
"Minggu depan kamu sudah bisa mulai magang di kantor Bery." Ucap abi Hasan kepada Sky yang sedang sibuk dengan komputer canggihnya.
"Aku di kantor abi saja." Tolak Sky. Ia malas masuk ke lingkungan baru lagi karena itu artinya ia harus bersosialisasi lagi dengan orang baru.
"Ada banyak proyek besar yang sedang ditangani Bery saat ini. Kamu bisa belajar banyak di sana." Sky tahu abinya tidak ingin dibantah dan itu sudah keputusan final.
Selama ini, baik abi maupun uminya tidak pernah memaksakan kehendak tentang apa yang harus dan tidak boleh dilakukan Sky. Hanya saja kali ini abi Hasan merasa perlu mendorong Sky untuk keluar dari zona nyamannya. Kalau magang di kantornya, Sky sudah kenal dan dikenal oleh orang-orang di kantor, jadi tidak akan ada yang baru bagi Sky. Berbeda jika Sky magang di kantor Bery, staf Bery memang tidak sebanyak di kantor abinya yang berjumlah ratusan orang, namun Bery selalu bertemu dengan klien-klien baru dari berbagai daerah dan negara. Mengingat intensitas perjalanan Bery keluar kota dan keluar negeri untuk kepentingan pekerjaan, mungkin sesekali Sky akan diikutkan, dan tentu saja itu akan memberi pengalaman baru bagi Sky.
Perusahaan Bery sudah berdiri sejak 5 tahun yang lalu. Melihat minat klien yang tertarik menggunakan jasanya lumayan banyak, akhirnya Bery merekrut beberapa orang juniornya untuk dijadikan partner dalam menjalankan usahanya. Sejauh ini, Biro Arsitektur yang didirikan Bery tersebut terbilang sukses dan melambungkan namanya sebagai salah satu Arsitek muda yang paling populer saat ini.
Sky hanya mendengus kesal, namun juga tidak membantah. Entah apa yang difikirkan oleh abinya sehingga mengharuskan dirinya magang di tempat Bery. Oh iya, seharusnya Sky menyebutnya kak Bery sebagaimana dirinya memanggil kakaknya, kak Nindi. Apalagi Bery adalah sahabat rasa saudara Nindi.
Semenjak keluarganya hijrah ke ibukota, sejak itu juga Bery telah menjadi bagian tak terpisahkan dari keluarganya. Sky masih terlalu kecil untuk peduli dengan kehadiran Bery kala itu, apalagi kondisi mentalnya masih tidak stabil setelah peristiwa kelam yang tidak ingin diingatnya lagi.
Kesan pertama yang diingatnya hanyalah wajah sendu yang terlukis jelas di wajah cantiknya seolah meminta untuk dilindungi. Namun siapalah dirinya, dia hanyalah remaja tanggung yang juga sedang terluka dan terguncang jiwanya, ia pun sedang membutuhkan sesuatu untuk menyelamatkan jiwanya dari kekosongan dan entah perasaan apa lagi yang tidak bisa didefenisikannya dengan kata.
Sebulan lebih hidup di bawah atap yang sama tidak membuatnya bisa bertegur sapa dengan Bery, justru berada di dekatnya membuatnya kadang ketakutan. Ia takut dirinya tidak ada bedanya dengan pamannya yang telah mencoba menodai umminya. Kadang ia bertanya sendiri, apakah sekuat itu dorongan nafs* binata*g yang bersemayam di dalam diri laki-laki sehingga mampu membuatnya menjadi makhluk paling bejat di muka bumi ini?
*****
"Selamat pagi, bu!"
"Pagi, silahkan masuk." Bery yang sedang sangat sibuk memeriksa desain bangunan yang diserahkan oleh beberapa Arsitek yang menjadi partnernya hanya langsung mempersilahkan masuk orang yang menyapanya tanpa melihat wajah tamunya terlebih dahulu, sebenarnya antara asing dan tidak asing dengan suara tersebut, namun rasanya tidak mungkin.
"Saya mahasiswa magang di kantor ibu, maaf mengganggu." Bery mengangkat wajahnya karena teringat sesuatu.
"Sky?" Sedikit terkejut namun ia berusaha cepat-cepat menormalkan mimik wajahnya demi melihat Sky yang sedang berdiri di hadapannya. "Duduk, dek. Maaf, kakak tadi gak tau itu kamu. Santai saja dan ngomongnya gak usah yang formal, anggap aja aku seperti Nindi kakak kamu." Ucap Bery mencairkan suasana meskipun tetap saja terasa canggung.
"Maaf, bu. Ruangan saya dimana dan tugas saya apa hari ini?" Tanya Sky to the point.
"Oh Tuhan, anak ini, gak ada basa basinya sama sekali." Keluh Bery membatin.
"Tugas kamu itu jadi asisten kakak langsung, nanti akan kakak jelaskan ke kamu. Kamu udah sarapan belum?"
"Sudah, bu."
"Umi gak ada nitip sarapan gitu buat aku?" Sky menatap bingung kepada Bery, maksudnya apa coba?
"Besok saya minta umi." Jawab Sky.
"Eh, gak usah." Bery juga yang kewalahan, padahal maksudnya hanya untuk basa basi, eh si anaknya malah menanggapi serius. "Gak usah, kakak gak enak sama umi, tapi makasih yah. Nanti kamu sampaikan aja salamku buat umi dan abi."
"Mmmm.. itu di pojokan sana meja kerja kamu." Tangan kanan Bery menujuk sebuah meja kerja yang ada di salah satu sudut yang bersebrangan dengan meja kerjanya. "Kamu bisa 3D design gak? SketchUp or AutoCad?"
"Bisa." Jawab Sky mantap.
