
Pagi-pagi sekali aku menuju ke apartemen Bery, niat awalnya mau naik taksi, sekalian membawa sarapan buatan umi, biar berangkatnya bareng ke Bandara. Tidak tahunya umi dan abi malah maksa ikut ke apartemen Bery. Aku aslinya kesal banget, katanya karena ini pengalaman pertamaku ke luar negeri, jadi mereka wajib kasi briefing Bery terlebih dahulu biar tidak menyusahkan selama di sana.
"What? Apa mereka fikir aku ini masih anak kecil?"
Tidak kebayang reaksi Bery nanti, pasti dia akan semakin merasa punya legitimasi untuk terus mengataiku bocah kecil.
Bery tampak kaget melihat kedatangan rombongan kami. Ia mempersilahkan umi dan abi masuk kemudian matanya menatapku seolah meminta penjelasan.
"Tadi malam Sky pamit mau ke Maldives bareng kamu." Umi membuka suara setelah duduk manis di sofa diikuti oleh abi yang tersenyum ceria menatap Bery.
"Iya, abi gak nyangka kalian bisa dapat proyek sebesar itu." Sambung abi. Aku memang sudah menjelaskan tujuan perjalanan kami ke sana.
"Iya umi, abi.. maaf belum sempat pamit. Kebetulan kami dapat undangan ke sana untuk melakukan studi lapangan terlebih dahulu. Nanti kami ada 3 orang yang ke sana." Bery cukup tanggap memahami abi dan umi, semenjak tadi malam mereka sudah mewanti-wanti diriku agar perginya tidak hanya berdua saja.
"Berapa lama di sana?" Tanya umi.
"Gak lama kok umi, efektif hanya dua hari. Ini malah lebih banyak waktunya habis di jalan nanti." Jawab Bery mengerucutkan bibirnya.
"Namanya juga dinas kerja, kapan-kapan kan masih bisa ke sana lagi kalo udah nikah nanti. Honeymoon..." Celutuk abi menaik turunkan kedua alisnya yang seketika mataku menangkap umi memberikan cubitan mesra di perutnya.
Abi menatap bingung ke arah umi yang malah dibalas dengan cengiran yang nampak aneh menurutku. Apa yang salah dari pertanyaan abi? Kok umi kelihatan tidak senang.
Bery juga, raut wajahnya tiba-tiba berubah sendu.
"Umi dan abi mau minum apa?" Tanya Bery langsung bangkit menuju dapur. Sepertinya ia sedang mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Gak usah repot-repot, sayang. Umi ada bawa sarapan untuk kamu dan Sky." Jawab umi kemudian bangkit mengekori Bery ke dapur.
Aku dan abi ditinggal duduk di ruang tamu, kalau seperti ini, aku merasa canggung sendiri, mati gaya juga jadinya. Mana masih ada 2 jam lagi baru berangkat ke Bandara.
Umi dan Bery terdengar asyik bersenda gurau di dapur, entah apa yang mereka bicarakan.
"Jangan lupa tundukkan pandangan kalau sudah di sana nanti!" Ini sudah yang ketiga kalinya beliau pesankan hal yang sama. Tadi malam, di mobil dan sekarang.
"Iya." Jawabku singkat, lagian tanpa diingatkan pun aku sudah tahu dan selama ini, bukan hanya menundukkan pandangan yang kulakukan, tapi lebih dari itu, aku menghindari berinteraksi dengan mereka, aku cuekin kalo diajak bicara, pokoknya cowok seperti aku adalah tipe cowok yang paling dibenci oleh cewek-cewek. Kurang menjaga apa lagi coba?
"Abi sebenarnya berharap suatu hari nanti kamu menikah, agar kamu mengerti kenapa laki-laki itu harus menundukkan pandangannya." Ucap abi mengungkapkan harapannya.
"Tidak harus menikah dulu bukan baru tau alasannya?" Tanyaku frontal.
"Kamu betul, betul sekali. Hanya saja ada kalanya kamu bisa khilaf sehingga terpikat dengan apa yang ditangkap oleh pandanganmu di luaran sana. Dan jika kamu sudah punya istri, kamu akan tau kemana harus pulang. Laki-laki itu liar, jadi harus diikat dan pernikahan adalah ikatan yang paling kuat untuk hal satu itu."
Aku hanya diam seperti orang yang kehilangan aksara. Mungkin aku akan memikirkan harapan abi tadi, namun tidak sekarang. Aku masih muda untuk ukuran anak laki-laki, tidak ada sesuatu yang penting mengejarku jadi tidak perlu dikejar-kejar. Lagian menikah itu bukan hanya maslah cukup umur dan cukup modal finansial, ada yang lebih utama dari itu semua, yaitu ilmu.
Bagaimana caranya menikah tanpa ilmu, memangnya menikah itu ajang coba-coba? Gagal, nikah lagi, gagal lagi, lagi-lagi nikah. Aku tidak mau seperti itu. Jika aku memang harus menikah, maka itu hanya untuk sekali selamanya.
"Kalian omongin apa? Kok kayak tegang amat?" Tiba-tiba umi datang mengurai keterdiaman kami. "Sarapan dulu Sky, Bery udah tunggu tuh." Perintah umi kemudian kembali ke dapur. Akupun mengikuti langkah wanita yang paling kusayangi itu.
