HAPPIER

HAPPIER
BAB 38



Seminggu telah berlalu, Bery dan Sky benar-benar sangat sibuk dengan urusan pekerjaan masing-masing. Bahkan Bery hampir tiap hari melakukan kunjungan ke lokasi proyek namun tidak didampingi oleh Sky dikarenakan kesibukannya di kampus juga di kantor.


Mereka berdua sepakat untuk tidak mem-publish hubungan mereka untuk sementara, selain karena ingin menikmati sensasi masa-masa pacaran rasa backstreet, Bery juga merasa belum saatnya orang-orang kantor tahu hubungan mereka, apalagi status Sky yang mahasiswa magang yang kebetulan satu ruangan dengannya. Khawatirnya ada yang menuduh mereka ada yang tidak tidak sehingga tiba-tiba menikah.


Meski tidak ada yang salah karena mereka masih sama-sama single, namun Bery tetap merasa tidak nyaman. Sky sendiri tidak mau mengambil pusing, meski jauh di dasar hatinya ingin segera menunjukkan status kepemilikannya atas Bery. Bukan apanya, sebagai laki-laki, Sky sadar betul bahwa banyak yang antri untuk mendapatkan cinta Bery, termasuk beberapa klien dan rekannya di kantor.


Sky merasa posisinya belum aman, Bery bisa meninggalkannya kapan saja ia mau karena sampai sekarang Sky belum bisa menggapai hati Bery. Karena itulah Sky tidak ingin memaksa meminta haknya sebagai suami karena ia ingin mendapatkan Bery seutuhnya, bukan hanya raganya, tapi jiwanya juga.


Sementara bagi Bery, ia masih terperangkap dalam perasaan tidak percaya dirinya dan ketakutannya untuk kembali dicampakkan. Ia benar-benar takut ditinggalkan setelah ia menyerahkan segalanya kepada Sky.


Meski sudah beberapa kali Sky mengatakan perasaannya dan menunjukkannya dengan aksi nyata, namun Bery masih banyak dilingkupi keraguan yang mendalam.


Bery takut, Sky hanya penasaran dengannya mengingat Sky juga belum pernah menjalin hubungan kedekatan dengan gadis manapun bahkan kelihatan sangat menghindari berdekatan dengan perempuan, jadi wajar baginya menyimpan sedikit tanya akan motif Sky menerimanya dan mau menikahinya.


Sky laki-laki muda yang tampan dan cerdas, tentu banyak perempuan yang antri untuk mendapatkannya.


Bery tidak ingin larut dalam fikirannya yang mulai bercabang kemana-mana, akhirnya ia memutuskan fokus menyelesaikan desain yang sedang di tanganinya saat ini.


Setelah berjam-jam menarik berbagai garis di atas kertas kalkir, Bery merentangkan kedua tangannya ke atas, melemaskan semua otot-ototnya kemudian berjalan ke arah mini kitchen yang ada di ruangannya untuk membuat satu gelas kopi. Tanpa sadar ia malah memilih duduk di kursi Sky untuk menikmati kopi buatannya itu.


Tangan Bery menyusuri beberapa benda milik Sky yang tertata rapi di atas meja kerjanya. Ada setitik rasa kehilangan di hatinya karena sudah terbiasa melihat Sky berada di sini dan sudah seminggu ini Sky sangat jarang berada di sini.


Deringan ponselnya menghentikan aktifitasnya di meja Sky. Ia bergegas ke arah mejanya sendiri untuk menjawab telponnya.


"Assalamu'alaikum, Vi."


"Wa'alaikum salam, sorry Ber, baru sempat hubungin kamu. Aku cari kamu tapi kata adek kamu, kamu sudah balik ke Jakarta."


"Iya, Vi... aku memang gak lama di sana. Kasihan pekerjaanku kalau terlalu lama ditinggal. So, gimana kabar kamu?" Tanya Bery berbasa-basi.


"Alhamdulillah baik. Oh yah, aku sekarang lagi di Jakarta ikut seminar nasional selama 3 hari ke depan. Kamu ada waktu gak buat meet-up di sela-sela waktu kosongku?" Tanya Vivian penuh harap.


"Mmmm..." Bery berfikir sejenak mengingat agendanya yang padat, namun ia juga merasa tidak enak jika mengabaikan kawan lamanya tersebut. "Aku cek jadwalku dulu yah, kamu kirim aja alamat dan waktu kosongmu, biar aku sesuaikan dengan jadwalku." Ucap Bery akhirnya.


"Oke..oke.. kutunggu infonya secepatnya." Vivian terdengar bersemangat dan senang.


"Iya, InsyaaAllah... nanti aku kabari, yang jelasnya gak hari ini karena ada beberapa agenda yang tidak bisa aku tinggalkan."


"Oke, thanks yah, Ber.. Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikum salam."


Bery menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi kebesarannya, sejenak ia merenung.


Bertemu masa lalu sebenarnya adalah hal yang dihindari Bery. Apalagi jika mengingat dengan pertemuannya dengan Rio tempo hari, itu sangat membekas baginya. Ada ketakutan tersendiri untuk bertemu Vivian, bagaimanapun ia tahu betul Vivian pernah menaruh perasaan lebih kepada Rio. Sungguh Bery sudah sangat malas berhubungan dengan apapun yang menyangkut dengan Rio.


