
💥Aslinya, novel ini baru selesai sampai Bab 40 yang sudah author kembangkan plotnya. Selebihnya yang masih menyisakan beberpa puluh Bab belum ditulis😆 jadi kedepannya mungkin akan ada waktu dimana tidak ada update harian. Soalnya mak Author nulis sesuai mood aja. hehehe.. But thanks for all your support, guys. Komentar dan like kalian adalah mood booster bagi saya😘
💦💦💦
Sky menghitung waktu hingga 30 menit berlalu membiarkan Bery berada di dalam kamar mandi. Karena Bery tak juga keluar kembali Sky mengetuk pintu namun masih tak ada jawaban dari dalam.
Ketika Sky sudah bersiap hendak mendobrak pintu kamar, knop pintu terlihat ditatik dari dalam lalu muncullah Bery dengan keadaan kacau dan basah kuyup.
Sky langsung menarik Bery ke dalam rengkuhannya, tidak peduli dengan pakaiannya yang ikut basah. Sky langsung mengangkat tubuh Bery ke atas kasur tepat di mana selimut berada. Sky hanya berfikir tidak masalah selimutnya basah, nanti tinggal diganti, berbeda jika kasurnya yang basah.
Sky menggulung tubuh Bery yang sudah menggigil dengan selimut. Ia lalu mencari pakaian ganti Bery, ia menarik asal daster yang tertangkap di matanya.
"Sayang, kamu harus ganti pakaian, pakaian kamu basah, kamu bisa sakit kalau tidak menggantinya."
Namun Bery sama sekali tidak bereaksi, pandangannya kosong dengan air mata yang terus mengalir deras di wajahnya.
Sky bingung, ingin meminta tolong umi Aida tapi tidak mungkin, ini sama saja membuka aib rumah tangga mereka jika ia melakukannya.
Sky membingkai wajah Bery. "Sayang, ayo dong... ganti pakaian kamu. Aku tidak mau kamu sakit. Ganti yah? Aku mohon...! Atau mau aku bantu?"
Seketika tatapan Bery menatap ke mata Sky, seolah menarik dirinya untuk kembali menapak bumi.
"Sky!" Ucap Bery menyebut nama laki-laki yang saat ini membingkai wajahnya dengan sesekali mengusap air matanya dengan punggung ujung jari telunjuknya.
"Iya, ini aku, Sky... kamu basah, ganti baju yah!" Pintanya kembali mencari perhatian Bery.
Bery pun akhirnya mengangguk, ia menerima pakaian yang diberi Sky.
Sky bangkit hendak ke kamar mandi, sembari menunggu Bery mengganti pakaiannya ia juga ingin mengganti bajunya yang ikut basah tadi.
"Kamu mau kemana, Sky? Jangan tinggalin aku!" Ucap Bery lirih.
"Aku tidak akan kemana-mana, aku hanya ingin mengganti bajuku yang juga basah." Ucap Sky yang kembali duduk di tepi ranjang.
"Tetaplah di sini. Jangan pergi!" Kembali permohonan itu terdengar lirih di telinga Sky.
"Baiklah!" Ucap Sky mengalah. Ia mendekatkan tubuhnya dengan Bery dan mengambil kedua tangannya ke dalam genggamannya. Dapat ia rasakan betapa dinginnya kulit tangan Bery.
"Berbaliklah, aku akan berganti pakaian."
Tak ingin membuang waktu lagi, Sky langsung memundurkan tubuhnya lalu duduk membelakangi Bery.
Tapi karena pakaiannya basah, Bery cukup kesulitan membuka pakaiannya dengan posisi berada di atas kasur.
"Sky, berdiri dan menghadap ke sofa." Perintah Bery lagi kemudian turun dari ranjang dan berdiri di belakang Sky.
Cepat-cepat ia keluarkan pakaian basahnya kemudian mengambil pakaian yang tadi disiapkan Sky. Kening Bery mengkerut karena Sky tidak menyiapkan pakaian dalamnya, namun sudah kepalang tanggung, ia sudah menggigil kedinginan, tak ada waktu untuk memusingkan urusan pakaian dalam.
Wajah Sky memerah dan terasa panas, bahkan darahnya berdesir dari ujung kaki hingga kepala melihat pemandangan yang dipantulkan oleh cermin meja rias tempat Bery berganti pakaian.
Tak sadarkah Bery setelah satu minggu lebih menjadi penghuni kamar ini, sebagai seorang arsitek, tentu harusnya Bery sadar bahwa desain kamar Sky ini dibuat full mirror di satu sisinya dengan bentuk dan konfigurasi yang unik di dinding kamarnya. Hal ini diterapkan untuk menyiasati kamar tidur Sky yang relatif kecil sehingga ruangan akan terasa lebih luas dan lega.
Bisa Sky lihat Bery sudah siap di atas ranjang dengan duduk bersandar di kepala ranjang. Satu bantal ia letakkan di atas pangkuannya dengan kedua tangannya melingkar di sana dan dagunya ditopang di bantal tersebut.
