
Sky dan Bery adalah alasan kuat bagi Nindi melanjutkan pendidikannya mengambil spesialis kejiwaan setelah menyelesaikan pendidikan dokter umumnya. Bukan karena ia merasa mampu menyembuhkan luka kedua orang yang disayanginya itu, tapi lebih ke mencari koneksi, berharap di tengah perjalanannya menempuh pendidikan, ia akan bertemu dengan orang-orang hebat yang bisa membantunya mengobati Sky dan Bery.
Terutama Sky! Sky benar-benar berubah menjadi pribadi yang tertutup, tak banyak bicara apalagi bergaul dengan orang lain. Meskipun Sky berhasil menyelesaikan sekolahnya dan saat ini masih berstatus mahasiswa akhir di dua jurusan berbeda yakni jurusan Arsitektur dan Hukum, namun Sky tetap tidak bisa menerima orang baru di dalam hidupnya.
Sky yang kini berusia 25 tahun memang terlambat menyelesaikan pendidikannya. Bukan karena ketidakmampuan otaknya, namun butuh beberapa tahun baginya untuk kembali melanjutkan pendidikannya setelah melalui berbagai pengobatan dan terapi yang dijalaninya.
Sky memang sudah dinyatakan sembuh oleh dokter, namun Sky memilih mengambil jarak kepada siapapun. Ia begitu posesif kepada Nindi dan umi Aida. Hampir-hampir ia gagal melanjutkan pendidikannya karena ia hanya ingin fokus menjaga kedua wanita yang disayanginya itu. Bahkan diam-diam Sky juga menjaga Bery meskipun dari jarak jauh tanpa diketahui oleh siapapun. Bery adalah sahabat kesayangan kakak tercintanya, maka Sky juga akan memastikan orang yang disayangi keluarganya itu berada dalam keadaan aman.
Meskipun demikian, sepanjang kehidupan yang dijalani Bery, belum sekalipun ia mengingat dirinya berbicara dengan Sky. Bahkan beberapa kali Sky ditugaskan menjemput Bery, tak sekalipun Sky mengeluarkan kata. Dan bagi Bery itu bukan masalah. Ia tidak ingin memaksa, seperti dirinya yang juga punya hal-hal yang tidak ingin dilakukannya lagi setelah kejadian di masa lalunya itu, mungkin begitupun dengan Sky. Fikirnya berusaha berdamai dengan keadaan Sky.
Nindi sendiri telah menikah hampir setahun terakhir ini. Tidak mudah bagi Sky melepas Nindi saat itu. Butuh waktu dan banyak cara yang dilakukan agar Sky bisa percaya kepada laki-laki yang akan mengambil tugas dan tanggung jawabnya dan abi Hasan. Itu bukan hal yang mudah bagi Sky, hampir semua waktu diluar waktu belajarnya ia habiskan untuk memastikan bahwa perempuan-perempuan di dalam keluarganya berada dalam jangkauannya dan terhindar dari bahaya yang kapan saja bisa terjadi.
*****
"Ceritalah.. kalaupun aku gak bisa kasi solusi, setidaknya dengan membaginya bisa meringankan sedikit bebanmu." Cecar Nindi berusaha membuat Bery memulai ceritanya. Nindi tahu, Bery sedang tidak baik-baik saja saat ini.
Bery menghirup udara sebanyak-banyaknya kemudian menghelanya cepat.
"Aku udah ketemu ayah dan ibu." Ucap Bery menerawang.
Setelah gambar rancangan The Newmoon sudah selesai 100%, tak membuang waktu lama, Bery langsung bertolak datang ke tanah kelahirannya. Ini bukan yang pertama baginya pulang, ini adalah kedatangannya yang ke-10 kali. Berharap kali ini ia akan berhasil mendapatkan pengampunan dan pemaafan dari kedua orang tuanya.
Ia bekerja keras dan belajar dengan sungguh-sungguh. Rupiah demi rupiah ia dapatkan dan ditabungnya dengan baik sejak awal ia ikut bekerja di perusahaan milik abi Hasan. Dua kali libur kuliahnya ia gunakan untuk pulang, namun ia tidak pernah berhasil menemui ayah dan ibunya. Lebih lagi semenjak Bery mendirikan perusahaan Biro Arsitekturnya sendiri dan menjadi salah satu Arsitek muda kenamaan saat ini, pundi-pundi rupiah mulai mengalir mengisi simpanannya di Bank. Setiap kali ada waktu senggang, ia akan menyempatkan diri datang ke kotanya, namun hanya penolakan demi penolakan yang didapatinya.
#FlashbackOn
"Kak, ayah dan ibu mau menemui kakak. Tapi bukan di rumah. Kakak tunggu saja di Hotel dekat kantor Bupati yang biasa." Anzi adik Bery memberi kabar melalui sambungab telepon dari salah satu aplikasi media sosial tempat mereka saling menyapa selama ini.
"Kamu yakin, dek?" Bery masih tidak bisa percaya kalau orang tuanya mau menemuinya kali ini.
