
Meeting dengan tim Mr.Abdullah berjalan alot dan panjang, tidak ada waktu untuk bersantai sejenak apalagi sekedar keluar cuci mata.
Kami semua sibuk melakukan berbagai revisi pada gambar desain yang lama. Tidak ada yang saling menyapa, tidak ada yang bersenda gurau seperti biasanya. Kami larut dalam pekerjaan yang memerlukan ketelitian tingkat tinggi tersebut
Kami baru bisa meninggalkan ruangan kantor yang sudah disiapkan Mr.Abdullah untuk kami bekerja setelah jam 11 malam waktu setempat. Rasanya sangat melelahkan.
Setelah kembali ke hotel dan membersihkan diri, kembali kulirik ponselku yang sudah kuabaikan seharian ini. Tak ada pesan dari Bery. Kutelpon namun tidak aktif.
Aku mendesah berat, dalam kondisi seperti ini yang paling kubutuhkan adalah ketenangan yang bersumber dari istriku.
Sedang apa dia di sana?
Apa dia masih di kota B?
Kenapa begitu sulit berkomunikasi begini?
Kembali kubuka galeri ponselku dan mengelus lembut layarnya yang menampakkan foto Bery. Dia sangat cantik saat tersenyum, namun tatapannya begitu mengintimidasi.
Aku selalu dibuat ketar-ketir olehnya. Ah..sungguh aku sangat merindukannya.
"Tidur woi..tidur! Besok kita akan ke pulau A untuk survey, kita akan butuh banyak energi melakukannya." Ucap mas Gio mengingatkan.
Lelaki yang masih betah membujang di usianya yang 32 tahun itu sangat ramah, tak ada sikapnya yang ingin dihormati sebagai senior. Dia mudah membaur dan pembawaannya yang ceria membuat setiap orang akan nyaman berinteraksi dengannya.
"Iya mas, lagi mengambil suplemen dulu baru tidur."
"Yayaya.. tau ah!" Mas Gio langsung menutup tubuhnya dengan selimut di kasur miliknya. "Jangan lupa matikan lampu." Ujarnya lagi.
Aku langsung beranjak ke arah sakelar lampu, mengatur suhu AC dan menyalakan lampu tidur yang cahayanya cukup redup.
Kupejamkan mataku dan mulai masuk ke alam tidur tanpa mimpi.
*****
Hariku rasanya tidak bergairah, sepanjang aku di kota B, aku lebih banyak melamun. Seperti ada yang hilang di hatiku.
Aku tak henti-hentinya melirik ponselku, namun aku tahu dia masih di atas langit saat ini.
Lelah menahan perasaan yang entah itu apa namanya, aku akhirnya menenggelamkan diri dengan pekerjaan.
Apa aku merindukannya?
Ah, itulah masalahnya, senyumnya terus menggantung di pelupuk ingatan.
"Kenapa? Kangen Sky?"
"Bu Kinan tau aja!" Jawabku sedikit kikuk kedapatan melamun namun tidak membantah, malah membenarkan.
"Makanya, kalau cinta ngomong biar rindunya yang sebesar lautan itu bisa berkurang setitik!" Seringainya menggoda.
"Siapa juga yang jatuh cinta sama dia, Sky itu menjengkelkan, super duper menjengkelkan."
"Tapi suka, tapi bikin gelisah.. kalau dengar namanya aja disebut jantungmu sudah melompat-lompat, itu namanya apa kalau bukan cinta? Aku bisa dengar kok detak jantungmu yang setiap detakannya meneriakkan nama, Sky..Sky..Sky di sana." Ucap bu Kinan memgejekku.
"Aku kelihatan banget yah?" Tanyaku polos.
"Fyi yah bu Bery, di kantor itu sudah beredar desas desus kedekatan kamu sama Sky. Sejak awal Sky datang, orang-orang sudah heboh. Bagaimana bisa Sky dengan mudahnya dapat akses tak terbatas berada di dekat kamu?"
