
Ada apa dengan hatiku? Kenapa seperti ada yang bergemuruh di dalam sana?
Mengapa pikiranku seperti tidak sedang berada di tempatnya? Bahkan pandanganku pada lembaran desain-desain gambar yang ada di atas mejaku yang tampak kini hanyalah buram seperti membayang. Mataku tidak minus, masih sehat tapi kenapa jadi begini?
Jantungku berdetak cepat, ada yang seperti menusuk-nusuk di dalam sana, seperti terluka tapi tak berdarah.
Kenapa bisa seperti ini?
Kulirik Sky dengan ekor mataku, dia sepertinya santai saja. Apa tidak ada niat memberi penjelasan atau semacamnya?
Tunggu dulu, penjelasan seperti apa yang kuinginkan? Bukankah Sky tidak terlibat sama sekali dalam keputusan tersebut? Aku yang menyetujuinya, mengapa aku jadi menyalahkan Sky?
Arrrggggghhhh... bisa gila rasanya kalau pikiran dan hatiku terus berperang seperti sekarang. Mungkin aku butuh juru damai, sebelum hatiku babak belur dihancurkan oleh pikiran liarku sendiri, lebih baik mencari aman.
Tapi bagaimana caranya???
Kuangkat wajahku menatap lurus ke arah Sky yang tatapannya begitu fokus di depan layar komputer sementara tangannya terus memainkan mouse.
Aku menghela nafas berat. "Sky, temani aku ke kafe depan?"
Sejenak Sky menatapku heran tapi tidak lama dia langsung bergegas meraih ponsel dan dompetnya.
"Ayo..." ucapnya menghampiriku.
Aku malas membawa apa-apa di tangan, kami langsung jalan beriringan keluar dari ruanganku.
"Bu Kinan, kami ke kafe depan dulu yah, kalau ada nyariin, bilang saja kalau aku akan balik kurang dari 1 jam." Ucapku melirik jam tanganku.
"Siap!" Bu Kinan menaikkan dua jempolnya dengan senyum lebar menghiasi wajahnya.
Aku meraih satu lengan Sky dan melingkarkan kedua tanganku di sana. Kami berjalan menuruni tangga. Tangga ini aksesnya langsung menuju keluar gedung, bukan ke lobby. Tentu saja desainnya sengaja di buat demikian demi menjaga privasiku sendiri.
"Tangannya diikat kalo perlu!" Teriak bu Kinan menggoda kami saat kami akan berbelok ke tangga.
Tanpa menoleh ke ibu Kinan, Sky mengacungkan tinggi satu tangannya yang bebas ke atas berikut jempolnya.
Kami tertawa lepas sepanjang menuruni anak tangga yang kami lewati.
Aku melepas tangan Sky saat langkah kami akan mulai keluar dari gedung kantor.
"Kok dilepas?" Tanya Sky memasang muka juteknya.
"Mau-mau akulah." Jawabku tak kalah jutek kemudian berjalan lebih cepat darinya.
Sky menyusulku kemudian meraih jari tanganku ke dalam genggamannya.
"Begini lebih romantis." Ucapnya memperlihatkan tangan kami yang saling bertautan.
Aku hanya tersenyum, "asal bapak senang!"
Kami terus berjalan menuju zebra cross yang jaraknya sekitar 20 meter dari pintu gerbang kantor. Aku tidak peduli jika ada yang melihat kami. Udah halal gini kok. Terserah bagaimana orang menilai kami. Orang pacaran saja berani show off kemesraan mereka di depan umum kok.
Cuaca hari ini begitu sejuk, hujan sisa tadi malam masih menyisakan awan mendung yang menggantung di langit. Meski sudah tidak ada gerimis, namun matahari sepertinya masih ingin berlama-lama berselimutkan awan hitam.
Sesampainya di kafe, aku memilih memesan mocca float. Aku memang tidak begitu suka minuman dingin, tapi saat cuaca habis hujan seperti ini, terkadang yang kuinginkan adalah minuman dingin.
Berbeda dengan Sky, dia lebih memilih memesan coklat panas dan roti lapis sebagai tambahannya. Kami memang melewatkan sarapan tadi pagi dikarenakan Sky yang tidak mau melewatkan olahraga paginya. Ah, bukan hanya Sky. Aku juga menginginkannya. Aku jadi malu sendiri jika mengingatnya, mungkin wajahku sudah merona merah saat ini karena bayangan olahraga pagi tadi masih menggantung diingatan.
Semoga Sky tidak menganggapku mesum sama seperti aku sering menyebutnya selama ini.
