
💥Ada kabar bahagia nih dari Bery...😘
💦💦💦
Aku berdiri tegang ketika mendapati Rio ada di lobby kantor. Tak ingin berhadapan lagi dengan laki-laki itu, aku hendak berbalik ke arah toilet untuk menghindarinya namun tanganku dicengkeram kuat oleh Sky.
"Temui dia!" Ucap Sky menahanku.
"Tapi..aku.."
"Selesaikan urusan kalian. Aku akan menunggu kamu." Sky kembali meyakinkanku.
"Bery..." Rio langsung berlari kecil datang mendekat kepada kami.
"Aku ingin bicara." Ucapnya menatapku intens.
Kualihkan tatapanku kepada Sky meminta berharap ia tidak mengizinkan namun dia malah menganggukkan kepalanya dengan tatapan teduhnya.
"Baiklah, kita bicara di ruanganku saja." Ucapku kemudian langsung melangkah pergi tanpa menunggu persetujuan dari Rio.
"Silahkan duduk, pak Rio." Ucapku kepada Rio mempersilahkan dirinya duduk di sofa di dalam ruangan kerjaku.
Aku memilih duduk di sofa single dan diikuti Rio yang mengambil posisi duduk berhadapan denganku.
"Apa kabar, Ber." Tanyanya dengan raut wajah yang berbeda 180° dari terakhir bertemu dengannya. Tak ada lagi guratan keangkuhan dan kesombongan di sana.
"Alhamdulillah, baik. Langsung saja. Saya tidak punya banyak waktu jadi silahkan bapak sampaikan apa yang ingin bapak sampaikan." Ucapku memilih menatap ke arah jendela daripada melihat wajahnya.
"Aku ingin meminta maaf!" Ucapnya menatapku dalam.
"Sudah dimaafkan." Ujarku.
"Ber, aku sungguh-sungguh meminta maaf kepadamu." Ucapnya menyugar rambutnya. "Aku ingin kita kembali lagi seperti dulu. Vivian sudah menjelaskan semuanya bukan? Aku sama sekali tidak bermaksud meninggalkan kamu saat itu tapi nama baik dan jabatan ayahku yang dipertaruhkan jika aku tetap tinggal. Keluarga Aldi menekan kami, dan jalan satu-satunya saat itu adalah pergi sejauh mungkin." Ucapnya menjelaskan.
Vivian memang sudah menjelaskan semuanya, mulai kronologis kejadian tersebut hingga alasan yang memicu terjadinya kejadian itu secara rinci dan menyeluruh. Hanya saja, aku sudah mati rasa meski setelah mengetahui kebenarannya.
Tidak seharusnya Rio meninggalkan aku begitu saja apalagi dengan kata-kata menyakitkan darinya saat itu. Aku tentu saja sudah memaafkannya, bukankah aku memang tidak pernah membencinya setelah apa yang dilakukannya. Hanya saja, untuk kembali bersamanya rasanya adalah sebuah kekonyolan yang nyata bagiku. Bagaimana mungkin aku ingin hidup dengan pria pengecut yang tidak mampu memperjuangkanku di saat dunia menolakku?
"Maaf, saya memang sudah memaafkan anda, tapi bukan berarti saya ingin kembali bersama anda. Saya sudah punya kehidupan sendiri begitupun dengan anda." Ucapku menolak secara tegas tawarannya.
Rio menunduk, menggelengkan kepalanya. Entah apa yang difikirkannya. Namun aku merasa bersikap tegas kepadanya adalah sebuah keharusan.
Rio mendesah kasar kemudian menatapku, "fikirkanlah lagi, aku akan kembali lagi ke sini menawarkan hal yang sama."
"Tidak usah repot-repot, pak. Itu hanya akan sia-sia. Bukankah bapak sudah bertunangan? Saya tidak ingin disebut pelakor, jadi saya harap ini adalah pertemuan kita yang terakhir." Ucapku sarkas.
"Wah..wah..wah.. saya sangat terkesan dengan sikap bapak. Tapi maaf, itu tidak akan merubah apapun. Bagaimanapun bapak hanyalah masa lalu yang hitam bagi saya, tidak mungkin saya memungutnya kembali untuk mencerahkan masa depan saya." Aku menjeda sebentar ucapanku, berusaha mengambil nafas panjang hingga memenuhi rongga pernafasan kemudian menghembuskannya pelan.
"Jika tidak ada lagi yang ingin disampaikan, pintu keluarnya masih sama dengan pintu yang tadi bapak lewati." Ucapku mengingatkan.
"Baiklah, saya permisi. See you soon, honey!" Ucapnya kemudian beranjak keluar dari ruanganku.
Aku memijit keningku karena merasa mual mendengar panggilannya itu kepadaku. Panggilan yang dulu sempat membuatku selalu melayang dan merasa begitu disayangi olehnya. Aku merasa jijik sendiri kenapa dulu aku bisa terpesona dengan laki-laki sepertinya.