"Semua orang tau kalau kamu itu paling susah didekati oleh pria, jarang pasang senyum ramah kepada laki-laki, tapi Sky seperti mendapat pengecualian, seolah-olah kamu itu ikhlas banget senyum kalau sama dia."
Bu Kinan sudah gak ada bahasa formal-formalnya sekarang, berarti dia sedang berbicara sebagai teman saat ini.
"Aku gitu yah?" Aku sendiri baru sadar kalau bukan bu Kinan yang kasi tau.
Bu Kinan hanya mendelik dengan mengangkat kedua bahunya.
Setelah berbasa basi dengan bu Kinan, aku kembali larut dalam pekerjaan. Sudah kebiasaanku, ponselku selalu kusetting dalam mode silent saat bekerja. Begitupun saat tertidur.
Saat mulai menuju tempat peristirahatan, ternyata ada beberapa panggilan telepon dari Sky dan juga beberapa pesan pendek.
Demi apapun, aku benar-benar tidak bisa menahan perasaanku. Ada begitu banyak kupu-kupu yang beterbangan di perutku karena pesan-pesan recehnya itu.
Hatiku menghangat, mataku pun tak kalah hangatnya. Aku kalah, aku sangat merindukannya, dan sepertinya aku memang sudah jatuh cinta kepadanya.
Ketiadaannya belum terhitung sehari semalam namun sudah mampu menjadi sesuatu kehilangan besar di hatiku.
Aku mengusap air mata yang dengan begitu nakalnya lolos begitu saja.
Tanpa berfikir panjang, kutekan tombol hijau di layar ponselku yang tertuliskan namanya di sana, namun sayang tidak diangkat. Mungkin dia sudah tidur, kami punya kebiasaan yang sama, ponsel dalam mode silent setiap kali tidur malam.
Aku harus menekan rasa kecewaku, disaat hatiku begitu menggebu-gebu, justru kondisi kami tidak memungkinkan.
Karena mataku belum bisa diajak berkompromi untuk tidur, aku manfaatkan untuk berselancar di sosial media.
Aku memang memiliki beberapa akun media sosial tapi jarang update.
Teringat Stella, aku kan saling follow di IG. Akhirnya kucoba membuka profilenya. Beberapa moment di hari ini ia bagikan.
Satu unggahan foto cukup menggelitik hatiku, meski wajahnya ditutupi sticker, tapi aku tahu itu adalah Sky.
Sepertinya Stella diam-diam mengambil fotonya, tampak Sky sedang duduk menunduk memainkan ponselnya.
Aku ingin muntah rasanya saat membaca captionnya.
"Membaca surat Yasin tidak akan bisa membuatmu berhenti menghantuiku, hanya akad nikahlah yang bisa😘"
Aku sampai memgurut ruang diantara keningku demi menahan gelombang perasaan tak biasa yang menyerang seketika.
Oh.. ini benar-benar membuat hatiku panas. Mana bisa dia memgharapkan suamiku mengucap ijab kabul untuknya? Mimpi.
Kuhempaskan ponselku di atas kasur, ingin rasanya berteriak tapi khawatir semua tamu hotel mendatangiku, terpaksa kubenamkan wajahku di atas bantal kemudian menggigitnya keras-keras.
Aku kesal dan aku cemburu.. iya aku kini cemburu.
Inikah rasanya cemburu? Rasanya sangat tidak enak, seperti menyiksa batin dan membuat hati panas.
Kalau saja aku tahu bahwa cemburu itu berat, dari awal aku sudah umumkan hubunganku dengan Sky di kantor. Kalau seperti ini, aku sendiri yang kelimpungan.
Aku sudah seperti orang gila, mondar mandir seperti setrikaan di dalam kamar.
Huuuuuu... Sky, kamu harus membayar perasaanku ini setelah kembali.