
Aku membasuh wajah hingga kepalaku berkali-kali untuk mendinginkan suasana hatiku saat ini. Baru saja merasakan ketenangan berada dalam belaian tangan Bery dan hangatnya menyandarkan kepala di tubuhnya, dia malah merusak mood-ku seketika.
"Kakak!!!" Ucapku hanya dengan gerakan bibir yang dapat kutangkap dari pantulan cermin yang ada di depanku saat ini.
Kenapa dia selalu menyebut dirinya kakak, bahkan setelah kami menikah pun masih juga memanggil dirinya kakak.
Aku kesal banget. Sepertinya aku terlalu lunak kepadanya, mungkin aku akan mengubah strategiku meluluhkan hatinya, jika dengan cara lembut tidak bisa, mungkin dengan cara menekannya dan bersifat agresif bisa sedikit membuatnya ciut dan akhirnya menjadi penurut seperti saat kami di kantor, aku selalu berhasil menekannya dan membuatnya menurut tanpa banyak perlawanan.
Aku keluar dari kamar mandi lalu menuju ke lemari pakaian, bisa kulihat melalui ekor mataku dia yang duduk di tepi tempat tidur sedang memperhatikan setiap pergerakanku saat ini.
"Kamu marah?" Tanyanya.
Aku hanya menggeleng pelan tapi tidak berniat menjawabnya. Nyatanya aku memang marah.
"Salahku apa? Bilang dong salahku di bagian mananya? Aku kan bingung kalo begini. Masak baru sehari nikah kamu udah ngambek, itu pun aku gak tau salahku dimana..." katanya terdengar frustasi.
Aku yang sebenarnya sejak tadi sudah menemukan benda yang kucari namun masih menunggunya selesai berbicara akhirnya berbalik dan ikut duduk bersamanya di tepi tempat tidur.
"Aku tidak suka dianggap adik sama kamu, aku tidak suka setiap mendengar kamu memanggil kakak kepada dirimu saat denganku. Bukankah kita sudah pacaran?" Ucapku mengungkapkan semua yang mengganjal hatiku sedari tadi.
"Yaa Allah..." ucap Bery bernafas lega, "jadi hanya karena itu? Kirain apa... ya udah.. aku minta maaf, sorry keceplosan, selama ini kan aku memang menganggapmu sebagai adikku sendiri, jadi dimaklumi yah kalo aku suka keceplosan. Aku akan usahakan untuk tidak mengulanginya lagi." Ucapnya serius.
"Oke, kupegang kata-katamu. Ini...!" Ucapku kemudian mengambil sebuah benda tipis berbentuk persegi panjang dari dalam dompetku lalu kuserahkan kepadanya.
Bery mengerutkn keningnya melihat benda tersebut.
"Aku tau uang kamu banyak, akan tetapi menafkahimu adalah kewajibanku dimulai sejak sumpah ijab kabul kuucapkan. Ambillah, isinya mungkin tidak seberapa, tapi semua ini aku dapatkan dari hasil kerja kerasku sendiri."
Bery masih menatapku tanpa mengeluarkan satu patah katapun, tapi tidak juga mengambil apa yang sedang kuberi.
Kuambil tangannya kemudian kuletakkan ke dalam genggamannya, "aku mohon, terimalah..!" Pintaku penuh harap.
"Sky, kamu tidak perlu melakukan ini. Seperti katamu, uangku sudah banyak." Tolaknya berusaha mengembalikan kartu tersebut.
"Aku mohon, bantu aku menjadi laki-laki yang bertanggung jawab. Gunakan ini untuk memenuhi semua kebutuhan kita mulai dari sekarang, jika menggunakan uangmu, meski kamu ikhlas, aku akan menganggapnya sebagai hutang. Tolong jangan tolak niat baikku, aku hanya ingin memberi tanpa diminta oleh istriku sendiri, jika memberi dengan diminta, apa hebatnya?"
Bery mendesah pelan. "Baiklah.. kamu memang laki-laki baik, Sky. Semoga rezeki suamiku lancar dan penuh keberkahan." Doanya tersenyum penuh makna.
"Aamiin..." ucap kami bersamaan.
Besar rasa hatiku ingin memeluknya tapi kucoba terus menahannya. Aku paling suka memeluk umi, apalagi saat hatiku gundah, aku akan memeluknya sampai habis segala rasa beban yang menghimpitku. Rasanya ingin mendapatkan kekuatan itu dari perempuan yang sekarang berstatus istriku, namun keinginan itu masih harus kupeluk sendiri di dalam anganku. Tidak mengapa, sejauh ini aku sudah cukup bahagia melihat senyumnya.
Aku tidak ingin serakah, biarkanlah berproses, karena dari itu semua, kelak kami akan menghargai setiap detik yang telah kami lalui bersama.
"Apa rencana kamu hari ini, Sky?" Tanyanya setalah sekian lama kami sama-sama membisu.
