HAPPIER

HAPPIER
BAB 6



"So?" Tanya Nindi menatap Bery. Nindi penasaran apa yang akan dilakukan Bery setelah pertemuannya dengan orang tuanya.


"So?" Bery mengangkat kedua bahunya. "Entahlah... aku bingung dan aku belum tau mau gimana." Lanjutnya putus asa.


"Kok bingung? Tinggal nikah doang, ya udah.. nikah!"


"Memangnya nikah itu kek pungut kerikil di pinggir jalan, selesai.. gitu?"


"Yang ngomong seperti itu kamu loh yah, bukan aku." Ucap Nindi membela diri.


"Lama-lama kamu kok ngeselin juga yah, Nin!" Bery cemberut, kali ini ia malah merasa tambah frustasi.


"Syarat untuk mendapatkan maaf dari kedua orang tua kamu kan nikah, ya udah, kamu tinggal nikah aja. Masalah selesai!"


"Gak semudah itu Nindi sayang! Kamu kan tau sendiri aku orangnya gimana, aku.. arrrggghhh! Please, Nin.. kali ini, tolonglah, fahami aku sekali ini lagi saja!"


"Ber, aku faham, aku ngerti dan aku tau banget kamu orangnya gimana. Tapi, untuk kali ini, aku sependapat dengan ayah kamu. Kamu butuh menikah. Ini adalah waktu terbaik untuk kamu move on. Lepaskan masa lalu kamu dan sambut masa depan kamu. Obat dari semua luka di masa lalu kamu adalah me ni kah!!!"


"Trus nikah sama siapa? Laki-laki mana yang mau menerima perempuan seperti aku, Nin? Perempuan yang tidak suci lagi, perempuan yang gagal menjaga kehormatan diri dan keluarganya. Aku perempuan kotor, Nin..." Bery hanya bisa mendekap erat bantal sofa yang sedari tadi dipegangnya.


Terlalu banyak ketakutan yang menghantuinya setiap kali ingin membuka diri dan memulai hubungan baru dengan laki-laki yang datang memberinya harapan.


"Ber... aku tidak membenarkan tindakanmu di masa lalu, itu salah, jelas salah, tapi itu sudah berlalu dan kamu tidak bisa mengubahnya. Sekarang kamu sudah berubah bukan? Kamu bahkan tidak pernah lagi mengulanginya, kamu berhak untuk mendapatkan hal-hal baik setelah semua yang kamu lalui, Ber. Lagian tidak semua laki-laki memandang perempuan karena suci atau tidaknya."


"Di mulut bilang tidak tapi dalamnya hati siapa yang tau, Nin?" Sarkas Bery menimpali.


"Kalau kesucian memang selalu menjadi alasan utama, lalu kenapa banyak laki-laki bujang yang menikahi janda?" Cecar Nindi.


"Janda tidak suci lagi karena kesuciannya diambil oleh suaminya, Nin.. berbeda dengan kondisiku, aku tidak suci lagi karena kesalahan. Beda banget, Nin. Beda!!!"


Bery tidak habis fikir dengan orang-orang yang menganggap bahwa kesucian dan keperawanan itu tidak penting di dalam pernikahan karena yang terpenting adalah karakternya dan sifatnya. Mungkin tidak akan menjadi masalah jika laki-laki yang menjadi suaminya kelak adalah orang-orang yang punya pemikiran yang sama, bagaimana kalau tidak? Tidak mungkin bukan setiap laki-laki yang mendekatinya harus diobservasi tentang pandangannya mengenai hal tersebut. Lagian yang namanya jodoh, kadang-kadang ia tidak peduli apakah kita satu prinsip atau tidak. Karena pada akhirnya menikah itu adalah tentang penyesuaian diri, memaklumi, menerima, dan berkompromi dengan banyak hal.


"Oke, ngerti.. aku ngerti banget, Ber.. tapi bukankah semua orang yang pernah melakukan kesalahan berhak mendapatkan kesempatan kedua? Poin penting di sini adalah kamu sudah berubah menjadi lebih baik dan tidak pernah mengulangi lagi kesalahan tersebut. Berbeda jika ternyata kamu tidak menyesal malah semakin menantang dan bangga dengan dosa-dosamu. Itu beda lagi. Tapi lihatlah dirimu yang sekarang.. kamu layak bahagia, kamu layak mendapatkan suami yang mencintai dan kamu cintai. Berhentilah menghakimi diri sendiri, hidup ini dinamis, banyak hal-hal yang bisa terjadi diluar prediksi kita. Kita ini manusia, bukan malaikat yang tidak punya peluang untuk berbuat salah. Manusia penuh dengan keterbatasan, Ber. Bagaimana bisa kamu menuntut kesempurnaan pada diri sendiri? Sedangkan kamu adalah manusia biasa yang juga tak luput dari kesalahan. Justru adanya kesalahan inilah yang membuatmu berkembang menjadi pribadi yang lebih baik."


Terkadang muncul keinginan untuk egois, untuk apa memikirkan perasaan laki-laki yang menjadi suaminya kelak, toh belum tentu laki-laki itu juga suci. Tetapi ketakutannya lebih sering memenangkan perangnya dengan pemikirannya. Bagaimana jika suaminya tidak bisa menerima dirinya yang telah ternodai itu dan melampiaskan kemarahannya kepadanya? Lalu rumah tangga macam apa yang akan mereka jalani dengan suami yang dipenuhi rasa kecewa? Dengan begitu, tak akan ada kedamaian, ketenangan dan kebahagiaan yang didapatkannya. Itu malah akan menambah luka baru dan juga masalah baru. Jika demikian, sendiri adalah jalan yang paling bijak yang bisa ditempuhnya. Sayangnya, saat ini ia harus diperhadapkan di persimpangan yang membuatnya kembali kehilangan arah.


