
Umi Aida langsung menubruk tubuhku dibawanya ke dalam pelukannya.
"Semoga Allah menjadikan kalian keluarga yang sakinah, mawaddah dan rahmah yah sayang. Titip anak umi, mungkin dia akan banyak merepotkan kamu, tapi sungguh dia adalah anak yang baik. Bersabarlah dengan sikap dinginnya, ia kadang-kadang bisa romantis juga kok." Ucap umi tersenyum sambil menyeka air matanya.
"Iya umi, terima kasih sudah melahirkan, membesarkan, menjaga dan mendidik jodoh Bery." Kami kembali berpelukan dan tersenyum lepas.
Akhirnya ketakutanku tak beralasan. Umi adalah salah satu perempuan bijak yang pernah kutemui dalam hidupku.
Aku menuju abi Hasan setelah umi Aida mengurai pelukannya dan bergeser ke anak lelakinya.
"Akhirnya, kamu resmi menjadi anak abi." Ucap abi Hasan sambil merangkul pundakku. Mata beliau berkaca-kaca namun senyumnya merekah membuat matanya sekarang tampak mengecil.
"Terima kasih, abi. Terima kasih untuk semua yang sudah abi berikan dan lakukan untuk Bery. Terima kasih sudah memberi Sky dalam hidup Bery."
Abi Hasan tersenyum lagi dan menyusut air di hidungnya. Ah, suasana haru seperti ini sungguh membuat lelaki kuat dan tegas seperti abi Hasan kini tampak begitu menggemaskan.
"Ambillah, itu hadiah dari abi." Tukas abi Hasan dengan candanya yang khas di telingaku.
Aku balas tersenyum meski tetap saja masih ada titik air mata yang terus menggantung di wajahku.
Aku tidak bisa menahan perasaanku saat ini, aku bahagia, sungguh sangat-sangat bahagia. Melihat senyum di wajah-wajah orang-orang tua yang begitu kusayangi sungguh rasanya seperti telah menggenggam dunia dan segala isinya.
Aku dan Sky melanjutkan kegiatan sungkeman ke keluarga inti lainnya yang hadir di sini. Tidak banyak yang datang karena memang sengaja kami batasi mengingat kondisi kesehatan ayah yang masih belum stabil.
*****
Sky menyeret koper Bery ke dalam kamar hotel tempatnya menginap.
Mereka terpaksa meninggalkan rumah sakit karena semua keluarga bersepakat mengusir mereka selama 1 x 24 jam terhitung setelah adzan sholat maghrib mulai berkumandang.
"Aku ke mesjid dulu, gak papa kutinggal sampai Isya?" Tanya Sky setelah hampir menghilang di balik pintu.
"Oke, pergilah." Jawab Bery kemudian menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur.
Setelah dirasa cukup merenggangkan tubuhnya, Bery kemudian bangkit menuju kamar mandi, rencananya ia akan sholat maghrib dulu lalu mandi karena ia sedikit merasa gerah setelah beberapa saat yang lalu banyak menguras energi dan air mata.
--
--
Belum sempat memikirkan bagaimana harus bersikap dan berperilaku di hadapan Sky, pintu kamar sudah dibuka dan memunculkan Sky.
"Sudah sholat?" Tanya Sky mendekati Bery yang mulai merapikan sajadah yang baru saja di pakainya.
"Udah, kamu mandi dulu biar aku pesan makan malam untuk kita." Saat ini Bery sudah merasa lapar karena saat makan siang tadi ia hanya makan buah karena masih merasa kenyang setelah sarapan bubur ayam.
Tanpa menyahuti Bery, Sky langsung bergegas ke kamar mandi.
Saat sudah memastikan Sky benar-benar sedang mandi, dengan gerakan cepat Bery membuka mukenahnya kemudian mengganti pakaiannya.
Bery sempat lupa dengan statusnya yang kini sudah terikat dengan Sky sehingga saat selesai mandi tadi, tanpa sadar ia mengambil daster pendek yang bisa menampakkan tubuhnya dari kaki hingga satu jengkal di atas lututnya.
Meskipun sudah halal, Bery merasa belum saatnya tampil terbuka di hadapan Sky. Selain karena malu, Bery juga khawatir Sky akan menganggapnya terlalu terburu-buru, atau yang paling buruk Sky akan menganggapnya wanita penggoda. Memikirkan semua itu membuat nyali Bery ciut seketika.
Setelah berganti pakaian dengan pakaian tertutup, Bery kemudian menyiapkan pakaian ganti untuk Sky. Butuh waktu baginya memilih pakaian Sky, apalagi ada bagian privasi yang juga ikut disiapkannya. Setelah siap, ia kemudian meletakkannya di atas tempat tidur.
