
Aku tidak menghitung sudah berapa kali aku terbangun karena ingin buang air kecil. Masalahnya, buang airnya selalu tidak tuntas. Selalu masih ada yang tersisa namun tidak juga bisa keluar. Beruntung aku tidak merasakan sakit pada perut atau nyeri apapun di tubuhku. Namun itu sudah sangat mengganggu.
Kulirik jam di gawaiku, sudah pukul 3 lewat 20 menit. Sebenarnya, mataku masih sangat berat namun susah tidur juga. Sementara tidur Sky sepertinya cukup nyenyak, dia sama sekali tidak terganggu dengan pergerakanku yang sering naik turun tempat tidur.
Kucoba kirimkan pesan ke nomor Nindi melalui aplikasi hijau.
"Nin, tidur?"
Nindi punya kebiasaan bangun dari jam 3 dini hari atau lebih awal tetapi tidurnya selalu di awal.
Kadang-kadang dia bisa tidur setelah sholat Isya. Kali aja aku beruntung, berharap dia sudah terjaga jam segini, mengingat perbedaan waktu Indonesia bagian barat dengan tengah.
Bukannya membalas pesanku, ini justru dapat panggilan video call dari Nindi.
Kugeser tombol hijau lalu berjalan ke ruang tamu yang terpisah dengan ruang tidur kami. Kunyalakan lampu biar videonya tampak jelas.0
"Udah bangun, Ber?" Tanyanya langsung.
"Iya, gak bisa tidur, bawaannya pipis terus. Tapi yang keluar cuman dikit, seperti masih ada yang tinggal tapi gak keluar. Aku kenapa yah Nin?" Tanyaku meringis.
Nindi berdecak dan geleng-geleng kepala dari seberang sana. "Sehari berapa ronde?"
Aku tidak mengerti maksud Nindi, seingatku, kami sudah tidak pernah sparring lagi di ring tinju yang ada di anger room milik Sky.
"Berapa ronde? Maksudnya?" tanyaku sambil mengerutkan kening.
"Errrrrr... gitu aja gak ngerti." Geram Nindi.
"Kamu sama Sky berapa kali berhubungan intim dalam sehari? Kemungkinan besar kamu lagi kena ISK, infeksi saluran kemih." Jelasnya.
"He he he.." aku nyengir tidak tahu mau jawab apa. Rasanya malu sendiri kalau menceritakannya pada Nindi.
Kembali Nindi geleng-geleng kepala dan memutar kedua bola matanya.
"Katanya belum cinta tapi ranjang goyang terus." Sarkas Nindi.
"Habis enak.." gumamku.
"Enak sih enak, tapi meskipun enak tetap jangan berlebihan juga kali, Ber. Semua yang berlebihan itu gak baik. Pelan-pelan saja, masih banyak kok hari esok buat kalian ulang lagi. Tubuh kita itu butuh penyesuaian juga, kasi istirahat sehari dua hari, jangan malah gempur terus kayak dosis orang minum obat sehari 3 kali." Omelnya.
Kok dia tahu kalau kami melakukannya seperti dosis meminum obat dalam sehari?
Kadang-kadang aku nyesal curhat sama Nindi kalau akhirnya ngomel-ngomel begini.
"Iya-iya, cerewet banget sih. Jadi sekarang obatnya apa?" Tanyaku malas.
"Obatnya adalah pe ngen da li an di ri." Jawabnya penuh penekanan.
"Nanti aku resepkan obat, selain mengurangi aktivitas ranjang kalian, kamu juga tenangkan fikiranmu, jangan stress dan jangan terlalu difikirkan, jalani saja rumah tangga kalian. Yang namamya berumah tangga itu artinya kita belajar saling mengenal secara terus menerus dengan pasangan kita sepanjang hidup. Mungkin ada yang kita sukai dan ada yang tidak, tapi perbaiki saja komunikasi kalian... aku ngomong begini bukan karena sudah ahli dalam urusan rumah tangga yah, Ber. Kita di sini sama-sama masih belajar, aku hanya berbagi dari sisi apa yang sudah aku lalui tapi bukan berarti aku tidak belajar dari kamu juga." Nah, panjang kan pernjelasannya.
"Sky mana?" Tanyanya lagi.
"Masih tidur, tidurnya nyenyak banget!"
