HAPPIER

HAPPIER
BAB 25



Aku bingung bagaimana menyikapi dan menghadapi Sky setelah ia menyatakan kesediaannya menikahiku di depan ayah dan ibu tadi. Ingin memintanya menolak, tapi ayah dan ibu sepertinya langsung klick dengan Sky. Andai itu orang lain, entahlah. Aku hanya merasa egois saja karena membiarkan Sky menanggung bebanku.


Terlalu egois memang mengorbankan Sky demi mencapai tujuanku, mendapatkan maaf dari ayah dan ibu. Tapi otakku sudah blank, aku tidak punya opsi lain dan hanya Sky satu-satunya laki-laki dewasa yang kukenal baik beserta keluarganya. Apalagi, Sky juga tentu sudah tahu dengan jelas masa laluku. Melihat kesediaannya, salahkah jika aku berharap Sky benar-benar adalah laki-laki yang tidak akan pernah mempermasalahkan masa laluku? Ada ketakutan tersendiri yang menghinggapi pikiranku, jangan sampai Sky hanya kasihan kepadaku. Sejujurnya, aku tidak ingin jika itu alasannya.


Namun, tidak mungkin juga aku menyewa laki-laki atau melakukan pernikahan kontrak. Na'udzubillah.. jika boleh memilih, lebih baik tidak menikah sama sekali daripada harus menikah kontrak karena salah satu tujuan pernikahan adalah sehidup sesurga, jika menikah tujuannya untuk bercerai sedari awal, untuk apa?


"Sayang, ajak Sky makan malam diluar. Kasihan, sepertinya sedari tadi belum makan. Kamu juga, makan dulu, istirahat, biar ibu yang jaga ayah." Ucap ibu membuyarkan perang batin yang sedang berlangsung di dalam tubuhku.


"Iya bu, kita makan di sini saja, rame-rame... aku pesan dulu." Ucapku menolak dengan halus usul ibu, aku sudah tidak punya energi lagi untuk keluar malam-malam begini.


Satu jam kemudian, pesanan makanan kami tiba, Anzi dan Sky baru saja pulang sholat Isya di mushollah Rumah Sakit.


Sky nampak segar dan telah berganti pakaian. Aku baru memperhatiakannya setelah seharian mengabaikannya.


"Ayok nak Sky, makan bareng-bareng." Ajak ibu kepada Sky, aku bergeser sedikit lebih rapat ke ibu untuk memberi ruang buat Sky. Ia pun ikut duduk lesehan di dekatku.


"Anzi, ambil piring di rak dekat lemari pendingin itu, sayang!" Anzi segera bergerak cepat mengikuti perintah ibu kemudian ikut duduk bersama kami.


"Nak Sky pendiam banget yah, jangan malu-malu sama ibu. Sebentar lagi kan nak Sky jadi anak ibu juga." Ucap ibu lagi kepada Sky.


Sky pun mengangguk dengan senyum malu-malunya. Manis!


"Dia memang pendiam, bu. Dimaklumi saja." Ucapku memberi pemahaman ke ibu setelah menunggu Sky menjawab namun ternyata senyumnya tadi sudah ia anggap cukup sebagai jawaban untuk ibu.


Tanganku bergerak lincah menyiapkan makanan untuk kami berempat, tak lupa menyiapkan air mineral untuk kami semua.


"Kak Sky kerja di mana?" Celetuk Anzi yang sukses membuat aku dan Sky saling berpandangan.


"Sky kerja di kantor kakak, tapi tidak lama lagi akan pindah ke perusahaan ayahnya." Jawabku cepat tanpa menunggu Sky menjawabnya sendiri.


"Oh, gitu. Berarti kak Sky arsitek juga dong?" Anzi sepertinya semakin penasaran.


Aduh, gimana nih, Sky kan masih calon arsitek, beberapa bulan lagi baru bisa secara resmi dikatakan arsitek. Tapi kalau dari pekerjaannya, Sky memang seorang arsitek jenius, apalah arti selembar ijazah dibanding keahlian yang dimilikinya.


"Iya dek, dia masih kuliah tapi sudah jadi arsitek." Lagi-lagi aku yang menjawabnya padahal Sky sudah membuka mulut hendak mengeluarkan suara namun segera kuinterupsi.


"Berarti nak Sky ini masih kuliah? Berarti usianya lebih mudah dari Bery yah."


"Iya bu, saya masih kuliah tapi sebentar lagi selesai, kami hanya selisih 3 tahun saja kok bu."


Giliran aku yang mangap, keduluan Sky yang membuka suara. Sky kembali senyum namun seperti tidak mempermasalahkan selisih usia kami. Mungkin itu sebabnya dia tidak pernah memanggilku kakak seperti ia memanggil kakaknya, Nindi.


Ah, aku baru teringat kepada Nindi. Entah bagaimana reaksinya setelah tahu kabar ini. Aku akan menghubunginya setelah bicara dengan Sky. Ada beberapa hal yang ingin kuperjelas dengan Sky saat ini.


"Ia, usia banyak bukan jaminan dewasanya seseorang, tapi tanggung jawabnya." Ucap ibu yang sepertinya juga tidak masalah dengan perbedaan usia kami.


"Orang tua nak Sky asli mana?" Tanya ibu lagi.


"Asli sini juga kok, bu." Jawab Sky tanpa ragu.


"MaasyaAllah, jadi orang tuanya ada di sini juga atau dimana?"


