
๐ฅHei.. I love monday... saatnya sedekah vote-nya buat novel ini yah๐๐๐
๐ฆ๐ฆ๐ฆ
Tidak lama kemudian, mereka akhirnya memutuskan makan siang bersama di salah satu restoran dekat kantor yang jaraknya cukup berjalan kaki kurang dari 10 menit.
Sky sempat kaget ketika Stella tiba-tiba menarik tangannya agar berjalan bersisian dengannya dan ayahnya. Buru-buru Sky melepaskan tangan Stella yang bertaut di lengannya kemudian memilih berada di sisi lain pak Dirga. Beberapa kali Sky harus menoleh ke belakang demi melihat reaksi istrinya namun masalahnya sepertinya istrinya tidak terganggu melihat pemandangan di hadapannya karena ia serius mengobrol dengan Rangga.
Sementara itu, Sky tidak tahu saja bagaimana panasnya hati Bery saat ini. Tangannya mengepal dan ingin rasanya ia mengambil kampak untuk memisahkan dua tangan yang sempat bertaut di hadapannya. Beruntung Sky cepat melepasnya, jika tidak, sepatu melayang.
Berbeda halnya dengan pak Dirga, ia menjadi serba salah di sini. Dia tahu bahwa anak gadis kesayangannya itu sudah lama menaruh hati kepada Sky, hanya saja ia baru tahu bahwa Sky yang dimaksud anaknya adalah mahasiswa yang sedang magang di kantornya. Sky adalah lelaki yang baik, hanya saja sangat kaku dan dingin terhadap perempuan. Bahkan, pak Dirga tidak pernah melihat Sky memandang perempuan lebih dari 2 detik. Jelas Sky terlihat sangat membatasi diri berinteraksi dengan perempuan, meskipun Bery terlihat mendapat pengecualian, namun bisa ia pahami karena ia tahu kedekatan Bery dengan orang tua Sky.
Pak Dirga malah berfikir mungkin Sky tidak punya ketertarikan terhadap perempuan.
Di sisi lain, Rangga sangat senang karena akhirnya punya kesempatan berjalan bersisian dengan Bery. Meski Bery tampak tidak fokus menanggapinya, namun tetap saja ia senang karena bisa membuat sesekali Bery tersenyum lepas menanggapi cerita konyolnya.
Sesampainya di restoran, mereka memilih meja yang berbentuk bundar yang ada di pojokan. Sky langsung menarik kursi untuk Bery lalu duduk di kursi lain yang ada di sisinya.
Meski semua mata sempat memandang aksinya, namun Sky bersikap biasa saja seolah ingin menunjukkan sikap kesopanannya terhadap atasannya.
Rangga mengambil tempat duduk di sisi lain Bery, pak Dirga berhadapan dengan Sky dan Stella sendiri duduk di antara pak Dirga dan Sky.
Tidak perlu menunggu lama makanan mereka datang karena Bery sudah meminta bu Kinan tadi memesan menu favorit restoran tersebut untuk mereka.
"Kak Bery, itu pacarnya yah?" Tanya Stella yang terlihat penasaran dengan laki-laki semenjak tadi tampak mengekori Bery.
Bery tersenyum kikuk mendapat pertanyaan seperti itu. "Bukan dek, ini pak Rangga klien kami di kantor."
"Oh, kirain pacarnya. Padahal kelihatan cocok loh kak." Ujar Stella.
"Oh yah? Ini bukan kamu loh yang pertama bilang gitu, kamu sudah orang kesekian." Ucap Rangga tersenyum lebar.
Sky merasa jengah mendengar ucapan pak Rangga, wajahnya sudah ditekuk menatap lurus ke menu makanan yang ada di hadapannya.
"Hahaha.. dan saya adalah salah satunya." Celetuk pak Dirga.
"Nah, feeling aku benar kan? Ayah aja juga ngomong gitu." Stella tersenyum bangga karena merasa pandangannya benar.
Bery hanya ikut tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Menurutnya, obrolan seperti itu tidak perlu ditanggapi karena terkadang hanya akan memicu kepada pembicaraan tidak jelas lainnya.
Tak ada yang tahu, bahwa Sky sedikit kecewa karena Bery tidak membantah ucapan Stella danย ayahnya. Mekipun dia diam dan tenang bagaikan air di danau, namun dalam hatinya gelisah bagai ombak di lautan.
"Sky sendiri, sudah punya pacar belum?" Tanya pak Dirga beralih kepada Sky yang sedari tadi menjadi pendengar yang budiman.
Seketika sebuah tangan menggamit punggung tangan Sky di bawah meja. Sky tahu dan sudah sangat hafal siapa pemilik tangan tersebut. Seketika suasana hatinya berubah cerah ceria hingga mampu melahirkan senyum di bibirnya.
"Sudah ada pak." Jawab Sky mantap kemudian membalikkan keadaan tangan mereka di bawah meja sana. Sky membawa tangan Bery ke dalam genggamannya dengan jempolnya mengusap lembut tangan tersebut.
Mungkin tidak ada yang memperhatikan bagaimana perubahan wajah Bery saat ini yang seketika merona karena perlakuan Sky barusan. Jantungnya berdetak kencang namun ia menyukai sensasi yang diciptakan oleh hentakan-hentakan kuat dari jantungnya itu.
