HAPPIER

HAPPIER
BAB 68



Aku benar-benar marah sama Stella dan mba Hanin. Gara-gara mereka berdua ponselku nyebur ke laut.


Mereka kurang kerjaan banget, hanya karena berebutan siapa yang mau duduk dekat siapa saat di atas Yatch tapi ponselku yang jadi korban.


"Mba Hanin jangan kecentilan deh, Sky itu sudah aku caplok sejak masih di kampus!" Ujar Stella.


"Yaa ampun, Stella.. aku kecentilan bagaimana sih? Aku hanya minta tolong sama Sky buat ambil foto aku pake ponselnya soalnya ponselku sudah mau kehabisan daya karena dari tadi bikin live di IG terus."


"Tapi kenapa mesti sama Sky, kan masih ada mas Gio, mba lebih cocok sama dia!" Stella meregut kesal kemudian membuang pandangannya.


"Sky... tolong damaikan semua ini!" Ucap mas Gio berbisik kepadaku.


Aku memilih tak menanggapinya lalu memasang headphone ke telingaku yang sedari tadi menggantung di leherku.


Mas Gio menepuk bahuku, memintaku melihat ke arah Stella dan mba Hanin dengan kode bibir dan lirikan mata, mereka masih terus berdebat dan aku benar-benar malas tahu.


Melihat reaksiku yang acuh, mas Gio menarik headphone-ku sehingga terlepas dan kembali menggantung di leher.


"Kenapa diam? Kenapa sih kamu pendiam banget? Tinggal jelaskan kalau kamu sudah punya istri maka setengah masalah selesai!"


"Apa? Sky sudah nikah?" Ucap Stella dan mba Hanin bersamaan saat mendengar ucapan mas Gio.


"Mas Gio jangan nyebar hoaks dong," sanggah Stella.


Tidak mungkin Sky sudah menikah, ayahnya dan ayah Sky cukup dekat, pasti akan diundang kalau memang Sky sudah menikah. Fikirnya.


Malas menanggapi mereka, aku hanya mengacungkan jari manisku memperlihatkan sebuah cincin yang melingkar di jari manisku kemudian beranjak masuk ke dalam kabin.


Inilah kenapa aku lebih suka menyendiri dan malas bergaul. Terkadang tingkat kekepoan orang-orang itu lebih tinggi dari tinggi tugu monas, mengganggu saja.


Sebenarnya, aku benci tiap kali orang bertanya, mengapa aku sangat pendiam?


Kenapa aku pendiam? Karena seperti itulah diriku dan lagian aku tidak pernah bertanya kepada kalian, kenapa kalian sangat ribut? Kenapa kalian terlalu banyak bicara?


Lalu, aku salahnya dimana?


--


--


Hari pun berlalu, dan tibalah waktu untuk kembali ke Indonesia. Hatiku sudah sangat gelisah, perasaan rindu semakin membuncah.


Berharap dia akan menjemputku di Bandara seperti janjinya sebelum aku berangkat. Aku sengaja melipir ke toilet dan berlama-lama di sana tapi sebelumnya aku memang sudah pamit ke mas Gio dengan mengatakan kalau aku akan ada jemputan.


Satu jam...


Dua jam...


Total 3 jam aku menunggu dengan gelisah namun tak ada tanda-tanda kehadiran Bery datang menjemputku. Dengan langkah lemas akhirnya aku memilih pulang ke rumah dengan menggunakan taksi.


Aku harus positif thinking, bisa jadi Bery ketiduran karena kelelahan bekerja, atau mungkin juga dia ingin memberiku kejutan. Aku tersenyum sendiri membayangkannya.


Tiba di rumah, aku langsung berlari naik ke kamar kami. Gelap dan panas, lampu dan pendingin ruangan mati. Hatiku mulai dilanda rasa gelisah, gegas kunyalakan lampu kamar dan memang tidak ada Bery di atas tempat tidur kami.


Aku terduduk lesu di atas tempat tidur, meremas kasar kepalaku yang sedari tadi sudah hendak meledak, obat yang kuharapkan jadi penawarnya tidak kutemukan di sini.


Tidak tenang, aku mencari salah satu ponsel lamaku di laci nakas kemudian memasukkan nomor telepon Berry yang tentu saja sudah kuhapal mati dan langsung menelponnya.


Tersambung namun tidak dijawab.


Kuutak-atik ponselku beberapa saat dan akhirnya kudapatkan informasi lokasi keberadaaan ponsel Bery saat ini ada di apartemennya.


Rasa hangat seketika menyelimuti hatiku kala menemukannya tertidur seperti bayi. Rasa kesal dan rasa rindu yang tadinya bercampur aduk kini sudah melebur menjadi satu.


Pukul 2 dini hari, aku benar-benar sudah lelah. Kubuka pakaianku menyisakan boxer saja kemudian ikut bergabung ke dalam selimut.


Ini yang aku rindukan, tidur dengan Bery berada di dalam kekuasaanku.


*****


Bery terbangun namun merasakan sedikit sesak karena sesuatu yang berat menimpa tubuhnya dari bagian daada hingga kaki.


Sedikit terkesiap melihat sebuah tangan yang melingkarinya, namun sesaat ia berbalik dan bisa melihat wajah lelah Sky yang tidur nyenyak di belakangnya.


Pelan-pelan Bery menyingkirkan tangan dan kaki Sky yang masih nyaman berada di atas tubuhnya kemudian bangkit dan langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.