"Kamu kenapa? Sakit?" Tanyanya dengan menempelkan telapak tangannya di jidatku. "Enggak panas, tapi wajah kamu memerah. Apa lapar sekali?" Tanyanya khawatir.
Nah kan!
Aku mengangguk saja, "lapar banget!" Ucapku mengelus perut.
"Kelamaan ngobrol sama si duren sih!" Kesalnya.
Sky nyengir, "lupa!" Tangannya terangkat membuat huruf V.
"Memangnya apa yang kamu fikirkan sampai bisa lupa?" Tanyaku menyelidik.
"Fikirin kerjaanlah, kan tadi kamu lihat sendiri." Jawabnya membela diri.
"Yakin? Bukan karena mikirin yang lain kan? Misalnya mikirin perempuan lain?"
"Astaghfirullah.." selanya. "Mikirin kamu aja belum selesai-selesai, bagaimana mau mikirin perempuan lain?"
"Yaaa kali aja mikirin Stella misalnya, kan kalian akan ke Maldives." Cecarku.
"Kamu cemburu?" Tebaknya menatapku penuh arti.
"Aku? Cemburu?" Aku menunjuk diriku sendiri, "gak bakal, Sky!" Ucapku yakin.
Sky berubah muram, sepertinya kecewa mendengar jawabanku.
"Lanjutkan makannya, aku tidak mau kamu sakit!" Sky kemudian menyesap coklat panasnya lalu menyantap roti lapisnya dalam diam.
Cemburu? Apa iya aku cemburu?
Apa saat dadaku terasa panas dan sesak mendengar nama perempuan yang jelas-jelas menaruh hati pada suamiku bisa dikatakan cemburu?
Dulu saat bersama Rio, aku tidak pernah merasakan perasaan seperti itu. Bahkan aku tidak masalah saat Vivian terus mengekori kami padahal aku tahu dia suka kepada Rio. Bukan hanya Vivian, bahkan beberapa adik kelas terang-terangan mengungkapkan perasaannya kepada Rio dan aku biasa saja melihatnya.
Saat itu aku sangat yakin dan percaya diri bahwa Rio tidak akan pernah mengkhianati aku. Sebanyak apapun perempuan yang mendekati Rio, tetap saja dia akan kembali kepadaku, makanya aku tidak pernah marah saat melihatnya jalan dengan perempuan lain.
Tapi kenapa saat bersama Sky aku sangat tidak rela melihatnya didekati perempuan lain? Aku tidak suka melihatnya dikagumi perempuan lain dan aku sangat takut ditinggalkan olehnya. Karenanya aku masih berusaha melindungi hatiku. Ditinggalkan oleh orang yang kita percayai akan terus bersama kita selamanya itu sakit.
"Sudah selesai? Kok melamun?" Pertanyaan Sky sukses membuatku gelagapan sendiri.
Aku menegakkan tubuhku kemudian menyedot semua isi gelasku hingga tandas.
"Pelan-pelan minumnya, gak ada yang kejar kok. Itu rotinya dihabisin dulu." Ucapnya melirik isi piringku yang masih tersisa seperempatnya.
"Aku udah kenyang, bungkus aja!"
Aku sudah terbiasa membungkus setiap makanan yang kusisakan saat makan diluar, gak boleh mubadzir bukan?
Sky menarik piringku kemudian memakannya. "Tinggal dikit doang!"
"Kak Bery... Sky!"
Aku dan Sky mengangkat wajah ke arah datangnya suara dan itu siapa?
"Hai, Stel... mau sarapan juga?" Tanyaku ramah.
Sky yang tadinya bengong dengan mulut terisi penuh sekarang melanjutkan kunyahannya dengan santai.
"Ini udah waktu makan siang, kak!" Refleks aku melirik jam di tanganku, ah tidak terasa sekarang sudah jam 11.35 saja.
"Kamu sama siapa?" Tanyaku mengalihkan jawabannya tadi.
"Sama Lastri, tapi dia ke toilet dulu. Boleh gabung gak kak?" Tanyanya.
"Boleh.. boleh," aku menggeser kursiku sedikit ke tepi tapi Stella malah langsung duduk di kursi samping Sky.
Sky ikut menggeser sedikit kursinya kemudian melirikku seperti memberi kode kalau dia sudah selesai.
"Gak papa kan Stell kakak tinggal, ini sudah selesai makannya." Tanyaku merasa sedikit tidak enak.
"Gak papa kak," jawabnya kemudian melirik Sky. "Kamu temani kami dulu yah, Sky!"