HAPPIER

HAPPIER
BAB 50



Aku sebenarnya masih marah kepada Sky, meskipun kesalahan tidak sepenuhnya ada pada dirinya namun aku tetap saja belum bisa menerima saat dia bertanya apa aku melakukan operasi keperawanan.


Pada dasarnya, inti dari ketakutanku selama ini bukanlah tentang selaput darah yang sudah robek, tapi lebih kepada kesucian dan kehormatanku sebagai perempuan. Dimana aku pernah merasa gagal menjaga diriku sendiri. Aku pernah merasakan duniaku seperti runtuh seketika ketika mengetahui diriku sedang berada di atas ranjang yang sama dengan seorang laki-laki dalam kondisi tanpa busana.


Laki-laki mana yang tidak akan terganggu fikirannya ketika dia menyentuhku diapun akan mengingat bahwa tubuh yang dia sentuh kini dulunya pernah disentuh oleh laki-laki lain.


Masalah lainnya, aku takut akan dicap sebagai perempuan murahan, karena faktanya, dulu aku memang berperilaku seperti perempuan murahan. Memangnya kata apa yang layak disematkan kepada perempuan yang menyerahkan kesuciannya kepada laki-laki yang bukan suaminya?


Tapi aku tidak bisa merubah apalagi menghapus masa laluku itu. Ia terus ada dan membayangi langkahku hingga mengikis habis hasratku untuk kembali menjalin hubungan dengan laki-laki lagi.


Mungkin tidak akan masalah jika aku berjodoh dengan laki-laki brengsek, atau bisa juga dengan laki-laki brengsek di masa lalu dan sudah bertaubat sepertiku. Mungkin saja tidak akan menjadi masalah.


Tapi, mana aku tahu aku akan berjodoh dengan siapa. Aku sudah cukup dengan laki-laki brengsek itu di masa lalu, tidak mungkin lagi aku ingin mengenal laki-laki brengsek lainnya. Lebih baik sendiri daripada salah memilih laki-laki sebagai suami.


Lalu sekarang, Tuhan mempunyai cara kerja yang unik dan diluar nalarku sama sekali.


Skylar! Aku masih tidak habis fikir bagaimana dia sekarang sudah menjadi suamiku, bahkan mungkin sebentar lagi aku akan mengandung anaknya. Memikirkan semua itu membuatku terkadang merasa sedang berada di alam mimpi.


Terlepas dari masa lalunya yang pernah menghilangkan nyawa orang lain, namun bagiku dia terlalu suci untukku. Dia terlalu bersih dari urusan hubungan antara perempuan dan laki-laki, amat sangat berkebalikan dengan diriku. Makanya kadang aku merasa insecure sendiri, dirinya yang bersih tanpa noda, sementara aku yang kotor penuh cela.


Namun, setelah mengetahui fakta kebenaran yang sesungguhnya, akupun dengan senang hati menyerahkan jiwa ragaku untuknya seorang. Salahku tidak memberi tahunya di awal, hingga muncullah pemikiran yang aku sendiri tidak pernah berfikir sampai ke sana.


"Kami dijebak malam itu." Ucapku membuka pembicaraan setelah beberapa menit hanya saling diam dan sibuk dengan isi kepala masing-masing.


Sky menatapku intens, memberikan semua perhatiannya kepadaku.


"Tidak ada yang terjadi antara aku dan Rio malam itu, kami sudah sama-sama-- maaf -- mabuk berat kala itu."


Aku benar-benar merasa sangat kotor saat ini, bagaimana mungkin aku juga dulunya adalah seorang penikmat minuman haram.


Aku menatap lamat-lamat wajah Sky, khawatir dia juga akan mempermasalahkan kebiasaan itu, tapi itu dulu. Sejak peristiwa tersebut, aku benar-benar tidak pernah menyentuhnya lagi.


"Lanjutkan!" Katanya setelah hening sesaat.


Dan mengalirlah semua cerita tentang apa yang terjadi kala itu sesuai dengan pengakuan Vivian.


"Jadi dalangnya adalah Aldi yang kita ketemu di taman kala itu?" Tanyanya mengerang kuat. Sorot matanya tajam menyiratkan kemarahan yang siap membakar apa saja yang dikenainya.


Aku mengangguk lemah.


"Kurang ajar, aku akan memberinya pelajaran suatu saat nanti." Geramnya.


Aku sudah lelah, 10 tahun hidupku kulewati dengan ketakutan dan kegelisahan, aku tidak ingin lagi terlibat dalam masalah baru akibat dari masa lalu tersebut.