Bery memilih menyibukkan diri di ruang kerjanya setelah melaksanakan aktifitas subuhnya tanpa berniat membangunkan suaminya apalagi kefikiran untuk membuatkan sarapan untuk mereka berdua.


Bery sedang marah, kesal dan kecewa yang beberapa hari ini dirasakannya kepada Sky.


5 hari berada di Maldives, hanya hari pertama saja Sky berkirim pesan kepadanya. Selebihnya, hilang kabar!


Istri mana yang tidak kesal memiliki suami yang begitu cuek dan tidak peka dengan kegelisahan dan kekhawatiran sang istri kala ditinggal berhari-hari tanpa kabar?


"Sayang..." Sky memeluk tubuh Bery dari belakang kemudian menenggelamkan kepalanya di ceruk leher istrinya itu.


Bery berusaha menolak dan melepaskan diri namun Sky malah semakin mengeratkan pelukannya.


"Begini saja dulu... Aku kangen berat!" Ucap Sky dengan nada berat, serak dan terdengar sangat manja.


Sky hendak menyesap leher Berry namun segera ditahan karena Bery menghindar dan mendorongnya agar menjauh.


Tanpa kata, tanpa balasan pelukan dan tanpa tatapan hangat penuh kerinduan.


Bery mengabaikan keberadaan Sky. Kembali menyibukkan dirinya dengan tumpukan gambar yang ada di hadapannya.


Sky menatapnya penuh kebingungan, berusaha menerka-nerka apa lagi kesalahan yang telah ia buat.


Sky mendekat, jari tangannya ia selipkan masuk ke sela-sela rambut Bery, lalu jarinya berpindah ke anak rambut yang menghalangi pandangannya untuk menikmati segala keindahan yang membuatnya jatuh cinta berkali-kali kepada sosok yang ada di hadapannya.


Bery berusaha menolak sentuhannya, hatinya saat ini sedang beku sehingga hanya aura dingin yang bisa ia tunjukkan kepada lelaki tampan yang penuh pesona itu. Ia masih berusaha untuk tidak tergoda kemudian luluh kepada pesonanya. Ia masih marah... marah karena merasa diabaikan, dilupakan dan merasa dirinya tidak ada diprioritas utama lelaki itu.


Ia sangat sadar akan kesibukan Sky di sana, tapi...


Tapi sesibuk apapun itu... tidak ada seorang pun di dunia ini yang benar-benar menghabiskan 24 jam waktunya dalam sehari semalam sepenuhnya hanya untuk bekerja, tidak ada! Semua hanya tergantung pada urutan keberapa dirimu berada dalam daftar prioritasnya. Dan di situlah letak kekecewaan terbesar yang kini dirasakan Bery kepada Sky.


Kembali Sky datang memeluknya dari belakang, "sayang, aku sangat-sangat merindukanmu!" Bisik Sky.


Bery memegang kedua tangan Sky untuk membuka lingkaran itu pada perutnya. Ia menghela nafas kasar, baginya..pernyataan rindu itu terdengar seperti bualan yang sangat membosankan.


"Maaf.. ponselku kecebur di laut dan aku rasa kamu juga sibuk jadi aku tidak mau mengganggu kamu. Makanya aku putuskan menabung rinduku saja biar saat ketemu kamu makin dapat feel-nya." Ucap Sky menyadari kesalahannya.


Sky mendaratkan satu kecupan hangat di tengkuk Bery yang sukses membuat Bery meremang seketika.


"Stop it, Sky!" Perintah Bery dengan suara lirih. Tenggorokannya terasa tercekak, sungguh ada rindu yang menggelora di hatinya, namun ia tidak bisa begitu saja memaafkan Sky dengan penjelasan konyolnya itu.


"Menabung rindu, katanya? Apa dia tidak memikirkan perasaanku?" Kesal Bery di dalam hati.


Sky memutar tubuh Bery agar posisi mereka saling berhadapan, ia memberi dorongan sedikit ke tubuh Bery sehingga Bery kini duduk di atas meja kerjanya.


"Heiii... look at me," Sky menangkup dagu Bery dengan tangan kanannya, memberinya sedikit tarikan agar Bery mau mengangkat wajahnya. Dua manik mata itu kini saling bersitatap.


"Sorry!!!" Lirih Sky. Bery membuang mukanya ke sisi kanan, merasa jengah dengan posisi mereka yang sedekat ini.


Kembali Sky menarik wajah Bery agar bersitatap dengannya. Sky menurunkan wajahnya kemudian menyatukan bibirnya di atas bibir Bery. Bery melawan namun Sky memaksa.


Sky baru melepaskan bibirnya setelah ia merasakan rasa asin dari air yang mengalir dari mata wanita pujaannya itu.


Sky menghela napas pasrah, ia menarik Bery ke dalam pelukannya.


"Maafin aku, aku benar-benar tidak bermaksud menyakitimu--"


"Aku benci kamu, Sky!" Suara dingin itu bagai sembilu tajam menghujam jantung Sky.


"Aku mencintai kamu, sangat." Balas Sky penuh penekanan.


"I don't care how much you love me, i'll leave you alone when you make me fell unwanted. And that's what i feel for you now, Sky!"


Tatapan dingin itu lebih melukai perasaan Sky dibanding semua kata-kata Bery saat ini kepadanya.


Oooo☆~~☆oooO


Jangan lupa berikan like, comment dan vote kalian yah untuk mendukung Novel ini. Klick tombol Favorit agar kalian bisa mendapatkan notifikasi tiap kali ada update terbaru. okay.. Thanks 😍🤗