Berbeda halnya dengan wajah Stella yang seketika layu karena rasa kecewa yang seketika datang menghimpit.
Senyum cerah di wajah pak Dirga pun perlahan pudar demi melihat putri. kesayangannya yang sepertinya sedang patah hati.
Rangga sendiri senang mendengar pengakuan Sky karena selama ini Rangga selalu merasa tidak nyaman berada di sekitar Bery saat Sky juga ada bersamanya. Entahlah, seperti ada sesuatu yang sulit untuk didefenisikan. Melihat Bery yang begitu cair dengan Sky namun sangat menjaga jarak dengan pria lainnya.
"Segera dihalalkan saja, Sky!" Ucap Rangga bersemangat."
Senyum terbit di salah satu sudut bibir Sky, ingin rasanya mengatakan bahwa ia sudah menghalalkannya wanitanya sebelum dijadikan pacarnya tapi ditahannya. Ia kembali melihat semburat merah menghiasi wajah Bery yang terlihat santai menyantap makanannya.
"Tenang saja pak Rangga, saya pacarannya halal kok." Jawab Sky namun langsung ditimpali Bery.
"Ekhmm... sudah...sudah.. gak baik pacar-pacaran.. ayok semuanya, dinikmati dulu makanannya." Ucap Bery menengahi. "Kamu Stella, gak usah pacar-pacaran, suruh lakinya langsung lamar kamu kalo kalian memang sudah saling suka."
"Aku sudah siap banget kak, lakinya aja yang gak peka-peka sama sekali." Ucap Stella melirik Sky, namun laki-laki yang ia lirik sekalipun tidak pernah meliriknya, membuat hatinya terasa ngilu apalagi di sana ada ayahnya yang tahu bagaimana perasaannya selama ini karena Stella lebih suka curhat kepada ayahnya dibanding ibunya.
Tak pelak, Bery pun mengikuti arah lirikan Stella. Bery kini mengerti, ada yang tidak beres di sini.
"Weekend kamu sibuk gak? Anakku sering menanyakan kamu." Tanya Rangga kepada Bery.
"Uhuk..uhuk.." Sky tersedat makanannya, Bery dan Stella sama-sama memberikan air minumnya namun Sky langsung menyambar gelas yang ada di tangan Bery karena memang posisi Bery ada di sebelah kanan Sky.
"Kamu yah Sky, hobby banget tersedat makanan." Ucap Bery menampakkan raut khawatir di wajahnya sambil menepuk-nepuk punggung Sky.
"Kak Bery akrab banget yah sama Sky, padahal di kampus tidak ada yang bisa menyentuh dia." Ucap Stella sanksi melihat kedekatan Bery dan Sky.
"Oh, mereka kan sudah seperti saudara. Bery ini adalah anak angkat pak Hasan teman baik ayah." Ucap pak Dirga menjawab rasa penasaran putrinya itu.
Stella dan Rangga membulatkan mulutnya membentuk huruf O sambil menganggukkan kepalanya.
Wajar jika mereka dekat. Rangga.
Berarti Sky hanya bersikap dingin kepada orang lain saja, berbeda jika dengan orang dekatnya. Ucap Stella di dalam hatinya senang sendiri membayangkan sifat hangat Sky.
Aku tidak pernah menganggapnya kakak angkatku, lagian dia adalah istriku. Batin Sky.
"Jadi bagaimana kak Bery, ditanyain pak Rangga tuh ada waktu gak weekend nanti? Aku juga sudah ajak Sky weekend nanti, aku dan teman-teman kelas yang lain ngadain party kecil-kecilan." Ujar Stella.
"Oh iya, saya tidak bisa janji pak Rangga. Soalnya pekerjaan saya masih menumpuk setelah hampir 2 minggu ditinggal." Ucap Bery seperti meringis karena tidak enak pada Rangga.
"Sesempatnya aja, bu Bery." Jawab Rangga tersenyum meski dalam hati ia kecewa, jelas jawaban itu adalah penolakan secara halus.
"Kamu mau adain pesta apa Stella?" Tanya pak Dirga seperti tidak senang mendengar kata party tadi.
"Sama teman-teman ayah, kami kan sebagian besar udah pada mau wisuda jadi gak ada salahnya bikin farewell party gitu."
"Sky ikut kan? Titip Stella yah." Ucap pak Dirga menatap Sky.
"Saya belum bisa memastikan pak, bapak tau sendiri bagaimana sibuknya kita mengerjakan proyek Maldives, belum lagi Skripsi saya yang masih ada sedikit revisi."
Pak Dirga hanya diam mengangguki alasan Sky, hanya saja ia kasihan melihat putrinya yang kembali terlihat kecewa karena Sky seperti tidak tertarik dengannya.
Dengan beraninya Sky mendekatkan satu kakinya ke kaki Bery di bawah sana yang dibalas satu cubikan sayang di pinggang Sky. Kembali Sky tersenyum samar kemudian menunduk menikmati makanannya. Ia tidak ingin yang lain menyadari betapa ia tidak bisa berpura-pura lagi menutupi senyumnya karena bahagai bisa bermesraan colongan seperti ini.
Ooooโ~~โoooO
Jangan lupa berikan like, comment dan vote kalian yah untuk mendukung Novel ini. Klick tombol Favorit agar kalian bisa mendapatkan notifikasi tiap kali ada update terbaru. okay.. Thanks ๐๐ค