HAPPIER

HAPPIER
BAB 9



Bery..


Aku tidak bisa menahan senyumku di sepanjang perjalanan pulang ke rumah orang tua Sky. Meskipun awalnya aku sudah frustasi dengan sikapnya yang kaku, dingin dan sangat irit bicara. Sebenarnya aku juga bukan tipe perempuan cerewet, aku biasanya hanya berbicara seperlunya, basa basi seperlunya dan lebih banyak menyapa orang-orang di sekitarku dengan seulas senyum juga anggukan kepala.


Saat di rumah orang tua Sky, selama ini aku memang tidak pernah berbicara dengannya karena dia selalu menghindar atau katakanlah dia terlalu sibuk dengan urusannya sendiri. Aku juga merasa tidak punya kepentingan untuk mengajaknya mengobrol melihat sikapnya yang selalu menjaga jarak kepada siapapun yang datang berkunjung ke rumahnya. Aku tidak pernah mempermasalahkannya. Aku tidak perlu merasa bahwa dia itu tidak sopan, mau bagaimana lagi, setiap orang yang mengenalnya sudah faham dengan sifatnya, dengan traumanya, jadi banyak pemakluman untuknya. Yang masalah jika itu adalah orang baru, sudah tentu mereka akan menganggap Sky tidak sopan dan sombong. Namun sepertinya Sky tidak pernah terganggu dengan penilaian orang-orang di sekitarnya. Dia benar-benar semasa bodoh amat, aku tidak tahu bagaimana ia menghadapi dunia kampus dan orang-orang di dalamnya.


Jujur, aku cukup merasa terhibur dan kadang terharu dengan sikapnya di lokasi proyek tadi. Aku jadi teringat Nindi, dia memperlakukan aku seperti Nindi kakaknya. Dia terus mengekoriku, menjagaku agar terus berjarak dengan lawan jenisku. Aku menikmati perlakuannya, senang saja rasanya, baru kali ini ada laki-laki yang posesif kepadaku. Mungkin Anzi juga akan seperti Sky memperlakukan aku andai kami dekat.


Dan apa tadi katanya saat aku ancam?


"Bagus dong, hidupku akan aman dari cewek-cewek yang suka ngejar-ngejar aku selama ini."


Dia nantangin aku rupanya. Lucu juga. Ternyata dia bisa ngomong banyak-banyak. Kirain jawabannya maksimal hanya 5 kata, ternyata bisa lebih. Aku tidak mengerti kenapa aku bisa secerewet itu jika dengannya. Tapi aku benar-benar merasa mendapatkan pengalaman yang berbeda darinya.


Hidupku 10 tahun terakhir ini hanya kuhabiskan dengan belajar sambil bekerja, hanya Nindi dan umi Aida yang bisa membuatku menjadi manusia normal pada umumnya. Tapi aku tidak separah Sky, aku masih punya kehidupan sosial yang baik. Aku bergaul, sesekali aku juga menghabiskan waktu dengan teman-teman kuliah atau teman kantor. Aku hanya membatasi diri dari hubungan yang rumit, misalnya hubungan persahabatan yang seolah mewajibkan aku untuk selalu ada dan melakukan segala hal harus bersamanya. Pacaran apalagi. Ini adalah hubungan yang sangat kuhindari. Aku sudah pernah menghancurkan hidupku karena seseorang yang memgaku sebagai pacarku, dan aku tidak akan membiarkan diriku kembali hancur karena hal yang sama.


Banyak yang mengejarku, ada yang mengajakku pacaran, ada juga yang mengajakku langsung menjadi istrinya. Aku benar-benar tidak tertarik dengan ide untuk menjalani hubungan kedekatan dengan lawan jenis apapun bentuk namanya. Aku punya ketakutan tersendiri, aku takut suatu hari nanti ada laki-laki yang merendahkanku setelah mengetahui masa laluku. Atau kalaupun laki-laki tersebut menerima semua masa laluku, siapa yang menjamin hatinya tidak akan terganggu saat menyentuhku dan dia seperti tidak rela karena sudah ada laki-laki lain yang lebih dulu menjamahku. Aku sendiri merasa jijik membayangkannya, bagaimana orang lain?


Selama ini aku benar-benar sudah menutup diri dan tidak mau memikirkan atau membayangkan diriku menikah dan hidup bahagia dengan suami dan anak-anakku. Aku akan bahagia, tapi bukan dengan memiliki keluarga, aku akan mendapatkan kebahagiaanku dengan cara lain tentu saja.


Ini sudah 1 bulan berlalu sejak pertemuanku dengan ayah. Tidak ada perkembangan apapun dari apa yang menjadi harapan ayah. Andaikan boleh ditukar, aku siap memberi nyawaku dibanding harus menikah.


Tidak menikah bukan berarti aku ingin menghabiskan sisa hidupku dalam kesendirian. Karena bagiku, berdiri sendiri itu bukan berarti benar-benar sendiri tapi aku hanya merasa bahwa aku cukup kuat untuk mengandalkan diriku sendiri. Di masa tuaku nanti, mungkin aku akan sering-sering berkunjung ke rumah Nindi atau Anzi, mengunjungi anak-anak mereka dan mungkin cucu-cucu mereka. Dan jika aku sudah sangat renta, mungkin aku akan membawa diriku ke panti jompo. Aku sudah memikirkannya bahkan mulai menyiapkan dana untuk itu, lagian di sana aku akan bertemu dengan orang-orang seusiaku dan juga mungkin dengan orang-orang yang punya cara pandang yang sama denganku.


