HAPPIER

HAPPIER
BAB 18



Sky..


Maladewa merupakan negara kepulauan, disebut ada sekitar 1.190 pulau di negara yang merdeka pada 1965 ini. Di antara ribuan pulau itu ada 200 pulau berpenghuni, dan 80 pulau yang dihuni oleh resort buat wisatawan.


Salah satu pulau dari ribuan pulau tersebut akan menjadi tempat tujuan wisata baru setelah satu proyek yang akan kami kerjakan ini nantinya selesai.


Bangunan Hotel tersebut akan berdiri dengan 20 meter tingginya di bawah laut dan 30 meter di atas permukaan air laut.



Setelah melakukan studi yang mendalam, rancangan bentuk bangunan bawah permukaan air akan menyerupai bentuk kapal. Ini untuk menahan semua kekuatan yang dapat menghantam struktur, maka bangunan yang dibuat melengkung dengan ketebalan beton di atas setengah meter.


Struktur bagian bawah akan terbuat dari beton bertulang dan juga akan memakai tambahan bahan dari titanium untuk menahan tekanan di bawah air.


Masalah utamanya adalah tekanan air, karena bangunan akan berada di kedalaman 20 meter di bawah permukaan. Tetapi tantangan terbesarnya juga adalah gelombang.


Nantinya, kaca yang digunakan untuk jendela adalah kaca akrilik yang memiliki ketebalan di atas 30 sentimeter.


Ini baru perkiraan, hitung-hitung kasar, aku sendiri belum membuat simulasi kekuatan strukturnya ketika mendapatkan beban maksimal nantinya.



Sementara di bagian atas yang menyembul di atas permukaan air, bangunannya akan menyerupai teratai mekar. Seperti cahaya matahari di langit yang biru dan hembusan angin di musim gugur yang akan menginspirasi pikiran, kehangatan hati, rasa, dan ketenangan bagi siapa saja yang memandang.


Bangunan Hotel akan terbagi menjadi 10 lantai, 5 dibawah dan 5 di atas permukaan air laut. Masing-masing lantai yang ada di bawah air akan menyajikan pemandangan bawah laut kepada pengunjung melalui jendela kaca raksasa. Lantai pertama, kedua dan ketiga akan digunakan untuk berbagai fasilitas hotel, seperti restoran, spa, teater, ballroom, fasilitas olahraga, kolam renang, dll. Sementara lantai sisanya akan digunakan untuk kamar-kamar para tamu yang berkunjung.


Karena separuh bangunan terendam di dalam air maka pengunjung nantinya dapat masuk ke hotel melalui jalan kaca yang menjembatani pintu masuk dengan pantai.


Setidaknya, konsep inilah yang kami paparkan dalam meeting kali ini kepada pihak klien. Ini masih konsep mentah, masih akan banyak perubahan dan pengembangan konsep berikutnya setelah mengkaji lebih dalam aspek-aspek lingkungan di perairan tersebut dan tentu saja menggabungkannya dengan imaginasi pihak klien sendiri.


Alhamdulillah, pihak klien sangat terkesan dengan konsep tersebut. Bery dan pak Dirga lebih lagi.


"Tidak usah melotot sampai lupa berkedip gitu, Ber!" Tegur pak Dirga kepada Bery yang semenjak tadi menatapku. "Nanti jatuh cinta, hati-hati. Cinta datang dari mata turun ke hati." Lanjutnya menggoda Bery yang membuat wajahnya memerah seperti tomat masak yang gagal panen.


"Pak Dirga, ada-ada saja." Balas Bery mencebik kemudian berjalan meninggalkan kami.


"Bosmu merajuk, Sky. Kejar sono!" Perintah pak Dirga kepadaku yang hanya kutanggapi dengan gelengan kepala dan senyum meringis.


Aku memandangi punggung Bery yang semakin menjauh dari pandangan. Sepertinya dia benar-benar merajuk. Aku dan pak Dirga melanjutkan obrolan tentang hasil meeting tadi. Aku tidak terlalu pusing memikirkan keberadaan Bery saat ini, toh.. ini di pulau, mau kabur kemana juga, ujung pukul ujung adalah lautan luas.


*****


Pak Dirga memang kadang-kadang keterlaluan kalau sudah menggodaku. Aku dan beliau memang cukup dekat begitupun dengan anak dan istrinya. Mungkin karena beliau sangat kebapakan dan mengayomi. Hanya saja punya kebiasaan usil. Bukan hanya dengan Sky, beberapa anak-anak di kantor pun kadang dijadikan objek untuk menggodaku. Bahkan dengan klien yang kebetulan masih single pun pernah juga digodain seperti ini.


Biasanya aku biasa saja, malah kadang ikut menambah-nambahi riuhnya suasana. Tapi entah kenapa kali ini aku merasa terganggu. Kesal aja rasanya.