Bery beranjak duduk di Sofa, ia agak menyesalkan kenapa hotel ini tidak memiliki balkon.
Bery mengambil ponsel dan laptopnya setelah selesai memesan menu makan malam mereka. Bery baru sadar, semenjak tiba di sini, ia sama sekali belum mengecek email-nya.
*****
Aku tidak ingin menuntutnya untuk seketika bersikap layaknya istri sholeha, ia butuh waktu untuk mencerna dan menerima pernikahan ini. Aku tahu, dia terpaksa melakukannya.
Kebingungan melandaku seketika di saat memasuki kamar dan mendapati Bery sedang melipat sajadahnya.
Sudah banyak kata dengan berbagai skenario sudah aku susun sepanjang meninggalkannya untuk ke mesjid tadi.
Namun, saat tatapannya menatap lurus ke dalam mataku, semua skenario tadi langsung buyar seketika. Aku mati langkah dan mati gaya.
Otak cerdasku sudah tidak berfungsi dengan sempurna, sehingga lahirlah pertanyaan yang betul-betul tidak penting.
"Sudah sholat?"
Bukankah aku sudah melihatnya sedang merapikan jejak-jejak aktifitas sholatnya saat ini? Aku mengumpat kebodohanku.
Beruntung dia memintaku segera membersihkan tubuhku yang memang kurasa badanku saat ini terasa lengket.
Tanpa ba bi bu, aku langsung masuk ke kamar mandi.
Saking buru-burunya, aku masuk tidak membawa apa-apa selain pakaian yang melekat di tubuhku.
Meski ada handuk dari hotel yang sudah disiapkan di dalam kamar mandi, aku rasanya tidak sanggup keluar dari sini hanya handukan saja. Aku seperti gadis perawan yang sedang galau.
Tapi aku adalah laki-laki, masak malu sama istri sendiri. Udah halal juga, tidak berdosa bagiku jika menunjukkan auratku di hadapan istriku begitu pun sebaliknya.
Setelah menjalani perang batin yang memakan waktu beberapa menit, aku segera melilitkan handuk di pinggangku. Aku melangkah keluar dengan wajah datar, bersikap biasa saja dan menuju lemari pakaian.
"Aku sudah siapakan pakaian gantimu, itu di kasur." Suara Bery sukses membuat jantungku berlompat-lompatan di dalam sana. Satu tanganku masih melayang di udara setelah berhasil membuka lemari tadi.
Aku berusaha menetralkan perasaanku, terus menjaga sikapku agar tidak ketahuan gugup oleh Bery.
"Emmm... thanks!" Ucapku kemudian beranjak mengambil pakaianku. Bisa kulihat Bery menundukkan pandangannya fokus dengan laptop yang ada di hadapannya meski posisi duduknya tepat menghadap ke arahku.
"It's Ok, Sky!" Jawabnya santai namun sama sekali tidak menatapku. Mungkin ia sedang menghindari melihat pemandangan indah yang ada di hadapannya.
Dengan santainya kupakai satu-satu pakaianku di hadapannya, aku seorang laki-laki, meski lebih muda secara usia darinya, tapi aku tidak ingin menunjukkan kecanggunganku apa lagi rasa maluku di hadapannya. Seperti yang pernah kukatakan padanya, bahwa modal terbesarku menikahinya hanyalah rasa percaya diriku yang tinggi, untuk itu aku tidak akan malu-malu dengannya.
Setelah berpakaian lengkap, aku segera ikut bergabung dengannya duduk di sofa.
Namun belum sempat bokongku mendarat di sofa, dia langsung berdiri kemudian menegurku.
"Handuk, Sky! Habis mandi jangan diletak dimana tempat terakhir kamu memakainya." Ucapnya sambil mengangkat handuk yang kupakai tadi kemudian membawanya ke kamar mandi.
Glek...
Aku terpaksa menelan salivaku dengan kasar, apa semua makhluk yang bernama perempuan di dunia ini selalu menyoalkan perkara handuk di kasur atau handuk di lantai?
"Sky...!!!" Panggilnya sedikit berteriak kepadaku.
Kira-kira kesalahan apalagi yang kubuat sehingga membuatnya tampak murka kepadaku?
Oh Tuhan... jangan jadikan aku masuk ke dalam golongan suami-suami takut istri setelah ini!!!
Oooo☆~~☆oooO
Jangan lupa berikan like, comment dan vote kalian yah untuk mendukung Novel ini. Klick tombol Favorit agar kalian bisa mendapatkan notifikasi tiap kali ada update terbaru. okay.. Thanks 😍🤗