
Aku sebenarnya tidak punya persiapan apa-apa untuk acara ijab kabul ini, tak ada gaun apalagi berniat memakai jasa MUA untuk mengubah penampilanku. Meski ibu memaksa, tapi aku bersikeras untuk gamisan aja dan memakai make up tipis. Namun rencana berubah sejak kedatangan Nindi. Setelah sholat azar, dia menculikku ke salah satu ruang VIP lainnya, katanya ruangannya dipinjamkan untuk beberapa jam oleh pihak rumah sakit.
"Aku tau kamu gak punya persiapan sama sekali. Jadi aku bawakan kamu kebaya dari butik langgananku." Ucap Nindi yang sibuk mengeluarkan barang-barang di dalam koper mini yang dibawanya.
"Orang acaranya di Rumah Sakit, Nin!"
"Tau.. tapi ini acara sekali seumur hidup, harus tampil cantik dong. Pake!" Nindi menyerahkan kebaya berwarna lime green yang dipadukan dengan payetan yang didominasi warna maroon di tangannya kemudian memintaku segera memakainya.
Setelah mengganti pakaian, Nindi kemudian menarikku duduk di atas brankar lalu segera mendandani wajahku.
"Jangan tebal-tebal, ini aku mau nikah, bukan mau menyamar." Ucapku mengingatkan, aku bukan tipe perempuan pecinta wajah polesan. Aku lebih suka riasan wajah yang natural.
"Iya, gak usah banyak protes. Sama kakak ipar harus manut." Nindi tersenyum puas demi melihat wajah cemberutku.
"Dasar ipar durhaka." Sungutku memanyunkan bibirnya.
"Bibir itu... jangan coba-coba manyun begini kalo di depan Sky?"
"Kenapa memang?"
"Ntar dipatut, keenakan pula. Hahaha."
Aku memukul lengan Nindi karena gemas, candaannya gak lucu banget. Aku bukan anak baru kemarin sore yang tidak mengerti maksud candaan Nindi.
"Ngeres aja tuh di otak!" Cebikku.
"Ah, nanti juga levelnya tinggian kamu setelah diiya-iyain sama Sky." Kembali tawa Nindi meledak, wajahku sudah memerah.
"Udah ah, gak usah didandanin tau begini."
"Jangan ngambek, dong. Sensi amat!"
Nindi kemudian menarik wajahnya sedikit menjauh dari wajahku, pandangannya menelusuri setiap sudut wajahku.
"Perfect!" Ucapnya dengan mengangkat kedua jempolnya. "Untung kamu dipingit di sini, aku yakin Sky gak bisa konsentrasi lagi kalau sudah sempat lihat wajah kamu. Bisa keringat dingin dia saat ucapin ijab kabul. Cantik!" Pujinya setelah itu Nindi kemudian membantuku memasang hijab.
Nindi tidak tahu saja, sedari tadi aku merasakan beberapa kali keringat di kulit belakangku terus mengalir, begitupun dengan kedua telapak tanganku saat ini yang terus berkeringat saking deg-degannya. Aku tidak pernah sedeg-degan ini sebelumnya.
"Tok..tok..tok.." terdengar suara ketukan pintu dari luar, Nindi segera beranjak membuka kunci pintu.
"Udah kelar belum?" Tanya kak Sinta kakak sepupuku menghampiri kami.
"Udah, tinggal rapiin jilbabnya dikit ini." Nindi masih sibuk memakaikan beberapa aksesoris di hijab yang kupakai.
"Buruan, ijab kabulnya sudah dimulai, bentar lagi suaminya datang jemput."
Deg...
Ucapan kak Sinta sukses membuatku semakin gugup. Jangan ditanyakan bagaimana bergemanya detakan jantungku saat ini.
Beberpa detik lagi aku akan resmi berganti status. Rasanya sangat mendebarkan.
Aku sudah kehilangan aksara semenjak kak Sinta masuk mengabarkan bahwa ijab kabul akan segera dimulai, kak Sinta dan Nindi begitu asyik bercerita namun semuanya hanya seperti suara-suara tidak jelas di telingaku. Aku terlalu sibuk mendengarkan suara dentuman di jantungku hingga aku tidak menyadari, Sky sudah berada di hadapanku saat ini.
"Ekkkhhhmmmm..." aku disadarkan oleh suara deheman Nindi. "Tatap-tatapannya disudahi dulu yah... Ber, suami datang bukannya cium tangan ini malah bengong. Sampai ileran pula, macam gak pernah lihat cowok ganteng aja."
Aku refleks mengusap bibirku, seketika tawa Nindi, kak Sinta, mas Fachri dan kak Ardan pecah menertawakan diriku.