Kuputuskan kembali ke resort tempat kami menginap. Aku pakai kamar sendiri, berbeda dengan pak Dirga dan Sky, mereka tidur di dalam satu kamar.


Suasana tenang dengan air laut biru yang begitu bening amat sangat memanjakan mata yang memandang. Sebentar lagi masuk maghrib, aku ingin menikmati senja di balkon kamarku yang kebetulan menghadap ke arah tenggelamnya matahari.


Rencananya malam ini aku akan makan malam di dalam kamar saja. Capek banget setelah seharian mengunjungi lokasi tempat proyek pembangunan hotel yang nanti akan dibangun. Kami ke sana juga menggunakan Yatch, perjalanannya memang menyenangkan, tapi mungkin karena udara panas menyengat membuatku merasa sangat kelelahan.


Aku baru mau menjatuhkan tubuh ke atas tempat tidur di atas kasur tiba-tiba pintu kamarku diketuk dari luar.


"Tok..tok..tok! Bery.. kamu ada di dalam gak? Tok..tok..tok.. Ber!" Spertinya itu suara Sky.


Kusambar cepat cardigan berwarna hitam dan juga jilbab instan rumahan yang tergantung di lemari kemudian setelah mengenakannya barulah kubuka pintuku.


Untungnya Sky cukup faham bagaimana kondisi perempuan yang memang butuh waktu untuk memakai pakaian panjang dan jilbabnya ketika tiba-tiba ada yang ketuk pintu. Tentu saja dia faham, sudah menjadi pemandangan yang lucu ketika umi dibuat kesal pagi-pagi oleh tukang sayur yang lewat membunyikan klakson di depan rumah, umi belum selesai nyari jilbab eh tukang sayurnya udah kabur duluan karena tidak keburu nemu jilbab di kamar. Makanya, umi suka menyimpan satu jilbab instannya di dapur, biar katanya tidak perlu buru-buru ke kamar cari jilbab ketika ada yang datang ketuk pintu.


"Iya, Sky... ada apa?" Tanyaku dengan menyembulkan sebagian kepalaku keluar pintu.


"Ayo makan malam." Ajaknya.


"Aku udah makan." Jawabku malas.


"Kamu ngambek? Soal yang tadi?" Tanyanya sedikit panik.


Aku yang awalnya merasa suntuk banget malam ini tiba-tiba menemukan sesuatu setelah melihat wajah paniknya.


"Iya, aku marah. Kalian kurang kerjaan banget tau?" Ucapku pura-pura kesal.


"Aku gak terlibat loh, marahnya sama pak Dirga sana." Keluhnya dengan sedikit kesal.


"Iya, tapi kamu diam-diam aja tadi waktu aku digodain pak Dirga."


"Kan hanya bercanda!" Jawabnya.


Aku sudah hampir tidak bisa menahan tawa, tapi masih berusaha menahannya. Tampangnya lucu banget. Kok aku merasa Sky sedang membujukku setelah merajuk. Gaje banget!


"Ya sudah, aku mau tidur!" Ucapku hendak menutup pintu namun ditahan Sky.


"Beneran udah makan?" Tanyanya lagi.


"Udah Sky, udah yah..aku bener-bener capek banget, pengen cepat-cepat tidur." Jawabku langsung menutup pintu.


Ah, baru ingat, besok aku mau lihat matahari terbit di dermaga yang letaknya sekitar 1 km dari sini. Rencananya mau ajak Sky biar ada yang jadi fotografer.


Aku berbalik dan buru-buru membuka pintu.


"Ska..." suaraku tertelan diujung karena ternyata Sky masih berdiri di depan pintu. "Kenapa masih di sini?" Tanyaku kemudian setelah menormalkan ekspresi terkejutku.


Sky hanya menatapku datar, "kenapa panggil aku?" Tanyanya mengabaikan pertanyaanku.


Rupanya dia sadar kalau tadi aku hendak memanggilnya.


"Besok pagi aku mau ke dermaga, temani yah. Gak enak jalan sendiri." Ucapku memohon.


"Aku jemput sebelum sholat subuh, nanti sholatnya di Mesjid dekat dermaga." Ucapnya kemudian setelah terdiam beberapa saat.


"Oke, jangan telat."


Sky pun akhirnya meninggalkan kamarku yang sepertinya ia sedang ingin mencari makan malam di luar.


Besok kami akan bertolak kembali ke Indonesia dengan penerbangan terakhir. Jadi tidak ada kesempatan untuk menjelajahi pulau-pulau lainnya yang ada di sini. Tapi tidak apa-apa. Toh saat proyeknya nanti sudah mulai di bangun, mungkin aku akan sering-sering ke sini.


Oooo☆~~☆oooO