HAPPIER

HAPPIER
BAB 46



Aku keluar dari kamar mandi lalu menemukan satu set pakaian di atas sofa single yang ada di walk in closet, lengkap dengan sepatu di sana namun aku tidak menemukan hijab untukku.


Tapi, kenapa ini malah satu set pakaian gym? Maksudnya apa coba?


Kubuka lemari yang mungkin berisi pakaian yang sedikit lebih longgar, namun kebanyakan berisi pakaian Sky. Adapun pakaian perempuan, aku bergidik ngeri melihatnya. Sudah kekurangan bahan, tipis bak jaring pula. Aku jadi teringat pada kain kelambu.


Apa Sky yang menyiapkan semuanya? Ternyata otaknya tidak se-alim yang kubayangkan. Apa memang semua laki-laki otaknya isinya urusan itu-itu saja? Bahkan lelaki pendiam, kaku, dingin dan alim seperti Sky pun bisa memiliki fantasi liar kepada kaum hawa ini.


Tapi sebenarnya tidak apa-apa sih jika yang menjadi objek fantasinya adalah istrinya sendiri, yang masalah jika itu adalah perempuan lain. Apalagi bersifat agresif kepada perempuan yang tidak halal baginya.


"Ber...udah selesai belum?" Terdengar Sky memanggilku dari ruang kamar tidur.


"Iya, bentar!" Jawabku sedikit berteriak.


5 menit kemudian aku keluar memakai pakaian yang disiapkan Sky tadi dengan rambut dicepol ke atas. Sebenarnya aku tidak nyaman memakai pakaian ini karena benar-benar ngepress di badan menunjukkan semua lekuk di tubuhku meski menutupi dari kaki hingga dada.


Sky juga sudah siap dengan pakaian nge-gymnya.


"Ayok!" Sky menarik tanganku mengikuti langkahnya ke lantai atas. Ia membawaku ke sebuah ruangan yang berada di pojokan rumah.



"Untuk apa kita ke sini?" Tanyaku bingung.


"Cari keringat tentu saja, mau apa lagi?" Jawabnya kemudian berjalan ke sebuah lemari dan mengambil peralatan dari dalam sana.


"Pakai ini!" Ia melemarkan sepasang sarung tinju kepadaku dan dengan sigap aku menangkapnya.


"Aku gak punya bakat main tinju, kamu salah cari lawan, Sky!" Aku kesal kepadanya dan tidak berniat memakai sarung tinju tadi. Jadi, ini yang mau ditunjukkan Sky, kalau aku tahu, lebih baik tidur.


Sky langsung berjalan mendekat membuatku harus mundur beberapa langkah hingga tubuhku mentok di dinding. Diambilnya kedua tanganku kemudian dengan telaten Sky memakaikan sarung tinju tadi. Tidak hanya itu, sekarang ia memakaikan head guard juga dan belly pad di perutku.


"Kepala, perut dan tangan aman!" Ucapnya sambil menepuk-nepuk pundakku membuatku menurunkan pundak mengikuti tepukan Sky karena Sky lumayan keras menepuknya.


"Issshhh.. pelan-pelan, sakit tau!" Ucapku kesal menatapnya dengan sorot mata tajam.


"Gitu doang kalo marah? Ngeluh? Merepet seperti ibu-ibu spesialis ghibah?" Katanya mengejek.


"What? Kamu..."


"Bugh..bugh..bugh.." aku mengayunkan tinju 3 kali mengarah kepada Sky dan semuanya ia tepis dengan mudah.


Aku semakin emosi karena merasa dipermainkan.


"Welcome to my anger room, sweety!" Ucapnya menyeringai.


"Sekarang kamu mau jadikan tubuh suamimu yang tampan ini jadi samsak hidup atau kamu mau meluapkannya pada heavy bag ini?" Imbuhnya sembari membawa satu heavy bag ke depan tubuhnya.


"Aaaaaaaaaaaaaaaaa"


Aku menyerang heavy bag yang dipegang Sky secara membabi buta.


Memukul..


Menendang..


Berteriak..


Begitu terus hingga aku merasa lelah dan menjatuhkan diriku ke lantai. Aku menelentangkan tubuhku dengan kaki dan tangan sama-sama membentuk huruf V. Nafasku memburu satu-satu dan keringat mulai membasahi tubuhku.


"Apa hanya segitu kekuatanmu?" Kembali Sky meledekku. Ia berdiri tegap di hadapanku dengan kedua tangannya bersedekap di dada.


"Aaarrrggghhh... kamu benar-benar menjengkelkan, Sky. Sepertinya kamu memang harus aku hukum dengan satu pukulan tinju di bibirmu itu agar kamu berhenti meremehkanku."


"Aku mulai takut!" Ucapnya namun dengan nada ledekan.


Aku langsung bangun dan berdiri tepat di hadapannya kemudian bertolak pinggang dan menatapnya tajam.


"Ayo kita sparring di sana!" Ucapku menantang kemudian menoleh dimana sebuah Ring tinju berada.


