
"Sky, kakak ingin bicara sama kamu!" Tiba-tiba Bery datang menyusulku di balkon.
"Siapa?" Tanyanya dengan suara rendah.
"Itu Bery yah, Sky? Berikan ponselnya ke dia, kakak mau bicara."
Terlambat, kak Nindi sudah terlanjur mendengar suara Bery. Kusodorkan ponselku langsung ke Bery, ia sempat ragu mengambilnya.
"Kak Nindi." Ucapku menjawab keraguannya.
"Halo Nin, assalamu'alaikum." Bery sedikit menjauh ke sudut luar balkon kemudian menyandarkan perutnya di railing pembatas.
"Wa'alaikum salam adik ipar."
"Belum, masih calon!"
"Iya, calon adik ipar maksudnya."
Meskipun ponselnya tidak dalam mode loudspeaker, namun percakapan mereka masih bisa kudengar karena aku memang sengaja mendekat dan bersandar di tembok sisi kanan balkon tempat Bery berada.
"So...?"
"So... begitulah Nin. Semuanya terjadi begitu saja, aku dan Sky tidak bisa mengelak dari permintaan ayah, maaf!"
Aku tidak mengerti mengapa Bery harus minta maaf.
"Gak usah difikirin Ber, kamu percaya takdir bukan? Sky tidak akan tergerak langkahnya mengikutimu sejauh ini jika bukan karena sudah tertakdir demikian. Mungkin ini juga adalah jawaban dari candaanmu, jodoh beneran. Hahaha..." kak Nindi tertawa keras di seberang sana. Entah bagaian mananya yang lucu.
"Jadi kamu ikhlas nih kalo adik kesayangan kamu ini aku ambil?" Tanya Bery sambil menoleh kepadaku. Aku seperti maling yang sedang tertangkap basah menguping pembicaraan mereka. Aku hanya bisa mengelus tengkukku kemudian membuang pandanganku ke ujung jari kakiku.
"Ikhlas..ikhlas banget. Aku bahagia banget, sahabatku sekarang akan naik level menjadi ipar. Gak nyangka banget, padahal udah lama aku diam-diam mau jodohin kalian, eh...gak taunya jodoh beneran. Alhamdulillah."
"Thanks yah Nin, dulu aku dapatin kasih sayang umi dan abi kamu, sekarang dapat adik kamu juga." Ucap Bery tersenyum kecil, kembali ia menoleh kepadaku.
"No, aku yang berterima kasih sama kamu. Just go with the choice that scares you the most, because that's the one that is going to help you grow. You know what i mean, Ber?"
"I see, thanks a lot, Nin."
"It' OK, sayang! Udah dulu yah, aku sama mas Fachri lagi ada urusan, sampaikan salamku buat keluarga di situ. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikum salam."
Akhirnya obrolan mereka berakhir juga, wajahku sudah memanas sedari tadi mendengar setiap kata yang diucapkan oleh Bery, sementara dia santai saja.
--
--
"Eeekkkkhhhhmmm..." Bery berdehem kemudian beralih kepadaku setelah beberapa saat hanya terdiam setelah obrolannya terputus dengan kak Nindi.
"Apa keputusanmu sudah bulat, Sky?"
Aku menatap netranya, mencari keraguan di sana saat ia mempertanyakan keputusanku.
"Iya, keputusanku sudah bulat. Kamu sendiri bagaimana?"
"Entahlah, kamu tau sendiri kan kalau aku sebenarnya tidak pernah berfikir untuk menikah, itu hanya akan terasa membebaniku. Aku tidak suka diatur-atur oleh siapapun, aku tidak suka bergantung kepada siapapun dan juga tidak ingin menghabiskan waktuku hanya untuk mengurus dapur dan kasur. Setidaknya itu yang kufikirkan selama ini. Belum lagi dengan masa laluku. Kamu sudah tau bukan? Apa kamu yakin bisa menerima diriku yang seperti ini? Apa kamu tidak akan merasa jijik saat menyentuhku nanti? Aku ini tidak ubahnya dengan barang bekas..."
"Cukup! Aku tidak peduli!!!" Ujarku menyela Bery yang terus saja mengumbar kekurangannya.
"Berhentilah menghakimi dirimu sendiri. Berapa banyak pendosa yang berakhir menjadi orang baik? Berapa banyak orang suci yang berakhir menjadi pendosa? Kapal tenggelam bukan karena air di sekelilingnya, tapi tenggelam karena air yang masuk ke dalamnya. Sama seperti kamu, jangan biarkan hal negatif yang ada di sekelilingmu masuk ke dalam fikiranmu, itu hanya akan menghancurkan kamu."
"Kenapa? Kenapa kamu mau mengorbankan dirimu Sky?" Tanyanya dengan suara rendah.
Bery menatapku dengan kening berkerut. Mungkin tidak percaya dengan apa yang barusan kukatakan atau mungkin juga ia meragukan pendengarannya.
"Bagaimana jika suatu hari nanti kamu mulai bosan dan tidak tertarik lagi kepadaku?"
"Kenapa kamu tanya seperti itu?" Aku menatapnya lurus.
