku terus menggenggam tangannya hingga sampai ke ruangan kami, aku melepasnya setelah ia duduk di kursi kebesarannya.


Aku berlutut, berusaha mencari posisi yang memungkinkanku menatap wajahnya yang masih seperti orang kebingungan.


"Maaf...!" Pintaku menatapnya penuh rasa bersalah.


Dia menggeleng kemudian menatapku dalam, pandangan kami saling mengunci, setelah beberapa detik kemudian Bery mengatupkan kedua matanya dan 2 tetes air mata sukses mengaliri pipinya.


"Kamu gak salah, Sky. Thanks! Aku yang terima kasih sama kamu." Ucapnya tulus kemudian menghapus air matanya dengan punggung tangannya bergantian kiri dan kanan pipinya. "Sorry, aku jadi cengeng begini." Lanjutnya tersenyum masih berusaha menghapus jejak-jejak air matanya.


"It's Ok!" Ucapku tulus. Aku hanya bingung saja, dia kenapa, apa ada yang sakit? Tapi seingatku motor tadi tidak sempat menyentuhnya karena aku tarik dan tubuhnya membentur tubuhku.


"Nindi beruntung yah, Sky!" Ucapnya kemudian menatapku sendu. "Dia punya kamu yang sayang banget sama dia,"


Aku tidak tahu harus berkata apa menanggapinya, aku hanya diam menunggu ucapan selanjutnya yang mungkin masih ingin dikeluarkannya.


"Nindi dan kamu juga beruntung banget, ada umi dan abi yang hebat di sisi kalian." Lagi-lagi air matanya jatuh di dua sudut matanya.


"Mereka juga sayang sama kamu." Ucapku mengingatkan. Tentu saja Bery harus ingat itu, kalau umi, abi dan kak Nindi juga sangat sayang kepadanya.


Dia mengangguk, "tapi tetap saja rasanya beda, Sky." Ia menarik nafas dalam kemudian menegakkan tubuhnya. "Ah, sudahlah Sky. Thanks yah..ternyata kamu asyik juga jadi tempat curhat." Ucapnya tersenyum.


Aku menarik tubuhku untuk berdiri, rasanya pegal juga mendengarkan curhatannya dengan posisi berlutut seperti tadi.


"Kamu terlihat pucat, mau kuantar pulang?" Aku merasa kasihan melihatnya, wajahnya masih tampak pucat.


"Kamu... kamu.. aku ini lebih tua 3 tahun dari kamu loh, Sky. Harusnya tuh kamu panggil aku kakak." Protesnya manyun. "Tapi gak papa juga sih, daripada dipanggil ibu sama kamu. Enggak banget!" Lanjutnya setelah sempat berfikir sejenak.


Aissshhh... kok dia tampak sangat menggemaskan kali ini.


"Siap-siap sekarang, aku antar pulang!" Ucapku kemudian berjalan ke arah mejaku membereskan barang-barangku. Setelah selesai, aku kembali berjalan mendekati mejanya yang ternyata masih belum beres-beres.


"Kenapa belum beres-beres?" Tanyaku dengan kedua alis mengkerut.


"Yang mau pulang siapa, Sky?" Tanyanya balik menatapku.


Tidak peduli dengan tatapannya yang enggan pulang, aku langsung mengambil alih barang-barangnya dan memasukkannya ke dalam tas tangannya.


"Ayok pulang!" Ajakku tidak ingin dibantah namun dia malah menggeleng.


"Pulang atau aku gendong sampai ke parkiran!!!" Ancamku.


Tentu saja itu hanya gertakan sambal dariku, aku tidak akan mungkin melakukannya. Pegangan tangan saja baru kali ini saja kulakukan selain tangan umi dan kak Nindi, itu pun karena aku refleks melihat kondisinya tadi yang sepertinya masih shock.


Ia merengut, namun akhirnya menurut juga. "Good girl. Dia semakin manis dengan wajah terpaksanya itu. Ah..apa yang aku fikirkan?" Aku menggeleng sendiri dengan lintasan fikiranku yang dengan kurang ajarnya melintas begitu saja.


Aku mengantarnya pulang dengan mobilnya. Aku sendiri gampang, nanti tinggal naik taksi balik ke kantor mengambil mobilku. Di kantor Bery, aku juga hanya mahasiswa magang, aku tidak terikat dengan jam kerja apalagi saat ini aku keluar dengan yang punya kantor, aku tidak perlu izin siapapun.


