HAPPIER

HAPPIER
BAB 66



Dini hari Bery sudah terbangun dan menyiapkan semua keperluan Sky selama di Maldives nanti. Rencana mengantarkan Sky ke Bandara tinggal rencana. Pagi-pagi Bery harus berangkat ke kota B bersama bu Kinan. Sementara penerbangan Sky agak siangan.


Sky terus bergelayut manja sepanjang Bery packing pakaiannya.


"Aku bakal kangen terus nanti, gimana dong?" Tanya Sky dengan kepalanya di sandarkan di punggung Bery.


"Gak usah misuh-misuh deh, Sky! 5 hari doang."


"5 hari itu lama sayang, 5 jam aja aku udah seperti mau gila, bagaimana 5 hari?"


"Yaa Allah, Sky! 25 tahun hidup kamu tanpa aku juga bisa, kenapa sekarang jadi manja gini sih?"


"Soalnya istriku gak mau manja-manja sama aku, jadi biar aku saja yang manja sama dia." Bery mendesah pelan mendengar nada bicara suaminya itu yang benar-benar dibuat mendayu-dayu gitu.


"Stop deh, Sky.. aku geli sendiri dengar kamu ngomong begitu."


"Tapi suka kan?" Tanya Sky memutar tubuh Bery menyamping kepadanya.


Melihat mata Sky yang selalu berbinar memandangnya membuat Bery selalu lemah jika sudah dalam kondisi seperti ini.


Bery tersenyum, "kamu boleh manja-manjaan seperti ini sampai kita punya anak nanti!"


Mata Sky membulat.


"Kamu mau punya anak dariku? Kamu gak bercanda kan?" Tanya Sky seperti tidak percaya dengan apa yang di dengarnya.


"Kalau bukan sama kamu, aku bikin anaknya sama siapa lagi?" Kesal Bery.


"Enggak sayang, aku hanya sempat fikir kamu penganut paham childfree."


"What? Gila aja kamu, Sky! Aku masih cukup waras untuk memelihara darah dagingku sendiri. Kalaupun ternyata aku tidak bisa punya anak, ya sudah, pasrah saja."


"Gak mau adopsi gitu?"


"Lebih baik aku memberi makan anak yatim daripada mengadopsi anak. Urusannya panjang, Sky. Kalau anak laki-laki, sesayang apapun aku ke dia, dia tetap bukan mahram aku. Kalau udah gede gak bisa dipeluk dan dicium-cium. Kalau anak perempuan, dia bukan mahram kamu. Belum lagi godaannya. Membawa perempuan atau laki-laki yang bukan mahram masuk ke dalam rumah resikonya besar, bisa-bisa jadi racun di masa depan. Na'udzubillah."


"Iya, kamu betul.. bahkan ipar sekalipun bisa jadi racun." Ucap Sky menerawang.


Tentu pembahasan ini mengingatkannya dengan masa lalu dimana semuanya menjadi awal dari masa lalu kelamnya.


Aku mengelus lembut lengan Sky, "gak usah diingat lagi kalau itu malah membuka luka lama." Ucapku menatapnya dalam.


Sky menghela nafas berat. "Di sini masih kadang terasa sakit setiap kali mengingatnya." Ucap Sky memegang dadanya.


"It's ok, tapi semua sudah berlalu, cukup dijadikan pelajaran untuk masa depan kita."


Sky mengangguk.


"Udah, jangan mellow pagi-pagi begini. Ayok semangat!"


Sky ikut tersenyum dan kembali mood-nya mulai membaik.


"Masih ada waktu satu ronde sampai masuk sholat subuh, sayang.." senyum nakal mulai terbit di wajah Sky, termasuk tangannya.


Ingin kutolak, tapi kasihan juga melihatnya yang sudah mulai on fire.


*****


Dan drama Maldives pun dimulai...


Hal pertama yang kulakukan saat pesawat mendarat di Bandara adalah menghubungi Bery dengan panggilan video. Tapi sayang, ponselnya tidak diangkat. Jadi kukirimi pesan aja.