"Karena bisa saja kamu tertarik kepadaku lantaran kamu merasa masih banyak hal yang belum kamu ketahui tentang diriku. Bagaimana jika kamu sudah tau diriku secara keseluruhan, apa kamu masih akan tertarik kepadaku? Rasanya hubungan ini tidak akan panjang karena disaat itu aku sudah tidak menarik lagi bagimu."
"People learn, people change and move on! Setiap kita pada dasarnya akan berubah menjadi sesuatu yang baru. Tidak secara keseluruhan memang, tapi pasti akan ada hal-hal baru yang berubah sepanjang hidup kita. Perubahan jumlah uban, misalnya." jawabku sekenanya.
"Apa aku harus bilang WOW, Sky? Kamu semakin bijak dan banyak bicara sekarang."
"Terserah, sekarang kamu masih punya kesempatan untuk mundur. Menikah denganku berarti untuk selamanya. Jika suatu saat nanti kamu menemukan orang yang kamu cintai dan mencintai kamu dan ingin pergi dariku, aku tidak akan menahanmu, akan tetapi jangan pernah berfikir aku akan mengucapkan kata talak untukmu. Bagiku, selamanya kamu adalah istriku."
Bery terus menatapku dan enggan memutus kontak mata denganku.
"Sekali lagi aku harus bilang WOW, Sky. Tapi baiklah. Kamu tenang saja, aku ini punya niat menikah saja gak ada Sky, apalagi mau kawin cerai terus kawin lagi. Terima kasih sudah bersedia menolongku. Kamu sudah bersedia memberiku status sebagai istri saja itu sudah sangat cukup membantuku. Aku harap kamu punya stock kesabaran yang tidak akan habis-habis sampai maut menjemputku karena aku bukan orang yang sabar, Sky."
"Kita lihat saja nanti, seberapa sabar aku menghadapimu." Tantangku kepadanya.
Bagaimana aku tahu dan bagaimana dia tahu jika tidak mencobanya. Sambungku dalam hati.
"Dan perlu kamu ingat, Sky. Aku tidak bisa seperti kamu yang dengan mudahnya mengungkapkan rasa ketertarikannya. Aku tidak bisa berjanji akan jatuh cinta kepadamu, tapi kalau kamu bisa membuatku jatuh cinta, aku akan dengan senang hati melakukannya, apalagi jika jatuh cintanya adalah kepada suami sendiri. Sayangnya hatiku sudah lama membatu, aku tidak tau apa kamu bisa mencairkannya atau tidak."
"Percayalah, suatu saat nanti kamu akan menyesal kenapa tidak dari dulu menikah denganku, saking cintanya kamu kepadaku." ucapku sambil melipat kedua tanganku di dada.
"Kamu percaya diri sekali, Sky!" Bery tertawa meledekku.
"Kamu lebih dalam segala hal dariku, bahkan umurpun juga lebih, jadi aku juga harus bisa punya sesuatu yang bisa kubanggakan di hadapan kamu, dan kurasa modalku saat ini hanya itu, rasa percaya diriku." Ucapku tak mau kalah.
"Oke..oke.. kamu menang Sky. Aku benar-benar gak nyangka kalo kamu bisa secerewet begini. Dulu aku sempat merasa ngeri sendiri jika nanti punya suami modelan kamu Sky, tapi ternyata dugaanku salah, kamu bukan TV rusak, sekarang ada gambar dan juga ada suara."
"Maksudnya?" Aku tidak mengerti apa yang dia maksud menyebutku TV rusak.
"Tidak, lupakan! Aku hanya bercanda." Kilahnya tidak ingin menjelaskan lebih lanjut.
Sebenarnya aku masih penasaran, tapi pasti akan kutanyakan lagi setelah dia resmi menjadi istriku nanti. Aku berjanji akan terus mencari hal-hal baru darinya agar tidak berkurang rasa ketertarikanku kepadanya.
Tidak terasa, kami sudah cukup lama berdiri di Balkon. Udara malam pun semakin terasa menusuk pori-pori. Bagiku, pembicaraan malam ini sudah cukup.
"Apa masih ada yang ingin kamu tanyakan? Kalau tidak, aku ingin pamit sama ayah dan ibu untuk kembali ke hotel." Tanyaku setelah sekian lama kami saling terdiam memandangi bulan yang sama.
Aku memang sudah check in di hotel terdekat setelah sholat maghrib tadi. Kebetulan hotelnya tepat di depan Rumah Sakit.
"Abi dan umi sudah tau apa belum?"
Deg..
Deg..
Deg..
Lagi dan lagi jantungku ingin melompat keluar meninggalkan tempatnya, tidak ditanya pertanyaan itu saja sudah sejak tadi jantungku sudah berdetak tidak karuan, sekarang malah semakin menjadi-jadi hentakannya.
Aku harus jawab apa?
Oooo☆~~☆oooO
Jangan lupa berikan like, comment dan vote kalian yah untuk mendukung Novel ini. Klick tombol Favorit agar kalian bisa mendapatkan notifikasi tiap kali ada update terbaru. okay.. Thanks 😍🤗