Sky menghamparkan selimutnya kemudian membawanya menutupi tubuh Bery. Ia kemudian ikut masuk ke selimut dan merapatkan tubuh mereka.
"Tidurlah!" Titah Sky.
Bery menggeleng dan kembali air matanya keluar membasahi pipinya.
"Aku tidak tau apa yang terjadi denganmu saat ini, tapi kalau kamu ingin cerita, ceritakanlah."
Kembali Bery menggeleng, Sky yang tidak tahan melihatnya sesegukan menarik tubuh Bery ke dalam pelukannya.
"Apa yang terjadi? Apa ada yang menyakiti kamu? Katakan Ber? Bagaimana aku bisa membantumu kalau kamu diam terus?" Sky sudah frustasi namun tetap berusaha menekan suaranya agar tidak terdengar kesal.
"Katakan, kamu mau aku melakukan apa agar kamu tidak menangis lagi?" Tanya Sky lagi kemudian menarik dagu Bery agar membalas tatapannya.
Namun diluar dugaan Sky, tangisan Bery malah semakin bertambah sesegukan yang membuat tubuhnya terguncang.
"Yaa Allah.. kamu kenapa sayang? Maaf kalau aku ada salah sama kamu." Ucap Sky setelah membawa Bery ke dalam pelukannya.
10 menit berlalu dan nafas Bery sudah teratur di dalam pelukan Sky. Pelan-pelan Sky mendorong tubuh mereka agar bisa berbaring dengan nyaman. Ia merentangkan satu lengannya kemudian membawa kepala Bery dari dadanya ke lengannya tersebut.
Bery tampak terganggu dan membuka matanya yang sayu dan membengkak.
"Sssst ssssttt ssssttt.. tidurlah."
Belaian tangan lembut Sky di kepalanya membuat rasa kantuk kembali menghampirinya hingga kembali nafasnya berhembus dengan teratur dan pelan menerpa kulit telinga Sky.
Berdua dengan posisi sedekat ini sungguh menguji iman Sky, bagaimanapun dia adalah pria normal. Belum selesai kekalutan Sky memikirkan tubuhnya dan tubuh Bery yang saling merapat dari kaki hingga kepala, kini tangan Bery malah menyusup memeluk pinggangnya kemudian memiringkan tubuhnya mencari posisi nyaman di dalam pelukan Sky.
Dada Sky semakin sesak setelah melihat dada Bery merapat di dadanya. Sky bisa menghitung nafasnya satu-satu yang berat dan panjang.
Sky kemudian menarik kepalanya sedikit menjauh, dengan posisi seperti ini, ia bisa memandangi wajah cantik, imut dan menggemaskannya. Bibir pink pucat yang terlihat penuh atas bawah, wajahnya yang bersih dan terlihat kenyal alami bukan karena aneka produk per-glowingan. Hidungnya mancung, kecil tapi proporsional, Sky sekarang tahu kenapa Bery bisa terlihat imut, rupanya karena faktor hidungnya itu. Alisnya tidak tebal tapi tidak tipis juga dan dibiarkan tumbuh alami tanpa dipreteli walau sehelai.
Mata Sky kemudian semakin turun ke bawah, tak lupa mencuri kecup di bibir menggodanya itu. Berkali-kali menyentuh bibir itu, tapi baru sebatas dikecup, belum dieksplor lebih jauh, membuat Sky tidak sabar menunggu waktu ketika Bery menyerahkan segalanya kepadanya.
Dengan kerah lebar daster yang dipakai Bery membuat leher hingga tulang selangkanya terekspos bebas di depan mata Sky. Sebuah tahi lalat tepat berada di tengah-tengah antara kedua tulang selangkanya, menambah kesan seksi dan manis di sana.
Mata Sky kembali melebar melihat bagian yang paling mencolok di bawah tulang selangka itu. Beberapa bagian di tubuhnya menegang seketika akibat efek yang diciptakan oleh dua benda yang membentuk sebuah belahan.
Sky hanya bisa menelan salivanya dengan kasar, mencoba menahan sesuatu yang tiba-tiba membakar di dalam tubuhnya. Ada yang sakit namun harus ditahan sekuat tenaga. Dia bukan pria pemain sabun, dia adalah pria sejati yang tidak akan membuang secara percuma benih-benih unggul miliknya berakhir di lubang toilet.
"Sayang... izin satu kissma*k yah!"
Wajah Sky menyiratkan sebuah senyum lebar setelah memandangi hasil karyanya yang kini membingkai tahi lalat di dada indahnya itu.
Oooo☆~~☆oooO
Jangan lupa berikan like, comment dan vote kalian yah untuk mendukung Novel ini. Klick tombol Favorit agar kalian bisa mendapatkan notifikasi tiap kali ada update terbaru. okay.. Thanks 😍🤗