
Aku diculik Nindi ke kamar pribadinya setelah kami makan malam bersama. Kali ini aku tidak bisa menghindar dari segala rasa penasarannya.
"Bagaimana kalian bisa...? Maksud aku, kalian belum sebulan nikah, kamu dan Sky sama-sama punya ketakutan terhadap lawan jenis.. aku..aku masih gak habis fikir, kalian bisa secepat itu saling menerima dan beradaptasi satu sama lain. Apalagi sampe benar-benar menjadi suami istri seutuhnya. Dan--"
"Dan???" Ucapku mengangkat dagu menunggunya menyelesaikan kata-katanya.
"Dan aku gak nyangka kalau Sky bisa dengan mudah menaklukkan kamu. Maksudnya, dapat keberanian dari mana dia menyentuh kamu? Anak itu, dia akan keringat dingin saat disentuh perempuan, sampai gemetaran malah." Ucap Nindi masih merasa takjub dengan Sky.
"Aku fikir mungkin kalian akan butuh waktu bertahun-tahun buat beradaptasi, ternyata... aku curiga, kamunya yang mancing-mancing duluan, atau kamu yang perkosa Sky?"
Plak...
Bery menepuk lengan Nindi sekuat tenaga.
"Enak saja nuduh-nuduh aku perkosa adeknya. Kamu gak tau aja seberapa mesumnya adik kamu itu. Ingat yah, dia itu nyulik aku ke rumahnya, terus dia menggodaku, dan akhirnya aku tergoda. Aku mana tahan lihat brondong se-seksi dan setampan Sky?" Ucap Bery dengan nada sensual sambil mengerlingkan satu matanya pada Nindi.
Nindi memutar bola matanya jengah..
"Lah, dulu yang pernah ngomong mau lamar Sky siapa kalau bukan kamu?" Nindi mencoba mengingatkan.
"Jadi bisa ditarik benang merahnya sekarang, karena kamu yang ngebet pengen nikah sama Sky, jadi sudah bisa dipastikan kamulah yang perkosa Sky. Ha..ha..ha.."
Tawa Nindi pecah hingga harus memegang perutnya melihat wajah cemberut Bery.
"Serah deh..." Bery sudah malas menanggapi lalu berdiri berniat segera pulang.
"Hei.. mau kemana?"
"Pulang!"
"No, aku belum selesai. Duduk lagi, udah jangan ngambek. Cantiknya nambah soalnya."
"Gak adik gak kakak, sama-sama tukang gombal."
"Itu sudah turunan, Ber! Udah.. aku serius sekarang, ceritakan sama aku apa yang sebenarnya terjadi karena kamu gak mungkin bukan bisa kembali perawan lagi?" Tanya Nindi tanpa filter mulut.
Dan kembali Bery harus mengulang cerita yang sama yang sudah ia ceritakan ke Sky sebelumnya.
"Gimana rasanya, Ber? Aku saja masih merinding dan tidak bisa menahan haru di dadaku saat ini. Peluk aku, Ber. Berikan aku pelukan." Ucap Nindi memutar bola matanya yang sebentar lagi menitikkan air mata.
Pada akhirnya, tangis mereka berdua pecah juga.
"Allah maha baik, Nin! Aku yang dulu mengabaikan bahkan cenderung menantang-Nya justru menjagaku dengan sebaik-baik penjagaan. Kadang aku berusaha mengingat-ingat, kebaikan apa yang telah aku lakukan atau orang tuaku lakukan sehingga aku mendapatkan kemuliaan sebagai perempuan yang masih suci untuk suamiku."
"Kamu orang baik Nin, kedua orang tuamu juga. Orang baik bukan berarti mereka tidak pernah salah, sama seperti dirimu, kesalahanmu adalah memilih Rio sebagai teman dekat kamu. Tapi sudahlah, memang jalannya sudah seperti ini, Allah benar-benar sayang sama kamu, Ber. Alhamdulillah.." mata Nindi ikut memerah namun tetap berusaha tersenyum.
Besrsyukur sekali, rasanya tidak ada lagi alasan untuk Bery tidak berbahagia. Ketakutan yang selama ini memenjarakan jiwanya hanyalah sebuah rekayasa dan berhasil mengantarkannya menjadi perempuan sukses, tangguh, mandiri dan berkarakter.
"Alhamdulillah.. ada banyak hikmah dari kejadian tersebut, kita tidak akan sedekat ini kalau bukan karena itu." Ucap Bery tersenyum tulus.
"Iya.. ugggghhhhh... bahagianya." Kembali Nindi dan Bery saling berpelukan.
"Jadi bagaimana hubungan kalian?" Tanya Nindi akhirnya setelah beberapa waktu hening di antara mereka.
"Dijalani aja, Nin. Aku belum bisa ngomong banyak perihal cinta atau apapun yang berhubungan dengan cinta-cinta itu. Aku hanya berusaha percaya kepada Sky bahwa dia tidak akan pernah meninggalkan aku dalam kondisi apapun."
"Iya, pelan-pelan saja. Nikmatin aja dulu masa-masa Sky ngejar-ngejar kamu, kan lagi lucu-lucunya tuh."
"Sky asyik gak orangnya? Gak kayak tembok beneran kan?"
"Itu adik kamu loh, Nin... masak gak tau sifatnya?"
