HAPPIER

HAPPIER
BAB 41



"Itu muka kenapa ditekuk begitu pagi-pagi begini?" Tanya umi saat aku mendekatinya yang sedang sibuk mengupas pisang untuk dibuat pisang goreng.


Umi meletakkan pisau yang dipegangnya kemudian membingkai wajahku dengan kedua tangannya.


"Mata kamu bengkak, sayang. Apa kamu habis menangis? Apa Sky menyakiti kamu?" Tanya umi menyipitkan matanya menatapku lekat.


Aku gelagapan mencari alasan. Ini bukan salah putra kesayangannya itu, jangan sampai Sky dapat marah lagi karena aku.


"Enggak kok umi, tadi malam aku sakit perut, sakit banget, makanya nangis." Ucapku berbohong. Semoga setelah ini aku tidak sakit perut beneran. Na'udzubillah.. maaf umi, aku harus berbohong.


"Apa masih sakit? Sudah minum obat belum?" Bisa kurasakan nada khawatir dari umi kepadaku.


"Sudah umi, semalam Sky udah ngasih obat kok." Ucapku nyengir berharap umi tidak konfirmasi ke Sky saat ia turun sarapan nantinya.


"Udah... kamu bikin kopi aja buat abi dan Sky, ini biar umi yang selesaikan." Ucap umi menyingkirkan tanganku saat aku hendak ikut membantunya mengupas pisang.


Untuk urusan membuat kopi, boleh dibilang aku ahlinya. Sebagai penikmat kopi, ini bukan bukan tentang hanya masalah meramu, mencecap rasa dan membaui aroma khasnya. Kopi adalah selalu tentang teman bagi sesiapa saja, entah sekedar menemani bersama buku hingga pada perenungan panjang yang membuka cakrawala pikiran. Dari kopi aku belajar bahwa yang hitam itu tidak selalu kotor dan yang pahit itu tidak melulu menghadirkan kesedihan. Seperti kehidupan yang selama ini kulalui, banyak pahitnya tapi lebih banyak lagi manis-manisnya jika diingat-ingat lagi.


--


--


Kami semua sudah berkumpul di meja makan, menikmati pisang goreng dan secangkir kopi. Ini adalah sebuah kenikmatan hidup yang hakiki, hidangan sederhana namun terasa nikmat.


Bahagia itu sederhana sekali memang, yang susah itu adalah menjadi sederhana.


"Kamu yah Sky, istri habis sakit perut gitu dibiarin turun dari kamar?" Protes umi pada Sky membuka suara.


Wajah Sky nampak bingung menatapku, aku mengedip-ngedipkan mata kepadanya berharap dia mengerti kodeku.


"Oh.. itu.. maaf umi, umi tau sendiri kan bagaimana keras kepalanya menantu umi yang satu ini. Mana mau dilarang." Ucap Sky tanpa berhenti menatapku.


"Yah... malah ngadu sama emaknya." Rututku dalam hati. Tapi tidak apa, daripada ketahuan bohongnya.


"Kamu gak usah ke kantor dulu kalau memang lagi sakit, nak." Ucap abi menatapku. "Biar Sky yang ke kantor, lagian urusan Sky di kantor abi sudah selesai, biar sekarang dia fokus selesaikan kuliahnya dan proyek Maldives itu." Imbuhnya kemudian menyesap kopinya yang masih mengeluarkan kepulan asap putih di atasnya.


"Gak papa kok abi, aku hanya salah makan saja mungkin, makanya sempat sakit perut." Tolakku membuat alasan. Tidak mungkin aku tidak masuk kantor, masih banyak pekerjaan kantor yang menumpuk memanggil-manggil untuk segera diselesaikan.


"Jangan dipaksakan kerja, kapan umi dapat cucu kalau kalian berdua sibuk semua?" Celetuk ibu yang sukses membuat aku dan Sky menyemburkan kopi yang baru saja masuk ke dalam mulut.


"Uhuk..uhuk.."


"Uhuk..uhuk.."


"Kalian kok responnya sama sih dengar umi minta cucu? Jangan pernah bilang ke umi kalau kalian tidak punya rencana untuk memiliki anak. Umi sendiri yang akan menghukum kalian berdua kalau main-main dalam pernikahan ini."


Mataku dan Sky membulat, terlihat panik di sana.. Sky langsung berdiri dan berjalan mengitari meja makan mendatangi umi dan merangkul pundaknya.


"Yaa Allah... umi.. kami tidak pernah main-main dengan pernikahan ini, kami serius."


"Iya umi, kami serius." Ucapku menimpali perkataan Sky. Wajahku memelas, takut-takut jika umi marah dan entah apa yang akan dilakukannya kepada kami jika beliau benar-benar sampai marah.