"Ibu, nanti saja...."


"Orang tua ada di Jakarta bu, mungkin ibu kenal dengan abi Hasan Bukhori, beliau adalah ayah saya."


Kembali ucapanku terjeda Sky, dan hal yang kutakutkan akhirnya keluar juga. Aku hanya bisa menunduk menunggu reaksi ibu yang diam seketika. Meski tidak ada gurat kekecewaan atau marah di wajahnya, namun beliau tampak sedang berfikir.


Demi apapun di dunia ini, baru kali ini aku merasa sangat lega melebihi leganya saat buang air kecil pas lagi kebelet-kebeletnya.


"Bagaimana kabar umimu nak?" Lanjut ibu menanyai Sky. Ibu dan umi Aida dulu adalah teman kelas di SMA. Meski mereka tidak bersahabat dekat namun mereka cukup saling mengenal karena selama 3 tahun di SMA mereka terus satu kelas.


"Alhamdulillah, umi sehat bu."


*****


Matahari baru saja beranjak pergi, digantikan oleh bulan yang muncul baru setengahnya. Setelah pembicaraan singkat dengan ayah Bery, aku lebih banyak duduk di balkon ruang VVIP tempat ayah Bery dirawat. Hanya saat sholat dan makan yang membuatku meninggalkan balkon ini.


Malam terus beranjak larut, namun belum sekalipun aku dan Bery bertegur sapa. Padahal besok sebelum dhuhur ijab kabul akan dilaksanakan sesuai dengan permintaan ayahnya. Aku sendiri masih gamang, apa aku meminta izin dulu dari umi dan abi atau tidak, mengingat percakapan terakhir umi dan kak Nindi yang menyampaikan penolakan dengan ide perjodohan mereka.


Aku takut, umi menolak sehingga membuat Bery terluka. Sementara tidak mungkin bagiku untuk mundur dari apa rencana ini. Aku tidak ingin membuat umi kecewa, namun aku juga tidak ingin mengecewakan keluarga Bery.


Saat ini aku benar-benar butuh berbicara dari hati ke hati dengan Bery, namun ia tidak mau beranjak dari sisi ayahnya.


Mungkin meminta pendapat kak Nindi akan menenangkan kegundahanku, segera kuambil benda pipih dari saku celanaku kemudian menelponnya.


"Assalamu'alaikum, halo Sky!"


"Wa'alaikum salam. Kakak sibuk?" Tanyaku ragu meski berharap saat ini kak Nindi sedang lapang.


"Nggak, kakak baru sampe rumah. Bagaimana kabar di sana? Apa ayah Bery baik-baik saja? Bery gak kenapa-kenapa kan Sky?" Tanyanya beruntun. Kebiasaan kak Nindi, bertanyanya selalu lebih dari satu pertanyaan, kadang aku menghitungnya dan bisa sampai 5 pertanyaan dalam sekali bertanya.


"Aku akan menikahi Bery..." ucapku tanpa peduli dengan rentetan pertanyaannya tadi.


"Apa???"


Aku harus menjauhkan ponselku dari telingaku mendengar suara terkejut kak Nindi melengking.


"Kamu gak bercanda kan Sky? Bagaimana bisa? Jelasin ke kakak sekarang!!!"


"Kakak bisa tanya Bery untuk cerita lebih jelasnya, sekarang Sky hanya minta bantuan kakak untuk jelaskan ke umi dan abi. Menurut kakak bagaimana? Aku mendengar pembicaraan kakak dengan umi saat membicarakan syarat dari ayah Bery. Aku hanya ingin meminta saran kakak, apa sebaiknya meminta izin umi atau biar itu menjadi urusan belakangan?" Tanyaku frustasi.


"Oke, baik. Begini saja, berikan kakak waktu sampai besok pagi untuk memutuskan bagaimana baiknya. Kakak diskusikan dulu dengan mas Fachri dan abi karena menurut kakak abi tidak akan keberatan, yang masalah di sini adalah umi, biar nanti abi yang putuskan, apa beri tau ibu atau tidak, melihat kondisi kesehatan ibu juga saat ini sedang tidak stabil."


Aku menghela nafas berat, seperti buah simalakama, dimakan pahit, dibuang lapar.


"Sky..."


"Iya kak.." jawabku lesu.


"Gak usah banyak berfikir, serahkan sama kakak dan abi. Kamu hanya perlu jaga Bery dan keluarganya di sana. InsyaaAllah ini adalah keputusan terbaik yang pernah kamu ambil, baik untuk kamu, baik untuk Bery dan baik untuk kedua belah pihak keluarga. Urusan umi, ini hanya masalah ketakutan umi saja, bukan menentang apalagi membenci Bery. Kakak yakin, suatu saat umi akan mengerti. Kakak hanya berharap kamu melakukan ini ikhlas karena Allah, jangan pernah kecewakan Bery dan kami semua. Kamu faham, Sky?"


"Iya kak, Sky faham."


"Sky, kakak ingin bicara sama kamu!" Tiba-tiba Bery datang menyusulku di balkon.


Oooo☆~~☆oooO


Jaringan internet Papua error lagi, jadi gak bisa update sesering mungkin sampai waktu yang belum ditentukan😭


Jangan lupa berikan like, comment dan vote kalian yah untuk mendukung Novel ini. Klick tombol Favorit agar kalian bisa mendapatkan notifikasi tiap kali ada update terbaru. okay.. Thanks 😍🤗