"Aku memang lahir dari rahim yang sama dengan Sky, tumbuh dan besar di bawah atap yang sama, tapi bukan berarti aku paling kenal sama dia, Ber. Aku hanya mengenalnya sebatas aku sebagai kakaknya, dan diapun memperlakukan aku hanya sebatas kakaknya, bukan istri. Sementara kamu, meskipun baru kemarin kalian menikah, tapi kamu mengenalnya sebagai istrinya. Bukankah hubungan antara suami dan istri itu tak berjarak, tak bersekat dan tak berpenghalang. Bukan hanya masalah rahasia yang mungkin belum kalian bagi bersama, tapi ada beberapa hal yang hanya dengan pasanganmu kamu merasa nyaman membaginya atau menunjukkannya."
Bery terdiam sejenak, mengingat-ingat beberapa hari terakhir yang mereka habiskan bersama.
"Kamu tau, Nin. Menikah sama Sky itu adalah perwajahan dari defenisi menikahlah dengan pasangan yang enak diajak ngobrol dan open minded. Bersamanya aku seperti tidak akan pernah kekurangan perhatian, bagaimana setiap aku berbicara kepadanya, dia akan memusatkan perhatiannya kepadaku, dia akan terus menatap ke mataku dan menyimak penuh hikmad. Bersamanya aku merasa ingin menua dengannya karena yang kubutuhkan saat tua nanti adalah teman ngobrol."
Bibir Bery membentuk garis melengkung ke atas, matanya menerawang seolah sedang membayangkan ada Sky di depannya. Ia kemudian menoleh kepada Nindi.
"Aku melihat Sky dalam versi berbeda dari yang selama ini aku lihat, Nin. Dia bukanlah pria kaku dan dingin, dia adalah pria yang hangat dan menyenangkan, tapi pemaksa." Ucap Bery mengerucutkan bibirnya setelah menyelesaikan kata terakhirnya.
"Tapi kamu suka!" Tembak Nindi.
Bery mengangguk, "sayangnya kamu benar, Nin. Bahkan aku bisa begitu penurut dengannya." Ucap Bery cemberut.
"Hahaha.. aku tidak sabar melihat kamu seperti anak itik mengekor sama induknya."
"Aowww... sakit, Ber!" Keluh Nindi yang mendapatkan cubitan di perutnya.
"Gak bakal...!" Ucap Bery jumawa..
"Udah selesai?" Tiba-tiba Sky datang menghampiri mereka dan langsung mencuri kecupan di pipi Bery.
Bery membulatkan matanya merasa shock Sky mencium pipinya di depan Nindi.
"Main nyosor-nyosor aja, Sky. Cari kamar lain kalau kamu sudah gak tahan." Ucap Nindi.
Sky mengabaikan Nindi, dia menarik tangan Bery agar segera berdiri.
"Kami pulang yah kak, assalamu'alaikum." Sky pamit begitu saja kemudian menarik tangan Bery keluar dari kamar tersebut.
Nindi mengikuti langkah mereka sementara Bery hanya bisa menoleh dengan tatapan pasrahnya seolah mengatakan kepada Nindi,
"Lihatlah kelakuan adikmu, pemaksa banget bukan?"
"Hati-hati, jangan ngebut di jalan!" Ujar Nindi sedikit berteriak saat mobil Sky meninggalkan halaman rumah mereka.
"Ternyata Sky bisa jatuh cinta juga." Fachri datang merangkul pundak istrinya dari belakang.
"Untuk sekali selama kenal dia, baru kali ini mas menang catur lawan dia saking gak fokusnya karena gelisah menunggu kalian selesai." Imbuh Fachri yang mengambil perhatian Nindi sehingga memutar badan menghadapnya.
"Menurut mas, apa pernikahan mereka akan baik-baik saja dan panjang?"
"Kenapa tanyanya seperti itu?"
"Aku terkadang masih khawatir, khawatir Sky terlalu bersemangat jatuh cinta sementara Bery tidak bisa mengimbangi perasaannya. Aku takut Sky terlalu berharap lebih. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana Sky hidup jika Bery memilih meninggalkannya." Ada raut kecemasan yang tidak bisa disembunyikan Nindi saat ini.
Nindi sadar satu hal, Bery belum membuka hatinya sama sekali meski dia berkata akan menjalani pernikahan ini dengan sebaik-baiknya namun masih ada hal yang tampak mengganjal perasaannya.
"Kita doakan saja, mungkin kamu harus rajin-rajin mengingatkan Sky agar bisa mengontrol emosinya. Itu tidak akan baik dalam hubungan mereka jika ia sulit mengendalikan emosinya. Bery adalah perempuan bebas dan mandiri selama ini, jangan sampai ia merasa terpenjara dan mulai berfikir untuk keluar dari penjara yang diciptakan Sky untuknya." Fachri masih ingat bagaimana dirinya beberapa kali mendapat ancaman secara verbal dan nonverbal dari Sky agar tidak mendekati Nindi dan bukan hanya Fachri, tapi semua laki-laki yang mencoba mendekati Nindi saat itu.
Fachri dan Nindi tidak ingin Sky menyakiti setiap laki-laki yang hingga saat ini mendekati Bery. Itu bisa berakibat fatal jika sampai itu terjadi.