"Umi hanya takut kalian seperti yang di novel-novel atau sinetron yang sebelum nikah sudah berniat cerai. Umi tidak ingin itu terjadi. Hadirnya anak diantara kalian akan menjadi perekat dan pengikat diantara kalian sehingga alasan untuk bercerai semakin tipis." Umi menatapku dan Sky bergantian, wajahnya mengeluarkan satu dua tetes cairan bening di sana.


"Enggak umi, nggak ada yang seperti itu. Kami sejak awal sudah berkomitmen untuk belajar saling menerima. Meski mungkin bagi sebagian orang aku orangnya aneh, Bery juga begitu, tapi biarkan kami menjalani rumah tangga kami dengan cara kami sendiri. Kami yakin, kami juga bisa membangun rumah tangga yang normal sama seperti rumah tangga orang lain pada umumnya." Ucap Sky tanpa memutus tatapannya kepadaku.


"Benar apa yang dikatakan Sky, umi. Percayalah, kami serius dalam menjalani rumah tangga ini. Kami hanya masih butuh waktu untuk saling mengenal lebih dalam, Sky bilang mau pacaran dulu katanya. Gitu umi!" Ucapku dengan membuat mimik wajahku seimut mungkin.


"Abi setuju itu, gak usah buru-buru. Pacaran aja terus, sampai kakek nenek pun abi dukung. Toh, halal juga, jadi kalau khilaf bikin anak, abi malah akan senang sekali."


"Issshhh.. abi ada-ada saja. Pacaran kok khilaf bikin anak?" Protesku cemberut.


"Lah...memangnya kalian pacaran buat apa? Senang-senang bukan?" Tanya abi menjeda kalimatnya menatap satu-satu ke arah kami. "Nah, senang-senangnya pacaran itu yah mesra-mesraan dan seterusnya, dan se te rus nya. Kalian sudah dewasa, abi tidak perlu menjelaskan lagi bukan secara mendetail apa yang selanjutnya akan terjadi?"


Aku dan Sky memilih diam dan melanjutkan sarapan kami. Tidak ada gunanya berdebat melawan umi dan abi, yang ada kami malah semakin terpojok. Dan mendengarkan nasehat pernikahan ala umi dan abi sungguh tidak baik untuk kesehatan jiwaku saat ini karena itu membuatku semakin merasa bersalah pada Sky. Dia sudah berusaha dengan sebaik-baiknya untuk menjadi suami yang baik, sementara diriku masih berkubang di dalam ketakutanku sendiri.


*****


Hari ini Bery mengikuti saran umi dan abi agar berangkat ke kantor bersamaku. Meski pekerjaanku di kantor abi sudah selesai, tapi saat ini aku harus fokus menyelesaikan kuliahku secepat mungkin agar bisa mengikuti wisuda periode ini.


"Aku langsung ke kampus, tapi nanti aku jemput kamu lagi ke sini." Ucapku setelah memarkirkan mobil di depan area lobby kantor.


"Iya, hati-hati di jalan." Ucapnya kemudian bergegas hendak keluar mobil. "Loh, Sky.. kenapa dikunci? Buka!" Bery berbalik menoleh kepadqku dengan tatapab tajamnya.


Aku sengaja mengunci pintu mobil karena ia melupakan satu hal.


"Kenapa buru-buru sekali? Apa kamu tidak merasa ketinggalan sesuatu?" Tanyaku memancing ingatannya.


"Gak ada Sky, semua barangku sudah ada di dalam tas ini." Ucapnya sambil menunjukkan tas tangan ukuran besarnya.


"Bukan itu maksud aku." Ucapku kesal karena dia sama sekali tidak peka.


"Terus apa, Sky? Cepatan buka, ntar kamu telat ke kampusnya."


Aku benar-benar dongkol dibuatnya, jadi cewek dak peka banget jadi orang.


"Sini aku bisikin." Aku menarik lengannya agar tubuhnya lebih dekat denganku.


Setelah tubuhnya sudah lebih dekat, kedua tanganku kutangkupkan di wajahnya.


"Cup..."


"Kamu lupa itu dari aku." Ucapku setelah mengecup lembut keningnya.


"Giliran kamu..." aku mendekatkan punggung tangan kananku ke wajahnya.


Meski bengong, Bery meraih juga tanganku lalu dikecupnya singkat. "Lain kali bilang, gak usah pakai drama-drama seperti ini. Aku turun, assalamu'alaikum."


Aku tidak bisa menahan senyumku yang terus mengembang sepanjang perjalanan ke kampus. Melihat wajah Bery yang suka merona saat kusentuh, sungguh menjadi sesuatu yang sangat menyenangkan sekali.


Oooo☆~~☆oooO


Jangan lupa berikan like, comment dan vote kalian yah untuk mendukung Novel ini. Klick tombol Favorit agar kalian bisa mendapatkan notifikasi tiap kali ada update terbaru. okay.. Thanks 😍🤗