"Sky, istrinya disapa dong, malah ikut-ikutan bengong dari tadi.." giliran mas Fachri yang menggoda Sky.
"Itu bukan muka bengong, tapi muka terpesona..." celetuk kak Sinta yang kembali membuat tawa mereka pecah.
Wajahku terasa memanas, mungkin sudah seperti kepiting rebus saat ini. Aku melihat wajah Sky nampak datar-datar saja, aku sudah merasa ingin segera menghilang dari ruangan ini tapi dia masih bisa kelihatan santai, tak terpengaruh dengan candaan mereka. Betul-betul pria miskin ekspresi!
"Udah, jangan godain mereka terus, ini kapan prosesi cium tangan cium kening nih, Sky..Ber?" Tanya kak Ardan.
Aku menarik nafas dalam-dalam kemudian menghembuskannya pelan.
Aku beranjak berdiri dari brankar Rumah Sakit yang kududuki sejak didandani Nindi. Kukumpulkan keberanian diriku untuk mendekati Sky yang berada sekitar 3 langkah di hadapanku, aku fikir mungkin dia ragu mendekati diriku, atau mungkin juga malu. Saat aku melangkah selangkah ke depan, ternyata Sky juga maju selangkah. Posisi kami saat ini hanya berjarak satu langkah lagi, tubuhnya yang jangkung membuatku harus mendongakkan kepala untuk menatapnya.
Sedetik kemudian kutundukkan pandanganku, tidak kuat rasanya beradu tatap dengannya. Entah keberanian dari mana, tanganku seketika mengambil tangannya kemudian kubawa ke dahiku, cukup lama kutempelkan di sana penuh takzim.
Satu tangan Sky terangkat mengelus kepalaku penuh kelembutan. Kurasakan ia menuntun tanganku melepas tangannya yang masih menempel di dahiku. Kembali aku mendongakkan kepala menatapnya penuh arti, ia kemudian menunduk dan menempelkan bibir hangatnya di keningku. Tak lama memang, namun itu sudah sanggup membuat sekujur tubuhku menghangat, seperti ada ribuan kupu-kupu beterbangan di perutku.
Sky tak pernah melepas tautan tangan kanan kami hingga kami dibawa menemui kedua pasang orang tua kami di ruang perawatan ayah.
Kuabaikan suara-suara riuh yang semenjak tadi menggoda kami.
Sky terlebih dahulu membawaku ke hadapan ibu yang duduk di sisi ayah yang tetap berbaring dengan beberapa bantuan alat kesehatan masih menempel di tubuhnya.
Aku bersimpuh di kaki ibu, aku terisak dalam diam. Kembali rasa sesak menghampiri, perasaan yang selalu membuatku lemah dan tak berdaya. Sky yang juga ikut bersimpuh sepertiku memberikan tepukan lembut di punggungku. Seperti hendak menguatkan.
"Jangan menangis lagi, sayang! Ini adalah hari bahagia untuk kita semua, tersenyumlah. Setelah ini jangan lagi ada air mata kesedihan, lupakan yang sudah berlalu, berbahagialah nak." Ucap ibu lembut saat membawaku ke dalam pelukannya.
Ibu melepas pelukannya kemudian menoleh ke arah Sky. "Sky, titip putri kesayangan ibu yah. Sayangi dia, lindungi dia, cintai dia dan bahagiakan dia. Jangan lelah berada di sampingnya." Katanya sambil terisak.
"InsyaaAllah, bu. Doakan kami." Ucap Sky yang kemudian mencium tangan ibu penuh takzim.
Aku kemudian menuju ke ayah, meminta maaf lagi dan lagi serta memohon doa restu dari beliau.
Tak banyak kata yang keluar dari bibirnya, beliau hanya membawa kepalaku bersandar di dadanya. Bisa kurasakan hentakan jantung ayah yang tak seirama.
"Selamat berbahagia, sayang!" Ucap ayah melepas pelukannya.
Setelah Sky dengan ayah, kami sekarang mendekati umi Aida dan abi Hasan.
Sejenak rasa ragu menahan langkahku mendekati mereka. Tiba-tiba Sky menepuk pundakku kemudian menarik tanganku ke dalam genggamannya. Tarikan lembut darinya membawaku kini berdiri di hadapan umi Aida.
"Umi..."
Oooo☆~~☆oooO
Jangan lupa berikan like, comment dan vote kalian yah untuk mendukung Novel ini. Klick tombol Favorit agar kalian bisa mendapatkan notifikasi tiap kali ada update terbaru. okay.. Thanks 😍🤗