Aku hanya merasa terganggu saja dengan niat sebagian orang yang menikah hanya untuk mendapatkan keturunan sehingga kelak di masa depan mereka bisa tenang menghadapi masa tuanya karena bergantung kepada anak-anaknya, seolah-olah anak itu adalah dana pensiun.


Sebagai anak, tentu aku sadar betul bahwa berbakti kepada kedua orang tua adalah suatu kewajiban yang mutlak. Bisa diberi kesempatan berbakti kepada orang tua adalah sebagian dari rezeki yang tidak ternilai dengan apapun di dunia ini. Jangan malah menjadi beban bagi mereka, ingat orang tua hanya ketika punya masalah saja. Hanya saja, jika saatnya aku diposisikan sebagai orang tua, aku benar-benar tidak ingin menjadi beban bagi anak-anakku. Intinya sih, orang tua itu bukan dana darurat dan anak itu bukan dana pensiun.


*****


Aku langsung bergegas ke dapur setelah melaksanakan aktifitas wajib di pagi hari. Biasanya umi Aida sudah berkutat di dapur setelah sholat subuh. Harum aroma masakan seketika menusuk indera penciumanku, sungguh sangat menggugah selera apalagi buatku yang tadi malam melewatkan makan malam.


Tadi malam aku memilih menginap di rumah orang tua Sky, di rumah ini memang sudah ada satu kamar yang dikhususkan untukku, jadi aku boleh tidur di sini kapan pun aku mau. Meskipun demikian, aku sangat jarang menginap di sini. Selain karena kesibukanku, aku juga merasa tidak enak terlalu banyak merepotkan keluarga ini.


"Loh, Bery.. kamu ada di rumah? Kapan datangnya? Kok umi gak tau?" Tanyanya kaget melihat kehadiranku sesubuh ini.


"Tadi malam umi, bareng Sky langsung dari lokasi proyek. Sampe rumah abi bilang umi udah tidur karena lagi gak enak badan. Udah baikan belum?"


Umi Aida kemudian mengangguk-angguk, sepintas melirikku dengan senyum hangatnya kemudian melanjutkan kegiatan memasaknya.


"Alhamdulillah, udah baikan, umi hanya masuk angin, sepertinya mau flu, ini umi buat sop ayam, biar makan yang segar-segar pagi-pagi begini."


"Segernyaaa.. udah gak sabar nunggu masakan umi selesai, aku udah kangen banget sama masakan umi. Kemarin lihat bekal sarapan Sky aku udah ngiler banget, sumpah!" Ucapku tanpa malu sambil nyengir.


"Ya udah, nanti umi bekalin juga sekalian kalau kamu mau."


"Mau dong umi, rezeki gak boleh ditolak. He he he.." ucaku cengengesan. "Apa nih yang perlu aku bantu?"


"Ini sopnya kamu bawa ke meja makan." Umi Aida menggeser mangkuk sayur ke arahku. Asap putih mengepul di atas wadah semakin menggugah selera membuat cacing-cacing di perutku berdemo meminta jatah.


Setelah semua masakan umi Aida beres dan sudah tertata rapi di atas meja makan, aku membantu beliau beberes dapur terlebih dahulu. Aku berencana masuk terlambat ke kantor hari ini, biar punya lebih banyak waktu ngobrol dengan beliau. Jarang-jarang aku ke sini, rugi rasanya kalau belum puas bercengkerama dengan umi Aida dan langsung pulang.


Di rumah mereka tidak memakai jasa art, rumahnya tidak terlalu besar namun berlantai 2, sebelum Nindi menikah, tugas Nindi membersihkan rumah tiap paginya, sementara Sky bertugas membersihkan halaman juga membuang sampah. Biasanya Sky akan membawa sampahnya saat akan berangkat sholat subuh di mesjid. Pulangnya baru membersihkan halaman rumah. Seharusnya sebentar lagi dia muncul di dapur. Itu adalah kebiasaannya, tentu aku sudah hafal, bukan hanya Sky, aku hafal semua kebiasaan penghuni rumah ini di kala pagi hari.


Nah, panjang umur. Baru juga terlintas di fikiran orangnya sudah datang mengambil satu tempat di meja makan. Jangan harap ada sapaan selamat pagi darinya. Aku biasa menyebutnya TV rusak, ada gambar tapi tidak ada suara.


"Morning, Sky!" Sapaku padanya.


Dia mengangkat wajahnya menatapku cengo sekian detik, mengangguk sekali, kemudian tanpa balas kata ia melanjutkan aktifitasnya di atas meja makan.


Sky benar-benar menguji kesabaranku. Masih pagi sudah berhasil membuatku dongkol. Aku fikir dia sudah mulai berubah setelah kemarian seharian bersamanya, rupanya hari ini dia kembali ke mode awal, silent mode!


Oooo☆ ~ ☆oooO


Jangan lupa berikan like, comment dan vote kalian yah untuk mendukung Novel ini. Klick tombol Favorit agar kalian bisa mendapatkan notifikasi tiap kali ada update terbaru. okay.. Thanks 😍🤗