Sepanjang perjalanan Bery hanya diam, tidak secerewet biasanya. Hanya saja, ada yang berbeda. Sepertinya dia sakit perut, beberapa kali ia meringis memegang perutnya saat aku curi-curi meliriknya.


"Kamu sakit perut?" Tanyaku khawatir.


Aku hanya membulatkan mulutku membentuk huruf O. Kak Nindi juga sering mengeluh sakit perut tiap kali tamu bulanannya datang berkunjung.


"Nanti singgah di indomei depan, ada yang mau aku beli."


Aku langsung membelokkan mobil setelah dapat tempat yang disebutnya tadi.


"Mau beli apa? Biar aku saja yang beli." Ucapku menahannya.


"Aku mau beli pembalut, kamu gak malu?" Tanyanya meragukanku.


"Enggak! Ukurannya?" Sebenarnya aku malu, tapi kasihan melihatnya terus meringis menahan sakit perutnya. Lagian aku sudah pernah beberapa kali membelinya untuk umi dan kak Nindi jadi aku tahu kalau itu ada pakai ukuran juga.


"Beli merk Cha*m untuk malam, pake sayap ukuran 35 cm 1 pack dan 1 pack lagi yang ukuran normal. Samain aja merknya."


Oke, aku mengangguk tanda mengerti dan langsung bergegas masuk ke dalam minimarket tersebut.


Setelah berhasil melaksanakan misi yang cukup penting untuk kelangsungan hidup ibu bosku tersebut, "ah, iya..bagus juga kalau disebut ibu bos." Fikirku. Akhirnya aku melanjutkan mengemudikan mobil sampai ke apartemennya.


Setelah memarkirkan mobilnya di basement kami pun menuju ke lift yang akan membawa kami naik ke unit Bery.


"Eh, ketemu lagi." Saat memasuki lift, seorang laki-laki menyapa Bery. Aku ingat, dia adalah laki-laki yang kami temui di kantin tadi siang. Dia tidak sendiri, dia sedang menggendong seorang anak perempuan. Mungkin anaknya.


"Eh, pak Rangga." Balas Bery menyapa yang sepertinya cukup kaget menyadari bahwa pak Rangga yang sedang ada di dalam lift bersama kami. Aku menekan nomor 10, sepertinya pak Rangga di lantai 8 jika melihat nomor yang aktif saat ini adalah angka 8.


"Saya baru pindah ke sini seminggu yang lalu," Ucap pak Rangga memberi informasi.


"Tidak ada yang tanya." Batinku.


"Oh, ini anaknya yah, pak? Duh, udah gede yah sekarang. Hi, girl... namanya siapa cantik?" Sepertinya Bery tertarik dengan anak yang ada di dalam gendongan pak Rangga dibanding menanggapi informasi yang baru saja didengarnya.


"Sasa, aunty!" Jawabnya dengan wajah menggemaskan.


"Ting." Syukurlah, udah sampai ke lantai unit pak Rangga.


"Kami permisi, bu Bery, mas." Ucap pak Rangga kepada kami. "Kiss bye dulu sama aunty dan uncle-nya." Ucapnya kepada sang anak dan langsung dilakukan oleh anak tersebut.


"Bye, cantik!" Balas Bery dengan senyum lebar di wajahnya.


Sesampainya di depan pintu unit Bery, ia kemudian menekan nomor pinnya dan pintu pun terbuka.


"Kamu mau masuk dulu atau mau langsung balik ke kantor?" Tanyanya kemudian.


"Aku buatkan teh hangat dulu." Jawabku langsung menuju dapurnya. Ini untuk ketiga kalinya aku masuk ke dalam unitnya. Aku pernah sekali ikut kak Nindi menginap di sini saat Bery sedang sakit jadi aku cukup hafal letak isi dapurnya.


Bery mengikuti langkahku ke dapur, "aku bisa sendiri kok, dek!"


"Dek lagi." Entah kenapa aku tidak suka mendengarnya memanggilku dengan panggilan tersebut. "Sejak kapan aku jadi adiknya?" Gerutuku dalam hati.


"Kamu istirahat sana!" Perintahku.


Lagi-lagi dia memberegut kesal tapi mengangguk juga.


Sepertinya, sepulang dari sini aku harus ke dokter jiwa dan dokter jantung. Mengapa Bery kelihatan sangat menggemaskan dan membuat jantungku berdebar-debar tidak karuan seperti ini?


Oooo☆~~☆oooO


Jangan lupa berikan like, comment dan vote kalian yah untuk mendukung Novel ini. Klick tombol Favorit agar kalian bisa mendapatkan notifikasi tiap kali ada update terbaru. okay.. Thanks 😍🤗