
Suasana kantin cukup ramai, selain karena memang sudah memasuki waktu makan siang, lokasinya juga berada di deretan ruko dan dekat dari beberapa gedung perkantoran, termasuk gedung kantorku. Kalau tidak delivery makanan, salah satu pilihanku untuk makan siang adalah di sini. Aku, Sky dan ibu Kinan sekertarisku mengambil posisi duduk di pojokan. Satu meja ada 4 kursi, aku dan bu Kinan duduk bersisian sementara Sky duduk tepat di hadapanku.
"Mau pesan apa?" Tanya Sky membolak balikkan daftar menu yang dipegangnya.
Aku sempat menatap cengo ke arahnya. Tumben banget inisiatif duluan.
"Aku ikan kakap bakar dan minumnya es jeruk." Jawabku menyebut menu makanan dan minuman pilihanku.
"Bu kinan?" Tanya Sky lagi menatap bu Kinan di sisi kiriku.
"Samain aja sama pesanan bu Bery." Sepertinya bu Kinan malas memilih.
Sky pun dengan cekatan berdiri dan berjalan menuju ke tempat pemesanan. Sementara aku dan bu Kinan mengobrol ringan dan salah satu obrolan yang membuatnya sangat bersemangat adalah ketika berbicara tentang anak-anaknya.
Ibu Kinan adalah orang pertama yang menjadi karyawanku. Meskipun basic-nya bukan orang Teknik, namun kecakapannya dalam bekerja sangat meringankan pekerjaanku. Aku suka dengan caranya mengatur semua jadwalku bersasarkan skala prioritas. Pembawaannya tenang dan tidak cerewet, itu yang paling penting. Ibu dengan 2 anak tersebut sangat profesional dalam bekerja, meskipun kami sudah lama saling kenal, namun ia tidak pernah memanfaatkan kedekatannya denganku untuk kepentingannya sendiri. Aku benar-benar suka dengan orang yang penuh integritas sepertinya.
"Ibu Bery yah?" Terdengar suara laki-laki menyapaku yang terasa asing di telingaku. Aku mengangkat wajah, menatapnya lekat berusaha mengingat-ingat siapa laki-laki ini.
"Iya, benar. Maaf, siapa yah?" Tanyaku sedikit memicingkan mata menatapnya dengan dahi berkerut.
Tanpa permisi laki-laki itu mengambil satu tempat duduk di hadapanku kemudian mengenalkan dirinya. "Rangga Aditya, dulu ibu yang membuat desain rumah saya yang dekat pelabuhan 3 tahun lalu."
Aku sempat berfikir sejenak lalu mengangguk-anggukkan kepala, "oh iya.. maaf pak, saya tadi sempat lupa. Bagaimana kabar keluarganya pak?" Tanyaku ramah setelah mengingat siapa orang ini, aku ingat istrinya seorang model terkenal dan saat itu sudah punya 1 orang bayi perempuan. Namun tiba-tiba bu Kinan menendang kakiku di bawah meja, akupun sedikit melotot menatapnya penuh tanya namun dijawabnya dengan kerlingan mata. Aku tidak mengerti maksudnya, jadi kuabaikan saja.
"Alhamdulillah, baik bu Bery." Jawabnya namun tampak tidak bersemangat. "Ibu sendiri bagaimana? Sudah nikah belum? Dulu, seingatku masih single." Tanyanya semangat, begitu cepat perubahan raut wajahnya.
Sebenarnya aku paling tidak suka kalau ditanya perkara menikah. Tidak pertanyaan lain apa?
"Alhamdulillah, baik...sangat baik, pak Rangga. Lagi mau makan atau bapak ada urusan lain di sekitar sini yah pak?" Tanyaku mengalihkan pertanyaannya tentang nikah tadi.
Belum sempat pak Rangga jawab, Sky sudah datang menghampiri kami dengan sedikit kasar menarik kursi untuknya. Tidak sopan!
"Eh, kenalin pak Rangga. Ini ibu Kinan, sekertaris saya. Dan di samping bapak adalah Sky." Ucapku mengenalkan bu Kinan dan Sky.
Mereka saling berjabat tangan dan kembali masing-masing menyebut nama. Berbeda dengan Sky, tampang datarnya kumat lagi.
"Oh yah, kalau begitu saya pamit dulu, kebetulan saya harus segera kembali ke kantor. Boleh minta nomor ponsel ibu Bery atau kartu nama juga boleh, siapa tau besok-besok jika ada proyek baru mungkin saya bisa hubungi bu Bery."
"Oh, bisa pak." Aku langsung membuka dompet dan mengambil satu buah name card untuk pak Rangga.
"Baik bu, terima kasih. Mari semuanya." Pamitnya segera berlalu keluar dari kantin.
Beberapa saat kemudian bu Kinan memukul pelan lenganku.
"Ibu gak pernah nonton berita gossip yah?" Tanyanya yang kujawab hanya dengan gelengan kepala.
"Pak Rangga sudah cerai dengan istrinya. Itu beritanya lagi hot-hotnya dibahas selama sebulan terakhir, soalnya istrinya selingkuh dengan salah satu aktor terkenal di negeri ini." Ucapnya khas emak-emak tukang gossip.