Namun di sisi lain, Bery juga tidak bisa mengabaikan Vivian begitu saja. Vivian terlihat sangat ingin bertemu dengannya, entah apa yang ingin disampaikannya. Sedikit rasa gundah menyelimuti hatinya, namun coba ia tepis. Tidak baik berprasangka buruk kepada orang lain, waspada memang penting, akan tetapi mendahulukan asas praduga tak bersalah lebih utama.


*****


Sky masuk ke kamarnya dan belum menemukan Bery di sana. Beginilah kehidupan rumah tangga yang mereka jalani sejak kembali ke Jakarta. Interaksi diantara mereka menurun drastis dikarenakan kesibukan masing-masing. Tapi baru kali ini Bery pulang terlambat, biasanya Sky pulang ke rumah dan Bery sudah tidur.


Memang kemarin Bery sempat meminta izinnya untuk bertemu dengan teman lamanya di salah satu Hotel yang tidak terlalu jauh dari kantor Bery. Sky tidak bisa mencegahnya tetapi tidak bisa juga menemaninya karena Sky ada kegiatan di kantor abinya, dan juga Bery menolak keras tawaran Sky untuk menjemputnya.


Namun apapun itu, Sky hanya bisa pasrah. Bery adalah perempuan bebas yang tidak bisa dikekang begitu saja meski telah ia ikat dengan ikatan yang paling kuat sekalipun. Senjata Sky saat ini hanyalah sabar, sabar dan berdoa, berharap suatu saat nanti Bery akan membiarkannya masuk dan tinggal di dalam hatinya.


Sky kemudian membersihkan tubuhnya lalu beranjak ke lantai bawah mencari sesuatu untuk mengganjal perutnya. Seharian di kantor membuatnya lupa menyentuh makanan.


"Sky, udah makan sayang?"


Tiba-tiba umi Aida datang menyapanya yang membuatnya sedikit kaget karena rumah sudah sangat sunyi sekarang.


"Iya, umi...ini baru mau ambil makanan." Jawab Sky kemudian membuka tudung saji di atas meja makan.


"Kerja ya kerja, Sky... tapi jangan lupa isi perutnya. Jangan sakit-sakit." Omel umi Aida ikut duduk menemani putra kesayangannya itu makan malam.


"Iya umi sayang, Sky akan usahakan."


"Bery belum pulang yah? Sedari tadi umi belum melihatnya." Tanya umi mengalihkan.


"Belum umi, sepertinya dia masih bersama temannya, kemarin dia sudah minta izin sih." Jawab Sky terlihat santai.


"Kenapa kamu gak jemput? Kasihan istri kamu nyetir larut malam begini."


"Aku sudah tawari dari kemarin umi, tapi dianya menolak keras. Katanya ini urusan cewek jadi aku dilarang ikut." Ucap Sky sedikit menunjukkan wajah masamnya mengingat penolakan Bery saat menawarkan diri untuk menjemputnya.


"Anak itu keras kepala banget!" Gumam umi Aida namun masih bisa didengar Sky.


"Nanti aku telpon umi, kalau masih lama aku akan jemput dia." Sky tidak ingin membuat uminya kepikiran apalagi sampai menyalahkan Bery.


"Ya sudah, selesaikan makan kamu cepat dan hubungi istri kamu itu." Titah umi Aida sebelum beranjak kembali ke kamar tidurnya.


Buru-buru Sky merapikan sisa makanannya dan mencuci piring yang dipakainya tadi dan bergegas naik ke kamarnya untuk menelpon Bery.


Namun baru 3 anak tangga kakinya beranjak naik, terdengar suara mobil masuk ke dalam garasi.


Sky berbalik memastikan siapa yang datang, bisa jadi itu Bery atau juga mungkin abi Hasan.


Benar saja, itu adalah Bery. Sky langsung membukakan pintu dan menyambut Bery masuk ke rumah.


Nampak wajah sayu dan mata membengkak menggantung di sana. Tanpa memperdulikan kehadiran Sky di depan pintu, Bery terus berjalan dan mempercepat langkahnya menuju kamar mereka.


Sky tidak tinggal diam lalu mengejar Bery. Sayangnya Bery langsung masuk kamar mandi dan menguncinya dari dalam.


"Tok..tok..tok.."


"Ber... kamu kenapa? Buka pintunya, Ber? Kamu kenapa?"


Sky panik dan berusaha menggedor-gedor pintu, meski dari dalam terdengar suara gemericik air namun dapat Sky pastikan bahwa di dalam juga terdengar suara lirih tangis Bery.


Sky tidak tahu apa yang terjadi, namun saat ini Bery pasti sedang tidak baik-baik saja. Ia tidak bisa membiarkan Bery terus berada di dalam sana, ia berfikir untuk memberi waktu selama beberapa menit untuk Bery sendiri, namun jika Bery tetap tidak membukakannya pintu, ia akan mendobrak pintu tersebut. Tekadnya!


Oooo☆~~☆oooO


Jangan lupa berikan like, comment dan vote kalian yah untuk mendukung Novel ini. Klick tombol Favorit agar kalian bisa mendapatkan notifikasi tiap kali ada update terbaru. okay.. Thanks 😍🤗