
Belaian tangan ibu di kepalaku sontak menarik kesadaranku dari tidur. Namun aku tidak langsung bangun, aku ingin berlama-lama seperti ini, kupejamkan kembali mataku, menikmati belaian tangan lembut dari wanita yang telah melahirkan dan membesarkanku ini.
Suara adzan subuh saling menyahut dari masjid yang satu dengan masjid lainnya, aku masih terlalu mengantuk setelah semalam susah tidur karena memikirkan banyak hal.
"Bangun, sayang. Sudah adzan!" Suara lembut ibu akhirnya keluar juga untuk membangunkanku. Mungkin beliau sama sepertiku, sama-sama menikmati momen-momen yang hanya sering ia lakukan saat usiaku masih kecil dulu. Aku merindukannya, aku yakin beliau juga merindukannya. Buktinya, hingga ia bersuara, tangannya masih tidak lepas membelai rambutku.
"Masih ngantuk, bu!" Ucapku manja seperti sedang merengek.
"Memangnya tadi malam gak tidur?" Tanya ibu menatapku ketika aku mulai membuka mata.
"Tidur, tapi dikit." Jawabku dengan mendekatkan jari telunjuk dan jempolku.
"Udah, ayok bangun. Calon manten gak boleh malas bangun subuh. Nanti suaminya dipatuk pelakor." Ibu bangkit dari kasur lipat yang kutiduri kemudian menarik kedua tanganku agar segera berdiri dan menunaikan kewajiban untuk beribadah kepada-Nya.
"Ibu apaan sih, kok suami anaknya sendiri didoakan dipatuk pelakor?" Protesku cemberut meski kutahu ibu tadi hanya bercanda.
"Kalau begitu ibu ralat, kalau calon manten malas bangun subuh, nanti suaminya gagal ganteng." Senyum ibu melebar.
"Huuuu... dua-duanya gak ada yang bikin aku senang, Ibu sih..." sungutku sambil lalu ke kamar mandi.
Sayup-sayup kudengar ibu membangunkan ayah dan membantunya untuk tayammum.
Berkali-kali kubasuh wajahku dan menatapnya dibalik kaca di dinding kamar mandi. Ucapan Sky saat menghakhiri percakapan semalam kembali terngiang memenuhi ruang fikiran.
Buru-buru kualihkan fikiranku kemudian mengambil air wudhu.
*****
Ijab kabul yang rencananya akan dilaksanakan sebelum dhuhur rupanya diundur ke ba'da sholat asar. Kabarnya orang tua Sky sedang dalam perjalanan saat ini. Aku antara senang namun juga merasa sedikit bimbang. Bukan apanya, semalam Sky sempat mengatakan jika umi Aida sedikit berkeberatan dengan rencana pernikahan ini. Meskipun Sky berusaha meyakinkan aku bahwa keberatan umi bukan sama sekali karena beliau tidak bisa menerima masa laluku, tapi semata-mata karena ketakutan beliau melihat kami gagal mengarungi bahtera rumah tangga yang akan kami bangun tersebut. Beliau tidak ingin melihat dua anak kesayangannya terluka, apalagi jika sampai kehilangan dua-duanya.
Aku pun bisa memahami ketakutan umi Aida, karena pada dasarnya bukan hanya umi Aida yang akan kehilangan jika kami gagal, aku pun akan kehilangan sahabat dan orang tua keduaku.
Tapi aku sudah tidak mungkin mundur dari rencana ini, aku tidak masalah terjebak di dalam kehidupan pernikahan setelah ini, asalkan aku mendapatkan maaf dari kedua orang tuaku. Meski aku belum yakin dengan kehidupan rumah tangga seperti apa yang nantinya akan aku jalani bersama Sky, tapi satu hal yang aku yakini, Sky adalah laki-laki baik dan bisa membuatku bahagia. Urusan cinta, biarkan ia datang sendiri jika memang sudah waktunya.
"Bery...!!!" Seorang perempuan cantik berpakaian khas dokter menyapaku. "Bery kan?" Tanyanya lagi karena mungkin masih ragu dengan penglihatannya.
Aku yang sedang duduk menunggu antrian resep obat ayah menatapnya beberapa saat, berusaha mengingat wajah tersebut. Mataku sedikit membulat dan bibirku mangap begitu saja setelah berhasil menyatukan kepingan memori tentang siapa pemilik wajah teraebut.
"Vivian?" Tanyaku sambil mangangkat jari telunjukku ke arahnya.
"Bery kan?" Tanyanya lagi yang langsung kuangguki dan segera berdiri.
"Yaa Allah... Vivian!" Aku menarik kedua lengannya dan menggoyangkannya beberapa kali, Vivian malah menarikku ke dalam pelukannya. Aku pun menyambut pelukannya melepaskan semua rasa penasaran setelah 10 tahun berpisah tanpa pernah tahu bagaimana kehidupan masing-masing setelah peristiwa memalukan tersebut.
Vivian mengendurkan pelukannya, matanya sudah memerah dengan air mata yang sudah menggenang.
"Heiii... what's wrong?" Tanyaku tidak mengerti dengan ungkapan permohonan maafnya dan juga reaksinya yang memelukku seperti ini.
Bukankah kami dulu tidak sedekat itu untuk mendapatkan perasaan haru tak tertahankan setelah pertemuan ini?
