HAPPIER

HAPPIER
BAB 45



Aku menyetir dalam diam, tidak tahu harus membuka percakapan darimana dan bagaimana. Sejak pertemuannya tadi dengan lelaki itu, belum satu katapun Bery ucapkan padaku, jangankan satu kata, bahkan menatapku pun tidak.


Haruskah aku menyesal karena membiarkannya bertemu dengan lelaki itu?


Aku hanya berfikir, dengan membiarkan mereka menyelesaikan masa lalu mereka, maka aku akan tenang bersamanya menuju masa depan.


Tapi satu hal yang luput dari perkiraanku, aku tidak pernah berfikir jangan sampai Bery goyah dan kembali kepada lelaki itu. Aku tidak bodoh untuk faham mengapa kelaki itu kembali muncul di kehidupan Bery saat ini.


Seketika hatiku diselimuti kabut tipis yang akhirnya menguap menjadi titik-titik kegelisahan yang memadat. Berkali-kali kulirik Bery di sampingku namun tetap saja aku merasa diabaikan.


Aku membelokkan setir mobil menuju ke suatu tempat, yang jelasnya bukan ke rumah orang tuaku ataupun apartemen Bery. Sudah lama aku berencana membawa Bery ke sana, namun belum sempat juga. Mungkin ini adalah momennya, mengingat suasana hati Bery yang sepertinya tidak baik, rasanya akan sangat baik membawanya ke sana.


Hingga mobil yang kami kendarai sampai di depan sebuah bangunan rumah, Bery masih tidak menyadarinya.


"Sudah sampai." Ucapku sambil membuka seatbelt-nya.


Ia tampak kaget melihat wajahku yang dekat dengan wajahnya. Sengaja kutahan posisi tubuhku tetap seperti itu.


"Kamu ngapain Sky? Jangan macam-macam!" Ucapnya semakin menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi.


Aku mengangkat tali seatbelt dan menunjukkan kepadanya. "Sudah 5 menit kita sampai di sini dan kamu masih tidak bergeming dari pikiranmu."


Aku kemudian menormalkan posisi dudukku dan mengumpulkan barang-barangku di mobil lalu keluar dan berjalan cepat mengitari mobil dan membukakan pintu mobil untuknya.


"Thanks!" Ucapnya lalu mengedarkan pandangannya. "Kita dimana Sky?" Tanyanya bingung setelah keluar dari mobil.


Aku menarik lengannya agar segera mengikutiku masuk ke dalam rumah.


"Selamat malam mas, Sky!" Sapa seorang pria paruh baya yang berjaga di rumah.


"Malam, pak. Tolong parkirkan mobil saya, pak.. saya dan istri mau masuk dulu." Ucapku seraya memberi kunci mobil kepada pria tersebut.


"Baik, mas."


"Terima kasih, pak. Mari..."


"Sama-sama mas Sky. Monggo..silahkan mas."


Rumah milikku garasinya bukan di depan rumah, namun harus mengitari taman di depan kemudian ke samping dan barulah garasinya berada di bagian belakang rumah. Rumah yang baru selesai di bangun tahun lalu ini bergaya modern black house. Mungkin sebagian orang akan menganggap rumah ini kelihatan suram, namun bagiku justru rumah ini memiliki nilai estetik yang tinggi.



Bery tampak tetakjub ketika kubuka pintu dan mempersilahkan ia masuk duluan. Ia mengedarkan pandangannya kemudian menyusuri tiap sudut ruangan. Aku yang berdiri di depan pintu hanya bisa memandanginya menjelajah sepuas yang dia inginkan. Setelah itu ia menghempaskan tubuhnya ke atas sofa besar yang ada di ruangan ini.


"Kamu tunggu di sini, aku siapkan sesuatu dulu untuk kamu di atas." Ucapku kemudian berlari menaiki tangga menuju lantai atas dimana aku melewati mezzanin floor terlebih dahulu.


*****


Aku tidak tahu Sky membawaku dimana saat ini, yang aku tahu sekarang ada di sebuah rumah yang cozy dan cool banget. Suasana hatiku yang tadinya mendung kini berangsur cerah melihat interior rumah ini.


Aku tertarik melihat dapur yang langsung berada di ruang tamu. Aku yang biasanya tidak pernah tertarik dengan urusan perdapuran seketika tergerak dan tertarik hatinya melangkahkan kaki ke sana. Kubuka beberapa lemari kitchen set dan akhirnya menemukan berbagai jenis merk kopi hitam di sana.


Ada coffee maker maka jadilah 2 gelas kopi yang kuracik untuk diriku dan Sky tentu saja. Aroma kopi yang menguar memenuhi indera penciumanku memberi kedamaian tersendiri di dalam hati dan fikiranku.