"Touch down Maldives, honey!"


Aku seperti anak remaja yang sedang jatuh cinta menanti datangnya balasan pesan dari sang gadis pujaan. Aku tak bisa menahan senyum tiap kali membuka galeri ponselku yang berisikan foto-foto Bery di dalamnya, termasuk foto saat pertama kali ke sini.


Saat sampai di hotel, kuperiksa ponselku dan belum mendapatkan balasan darinya. Mungkin masih sibuk, atau ketiduran.


Lagi-lagi kukirimkan pesan kepadanya dengan mengunggah satu fotonya.


"Wish you were here, wife!" Tidak lupa menambahkan icon hati dan icon cium.


Aku terlalu lelah setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang, lelah fisik dan lelah hati.


Lelah hati merindukan sang istri dan lelah mencari cara agar punya jarak aman dari Stella.


Kami 5 orang yang berangkat ke sini, 2 orang laki-laki, aku dan mas Gio dan 3 orang perempuan, Stella, mba Hanin dan bu Ayra.


Hanya aku dan bu Ayra yang statusnya sudah menikah sementara yang lain masih single.


Satu hal yang kusyukuri, mas Gio sepertinya menyukai Stella jadi aku bisa memanfaatkannya untuk menghindari Stella.


Seperti di Bandara tadi, dia ngotot minta kuantar ke toilet, katanya takut tersesat, lah..padahal dimana-mana ada papan penandanya. Mas Gio yang tidak mengerti situasi dengan senang hati menawarkan diri. Alhamdulillah, lega rasanya.


Drama berlanjut saat di Bandara, lagi-lagi ngotot tukaran tempat duduk sama mas Gio. Alasannya mau duduk di samping jendela, soalnya di deretan kursinya sudah ada bu Ayra yang duduk di sana.


"Aku aja yang pindah, mas Gio geser ke sini." Ucapku tanpa menoleh kepadanya kemudian pindah ke tempatnya duduk semula.


Wajah Stella semakin cemberut, tidak senang dengan sikapku.


"Eh..Stella kemana?" Tanya mba Hanin yang kebingungan melihat aku mengambil tempat duduk di sisinya.


"Itu..!" Jawabku dengan mengangkat dagu ke arah Stella dan mba Hanin mengikuti arah pandangnya ke sana, "katanya mau duduk samping jendela." Imbuhku sedikit kesal.


Pakaian mba Hanin cukup terbuka, aku sungguh tidak nyaman di dekatnya.


Beruntung ada penutup mata yang diberi Bery, jadi aku bisa pura-pura tidur sepanjang perjalanan di atas pesawat.


--


--


Pagi pun menyapa, suara adzan subuh dari ponselku bergema di seisi kamar kami, aku memang satu kamar dengan mas Gio.


Setelah sholat subuh, kulihat ada beberapa panggilan dari nomor Bery. Tidurku terlalu lelap dan memang ponselku sedang dalam mode silent.


Mau menelpon balik, tapi kasihan kalau telpon sekarang, di sana masih jam 3 dini hari.


Agenda pertama di hari ini adalah meeting dengan Mr.Abdullah dan tim. Dan setelah sarapan nanti meeting akan segera dimulai.


"Lihat ponsel mulu, Sky!" Tegur mas Gio.


Aku tersenyum menanggapinya kemudian kembali memandangi foto Bery di ponselku.


"Siapa sih, Sky! Baru pacaran yah? Senyum-senyum mulu lihat ponselnya." Mas Gio penasaran dan berusaha mencuri pandang ke layar ponselku namun segera kumatikan.


"Pacar halal ini!" Ucapku sambil menyembunyikan ponselku ke dada.


"Kamu udah nikah?"


"Iya, sudah 2 bulan!"


"Wah, bisa terjadi hari patah hati nasional nih Sky kalau mereka tau kamu sudah nikah. Kamu gak bohong kan? Kok gak undang anak-anak di kantor?"