"Tapi dia sudah menyakiti kamu, sayang!" Sky masih tidak bisa menerima begitu saja.


"Kalau kamu memang benar-benar sayang sama aku, maka hentikan kemarahanmu itu. Jangan pernah melegitimasi perbuatan buruk orang lain sehingga kita juga boleh berbuat buruk kepada mereka. Jika orang jahat sama kamu, kamu boleh jahat sama dia. Kalau kamu disakiti kamu juga boleh menyakitinya. Gak gitu, Sky! Terlepas dari 10 tahun yang kulalui dalam masa sulit, harusnya kamu berterima kasih sama Aldi."


"Kenapa begitu? Perbuatan mereka itu sudah kriminal, Ber!" Tanya Sky tidak terima.


"Coba kamu berfikir lagi, mungkin gak aku akan ada di sini sebagai istri kamu kalau tidak ada kejadian itu?" Tanyaku dengan menyentuh tangannya yang sedari tadi terkepal kuat.


"Beginilah cara takdir bekerja mempersatukan kita. Karena jika tidak ada kejadian tersebut, aku tidak akan pernah ikut keluarga kalian sampai ke sini, bahkan mungkin kita juga tidak akan pernah dipertemukan di satu waktu, ruang dan tempat. Bukankah semua itu harus disyukuri, Sky?"


Sky langsung menarikku ke dalam pelukannya, erat..erat sekali hingga aku merasa kesulitan bernafas.


"Maaf, aku terlalu semangat dan bahagia." Ucap Sky melonggarkan sediki pelukannya setelah aku menggeliat dan berusaha melepaskan diri darinya.


"Aku.. aku dulu takut dekat-dekat dengan perempuan. Ketika berhadapan dengan perempuan yang agresif, aku bisa keringat dingin dibuatnya. Entahlah.. aku juga tidak mengerti kenapa bisa begitu, tapi dengan kamu, entah kenapa tubuhku tidak bereaksi secara berlebihan jika kamu ada di sekitarku. Diam-diam, aku menjadikan kamu obatku. Aku senang setiap kali diminta mengantar atau menjemput kamu, atau saat kak Nindi meminta aku jadi supir untuk kalian. Bahkan kadang aku mengikuti kamu dari jauh ketika tidak ada kerjaan." Sky menggeleng lalu tertawa kecil.


Aku tidak menyangka sama sekali dengan pengakuan Sky.


"Lama kelamaan, aku tidak lagi mengeluarkan keringat ketika berdekatan dengan perempuan manapun, meski masih tetap ada rasa takut. Makanya aku memilih menjaga jarak saja dan bersikap dingin. Mungkin karena sudah terbiasa akhirnya menjadi karakter yang tidak bisa aku ubah dalam sekejap."


"Tapi aku benar-benar serius menikahi kamu, bukan hanya karena kamu obatku, tapi aku memang menginginkannya. Aku suka dekat-dekat sama kamu, karena hanya dengan kamu dia selalu berdetak kencang tanpa bisa kucegah."


Sky membawa telapak tanganku ke dada kirinya. Tanpa meletakkan tanganku di situ, aku bisa mendengarnya dan aku bisa merasakannya.


"Sky, aku bukan tidak ingin membalas perasaan kamu, aku hanya masih terlalu takut membuka hatiku kembali. Tapi percayalah, jika suatu saat ia terbuka maka hanya kamu seorang yang kubiarkan masuk dan tidak akan kubiarkan keluar lagi karena akan kukunci dan kuncinya akan kubuang di palung Mariana sana."


"Ah, baru dikasi janji surga aja bahagianya sudah sampai ke langit-langit apalagi kalau sudah jadi kenyataan." Ucapnya berbinar.


Aku hanya menggeleng kemudian berjalan ke arah pintu, aku mulai merasa lapar.


"Mau kemana?" tanyanya mengejarku.


"Mau ke sawah, mau ikut?" jawabku asal.


"Ayok!" Katanya lalu mengangkat tubuhku ke pundaknya dan berlari menuruni tangga.


Aku hanya bisa pasrah dengan sikap semaunya dan pemaksanya itu. Untuk perempuan keras kepala sepertiku, ada kalanya sikap semau-maunya Sky itu sangat efektif membuatku tidak bisa berkutik menghadapinya. Aku sendiri heran, kenapa Sky bisa begitu dengan mudahnya menjinakkan diriku, padahal usianya lebih muda dari diriku.