Aku hanya bisa melongo demi mendengarnya, "kenapa baru kasi tau sekarang?"
"Bagaimana caranya mau kasi tau? Tadi juga udah dikode, tapi gk ngerti."
Pantas saja tadi waktu kutanyakan kabar keluarganya, tiba-riba raut wajah pak Rangga sempat berubah sendu. Aku hanya mengangguk-anggukan kepala, kemudian menggeleng lagi. Itu bukan urusanku, ngapain memikirkan rumah tangga orang lain.
Akhirnya, setelah 15 menit pesanan kami datang juga. Sebenarnya aku merasa Sky terus menatapku sejak pak Rangga meninggalkan kami, namun aku abaikan dan sibuk dengan ponselku. Hanya saja, lama kelamaan aku merasa tidak nyaman juga ditatap dengan intens seperti itu.
"Ada apa Sky? Apa ada yang aneh di wajahku? Kenapa liatnya seperti itu?" Tanyaku setelah tidak tahan melihat tatapan horornya.
Sky menggeleng lalu fokus ke makanannya.
"Bodyguard bu Bery posesif banget!" Senyum jahil nampak di wajah bu Kinan. "Bu Bery harus hati-hati dekat ama laki-laki lain sekarang, takutnya dapat bogem mentah dari bodyguard ibu." Ucapnya menambahkan sambil melirik ke arah Sky, namun orang yang sedang dibicarakan pura-pura tidak dengar dan tidak terganggu sama sekali.
Aku hanya tertawa pelan melihat bu Kinan bergantian dengan Sky. Aku memilih tidak menanggapi perkataan bu Kinan. Aku sudah terbiasa melihat sikap posesif Sky kepada Nindi, sebenarnya aku juga merasakan sikap posesif Sky mulai menurun kepadaku, tapi sejauh ini menurutku masih di batas wajar, malah aku menyukainya.
Setelah makan siang, aku menuju ke kasir namun sesampainya di sana kata kasirnya pesanannya semua sudah dibayar oleh yang datang memesan makanan tadi. Aku menatap Sky dengan tatapan bertanya namun dia hanya mengedikkan bahu tidak ingin menjawab.
"Lain kali kalau mau traktir, bilang dong, biar kakak cari tempat makan yang lebih mewah sedikit." Ucapku kepada Sky saat menyeberang jalan ke gedung kantor kami.
Aku yang terlalu asyik menggoda Sky terus berjalan tanpa memperhatikan kiri kanan jalan.
"Bery...!!!" Teriak bu Kinan. Tiba-tiba sebuah motor melaju kencang dari arah kiriku. Aku mati langkah, pasrah!
Tubuhku tersentak seperti ada sesuatu yang menarikku dengan gerakan begitu cepat.
Sejenak aku merasa seperti kehilangan kesadaran, aku shock. Namun seketika kesadaranku kembali setelah merasakan seperti ada benda kokoh yang melingkupi tubuhku dan juga aroma maskulin yang cukup kukenali memenuhi indera penciumanku.
Jantungku berdetak kencang seirama dengan detakan sesuatu yang menempel di salah satu telingaku.
"Apa kamu baik-baik saja?" Suara itu akhirnya mengembalikan kesadaranku secara penuh.
"Sky... maaf!" Aku langsung mendorong dada bidang Sky dan aku pun mundur satu langkah darinya. "Thanks, Sky!" Ucapku lirih masih berusaha menetralkan degupan jantungku.
"It's okay, apa kamu baik-baik saja?" Lagi-lagi Sky menanyakan keadaanku dengan tatapan khawatir.
"Ibu Bery baik-baik saja kan?" Tanya bu Kinan mendekati kami lalu memberi sebuah botol air mineral kepadaku.
Aku mengangguk kemudian meraih air mineral yang disodorkan bu Kinan kemudian meminumnya beberapa teguk.
"Aku baik-baik saja. Aku hanya kaget." Ucapku menatap mereka bergantian.
Sky langsung mengambil satu tanganku ke dalam genggamannya kemudian ia tarik untuk menuntunku menyebrangi jalan. Ia terus menggenggam tanganku masuk ke kantor sampai ke lantai 2 dimana ruanganku berada.
Tidak ada gunanya menolak perlakuan Sky kalau mode wajahnya sudah seperti sekarang ini, aku tahu dia tidak mau dibantah. Dia orangnya pemaksa. Setidaknya seperti itu yang sering dilakukannya kepada Nindi dulu tiap kali Nindi melakukan kesalahan atau Sky menganggapnya ceroboh sehingga kadang-kadang Sky tidak segan membopong Nindi meskipun di depan umum.
Aku merasa perlakuan Sky kepadaku wajar-wajar saja. Mungkin dia sudah menganggapku layaknya kakaknya sendiri meskipun sekalipun ia tidak pernah memanggilku kakak.
Oooo☆~~☆oooO
Jangan lupa berikan like, comment dan vote kalian yah untuk mendukung Novel ini. Klick tombol Favorit agar kalian bisa mendapatkan notifikasi tiap kali ada update terbaru. okay.. Thanks 😍🤗