"Anzi yakin kak, ayah sendiri yang ngomong ke aku. Pokoknya kakak tunggu aja di sana. Mungkin habis maghrib kami menuju ke sana. Okay!"
"Baiklah, makasih banyak yah dek. Kakak udah gak sabar bertemu kalian semua." Ucap Bery antusias.
"Iya kak, Anzi juga. Udah dulu yah. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikum salam."
Semburat cerah menggantung begitu saja di wajah manis Bery. Jantungnya berdetak kencang menghentak-hentakkan kerinduannya yang telah lama membuncah ingin dituntaskan. 10 tahun bukan waktu yang singkat baginya dilalui tanpa bisa bertemu keluarganya. Ada pergolakan batin yang terus menyiksanya. Bila belum mendapatkan maaf, maka selama itu ia akan berada di dalam ruang penyesalan yang kian hari kian menghimpit dan menyesakkan dadanya.
Sebentar lagi memasuki maghrib, Bery segera kembali ke Hotel setelah seharian berkeliling ibukota kabupaten X. Jarak tempuh rumah kediaman orang tuanya dengan ibukota kabupaten kurang dari satu jam, Bery tidak punya cukup nyali mendatangi lingkungan tempat tinggal orang tuanya. Ia takut dan malu, meskipun sudah berlalu 10 tahun, namun Bery yakin, kejadian memalukan tersebut masih melekat di memori orang-orang yang menyaksikannya kala itu dan besar kemungkinan cerita tersebut menyebar kemana-mana. Ia belum siap menghadapi pandangan menghakimi dari orang-orang di sekitarnya.
Sementara ayahnya masih diam dengan ekspresi tak terbaca sejak awal.
"Alhamdulillah, berkat doa ibu dan ayah, Bery baik, bu." Jawab Bery menatap sendu ke netra ibunya.
"Kalau hidup kamu baik-baik saja, lalu kenapa kamu masih datang mencari kami?" Seketika pertanyaan itu terlontar dari bibir ayahnya. Lagi, Bery merasa sesak.
"Di sini yang tidak baik-baik saja, ayah!" Sela Bery memukul-mukul dadanya. Tangisnya kembali pecah.
"Ampuni Bery! Hidup Bery kosong, bagaimana Bery bisa hidup baik-baik saja kalau di setiap tarikan nafas selalu sesak tiap kali mengingat ibu dan ayah? Demi Allah, aku nyesal ayah, ibu... tolong katakan, apa yang bisa kulakukan agar ayah dan ibu mau memaafkanku? Apapun.. apapun akan aku lakukan, bahkan jika harus bertaruh nyawa sekalipun akan aku lakukan. Tolong ayah, ibu.. katakan apa yang harus aku lakukan? Tujuan hidupku hanyalah ingin mendapatkan maaf dari kalian, jika tidak ada kesempatan itu, katakanlah dari sekarang, aku sudah tidak sanggup tersiksa batin dan hidup dalam penyesalan seperti selama ini, aku sudah tidak kuat lagi, ayah.. ibu..! Aku mohon.. atau ayah bunuh saja aku, mungkin hanya kematian yang bisa membuatku tenang..."
"Hentikan!!!" Ibu Aisyah menyambar tubuh Bery ke dalam pelukannya. "Jangan berkata seperti itu lagi, maafkan ibu, sayang."
"Maafin Bery, ibu. Aku mohon!" Ucap Bery mengiba yang diangguki oleh ibunya kemudian kembali mengeratkan pelukan diantara mereka.
"Maafkanlah anakmu, yah! Dia tidak sepenuhnya salah, aku yang salah selama ini. Aku yang kurang membimbingnya, kurang memberinya perhatian dan kasih sayang, aku yang salah. Maafkanlah anak kita, ayah!" Tak kuasa membendung perasaannya, ibu Aisyah pun berlutut di hadapan suaminya.
Ayahnya mengusap wajah kasar, nafasnya memburu mencoba menahan emosi. Semarah-marahnya ia kepada anak-anak dan istrinya, tidak sekalipun ia melayangkan tangan kepada kami untuk meluapkan segala emosinya. Ia terduduk di sofa, membenamkan wajahnya ke dalam dua lengan kokohnya meski telah termakan usia.
"Baiklah... baik!" Ucap ayahnya kemudian. "Ayah akan memaafkan kamu, tapi dengan satu syarat."
Bery mengangkat wajahnya kemudian bergeser dengan cepat memeluk kedua kaki ayahnya.
"Katakan ayah.. apapun, apapun syaratnya." Ucap Bery mantap.
"Menikahlah.."
Deg
Deg
Deg
"Bawalah laki-laki pilihanmu datang melamarmu kepada ayah. Itu saja yang ayah inginkan dari kamu."
#FlashbackOff
Oooo☆~~☆oooO
Jangan lupa berikan like, comment dan vote kalian yah untuk mendukung Novel ini. Klick tombol Favorit agar kalian bisa mendapatkan notifikasi tiap kali ada update terbaru. okay.. Thanks 😍🤗