Teringat penjelasan Vivian tempo hari, kembali air mataku menggenang.
#FlashbackOn
"Kalian dijebak saat itu. Aku terpaksa terlibat karena aku diancam Aldi. Ia akan memperkosaku jika aku tidak mau membantunya menghancurkan Rio. Aldi dendam kepada Rio karena telah merusak kehidupan adiknya yang juga sekolah di Ibukota bersama Rio kala itu. Sementara Rio tidak mau bertanggung jawab. Akhirnya Aldi menyusun rencana tersebut dan melibatkan aku di dalamnya."
Air mata Vivian mengalir di kedua sudut matanya. Aku hanya memilih diam merncerna kata-kata yang telah diucapkannya. Jadi otak dari kejadian tersebut adalah Aldi, aku hanya tidak habis fikir mengapa ia tega melakukannya. Padahal aku merasa tidak pernah mengganggu kehidupannya.
"Tapi kamu harus tau satu hal, tidak ada yang terjadi antara kamu dan Rio saat itu. Aku sendiri yang membuka pakaianmu dan Aldi yang membuka pakaian Rio. Kalian berdua sudah terlalu mabuk saat itu, aku rasa malah kamu sudah pingsan." Imbuhnya.
"Alhamdulillah...Allaahu Akbar." Seketika pujian-pujian tersebut bergema di dalam hati dan kepalaku. Kupejamkan mataku dan berusaha mengatur nafas dengan tenang. Ingin rasanya bersujud menciumi bumi demi meluapkan rasa syukurku saat ini. Rasanya lega, terharu, bahagia, sedih, senang dan berbagai perasaan bercampur aduk lainnya.
"Rio bukannya tidak ingin bertanggung jawab sama kamu saat itu, tapi ia diancam oleh ayahnya. Rio tidak bisa menolak keinginan ayahnya makanya dia memilih pergi meninggalkan kamu. Posisi jabatan ayahnya terancam saat itu karena keluarga Aldi mengancam akan membuka ke publik perihal hubungan Rio denga adik Aldi yang pernah hamil namun Rio dan adik Aldi menggugurkannya."
"Sekali lagi aku minta maaf yah, Ber. Maaf banget! Sudah lama aku mencari kabarmu, tapi kamu seperti menghilang ditelan bumi. Aku menyesal, aku selalu dihantui rasa bersalah terhadap kamu dan Rio. Hidupku tidak tenang sejak kejadian itu."
"Sejak kepulangan Rio dari Aussie, tidak lama kemudian ia terpilih menjadi Bupati di daerah kita, kami beberapa kali bertemu dan aku juga sudah meminta maaf kepadanya. Dia juga sangat menyesal dan sangat ingin bertemu dengan kamu." Imbuhnya lagi.
Air mataku terus menetes, ada sesak yang menghimpit. Meski aku bahagia mengetahui kenyataannya, namun tetap saja ada perasaan sesak yang tidak bisa kuhapus begitu saja.
"Kamu tau, Vi. 10 tahun aku hidup dengan perasaan bersalah dan gelisah. Aku terus menghukum diriku dengan menutup pintu di hatiku untuk kembali menjalin hubungan dengan pria manapun. Aku selalu menatap pria manapun yang mendekatiku sebagai pria brengsek semuanya. Tidak hanya itu, orang tuaku membuangku dan tidak dipedulikan sama sekali. Bahkan, sudah 2 minggu lebih menikah, aku masih takut dan merasa jijik kepada diriku sendiri karena merasa tidak layak menjadi istrinya. Perasaan dihantui sebagai barang bekas membuatku takut melakukan kewajibanku sebagai istri." Aku menarik nafas kasar, memukul-mukul dadaku yang seketika kembali sesak mengingat semua ketakutan yang memenjarakan hatiku selama ini.
"Entahlah.. aku tidak tau, apa aku sekarang harus bersyukur atau marah. Namun setidaknya sekarang aku tau kalau aku masih suci, selama ini yang menjadi ketakutanku adalah masalah kesucianku, aku takut suamiku mempertanyakannya, aku takut suamiku merasa jijik setiap kali ingin menyentuhku, karena aku sendiri merasa jijik dengan diriku."
"Sorry... sekali lagi aku minta maaf atas penderitaan yang kamu lalui selama ini, aku menjadi saksi bahwa Rio sama sekali tidak menyentuhmu saat itu, Ber. Demi Allah, aku ada di sana sampai akhirnya kita digrebek warga."
Vivian kemudian mendekat dan membawaku ke dalam pelukannya. Aku menangis sesegukan, tidak peduli air mata dan air di hindungku membasahi lengan baju Vivian.
#FlashbackOff
Oooo☆~~☆oooO
Jangan lupa berikan like, comment dan vote kalian yah untuk mendukung Novel ini. Klick tombol Favorit agar kalian bisa mendapatkan notifikasi tiap kali ada update terbaru. okay.. Thanks 😍🤗