HAPPIER

HAPPIER
BAB 51



Sementara itu di sebuah gedung pemerintahan, yakni gedung kantor Bupati Kabupaten X, seorang laki-laki tampan dan bersahaja di mata masyarakat yang dipimpinnya sedang menghancurkan setiap benda yang ada di dalam ruangannya.


Acara pernikahannya yang sedianya dilaksanakan 3 bulan lagi terpaksa harus dipercepat dikarenakan tunangannya tersebut sedang hamil 6 minggu.


Saat dirinya sedang berjuang mendapatkan perempuan pujaannya kembali ke dalam pelukannya, malah 2 minggu lagi akan menikah.


Statusnya yang masih single saja sudah sulit meluluhkan hati Bery, apalagi kalau sudah menikah.


Rio kemudian mengambil ponsel dari saku celananya.


"Halo, sipakan tiket ke Jakarta untuk penerbangan besok dan atur ulang jadwalku hingga 1 minggu ke depan!"


Rio langsung memutus panggilannya tanpa menunggu jawaban dari orang yang ditelponnya.


Rio sedang dikejar waktu, dia harus kembali meyakinkan Bery agar mau kembali kepadamya.


Urusan Dena, tunangannya, jika Bery bersedia menerimanya, dia akan meminta Dena menggugurkan kandungannya itu dan tentu saja membatalkan pertunangan mereka.


Rio memijit ruang diantara keningnya, harusnya sedari awal ia tidak membiarkan Dena masuk terlalu jauh ke dalam hidupnya, Dena yang awalnya hanya partner senang-senangnya berhasil masuk ke dalam hidupnya memanfaatkan persahabatan kedua orang tua mereka.


Rio akui, Dena memang sangat cantik dan menawan, pria manapun pasti akan takluk dengan pesonanya, hanya saja dia adalah perempuan bebas. Rio malah ragu apakah anak yang dikandungnya adalah anaknya atau malah pria lain.


Rio kembali melempar barang yang bisa dijangkaunya. Tak ada perempuan yang ingin dinikahinya selain Bery. Egois memang, setelah dulu mencampakkannya lalu sekarang ingin kembali. Cintanya hanya untuk Bery, sementara perempuan lain yang datang silih berganti dalam hidupnya tidak lebih dari sekedar penghangat dan pemuas nafs*nya saja.


Rio berjanji akan selalu setia kepada Bery jika Bery sudah sah menjadi istrinya.


"Bery, kamu hanya milikku. Tunggu aku, sayang." Ucapnya menyeringai licik.


*****


Bery dan Sky saat ini sedang berkunjung ke rumah Nindi. Setelah menikah, baru kali ini mereka berdua mengunjungi rumah Nindi.


Sengaja mereka berkunjung ke sana mengingat Nindi yang sedang hamil.


"Assalamu'alaikum..."


"Wa'alaikum salam pengantin baru.." Bery langsung menghambur masuk rumah dan disambut Nindi dengan hangat dan seperti biasa, urusan cipika cipiki dan berpelukan adalah hal wajib mereka lakukan saat bertemu dan berpisah.


"Kalian yah, mentang-mentang lagi hangat-hangatnya pada kompak menghilang. Umi sampai berkali-kali nelpon cuman buat nanyain kalian. Heran deh..." keluh Nindi menyerocos karena kelakuan Sky dan Bery yang tidak pulang-pulang ke rumah tanpa memberi kabar.


"Tau tuh si Sky, dia yang nyulik aku ke markas rahasianya. Kirain dah pamit umi dan abi, eh ternyata enggak."


Pada akhirnya Sky mengungkap akan kepemilikannya pada sebuah rumah yang mereka tinggali saat itu karena uminya memaksa memberi tahu keberadaan mereka.


"Sorry kak, lupa!" Sky nyengir menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sementara Nindi hanya menggelengkan kepalanya tidak habis fikir dengan kelakuannya itu.


"Mas Fachri belum pulang, Nin?"


"Bentar lagi, udah di jalan katanya."


Tok tok tok...


Mereka bertiga saling memandang, "mungkin mas Fachri, aku lihat dulu."


Nindi kemudian membuka pintu dan bukannya suaminya tapi ternyata adalah tetangga depan rumah.


"Assalamu'alaikum, bu dokter!" Sapa bu Riri.


"Wa'alaikum salam, masuk bu Riri." Nindi langsung duduk di ruang tamu diikuti oleh ibu Riri tetangganya.