"Sorry.. sorry, aku kebawa perasaan. Ada banyak hal yang ingin aku bicarakan sama kamu, tapi saat ini aku sedang ada jadwal operasi. Berikan nomor ponsel kamu, setelah urusanku selesai aku akan segera menghubungi kamu." Katanya setelah merasa sedikit lebih tenang dan melepas pelukannya di tubuhku.
"Oke, siniin ponselmu. Ponselku ketinggalan di ruangan ayah." Vivian pun segera memberikan ponselnya lalu kutuliskan nomor ponselku sekalian kutekan tombol hijau agar nanti aku juga bisa menyimpannya.
"Thanks yah, Ber. Aku pergi dulu. Assalamu'alaikum." Ia pun berlalu setelah tampak tidak rela pergi namun tugas dan tanggung jawabnya sebagai seorang dokter.
"Wa'alaikum salam." Jawabku lirih, ia terlalu buru-buru untuk sekedar mendengar jawaban salam dariku.
Aku segera beranjak ke kasir setelah nama ayah dipanggil. Sebenarnya ibu melarangku beraktifitas sepanjang hari ini karena hari ini akan menjadi hari bersejarah bagiku. Namun aku memaksa tetap mengambil obat ayah di apotek. Lagian apoteknya tidak telalu jauh dari ruang perawatan ayah, aku tidak tega melihat wajah sayu ibu yang sepertinya kelelahan karena kurang tidur.
Sky sendiri sedang pergi ke KUA untuk mengurus beberapa berkas untuk kelengkapan dokumen yang dibutuhkan untuk ijab kabul nanti, ia diantar Anzi dan salah seorang asisten ayah.
Ijab kabul ini sendiri hanya akan dihadiri oleh beberapa keluarga inti saja, hanya saudara kandung ayah dan ibu dari pihak kami, begitupun dengan keluarga Sky. Kebetulan umi Aida juga masih punya saudara di sini. Kalau abi Hasan, aku tidak mengerti bagaimana hubungannya dengan keluarga besarnya setelah peristiwa di masa lalu itu. Terakhir, yang kudengar abi Hasan sudah tidak diakui lagi sebagai anak dan saudara oleh keluarga besarnya di sini.
Ijab kabul akan dilangsungkan di ruangan ayah karena kondisi ayah belum pulih dan masih harus melanjutkan perawatannya. Untuk urusan resepsi, kami sama sekali belum mendiskusikannya. Aku sendiri tidak peduli dengan hal tersebut, jika boleh memilih, aku rasa resepsi mewah-mewah apalagi sampai disiarkan di stasiun TV selama berhari-hari sungguh sangatlah kampungan menurutku. Ini hanya masalah persepsi, semoga tidak ada yang menghakimiku bermental miskin setelah ini.
Aku menghampiri ayah yang sedang disuap bubur oleh ibu. Aku mengambil sebuah kursi di sisi sebelah ibu.
"Gimana yah, udah baikan?" Tanyaku sambil mengelus-elus lengannya setelah beliau mengakhiri makannya.
"Alhamdulillah.. ayah semakin sehat karena sebentar lagi akan melihat putri kesayangan ayah akan segera menikah." Kata ayah bersemangat.
Aku tidak menyangka, sikap ayah berubah menjadi lembut dan hangat setelah semua kekecewaan yang telah kutorehkan selama ini.
"Terima kasih, yah..ibu.. maafin Bery untuk semuanya." ucapku menatap satu-satu wajah ayah dan ibu bergantian. Aku tidak bisa menahan laju air mataku yang terus mendesak keluar tanpa permisi.
"Ayah dan ibu juga minta maaf sama kamu, sayang. Selama ini kami terlalu egois membiarkan kamu menanggung lukamu seorang diri. Seharusnya saat itu kami merangkul kamu, bukan malah membuangmu." Ucap ayah dengan wajah sendunya.
Sementara ibu, sedari tadi beliau hanya diam, namun air matanya sudah cukup mewakili semua kalimat panjang yang mungkin ingin beliau sampaikan kepadaku. Tangannya terus membelai punggungku, sesekali beliau tertunduk kemudian menyeka air matanya dengan punggung tangannya.
"Tidak ayah, ibu... kalian tidak salah, pilihan yang kalian ambil saat itu sudah tepat, lihatlah... aku tumbuh dengan baik, lebih dewasa dan bertanggung jawab. Jika ayah dan ibu lebih mudah memaafkanku saat itu, mungkin aku tidak akan seperti ini sekarang. Sekarang, hidup Bery sudah sempurna karena sudah mendapatkan maaf ayah dan ibu. Tidak peduli dengan 10 tahun yang kulalui dengan menahan sesaknya merindukan kalian, sekarang semuanya sudah terbayar lunas. Aku menyayangi kalian."
Aku meletakkan kepalaku di dada ayah, aku yakin baju ayah saat ini sudah basah oleh air di mata dan hidungku. Ayah mengelus sayang kepalaku yang ditutupi jilbab, sementara ibu terus merangkul tubuhku dari belakang.
Suasana haru menguasai kami setelah melepaskan beban yang menghimpit selama 1 dekade tersebut. Rasanya lega... sangat lega hingga sempat terfikir olehku, jika Tuhan ingin mengambil nyawaku saat ini juga, maka aku ikhlas.
Oooo☆~~☆oooO
Jangan lupa berikan like, comment dan vote kalian yah untuk mendukung Novel ini. Klick tombol Favorit agar kalian bisa mendapatkan notifikasi tiap kali ada update terbaru. okay.. Thanks 😍🤗