
Katanya, titik lelah seseorang adalah ketika dia mulai diam.
Dan apakah aku dan Sky sudah lelah dengan pernikahan ini?
Aku diam, Sky pun diam.
Jika biasanya Sky akan mengemis maaf dariku, sekarang dia malah diam. Seperti ada yang kurang, apa hanya segitu saja perjuangannya meluluhkan hatiku?
Setelah bertapa hampir 1 jam di dalam kamar mandi, Sky langsung keluar kamar tanpa menyapaku. Bahkan saat pergi sholat maghrib, dia tidak memberi tahuku.
Kenapa aku merasa dia yang marah sekarang?
Terserahlah.. aku bukan orang yang suka mengemis-ngemis maaf. Sudah cukup itu dulu kulakukan di hadapan orang tuaku, itu tidak akan lagi.
Selama ini aku bergaul dan berteman selalu mencari posisi aman. Tidak terlalu dekat dengan siapapun dan tidak bergantung kepada siapapun. Cukuplah dengan Nindi dan keluarganya. Aku tidak mau terlalu banyak berhutang budi.
Prinsipnya, beri sesuatu kepada orang, maka kau akan jadi tuannya. Terima sesuatu dari orang lain, maka kau akan jadi tawanannya.
Terdengar pintu terbuka dan Sky masuk dengan membawa tentengan di tangannya.
Aku yang duduk menonton TV mengabaikannya.
Sky keluar dari dapur menghampiriku kemudian ikut duduk di sampingku, memelukku dan menenggelamkan wajahnya di ceruk leherku.
"Jangan diamkan aku terus, aku tidak kuat!" Ucapnya parau, bisa kurasakan ada yang ba sah di leherku.
Apa dia menangis?
Melihat Sky seperti ini, aku mana tega? Kubalas pelukannya kemudian menyandarkan pipiku di kepalanya.
"Kamu manja banget, seperti bocah aja!" Ucapku menahan senyum.
Sky mendongak menatapku sendu.
"Aku manjanya hanya sama kamu!"
Dughhh... kenapa mukanya menggemaskan begini? Apalagi bibirnya yang sek si itu, jadi pengen makan sampai kenyang.
Oh.. apa yang aku fikirkan?
Aku membuang wajah setelah beberapa saat saling memandang dengan posisi wajah kami yang sangat dekat, bikin jantungku berdetak tidak karuan. Sky pasti bisa merasakannya karena tubuhnya yang menempel di da daku.
"Kamu bawa apa tadi?" Tanyaku mengalihkan suasana canggung yang tiba-tiba menyeruak dintara kami.
"Aku beli makanan kesukaan kamu,"
"Apa itu sogokan?"
Sky nyengir kemudian melepaskan pelukannya. "Kata mas Fachri, kalau perempuan marah sogok pake makanan kesukaannya, kalau gak mempan, ajak shopping, kalau masih gak mempan juga ajak tempur di ranjang." Ucapnya sambil memainkan alisnya naik turun.
Aku memutar bola mata memandangnya jengah. Aku langsung bangkit dan berjalan ke dapur, di sana makanannya sudah terhidang di meja makan. Air liurku langsung membanjiri mulutku karena melihat godaan yang ada.
Sky datang menarik kursi untukku, mendorong kedua pundakku agar segera duduk, "silahkan makan, nyonya Sky!" Ucapnya lalu mencuri kecup di pipiku.
Aku melotot melihatnya dan memajukan bibir, tapi mataku kembali teralih ke makanan yang ada di depanku.
"Thanks!" Ucapku setelah berhasil mengambil satu suap masuk ke mulutku.
Aku mengabaikan Sky yang hanya terus menatapku tanpa menyentuh bagiannya.
"Kamu gak akan kenyang kalau hanya terus memandangiku seperti itu." Aku sebenarnya salah tingkah dipandangi terus seperti itu.
"Aku suka lihat muka kamu saat makan."
Aku mengentikan kunyahanku menatapnya dengan dahi mengernyit.
Sky menopang dagunya dengan satu tangannya masih terus menatapku lekat.
"Aaaaaa..." kuarahkan satu sendok makanan kepadanya dan memintanya membuka mulut.
Sky membuka mulutnya dan mengunyah dengan senyum terus merekah di wajahnya.
"Kamu ganteng banget loh Sky kalo senyum begini." Ucapku jujur.
"Aku gak akan jadi suami kamu kalau aku gagal ganteng!"
Aku melengos, nyesel deh muji dia.
Kami menghabiskan makan malam kami dengan saling bersenda gurau. Aku tidak habis fikir kalau Sky punya selera humor yang tinggi.
Dia tak henti-hentinya menggodaku membuat wajahku terus merona merah dibuatnya.
*****
"Aku tadi ketemu sama mas duren di mesjid!" Ucapku membuka suara saat kami asyik menonton acara televisi.