"Sehat, bu dokter?"


"Alhamdulillah, ibu Riri dan keluarga sehat?" Tanya Nindi balik.


"Eeemmm... begini bu, saya mau tanya sesuatu." Ucapnya ragu.


"Iya bu, ada yang bisa saya bantu."


"Saya mau ngutang lagi, bu dokter. 10 juta saja, minggu depan saat arisan saya cair langsung diganti." ucapnya memelas.


Nindi hanya bisa tersenyum kecut mendengarnya. Hutang yang 3 bulan lalu saja belum dibayar padahal saat itu janjinya hanya 3 hari.


"Maaf bu Riri, saat ini kami sedang mendaftarkan keluarga mas Fachri untuk umroh, takutnya uangnya gak cukup. Ibu tunggu sebentar."


Nindi kemudian masuk ke kamar pribadinya kemudian beberapa saat keluar membawa beberapa lembar uang.


"Ini saya ada 1 juta bu, anggap saja sedekah, gak usah dikembalikan." Nindi kemudian memberikan uang tersebut kepada bu Riri yang disambut wajah lesunya.


"Terima kasih, bu dokter! Semoga rezekinya lancar."


"Aamiin.. doa yang sama buat ibu."


"Aamiin, saya pamit dulu bu dokter."


Nindi hanya bisa memandangi punggung ibu Riri menghilang dari pandangannya.


Ini bukan yang pertama bu Riri berhutang kepadanya, terhitung sudah 3 kali. Yang pertama sudah dikembalikan tapi setelah 2 bulan padahal janjinya 1 minggu. Yang kedua sama sekali belum dikembalikan.


Heran saja, orang-orang itu kalau berhutang gampang sekali mengucapkan janji yang padahal secara logika tidak mungkin dipenuhi.


Gaji sebulan 7 juta, mau ngutang 5 juta, janji dikembalikan minggu depan setelah gajian, misalnya. Bagaimana bisa?


Kalau dari 7 juta dibayarkan hutang 5 juta, memangnya dengan 2 juta bisa buat makan 1 bulan? Belum biaya listrik, biaya sekolah anak, uang bensin dan lain-lain.


Mengapa orang-orang lebih suka berbohong dibanding jujur apa adanya? Pinjam 5 juta, berjanji mengembalikannya dalam jangka waktu 5 bulan dengan tekad akan menabung atau mencicil 1 juta 1 bulan, kan lebih masuk akal.


Maka benarlah bunyi sebuah hadits; sesungguhnya seseorang yang (biasa) berhutang, jika dia berbicara maka dia berdusta dan jika dia berjanji maka dia mengingkarinya.


"Siapa Nin?" Tanya Bery setelah menghampiri mereka di ruang keluarga.


"Tetangga, mau ngutang!"


"Kamu kasi?"


"Kali ini pake ilmu turunan umi, kasi sedekah. Hutangnya yang lama belum dibayar, ini janjinya seminggu diganti, padahal hutangnya yang 3 bulan lalu satu rupiah pun belum diganti." Ucap Nindi menggeleng.


"Kalau ada ya dikasi kak. Keutamaan memberi piutang itu lebih besar pahalanya loh kak dibanding sedekah." Ucap Sky.


"Iya, kalau yang berhutang untuk keperluan yang benar-benar mendesak, tapi kalau untuk memenuhi hasrat pamer dan hasrat gaya hidupnya, kan kita yang dongkol, jadi gak ikhlas, amalannya tergerus habis juga kaki, Sky." ucap Nindi sarkas.


"Inilah kehidupan zaman now, banyak yang bermudah-mudah dalam berhutang, nangis-nangis pas ngutang, giliran ditagih galaknya ngalah-ngalahin singa hutan. Padahal, kalau mau bersabar menunda kesenangan, bisa kok terhindar dari kebiasaan berhutang. Cuman yah, kebanyakan orang pengennya instan, usaha kecil gaya besar!" Ucap Bery menambahkan.


"Nin, bagi password wi-fi dong." Tanya Bery mengalihkan pembicaraan.


"Kamu tuh ke sini karena kangen aku apa mau main HP?" Balas Nindi balik bertanya.


"Password-nya panjang banget, Nin. Itu pake spasi atau nyambung semua???"


Pletak!!!


Sebuah bantal sofa melayang ke wajah Bery. Salahnya apa coba???


oooO○●°°°●○Oooo


Thanks berat yah buat dukungannya wahai para readers terbaik😘