"Akan aku fikirkan, thanks!" Ucap Bery kemudian setelah beberapa saat terdiam merenungi semuanya.


"Harus, kamu harus memikirkannya. Satu langkah lagi perjuanganmu menemukan hasil yang kamu inginkan. Jangan mengacaukannya. Kamu hanya perlu berani mengambil keputusan dan berani menghadapi masa depan yang bisa kamu usahakan menjadi hidup yang lebih bahagia. Aku akan membantumu, aku akan selalu di sisimu dan mendukung semua keputusanmu. Okay!"


"Okay, sini peluk dulu, aku udah cukup dengan nasehatmu, kurang pelukan aja." Ucap Bery tersenyum sambil menyeka air matanya.


Nindi segera mendekat dan memeluk Bery. Seperti yang sudah-sudah, setiap kali Bery merasa rapuh hanya kepada Nindi dan bunda Aida ia menyandarkan kepalanya. Bery juga sangat menyanyangi mereka, andai mereka meminta nyawanya, tanpa berfikir panjang akan Bery beri, sudah terlalu banyak kebaikan yang Bery peroleh dari mereka. Ucapan terima kasih tidak akan pernah cukup untuk membalas atas semua kesuksesan yang didapatkannya saat ini.


Karenanya, meskipun Bery sudah mempunyai perusahaan Biro Arsitektur miliknya sendiri, ia tetap berusaha membantu abi Hasan menjalankan perusahaannya, bahkan tidak jarang Bery akan menggandeng perusahaan abi Hasan tiap kali ada klien yang memasrahkan penunjukkan kontraktor yang akan mengerjakan proyek pembangunan bangunan yang dipesan oleh kliennya kepadanya. Sebenarnya ini bukan masalah balas budi apalagi nepotisme, Bery hanya merasa sudah cocok dan lebih mudah menjalin komunikasi dengan orang-orang yang bekerja di perusahaan abi Hasan. Bery bisa memastikan kualitas dan mutu kerja sesuai dengan harapannya karena dia juga sudah lama menjadi bagian dari perusahaan kontraktor abi Hasan tersebut.


Menjadi seorang Arsitek bukan hanya tentang membuat gambar rancangan saja, tapi tugas dan tanggung jawabnya tidak berhenti di situ saja. Arsitek adalah profesi yang memiliki sejumlah peran, yang pertama yaitu menjadi jembatan antara klien dengan kontraktor. Dalam praktiknya, meski yang mengerjakan proyek adalah kontraktor, tapi komunikasi akan lebih sering terjadi dengan arsitek. Sebab, dia yang akan menerjemahkan keinginan klien kepada kontraktor dengan bahasa yang lebih dapat dipahami. Dalam hal teknis, hal tersebut penting dan hanya dapat dilakukan oleh orang yang berpengetahuan luas di bidangnya. Sebagus apapun imajinasi klien akan rancang-bangun, penjelasannya akan lebih mudah dilakukan lewat gambar. Dan itulah yang dilakukan arsitek: ia membawa segala hal di ranah imajinasi klien ke atas sketsa. Jika sudah begitu, barulah kemudian kontraktor akan lebih mudah mengeksekusinya.


"Jadi bagaimana? Apa kamu sudah kefikiran siapa calon suami paling potensial buat kamu?" Tanya Nindi memecah kesunyian.


"Oh no.. jangan dulu.. mikiran antara nikah atau tidak saja aku belum putuskan loh, apalagi mau mikirin tentang siapa calon potensialnya."


"Ckckck.." Nindi berdecak kasar, "masa gak ada sama sekali yang kepikiran gitu, atau mungkin sudah ada wajah yang menari-nari di pelupuk mata kamu semenjak kamu disuruh nikah. Kan banyak tuh yang antri suaka cinta kamu."


Bery menggeleng, "gak ada, dan gak kepikiran sama sekali. Sudahlah.. gak usah pikiran itu dulu, kalau kamu gak mau berhenti bahas ini, aku akan lamar adik kesayangan kamu itu biar kamu makin tidak bisa hidup tenang memikirkannya. Hahaha.." Bery terkekeh demi mendengar ucapan gilanya itu.


"Udah puas ketawanya? Jodoh beneran baru tau rasa, aku gak kebayang bagaimana nasib istri Sky nanti, berasa hidup sama tembok seumur hidup, gak ada obrolan gak ada ekspresi. Hahaha." Sekarang balik Nindi yang tertawa keras dengan memegang perutnya yang mulai terasa keram.


Bery hanya bisa menatap horor ke arah Nindi. Benar yang dikatakan Nindi, kasihan istri Sky nanti, ngomong sm Sky lebih enak ngomong sama tembok. Itu mengerikan. Bery merinding sendiri membayangkannya.


Oooo☆~~☆oooO


Jangan lupa berikan like, comment dan vote kalian yah untuk mendukung Novel ini. Klick tombol Favorit agar kalian bisa mendapatkan notifikasi tiap kali ada update terbaru. okay.. Thanks 😍🤗