"Baru akad aja mas. InsyaaAllah resepsinya akan disegerakan dan pasti kami akan mengundang orang-orang kantor."


Mas Gio menatapku lekat, seperti sedang memikirkan sesuatu.


"Siapa Sky? Apa teman kantor?"


"Tunggu saja undangannya, mas." Ucapku menyudahi obrolan kami dan segera ke kamar mandi untuk bersiap-siap sarapan.


Stella dan mba Hanin sudah lebih duluan berada di restoran hotel saat aku dan mas Gio ke sana. Saat hendak menarik kursi untukku, bu Ayra datang menghampiri kami.


"Morning all." Sapa bu Ayra kepada kami.


"Morning...


"Pagi...


Jawab kami masing-masing.


"Suntuk banget tuh muka mba Ayra?" Tanya mba Hanin setelah melihat bu Ayra menghempaskan tubuhnya di atas kursi kemudian meletakkan ponselnya secara asal di meja.


"Anak lagi sakit, kasihan suamiku terpaksa cuti hari ini." Keluhnya dengan kedua tangan menopang dagunya.


"Yang sabar yah, mba!" Ucap Stella menguatkan, "resiko punya anak saat perempuan bekerja." Imbuhnya.


"Kamu sendiri bagaimana? Kalau punya anak apa masih tetap bekerja atau resign?" Tanya mas Gio kepada Stella.


"Aku sih tetap pengen kerja, aku tuh ingin berdiri di atas kakiku sendiri, ogah banget bergantung sama suami."


"Tapi kalau suami kamu minta, bagaimana?"


"Bukannya semua laki-laki suka sama perempuan mandiri?" Sela mba Hanin.


"Gak juga, memang sih banyak laki-laki yang suka perempuan mandiri, selain untuk menaikkan gengsinya, ada juga yang memang berharap perekonomiannya ditopang oleh istri. Tapi banyak juga sih laki-laki yang ingin istrinya sepenuhnya bergantung kepadanya, itu biasanya berkaitan erat dengan harga dirinya, ada juga karena egonya sebagai laki-laki. Tapi aku pribadi lebih suka sama laki-laki yang ingin istrinya bergantung kepadanya, gentle banget gitu loh, apalagi laki-laki yang tetap membiarkan istrinya bekerja namun semua kebutuhan istrinya ia penuhi dan sama sekali tidak mengganggu penghasilan istrinya." Kata ibu Ayra panjang lebar.


"Memangnya masih ada laki-laki seperti itu?" Tanya mba Hanin.


"Ada... suamiku salah satunya." Jawab bu Ayra bangga.


"Aku juga." Batinku.


💨💨💨💥💥💥


Hai readers semua...


Ini lagi menuju END yah, gak ada yang dikejar di sini jadi gak butuh membuat novel yang panjang-panjang sampai ratusan BAB. Lagian setiap bab-nya sudah lebih dari 1.000 kata.


InsyaaAllah akan saya selesaikan dalam beberapa hari ke depan, kebetulan pekan depan author juga akan ada perjalanan keluar kota jadi akan susah membuat tulisan.


Thanks banget yah buat supportnya.. mudah-mudahan ada rezeki waktu, kesehatan, umur dan ide biar bisa ketemu lagi dalam karya baru author.


Btw, gak bosan kan dengan tulisan bergendre anti pacaran seperti 3 novel karyaku ini?


Soalnya, jujur banget.. salah satu alasan saya menulis adalah untuk kampanye anti pacaran.


Saya berharap para anak-anak gadis yang membaca karya2ku akan tercerahkan.


Harapannya juga buat para readers yang sudah punya anak, ayolah.. nasehati anak2 kita, baik laki-laki maupun perempuan agar mampu menjaga kehormatan dan kesuciannya. Karena jalan pintas untuk menjaga kehormatan dan kesucian seorang gadis adalah dengan tidak pacaran.


Sekali lagi, terima kasih atas supportnya semuanya.


Peluk-peluk dari jauh🤗😘