"Rencanaku?" Jawabku dengan balik bertanya kepadanya. Aku bingung sendiri, kami dilarang mengunjungi ayah sampai maghrib nanti, pokoknya kami diwajibkan menghabiskan waktu berdua saja.
"Iya, kamu..siapa lagi?"
"Rencanaku hari ini adalah membuat rencana. Hehehe.." ucapku nyengir.
"Awwww... suka KDRT banget sih!" Keluhku pura-pura kesal. Padahal aku ikhlas kok mendapatkan pukulan mesranya tiap hari meski ribuan kali selama tetap berada di sisinya.
"Kamu sih, diajak serius malah bercanda."
"Aku fikir kamu menyukai laki-laki humoris. Bukan laki-laki kaku sepertiku." Ucapku lesu.
"Bukan gitu maksudku, Sky. Aku suka kamu yang apa adanya saja, gak usah memaksakan diri menjadi orang lain hanya untuk membuatku terkesan. Tapi, terima kasih sudah berusaha. Kamu jangan ngambek lagi yah.. gak seru tau. Aku paling gak suka orang yang ngambekkan, soalnya aku bukan orang yang suka membujuk apalagi merendahkan egoku untuk memohon-mohon untuk meminta maaf. Cukup dengan orang tuaku saja, aku tidak akan pernah memohon sama kamu, Sky. Sekali dua kali mungkin aku akan menekan egoku, tapi kalau kamu mengabaikanku, aku akan pergi."
Aku menatapnya penuh perhatian, berusaha mencerna setiap kata yang barusan diucapkannya. Melihat karakternya yang keras dan mandiri, aku tahu dia memang bukan tipe orang yang mudah merendahkan harga dirinya untuk sesuatu yang dianggapnya tidak penting. Aku cukup paham itu, aku pun demikian, tapi dirinya adalah pengecualian, karena bagiku, hal terpenting dalam hidupku saat ini dan selamanya salah satunya adalah dia.
"Aku tidak mau karena status kita, hubungan kita menjadi canggung," Lanjutnya. "Aku akan berusaha menjadi istri yang baik bagi kamu, menghormati dan menjaga harga diri kamu sebagai suamiku, jadi kamu tenang saja, jangan banyak sungkan, katakan jika ada yang masih mengganjal perasaanmu. Aku tidak main-main dengan pernikahan ini, meski aku meminta waktu padamu, ingat itu, Sky!" Pungkasnya.
"Boleh aku peluk kamu?" Tanyaku ragu.
Bery tampak kaget mendengar permintaanku, sejenak ia berfikir, lalu kemudian mengangguk dan membuka kedua lengannya.
Kutarik tubuhnya ke dalam pelukanku, kupeluk ia dengan erat sangat erat hingga dapat kurasakan detakan jantungnya yang bergemuruh seirama dengan jantungku.
Tidak puas memeluknya seperti ini, aku membawanya berdiri tetap dalam pelukanku, kuangkat tubuhnya dengan mensejajarkannya dengan tinggiku hingga kakinya menggantung.
"Sky..sesak! Aku susah nafas ini." Protesnya.
Kuturunkan tubuhnya sedikit membuat kakinya bertumpu di atas kakiku, kedua tangannya ia kalungkan di leherku, sementara kedua tanganku tetap melingkupi tubuhnya hingga membuatku mudah melangkah ke sana kemari dengan dia yang juga terus melangkah bersamaku.
Kami sama-sama tertawa, sesekali ia akan memukul-mukul lenganku ketika aku sengaja memiringkan tubuhku hingga membuatnya hampir terjatuh.
Dan setelah sekian lama, akhirnya aku menjatuhkan diri kami di atas tempat tidur. Bery melepaskan tubuhnya dariku kemudian berbaring terlentang menatap ke atas langit-langit kamar, deru nafas kami sama-sama memburu, cukup lelah karena terlalu banyak tertawa dengan posisi seperti tadi.
Aku yang berbaring miring lebih suka memandangi wajah cantik Bery yang masih menyisakan senyum lebar di sana.
Bery menoleh kepadaku, tatapan kami saling mengunci. Pelan, sangat pelan kudekatkan wajahku dengannya hingga bibirku sudah menempel di bibirnya. Ia tidak menghindar, mata kami masih terus saling mengawasi, kurasakan hembusan nafasnya yang berat menerpa wajahku.
"Cup..."
"Cup..."
"Cup..."
"Ayok kita keluar, aku takut khilaf kalau kita terus seperti ini." Ucapku setelah tiga kali mematuk bibirnya.
"Sky..." pekiknya setelah sempat terbuai oleh sentuhanku.
"Ha ha ha.." aku tertawa terpingkal-pingkal setelah ia berlari masuk ke kamar mandi dengan wajahnya yang sudah memerah bak kepiting rebus.
Oooo☆~~☆oooO
Jangan lupa berikan like, comment dan vote kalian yah untuk mendukung Novel ini. Klick tombol Favorit agar kalian bisa mendapatkan notifikasi tiap kali ada update terbaru. okay.. Thanks 😍🤗