"Duduk Sky, kok sarapannya malah nungguin sampe ke sini?" Pertanyaan Bery sukses membuat lidahku kelu. Aku juga tidak tahu kenapa pengen sarapan dengannya.
"Banyak banget?" Protesku sambil memindahkannya sebagian ke piring Bery.
"Loh..loh.. kok dipindahin sini sih?" Giliran Bery yang protes tanda keberatan atas apa yang kulakukan. Tak mau kalah, ia lalu mengembalikannya ke piringku, jadi lebih banyak malah.
"Ini terlalu banyak." Sungutku kesal.
"Stop stop stop!" Seketika tanganku hanya melayang tidak menemui tujuan. Umi menjeda. "Kalian apa-apaan sih? Kalian berdua bukan anak kecil lagi? Ini makanan, dimakan!" Ucap umi tegas membuat aku dan Bery langsung menyuap makanan ke dalam mulut tanpa protes.
"Dihabisin makanannya, jangan ada yang sisa!" Ucap umi masih dengan nada kesal.
Aku dan Bery hanya bisa saling diam, sesekali saling memandang dengan tatapan mematikan. Kenapa dia menatapku seperti itu? Harusnya aku yang marah karena dikasi makanan sebanyak ini. Memangnya perutku ini punya 2 lambung seperti kapal apa?
*****
Maldives
Aku datang ke sini bukan dengan tangan kosong apalagi dengan kepala kosong. Beberapa minggu sebelum ke sini, berbagai studi telah kulakukan. Mr.Abdullah sendiri orangnya sangat kooperatif, beliau sangat responsif atas berbagai data penting yang kuminta seperti data kontur, data tinggi gelombang, data arus air, kedalaman dan luas wilayah yang akan menjadi tempat bangunan akan berdiri di sana.
Data-data tersebut akan sangat membantu untuk menentukan jenis-jenis material yang akan digunakan nanti, termasuk bentuk bangunannya sendiri.
Berbagai diskusi panjang dengan prof.Alham, guru besar teknik perkapalan yang saat ini menjadi pembimbing tugas akhirku, diskusi kami lakukan secara intensif. Begitupun dengan prof.Irfan dosen teknik Sipil yang cukup dekat denganku karena beliau juga adalah salah satu klien penting abi.
"Wow...wow..wow.. amazing!" Ucap pak Dirga mengagumi bangunan resort tempat kami menginap yang sejak menginjakkan kakinya di Bandara tiada henti-hentinya berdecak kagum memandangi panorama indah yang dipertontonkan alam di sini.
Pak Dirga adalah salah satu Arsitek senior di kantor dan juga paling disegani setelah Bery. Meskipun usianya sudah menginjak setengah abad, tetapi beliau orangnya sangat humble dan membumi, beliau tentu saja bisa membuat perusahaan Biro Arsitekturnya sendiri jika mau, namun karena beliau orang yang paling malas dengan urusan administrasi dan lain-lainnya, maka beliau memilih membaktikan ilmu, tenaga dan waktunya bersama Bery. Beliau hanya ingin membuat desain yang estetik dan bermutu, itu saja!
"Bagaimana pak Dirga? Masih belum nyesal gak bawa istri ke sini? Itung-itung honeymoon kesekian." Tanya Bery mengejek pak Dirga. Aku dengar Bery memang menawarkan tiket untuk istri pak Dirga namun pak Dirga menolak.
"Kita ke sini buat kerja, bukan honeymoon, nona Bery! Lagian bapak kasihan sama kalian berdua, sama-sama jomblo, nanti gak kuat lihat orang mesra-mesraan." Elak pak Dirga balik mengejek.
"Ah, kami mah santai, pak! Udah biasa kali lihatnya." Balas Bery masih tidak mau kalah.
"Udah biasa, tapi baper juga kan? Ha ha ha!" Tawa pak Dirga meledak diikuti Bery yang juga ikut tertawa sambil geleng-geleng kepala.
"Sky, udah ada pacar belum? Tapi gak usah pacaran deh, dinikahin aja langsung. Pacaran itu gak ada enak-enaknya buat kamu yang sepertinya masih takut dosa. Dikit-dikit khawatirnya jatuh zina. Jadi kalau sudah ada yang pas di hati, langsung aja datangin bapaknya." Ucapnya sambil menepuk-nepuk pundakku.
Kenapa semua orang pada sibuk bahas pernikahan denganku, gak abi, sekarang pak Dirga pun ikut-ikutan bahas urusan nikah.
"Tuh, dengerin pak Dirga tuh, Sky. Datangin bapaknya!" Bery ikut menimpali membuat wajahku terasa memanas. Bukan karena malu, tapi karena menahan emosi. Aku bosan dengan tema satu itu.
"Wah.. Sky malu-malu. Ha ha ha.." kembali pak Dirga terbahak-bahak menertawaiku. Ingin marah, tapi takut sama yang tua. Mengalah saja biar mereka bahagia.
Oooo☆~~☆oooO
Jangan lupa berikan like, comment dan vote kalian yah untuk mendukung Novel ini. Klick tombol Favorit agar kalian bisa mendapatkan notifikasi tiap kali ada update terbaru. okay.. Thanks 😍🤗