Sky menunduk mensejajarkan wajahnya denganku. "Oke, siapa takut." Ucapnya menyeringai nakal8.


Ia kemudian berjalan duluan memasuki Ring kemudian aku pun menyusulnya.


Aku sudah tidak sabar untuk menghajarnya. Mungkkn Sky tidak tahu kalau dulu saat sekolah aku sempat memegang sabuk coklat Taekwondo.


Hap


Aku memulai serangan dengan tendangan samping menggunakan pisau kaki namun berhasil ditepis dengan tangkisan ke tengah dari luar dengan bantalan telapak tangannya.


Gagal dengan serangan kaki, aku menyerang kembali memberinya tusukan dengan telapak tangan tegak mengarah ke dadanya namun gagal menemui sasaran. Sky melawan dengan tangkisan melintir dengan satu pisau tangan dan berhasil menarikku hingga terjatuh dengan satu lenganku ditekan ke lantai.


"Awwww..." meski merasa kesakitan namun aku tidak mau menyerah.


Sekuat tenaga aku memberontak menggunakan tangan dan kaki yang masih bebas hingga aku berhasil membalikkan keadaan. Sekarang giliran Sky yang terpelanting ke bawah dan aku tidak menyia-nyiakan kesempatan segera naik ke perutnya mendudukinya lalu memberikan pukulan bertubi-tubi mengarah ke wajahnya.


Sky melindungi wajahnya dengan kedua lengannya tidak membiarkan satu pun pukulanku mengenai wajahnya.


Karena kesal, aku tidak lagi melayangkan tinjuku, melainkan berusaha membuka tangannya agar tidak menutupi wajahnya.


"Ampun gak, Sky?"


"Enggak.. hahaha.."


"Sky!!!" Teriakku frustasi.


"Iya sayang!" Jawabnya sambil membuka kedua tangannya yang sedari tadi melindungi wajahnya.


Dan..


Bugghhh...


Satu pukulan benar-benar lolos menghantam bibir Sky. Seketika darah segar mengalir dari sudut bibirnya membuaku panik sendiri.


"Sky... sorry..sorry.. bibir kamu berdarah, aduh.. bagaimana ini.. aku gak sengaja.. kamu gak marah kan?"


Aku bingung harus berbuat apa, aku merasa tidak bebas karena aku kesulitan melepas sarung tangan dan juga pelindung kepala yang kupakai.


"I am Ok, heiii.. look.. look at me. I am ok. Satu pukulan di bibir tidak akan membunuhku." Ucapnya tersenyum.


Ia kemudian duduk membuat tubuhku yang ada di atas perutnya merosot ke pahanya. Mata kami saling mengunci dan tidak ada satupun yang ingin memutusnya.


Sky membuka pelindung kepalaku, kemudian tangannya di arahkan melingkari tubuhku membuka pelindung perut dan terakhir membuka perekat sarung tanganku.


Aku menyentuh sudut bibir Sky yang masih mengeluarkan darah.


"Apa sakit?" Tanyaku.


Sky menggeleng, "ini tidak sakit, di sini yang sakit melihat kamu mengabaikan aku sejak tadi siang." Ucapnya membawa satu tanganku ke dada kirinya. Kurasakan detak jantungnya memburu berdetak kencang, sama sepertiĀ  jantungku saat ini.


"Apa yang harus aku lakukan agar ia tidak sakit lagi?" Tanyaku mengusap lembut dada kerasnya itu.


"Cukup hukum aku dengan satu kecupan di bibirku, jangan lagi dikasi satu pukulan tinju." Jawabnya tersenyum nakal.


Aku tersenyum lebar menanggapi perkataannya. Aku menggeleng kemudian berdiri dan berjalan menuju dinding kaca yang mengarah ke taman yang berisi pohon-pohon setinggi rumah.


"Kamu mulai nakal Sky!" ucapku kemudian.


Tiba-tiba Sky memelukku dari belakang lalu menyandarkan dagunya di pundakku. "Aku nakal hanya sama kamu." Ucapnya seperti berbisik.


Aku membalik tubuhku dan kini kami saling berhadapan sekarang. Sky menatapku intens, aku benar-benar tidak kuat bertemu tatap dengannya seperti ini.


Berada dalam posisi tubuh yang saling merapat seperti ini sungguh sangat menggelisahkan dan mengusik sesuatu yang akhir-akhir ini sering berkobar-kobar setiap kali Sky menyentuhku.


Aku berjinjit dan mendekatkan wajahku dengan wajah Sky. Kudekatkan bibirku ke telinganya.


"Aku lapar!" Bisikku.


Sky langsung mundur selangkah dan memukul jidadnya. Sepertinya ia merasa bersalah.


"Sorry, aku lupa. Ayok kita makan!" Ucapnya kemudian langsung mengangkat tubuhku ke pundaknya dan segera berlari turun ke bawah.


Aku hanya bisa tertawa melihatnya memperlakukanku layaknya karung beras yang digendong di pundaknya.