"Maksud kamu mas Rangga?"
"Sejak kapan dia kamu panggil mas?"
Aku kesal, pada duren itu dia memanggilnya mas, sementara aku masih tetap dipanggil nama saja tanpa embel-embel.
"Sejak tadi siang!" Jawabnya tanpa rasa bersalah.
"Kenapa? Kamu juga mau dipanggil mas? Mas Sky... atau abang Sky?"
Aku melengos kesal, aku kan suaminya, masak disamain sama laki-laki lain di luar sana.
"Yah.. gantengnya hilang deh kalo muka mode tembok Berlin seperti ini." Bery menoel-noel pipiku, ditekan-tekannya ke kiri, ke kanan lalu memegang daguku dan di dorong ke atas.
"Aku gak mau dipanggil mas, apalagi abang!" Ujarku tidak senang. "Kasi panggilan lain kek, sayang, hubby, atau apalah gitu." Kataku memberi opsi.
Bery tertawa lebar meski tanpa suara, dia menggeser tubuhnya hingga sekarang posisinya duduk di atas pahaku. Sepertinya ini adalah posisi duduk kesukaannya saat hanya berdua seperti ini.
"Kamu lucu deh kalo ngambek begini."
"Gimana gak ngambek, aku kan juga pengen punya panggilan sayang dari istriku tercinta."
"Uluh..uluh.. makin gemes aku tuh." Ucapnya menggoyang wajahku dengan kedua telapak tangannya melekat di pipiku. Bibirku sekarang rasanya sudah menyatu dengan pipiku dibuatnya.
Satu kecupan manis mendarat di bibirku, aku ingin menahan bibirnya tapi gerakanku langsung terbaca olehnya.
"Tadi mas Rangga ngomong apa sama kamu?" Katanya mengalihkan, padahal aku sudah gemes banget ingin memakannya bulat-bulat.
"Awalnya dia seperti kaget melihat aku, trus nanya, aku ngapain di sini jadi aku bilang saja kalau lagi nginap di apartemen pacarku. Aowww.."
Aku mengeluh kesakitan karena tiba-tiba tangan Bery mengambil sedikit daging di pinggangku kemudian diputarnya.
"Kamu yah.. nanti dia mikirnya kamu itu laki-laki player, ibadah jalan, zina jalan. Mana ada orang pacaran nginap bareng?"
"Lah.. kan kita memang pacaran, pacaran halal!"
"Apa susahnya bilang kamu lagi berkunjung ke apartemen teman, atau kalau pun harus jujur bilang saja mau nginap sama istri."
"Jadi apa kamu sudah siap hubungan kita diketahui banyak orang?" Tanyaku antusias.
Bery mendesah pelan kemudian turun dari pangkuanku.
"Aku sebenarnya lelah kucing-kucingan seperti ini, kasihan sama orang-orang yang mungkin berharap sama aku, begitupun dengan kamu. Malah jadinya kita rentan berselisih faham pada akhirnya." Bery menautkan tangannya dengan tanganku.
"Aku punya sesuatu buat kamu!" Ucapku merogoh sesuatu di dalam saku celanaku.
"Ini..." sebuah kotak merah maroon kuserahkan padanya.
"Ini apa?"
"Buka saja."
Bery kemudian membukanya.
"Cantik!" Tangannya kemudian mengambil benda tersebut dan menatapnya penuh haru.
"Sini aku pakaikan." Aku mengambilnya kemudian memasangnya di leher Bery.
Bery kemudian mengambil ponselnya kemudian membuka aplikasi kamera dan melihatnya melalui kamera tersebut.
"Kamu suka?" Bery mengangguk kemudian menghadiahiku kecupan di pipi.
"Terima kasih, langitku!" Aku tersenyum menatapnya. Senang rasanya melihatnya menyukai pemberianku.
"Tunggu di sini sebentar!" Bery langsung bergegas masuk kamar dan beberapa saat kemudian dia kembali menghampiriku.
"Mulai sekarang, kita akan pakai cincin pernikahan kita ini."
Bery langsung mengambil tanganku dan memasukkan cincin ke jariku kemudian dia memintaku memakaikannya juga.
Dia memadukan tanganku dan tangannya kemudian mengambil gambar melaui ponselnya.
Aku menarik tubuhnya duduk di atas pangkuanku tapi posisinya membelakangiku. Kuambil ponselnya lalu mengarahkan kameranya kepada kami.
"Kita harus photo berdua, banyak-banyak!" Ucapku seraya mengambil gambar.
"Tapi aku lagi gak pake jilbab, sayang!"
💨💨💨
Emak author kagak ngerti, ini update-nya dari tadi subuh tapi sore gini dapat notifikasi peringatan dari NT, entah bagian mananya yg dinilai vulgar😆