Aku jadi teringat kejadian tadi siang. Apa aku tanyakan juga ke Nindi yah?
"Ada apa Ber? Apa Sky marah sama kamu?" Tanyanya penasaran.
Ah, bukannya dijawab malah rasa penasarannya yang mendominasi.
"Enggak, aku cuman Nanya." Aku sedikit gelagapan. Mungkin ini bukan waktu yang tepat untuk bertanya, tapi aku juga masih sedikit shock melihat Sky seperti itu.
"Cerita Ber, kamu gak bisa bohong sama aku, cerita!" Kejar Nindi.
"Enggak Nin, aku hanya sekedar bertanya saja. Meskipun aku sudah kenal lama sama Sky, tapi aku kan belum pernah lihat bagaimana dirinya di saat marahnya, hitung-hitung biar aku bisa punya bekal buat antisipasi dini gitu loh.." aku benar-benar harus pandai mencari alasan agar Nindi tidak khawatir.
"Selama ini kalau marah dia hanya diam. Bahkan aku sendiri kadang bingung melihat ekspresinya yang datar, apa dia marah atau tidak, sulit membedakannya. Tapi sekali lagi aku katakan Ber, aku mengenal Sky hanya sebatas aku sebagai kakaknya dan dia hanya memperlakukan aku juga sebagai kakaknya, bukan istrinya jadi akan berbeda antara pengalaman aku dan pengalaman kamu hidup bersamanya. Buktinya, dia bisa cerewet hanya saat bersama kamu dan entah apa lagi sifat lainnya yang aku sendiri tidak tau dan hanya kamu yang melihatnya dan merasakannya."
Ah, benar juga.
"Iya Nin.. aku ngerti. Thanks yah kakak ipar!" Ucapku tulus.
"Sama-sama adik ipar. Hahaha" kami sama-sama tertawa, merasa geli dengan panggilan itu.
"Sabar saja yah sama Sky. Semua orang sama seperti kalian saat di awal membangun hubungan. Ingin terlalu banyak kebahagiaan dan terlalu banyak kenikmatan sampai membuat dirimu sakit. Jika Sky memang sudah jatuh cinta sama kamu, bisa dipastikan ada perasaan yang meluap-luap dan meletup-letup yang tidak bisa dicegahnya, akan ada yang membuat kamu bahagia hingga mampu menghapus semua rasa sakit yang pernah kamu rasakan, namun bisa jadi akan ada yang menyakiti kamu. Tapi satu hal yang kamu harus tahu, bukan hanya kamu yang sakit, dia pun bisa sakit karena menahan atau tidak tau bagaimana cara menunjukkan perasaannya yang besar itu."
"Huuuu...." Bery menghembuskan nafasnya. "Thanks berat, Nin. Jujur, ucapan-ucapan kamu ini bikin aku benar-benar lega dan tenang."
"Sama-sama, honey!"
Kami terus berbincang hingga Sky datang mencariku.
"Aku cemburu lihat kalian." Ucap Sky datang mengendus rambutku lalu melingkarkan kedua lengan kokohnya di perutku.
"Sky, jaga baik-baik sahabat aku yah. Kakak tutup, assalamu'alaikum."
"Wa'alaikum salam." Jawab kami bersamaan.
"Kenapa bangunnya cepat sekali?" Tanya Sky.
"Aku gak bisa tidur, pengen pipis mulu."
"Kok bisa?" Tanya Sky menjatuhkan tubuhnya di sofa duduk menghadapku. "Apa ada yang sakit?" Tanyanya perhatian.
Aku menggeleng, "enggak ada, hanya rasa pipisnya aja yang gak tuntas-tuntas." Keluhku.
"Kita ke dokter habis sarapan nanti." Sarannya.
"Gak usah, tadi Nindi sudah resepkan obat. Tinggal kamu tebus aja nanti di apotek."
"Tapi kamu yakin baik-baik saja?"
"Iya, Sky. Aku baik-baik saja. Udah.. aku pengen pipis lagi ini."
Aku langsung bangkit dari sofa dan menuju kamar mandi. Aku juga sekalian mandi junub.
Dari luar Sky ketuk-ketuk pintu. "Jangan terlalu lama mandinya, aku juga mau mandi, bentar lagi subuh."
Aku tidak menjawabnya namun aku mengikutinya kemudian bergegas membersihkan diri.