Ada yang bisa jelaskan kepadaku mengapa hati dan fikiran paling suka berperang? Dan yang paling sering babak belur hingga berdarah-darah adalah hati. Dan saat itu terjadi, fikiran akan dengan tidak punya hatinya menyalahkan, "bukankah sudah kukatakan? Bukankah sudah kuingatkan?"


"Mmmm... wanginya sampai ke atas." ucap Sky saat masih menuruni tangga.



"Kalau aku menabrak lenganmu lalu kopinya tumpah, kemudian aku nanya kenapa kamu menumpahkan kopi, kamu akan jawab apa?" Tanya Sky kemudian.


"Karena kamu menabrak lenganku." Jawabku singkat.


"Salah!" Koreksinya.


Aku menatapnya dengan kening berkerut.


"Kamu menumpahkan kopi karena isi cangkir kamu adalah kopi. Jika isinya teh maka yang tumpah adalah teh, jika isinya susu yang tumpah adalah susu dan jika isinya adalah air maka yang tumpah adalah air. Apapun isi cangkir kamu maka itulah yang akan tumpah keluar." ucap Sky kembali menyesap kopinya.


"Kamu tau? Cangkir itu ibarat pikiran. Ketika keadaan tidak baik datang menabrakmu dan mengguncangmu, apapun yang ada di dalam pikiranmu, itulah yang akan keluar."


Sky mengambil cangkir yang sedari tadi di tanganku kemudian meletakkannya di meja. Matanya terus menatapku intens.


"Pertanyaannya sekarang: Apakah yang ada di dalam cangkir fikiranmu? Ketika ada sesuatu yang mengguncang hidupmu, apa yang akan kamu tumpahkan?"


"Kamu sendiri yang menentukan, apakah kemarahan, sumpah serapah  cacian atau malah kelemah lembutan, kesabaran dan kebaikan yang akan kamu tumpahkan. Jangan pernah menyalahkan orang lain apalagi menyalahkan diri sendiri atas apa yang sudah kamu lewati."


Sky membingkai wajahku dengan kedua telapak tangannya yang hangat.


"Apapun yang mengguncangmu, bukan faktor dari luar yang menentukan hari-harimu tapi responmu dan reaksimulah yang menentukan."


Sekatika air mataku meluncur keluar, aku menundukkan pandanganku karena tidak sanggup menatap wajah laki-laki yang begitu sabar menghadapiku ini.


"Sekarang, tentukan responmu, tentukan reaksimu. Apa seperti saat ini atau kamu akan bangkit dan melangkah dengan percaya diri tanpa membiarkan masa lalu membebani langkahmu?"


Sky mengusap lembut air mataku dengan kedua punggung jari telunjuknya.


"Bery yang kukenal adalah perempuan tangguh dan hebat. Ia sedikit manja dan juga cengeng, tapi itu hanya ia tunjukkan di hadapan suaminya. Sekarang suaminya yang ingin dimanja, bolehkah?" Tanyanya dengan nada menggemaskan.


Aku sedikit tersenyum namun tidak bisa menahan sesegukan kala Sky menarikku ke dalam dada bidangnya.


"Maaf!" ucapku lirih.


"Maafnya tidak diterima." aku mendongak menatap wajahnya mencari apakah ada kemarahan di sana hingga ia menolak memaafkanku. "Kalau istri salah berarti suami yang harus minta maaf karena gagal membuat istrinya benar." imbuhnya.


Aku memukul dadanya pelan namun ia malah semakin mengeratkan tangannya melingkari tubuhku.


Sky kemudian mengurai pelukannya dan kembali menghapus sisa air mata yang ada di pipiku.


"Ayo kita ke atas, kamu bersih-bersih badan dulu dan aku punya sesuatu untuk kamu setelah itu."


Sky menggandeng tanganku naik tangga, kami masuk ke dalam sebuah kamar yang berada di mezzannine floor. Ukurannya cukup luas dan kembali ruangan tersebut dipenuhi banyak kaca sebagai penyekatnya.


"Aku sudah siapkan beberapa pakaian ganti di walk in closet. Kamar mandinya ada di dalam." Ucapnya menunjuk ke sebuah pintu geser menuju walk in closet.


Meski banyak pertanyaan yang mengisi dan memenuhi kepalaku saat ini, namun aku memilih diam dan mengikuti semua perkataannya. Aku sudah tidak punya energi untuk membantah apalagi berdebat dengannya.


Aku hanya sedang memikirkan semua yang dikatakannya tadi karena semua kalimat panjangnya tadi sekarang menggantung di setiap saraf-saraf otakku membuatku tidak ingin memikirkan hal lainnya lagi.


Oooo☆~~☆oooO


Jangan lupa berikan like, comment dan vote kalian yah untuk mendukung Novel ini. Klick tombol Favorit agar kalian bisa mendapatkan notifikasi tiap kali ada update terbaru. okay.. Thanks 😍🤗