Bery berdiri dari kursi kebesarannya kemudian berjalan duluan ke meja kerja yang ditunjuknya untuk Sky. Seperti yang dulu abi Hasan lakukan kepadanya, begitupun dengan yang akan ia lakukan untuk Sky. Dulu, saat pertama kali Bery bergabung dengan perusahaan milik abi Hasan, Bery langsung diberi tanggung jawab memegang satu proyek untuknya. Tentu saja Bery keberatan dan takut tidak bisa memenuhi kepercayaan yang diberikan itu, namun abi Hasan terus meyakinkannya bahwa Bery bisa.
"Tugas dan tanggung jawablah yang akan membuatmu cepat menguasai pekerjaanmu, bukan pendidikan yang tinggi atau seberapa banyak ilmu yang ada di dalam otakmu." Ucap abi Hasan kala itu.
Bery membuka sebuah folder file di komputer, sebelumnya ia persilahkan Sky duduk di kursinya terlebih dahulu.
"Nah, ini adalah salah satu desain masjid yang akan menjadi salah satu ikon kota P. Coba kamu buat desain 3Dnya dulu, mungkin kamu bisa googling dulu karakter dan budaya masyarakat setempat biar pemilihan warnanya bisa lebih mencerminkan ke-khasan daerah tersebut. Kamu juga boleh memilih-milih material dan bahan yang sekiranya kamu anggap cocok, nanti setelahnya bisa kita diskusikan lagi, jangan ragu tanya kakak kalau ada yang kamu gak ngerti."
Sky hanya bisa menahan napas dengan posisinya dan Bery yang sangat dekat seperti ini. Bagaimanapun, Sky belum pernah berada dengan posisi sedekat ini dengan lawan jenisnya selain umi dan kakaknya lebih dari 5 detik. Sebisa mungkin ia akan menghindar, namun kali ini ia hanya bisa mematung, merasakan kedekatan dan aroma wangi yang terasa asing di indera penciuman Sky, rasanya sangat menenangkan sekaligus mendebarkan. Jantungnya terasa berpacu, keringat dingin muncul begitu saja seperti biji jagung di pelipisnya.
Bery yang menyadari ketegangan Sky segera menarik diri dan mengambil sedikit jarak darinya. Ia berusaha sebiasa dan sewajar mungkin, namun rupanya reaksi Sky sangat tampak terganggu. Bery tidak menyangka jika sejauh itu Sky membentengi dirinya. Bery bingung sendiri, bagaimana cara Sky menjalani perkuliahannya yang ia tahu saat ini Sky sedang mengambil dua jurusan yang berbeda. Kalau di Fakultas Teknik, okelah di sana gak banyak mahasiswinya, tapi di Fakultas Hukum, tentu saja mahasiswinya banyak.
"Diminum dulu airnya," Bery meletakkan satu botol air mineral yang diambilnya dari lemari pendingin mini yang letaknya dekat dari meja kerja Sky.
"Terima kasih."
"Kakak lanjut dulu yah, besok baru kakak kenalin kamu dengan staf-staf yang ada di kantor ini." Ucap Bery yang hanya diangguki oleh Sky.
Mereka pun akhirnya larut dengan pekerjaan masing-masing. Bery sendiri memang sangat sibuk dikarenakan ada beberapa klien yang ingin desain yang dimintanya dirancang sepenuhnya oleh Bery. Padahal, arsitek-arsitek yang menjadi partnernya di Biro Arsitektur miliknya sudah sangat teruji kualitas dan kapasitasnya. Selain itu, Bery juga masih harus memeriksa desain-desain yang dibuat oleh rekannya sebelum diteruskan ke klien guna meminimalisir kesalahan dan revisi yang bisa memakan waktu yang tidak sedikit. Apalagi jika kliennya terkenal cerewet dan perfectionist.
Sebenarnya, bagi Sky, membuat 3D desain adalah hal yang mudah baginya. Memang dia lebih suka bagian tersebut dan juga di kantor abinya dia memang mengambil pekerjaan tersebut. Hanya saja, di kantor Bery tentu saja berbeda. Ini adalah gambar desain mentah yang masih bisa diotak-atik sesuai dengan visi dan imaginasinya. Kali ini ia harus berterima kasih kepada abinya. Tidak salah ia ditempatkan di sini. Pekerjaannya lebih menantang sisi imaginatifnya. Dan entahlah, meskipun baru beberapa jam berada di sini, ia sudah merasa nyaman. Ia fikir akan susah bekerja di bawah kendali Bery yang mana diluaran sana punya image sebagai pribadi yang dingin dan tak tersentuh.
"Sky, sebentar lagi waktu makan siang. Kakak ada jadwal ke lokasi pembangunan apartemen di daerah bagian timur ibukota, kamu mau ikut gak?" Bery fikir lebih baik mengajak Sky menemaninya dibanding hanya berdua dengan supir kantor karena asistennya saat ini sedang cuti. Ia butuh teman untuk menemaninya di lokasi proyek, ia tidak nyaman jika hanya ditemani oleh orang-orang dari pihak kontraktor saja.
"Bisa, bu." Sedikit ragu, namun Sky tetap meng-iyakan ajakan Bery. Itu bukan ajakan, tapi perintah. Fikirnya.
"Ya udah, kamu siap-siap dan kita akan langsung ke parkiran."
Sky segera mematikan tombol komputer kerjanya, merapikan beberapa berkas yang ada di mejanya dan mengambil beberapa perlengkapan pribadinya ke dalam tas ransel miliknya.
Oooo☆~~☆oooO
Jangan lupa berikan like, comment dan vote kalian yah untuk mendukung Novel ini. Klick tombol Favorit agar kalian bisa mendapatkan notifikasi tiap kali ada update terbaru. okay.. Thanks 😍🤗